Simura Seorang pangeran yang diasingkan dinegeri asing karena difitnah saudaranya. Dia menonjol dalam bidang strategi dan politik namun disisi lain ada sebuah kekuatan magis didalam tubuhnya yang sengaja ia sembunyikan...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LukmanÆ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Awal Baru
Empat belas hari berlalu dalam keheningan meditasi. Di dalam gua yang lembap itu, Simura memfokuskan seluruh energi batinnya untuk memulihkan raga. Luka robek di tangannya akibat gigitan serigala raksasa itu kini menutup sepenuhnya, hanya menyisakan bekas luka tipis yang menjadi saksi bisu ketahanannya yang di luar nalar manusia biasa.
Saat dia melangkah keluar dari kegelapan gua, aura yang terpancar darinya telah berubah, terasa begitu kuat, namun setenang air telaga. Sebelum melanjutkan perjalanan mencari pemukiman, Simura menyempatkan diri untuk membuat senjata sederhana dan berburu. dia sempat tertegun melihat keanehan setiap hewan. hampir setiap makhluk yang ia temui memiliki tanduk, mulai dari yang sekecil kelinci hingga predator besar. Namun, Simura tidak terlalu memikirkan hal itu. bagi Simura, mereka hanyalah sumber protein untuk bekal perjalanannya.
Dua hari menembus rimbunnya hutan, bekal Simura mulai menipis. Langkah kakinya membawanya pada sebuah gubuk tua yang hampir roboh di lereng bukit. Saat kehausan mulai menyiksa, telinganya menangkap suara gemericik air yang merdu. disana, ia menemukan hulu sungai yang airnya sejernih kristal. dengan penuh antusias, Simura segera meminum air itu dan mengisi botol minum perbekalannya.
Namun, kejutan sebenarnya bukan hanya air itu. Dari ketinggian lereng, mata tajam Simura menangkap kepulan asap dan atap atap rumah di lembah bawah. Dengan semangat baru, Simura segera mengemas barang-barangnya dan turun menuju desa itu. dia ingin menjual hasil buruannya ke serikat pedagang sebab 10 koin emas bekal pengasingan terjatuh saat bertarung dengan Serigala waktu itu.
Sesampainya di sana, harapan Simura untuk segera bertransaksi pupus seketika. Gedung serikat pedagang yang ia tuju hanyalah puing puing hitam sisa kebakaran. Di tengah kekecewaannya, seorang kakek tua dengan punggung membungkuk menyapanya.
"Anak muda, wajahmu asing. Apa yang dicari oleh orang sepertimu di tempat yang hampir mati ini?" tanya sang kakek lirih.
"Nama saya Simura, Kek. Saya datang untuk menjual hasil buruan, tapi sepertinya serikat ini sudah lama hancur," jawab Simura dengan nada sopan namun kecewa.
"Konflik telah merenggut segalanya, Nak. Desa Laonian ini hanyalah sisa sisa. Tapi jangan khawatir, aku tahu seseorang yang mungkin tertarik dengan barangmu. Ikutlah denganku!" kata kakek sambil menghela nafas panjang
Di sepanjang jalan menuju sisi utara desa, Simura mendengarkan kisah pilu tentang krisis anak muda yang melanda desa itu. semua anak muda di desa Laonian diwajibkan untuk berperang. itu sebabnya Desa Laonian kini krisis anak muda. Hingga akhirnya, mereka tiba di sebuah kedai kayu yang kokoh tempat seorang jagal berbadan kekar sedang sibuk dengan bilah pisau besarnya.
"Apa yang kau punya, bocah?" tanya sang Jagal, suaranya berat dan mengintimidasi.
Tanpa banyak bicara, Simura membuka tas kulitnya. Satu per satu kulit binatang bermutu tinggi ia hamparkan di meja. Sang Jagal terdiam sejenak, matanya menelisik serat kulit yang tak biasa itu.
"Kulit ini luar biasa... kau mendapatkannya di mana?" Tanya Sang Jagal
"Hutan di sebelah utara sana," jawab Simura datar.
Mendengar itu, seisi kedai mendadak hening.
"Hutan Utara? Itu Hutan Kematian! Bagaimana mungkin," kata Sang Jagal tidak percaya
"Dia pasti membual, Boss! agar kulitnya dibeli dengan harga mahal!" sahut anak buah sang jagal
"Benar boss, hal itu tidak mungkin. pelabuhan utara yang dijaga ribuan pasukan Dinasti Mei pun rata dengan tanah hanya dalam hitungan jam oleh Fenrir, Serigala Iblis itu. Bagaimana mungkin anak ingusan ini bisa selamat dan berburu hewan disana?" ejek salah satu anak buah jagal
"Oh, jadi serigala besar yang menggigitku itu namanya Fenrir? Kalau begitu, mungkin kalian mengenali ini," kata Simura tenang
Simura mengeluarkan sebuah tanduk raksasa yang memancarkan aura kegelapan yang pekat.
Keheningan yang mencekam menyelimuti kedai. Sang Jagal mendekat dengan tangan gemetar. Ia menyentuh permukaan tanduk raksasa yang dingin. tekstur yang pernah ia lihat dari kejauhan saat pembantaian di pelabuhan dulu. tidak salah lagi, itulah tanduk Fenrir Si Serigala Iblis. disaat keterkejutan sang jagal belum selesai. Simura mengambil beberapa tanduk hewan lainnya di dalam tasnya. begitu melihat tanduk tanduk itu, keterkejutan sang jagal semakin menjadi.
"Ini... ini asli, Kau... kau membunuh mereka semua?" kata Sang Jagal serak, matanya menatap Simura dengan rasa ngeri sekaligus kagum yang luar biasa.
Seketika, suasana kedai pecah. Kabar tentang pemuda yang membawa tanduk Fenrir dan beberapa binatang iblis menyebar seperti api tertiup angin. Penduduk desa berbondong bondong datang, ingin melihat sosok yang berhasil menaklukkan penguasa Hutan Kematian.
Namun, saat sang Jagal menghitung nilai barang tersebut, ia menyerah.
"Simura, barang-barang ini terlalu langka. Seluruh simpanan koin di kedai ini bahkan tak cukup untuk membayar separuh dari tanduk Fenrir ini. Berikan aku waktu beberapa hari untuk mengumpulkan dana," Kata Sang Jagal
Simura hanya mengangguk paham. Saat matahari mulai tenggelam di cakrawala, penduduk desa menawarkan rumahnya untuk dijadikan tempat inap. akan tetapi, Simura menolak, ia memilih kembali ke gubuk tua di atas bukit. Ia lebih suka kesunyian hutan daripada menjadi pusat perhatian. Simura melangkah pergi, meninggalkan sebuah desa yang kini memiliki harapan baru.
(Bersambung)
semangat thor ✍️🤭😉🌹
kalo berkenan mampir juga ya thor😉🤭