"Tinggalkan putraku dan ambil ini! Ingat jangan kau injakkan kaki kotor mu itu di mansion keluarga Xie." Xie Lihua
"Baik Nyonya, saya akan pergi dari sini. Dan ini amplop dari anda, saya bukan seperti apa yang anda pikirkan." Lin Wu
"Shit! Beraninya dia pergi meninggalkanku, lihat saja aku akan menghukumnya dan membawanya kembali ke sisiku." Xie Yanshen
Dua insan yang terpaksa menikah karena sebuah scandal dan juga tuntutan dari Tuan Jin Hao, Ayah Yanshen. Pernikahan yang tak diinginkan itu membawa Lin Wu ke dalam neraka kehidupan. Lihua, Ibu Yanshen begitu membencinya hingga suatu hari dia sukses menyingkirkan Lin Wu.
Tanpa ada seorang pun tahu, bahwa Lin Wu pergi membawa rahasia besar. Dan kepergiannya membuat Yanshen murka.
Akankah Yanshen tahu rahasia besar Lin Wu? Dan berhasilkah Yanshen membawa kembali wanita yang masih sah menjadi istrinya itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sagitarius28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MBSK 3
"Bu, maafin Lin Wu ya Bu. Maaf, Lin Wu tidak bisa melanjutkan pernikahan ini. Tugas Lin Wu sudah selesai di keluarga konglomerat itu," ucap Lin Wu lirih sambil menahan air matanya.
"Selesai? Maksud kamu apa, Nak?" Jiao membelalakkan matanya, mengulang kembali ucapan anaknya. "Bukankah selama ini hubungan kamu dan Yanshen baik-baik saja. Ibu lihat dia juga sangat perhatian padamu, sepertinya dia menyukaimu Lin Wu."
"Memang benar yang Ibu katakan, tapi Ibu tahu sendiri bukan kenapa aku bisa menikah dengan Yanshen. Terlebih, saat ini masa lalu Yanshen akan segera kembali dalam waktu dekat ini. Dan Mommy Yanshen menginginkan mereka segera menikah," ucap Lin Wu.
"Apa Yanshen mengetahui hal ini?" tanya Jiao lagi yang semakin penasaran.
Andai saja beberapa bulan lalu jika penyakit itu tidak bersarang di tubuhnya, maka hal buruk pun tidak akan pernah terjadi pada anaknya. Namun nasi sudah menjadi bubur, tidak ada gunanya kita menyesali hal yang telah terjadi.
"Tidak, Bu. Sepertinya memang harus seperti itu, lebih baik Yanshen tidak mengetahui kepergian Lin Wu. Dan itu akan lebih mudah bagi Lin Wu untuk segera pergi dari keluarga Xie." Lin Wu menggelengkan kepalanya berusaha tersenyum meski hatinya terasa sakit.
"Maafkan Ibu, Nak. Maaf, semua ini salah Ibu. Kalau saja Ibu tidak sakit, tidak mungkin kamu bekerja di club hingga terjebak scandal dengan putra mahkota dari keluarga itu, yang mengharuskan kamu masuk ke dalam lingkaran keluarga konglomerat itu. Dan berakhir membuat kamu menderita. Ibu sangat menyesal, harusnya kamu membiarkan Ibu menyusul Ayah kamu saja Lin Wu." Secepat kilat Jiao menghambur memeluk anaknya.
"Sudahlah Bu, Ibu tidak boleh bicara seperti itu. Mungkin ini sudah takdir Lin Wu bertemu Yanshen dengan cara seperti itu dan bisa mengobati penyakit Ibu. Ingat Bu, ini bukan kesalahan Ibu melainkan ini murni rencana Tuhan agar Lin Wu tetap bersama dengan Ibu. Jujur, aku sangat senang masih ada Ibu di samping Lin Wu." Perlahan Lin Wu mengurai pelukannya dan berusaha menampilkan senyumnya.
"Maaf, maafkan Ibu Nak ...." Air mata pun tiba-tiba meluruh membasahi wajah yang mulai keriput itu.
"Tidak, Bu. Tolong jangan berkata seperti itu lagi." Dengan lembut Lin Wu mengusap air mata yang ada di pipi Ibunya.
"Lin Wu, kalau kamu sudah bertekad untuk bercerai, berarti Ibu akan mengembalikan uang bulanan yang diberikan Yanshen selama empat bulan terakhir ini," ucap Jiao pada anaknya.
"Iya, Bu. Sebaiknya memang begitu." Lin Wu mengangguk setuju dengan ucapan Ibunya barusan.
Dia tidak ingin pergi dengan membawa barang, ataupun uang pemberian dari keluarga konglomerat itu. Kecuali uang belanja dirinya yang diberikan Yanshen padanya, hanya uang itulah yang menjadi pegangannya sekarang untuk memulai kehidupan barunya bersama sang Ibu.
"Oh iya, lalu apa rencana kamu selanjutnya?" tanya Jiao penasaran.
"Yang pasti kita harus pergi dari kota ini, Bu. Lin Wu ingin hidup tenang, tidak ingin berurusan lagi dengan keluarga Xie," jawab Lin Wu dengan tegas.
Perempuan cantik itu sudah memantapkan diri untuk pergi dari kota Shanghai. Lin Wu sudah memutuskan untuk mengubur dalam-dalam perasaan yang dirinya punya pada Yanshen. Dia tidak ingin terjerat dalam lingkaran keluarga konglomerat itu, mengingat bagaimana kehidupannya selama empat bulan di sebuah mansion mewah yang sama sekali bagaikan neraka baginya.
Ya selama tiga bulan lamanya sebelum Yanshen berangkat ke Amerika, sempat Lin Wu menyadari sesuatu bahwa dirinya telah memiliki perasaan pada Yanshen. Namun, Lin Wu hanya cukup diam memendam perasaannya yang semakin hari tumbuh di benaknya. Dia tak memiliki keberanian untuk mengungkapkannya, sadar bila diantara mereka tidak mungkin bersatu karena terhalang sebuah kasta juga perjanjian yang telah dia sepakati bersama Yanshen.
Kenyataan itu kembali menampar Lin Wu menyadarkan dirinya bahwa hanya seorang perempuan dari kalangan bawah. Sampai kapanpun, dia tidak akan bisa bersanding dengan Yanshen yang merupakan putra mahkota sekaligus pewaris tunggal keluarga Xie.
"Baiklah, Ibu akan selalu mendukungmu Nak. Apapun keputusanmu, Ibu tetap berada di sisimu." Jiao tersenyum menimpali ucapan anaknya.
"Terima kasih, Bu." Untuk kesekian kalinya Lin Wu memeluk erat Ibunya, seolah bahwa hal itulah yang saat ini dia butuhkan.
"Ya sudah, Nak. Lebih baik kita sekarang beres-beres barang dulu, dan ingat Lin Wu ... bawa apa yang menjadi hak kita. Tinggalkan semua yang bukan milik kita, agar mereka tahu bahwa kamu adalah perempuan baik-baik. Ibu tidak ingin mereka berasumsi buruk padamu," ucap Jiao pada anaknya.
Lin Wu mengangguk paham ucapan Ibunya barusan. "Iya, Bu. Aku juga berpikir seperti itu."
Tanpa lama keduanya pun membereskan barang-barang yang menjadi miliknya. Lin Wu pun sama sekali tidak menolak apa yang dikatakan sang Ibu. Bahkan, tanpa Ibunya berkata pun dia juga tidak sudi membawa barang yang bukan miliknya. Karena dia sudah berjanji akan melupakan semua yang berkaitan dengan keluarga konglomerat itu.
🥕🥕🥕
"Nyonya, mobil Tuan Muda sudah datang." Meimei berjalan tergopoh menemui Mommy Lihua yang tengah berada di halaman belakang.
Mendengar itu, Mommy Lihua pun menghentikan kegiatannya yang saat ini sedang menyiram bunga di taman. Wanita paruh baya itu begitu menyukai beberapa bunga yang telah ditanam oleh Lin Wu, tentu saja hal itu tanpa sepengetahuan Mommy Lihua. Bahkan beberapa maid disana tak berani mengatakan kebenaran itu pada Mommy Lihua, termasuk Meimei.
DEG!
Seketika jantung Mommy Lihua pun seakan berhenti berdetak. Tiba-tiba wajah serinya berubah menjadi pias, dia tak menyangka bila putranya akan pulang lebih awal dari schedule yang telah ditetapkan oleh Yanshen.
"Apa? Yanshen datang?" Mommy Lihua memutar tumitnya menatap pada Meimei yang tengah berdiri di hadapannya.
Meimei pun mengangguk sambil menundukkan pandangannya ke lantai marmer. "Iya, Nyonya. Kemungkinan sebentar lagi Tuan Muda akan datang menemui anda."
Mommy Lihua yang ingin mengatakan sesuatu pada asisten rumah tangganya itu, tiba-tiba tertahan di tenggorokan saat terdengar suara bariton yang menggema di ruangan mewah itu.
"Mom ...." Yanshen berjalan menuju ke halaman belakang, dimana sang Mommy berada setelah dia diberitahu oleh salah satu maid di mansion nya.
"Mommy, aku sudah pulang." Segera mungkin Yanshen menghambur memeluk Mommy Lihua dengan sudut bibir yang terangkat ke atas. "Aku sangat merindukanmu, Mom."
"I- iya sayang, Mommy juga." Mommy Lihua mengelus lembut punggung putranya sambil terbata.
Entah kenapa mendadak nyali Mommy Lihua menciut saat putranya datang. Entah kemana perginya keberanian wanita paruh baya itu yang telah mengusir Lin Wu dari mansion megah keluarga Xie.
Sebenarnya, jauh dalam lubuk hati Mommy Lihua merasa takut karena tahu bagaimana putranya yang akhir-akhir ini terlihat peduli pada Lin Wu. Selain itu, dia tahu bagaimana murkanya sang putra bila ada suatu hal yang telah mengusiknya. Dia takut bila Yanshen akan menghancurkan barang-barang mewah yang ada di mansion.
"Oh iya, mana Lin Wu Mom?" tanya Yanshen yang telah mengurai pelukannya. Kini posisinya sedang menatap ke arah sang Mommy yang terlihat risau.
"Mom, dimana Lin Wu? Kenapa dari tadi aku tidak melihatnya?" Mata Yanshen menyapu pandang ke sekeliling ruangan, kemudian beralih menelisik pada wajah Mommy Lihua yang mulai keriput.
"Mommy, dimana Lin Wu?"
.
.
.
🥕Bersambung🥕