Kemandirian Nayanika Gentari Addhitama mulai terkikis karena seorang lelaki yang 10 tahun lebih tua darinya, Erza Naradipta. Pesona lelaki yang dipanggil paman itu tak terbantahkan. Demi sebuah benih suka yang tumbuh menjadi cinta membuat Nika rela menjadi sosok lain, manja dan centil hanya untuk memikat lelaki yang bertugas menjaganya selama kuliah di luar negeri.
Akankah cinta Nayanika terbalaskan? Ataukah Erza hanya menganggapnya sebagai keponakan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fieThaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
3. Panggil Saya ....
Hembusan napas kasar keluar dari bibir lelaki yang baru saja tiba di hotel. Dibukanya map cokelat yang Rio berikan. Gelengan kepala dengan senyum kecil terukir.
"Seribet itukah jagain anak tunggal," gumamnya sambil terus membaca point yang tertulis.
Getaran ponsel mengalihkan pandangan. Nama seseorang yang sangat dihormati terpampang.
"Iya, Kak Axel."
Ya, Axel yang tak lain adalah sahabat Restu dan almarhum Cakra merupakan kakak sepupu dari Ezra. Ibunya Ezra adalah adik dari almarhum Remon.
"Gimana? Si Restu bertingkah gak?" Terdengar sang kakak sepupu mengkhawatirkan dirinya.
"Aman kalau Bang Res mah. Cuma ngadepin Bang Rio aja yang perlu sabar mah." Axel pun tergelak mendengar aduan Ezra.
"Diapain lu sama dia?"
Ezra pun menceritakan semuanya. Axel malah terbahak. Sontak Ezra pun berdecak kesal.
"Maklumin aja. Namanya juga punya anak tunggal. Pasti pengen yang terbaik." Hanya dua huruf 'hm' yang menjadi jawaban.
"Cantik enggak anak si Rio?"
"Entah," sahut Ezra sambil membaca lembaran kertas yang Rio beri.
"Emang belum dikenalin?"
"Baru dikenalin sama hal yang disukai dan enggak disukai anaknya." Tawa pun kembali pecah. Ezra memilih mengakhiri panggilan tersebut karena akan ada ledekan yang tak henti.
"Ketika gua tiba di Beijing, barulah gua kenalin ke anak gua."
Ezra membuang napas dengan kasar mengingat ucapan yang terlontar dari mulut Rio Putra Addhitama. Toh, dia juga tak penasaran dengan wajah anak tunggal yang akan dia jaga.
.
Waktu keberangkatan menuju Beijing tiba, Nika diantar oleh kedua orang tuanya serta sang paman juga Elang. Cucu emas Restu Ranendra. Ada siluet kesedihan ketika meninggalkan rumah yang akan jarang dikunjungi bahkan ditempati demi mencapai mimpi.
Nika yang memang akan manja kepada saudara-saudaranya mulai bergelayut manja di lengan Elang, remaja yang tingginya bak gapura kabupaten. Tumben sekali Elang pun tak risih.
Cukup lama mengudara membuat Nika lelah. Tibanya di negeri panda tak lantas segera menuju tempat yang akan menjadi rumahnya. Mereka makan terlebih dahulu di sebuah restoran yang direkomendasikan oleh Ezra.
"Dia ke mana?" tanya Restu ketika yang menemani mereka makan bukan Ezra.
"Ada sesuatu yang tak bisa diwakilkan," jawab lelaki yang menggantikan Ezra.
Lelaki yang masih berada di sebuah ruangan tersenyum tipis ketika mendapat laporan jika Restu dan semuanya puas dengan makanan di restoran tersebut.
Kembali ke restoran, di mana mereka sudah kenyang dan akan menuju sebuah hunian yang cukup mewah. Nika begitu terkejut ketika melihat apartment yang akan dia tinggali sendiri.
"Pi, kenapa harus sebesar ini? Nika kan bisa tinggal di asrama."
Universitas di Beijing memang menyediakan asrama untuk para mahasiswa. Nika ingin sekali tinggal di sana. Akan tetapi, sang papi tetap kekeh menyiapkan hunian yang begitu besar dan nyaman untuknya.
"Ke mana orang yang akan jaga anak gua?" Rio pun membuka suara ketika hanya mereka berdua di sebuah ruangan.
Tak ada jawaban, tapi Restu menunjukkan sebuah foto kepada sang kakak.
"Dia bukan orang sembarangan."
Decihan pun keluar dari bibir Rio. Betapa percayanya Restu pada sosok Ezra. Suara bel terdengar dan membuat keduanya saling pandang.
"Bodyguard anak lu datang." Seperti cenayang seorang Restu Ranendra.
Dan ternyata benar, Ezra datang dengan mengenakan pakaian serba hitam dan mengangguk begitu sopan.
"Maaf, saya terlambat dan tak bisa menemani Bang Res dan Bang Rio."
"Hari pertama udah bikin image buruk," omel Rio.
"Maaf."
Ezra harus bisa menghadapi sikap Rio. Dia sudah banyak mendapat informasi tentang pria itu dari kakak sepupunya.
"Kenalan sama anak guanya besok aja. Dia udah istirahat."
"Baik."
Keprofesionalan Ezra tak diragukan. Sikap patuh dan sopannya pun dapat diacungi jempol. Walaupun memanggil Abang, rasa hormat selalu dijunjung.
Paginya, Ezra sudah berada di balkon bersama Restu. Berbincang santai perihal pekerjaan dan hal lainnya.
"El, mau roti gak?"
Suara seorang gadis membuat Ezra mengalihkan pandangan. Siluet keceriaan terlihat walaupun hanya dari samping. Sayangnya, wajah yang belum dilihat sepenuhnya itu harus terhalang oleh tubuh tinggi yang sudah berjalan di samping gadis itu.
Getaran ponsel membuat pandangan Ezra kembali terlaihkan. Sebuah pesan dari sang bos baru.
"Ada yang harus saya kerjakan, Bang." Pamit dengan penuh kesopanan.
Suara langkah yang melewati dapur kecil membuat Nika yang tengah membuat roti bakar menoleh. Lelaki yang memiliki tinggi badan kisaran 175 cm berjalan dengan langkah lebar. Wajahnya yang tegas juga serius membuat kharismanya semakin terpancar.
"Niknik! Udah belum?"
Suara Elang membuat Nika tersadar. Dan segera membawa roti bakar yang sudah selesai dibuat.
.
Jadwal hari ini mengunjungi universitas yang akan menjadi tempat belajar Nika. Gadis cantik itu terlihat begitu antusias. Ditemani kedua orang tua serta pamannya. Sedangkan Elang memilih tinggal di apartment.
Dari kejauhan sudah ada yang memperhatikan mereka yang baru saja turun dari mobil. Siluet ceria yang pernah dia lihat kembali terlihat. Sayangnya, Ezra tak boleh mendekat sebelum ada perintah.
Selesai berkeliling Nika meminta kepada kedua orang tua serta pamannya untuk makan makanan halal yang ada di sekitaran universitas. Jika, tidak mulai mencari tahu dari sekarang pasti akan kesulitan nantinya.
Rio segera menghubungi seseorang. Tidak sampai lima menit, sopir sudah mengantarkan mereka ke sebuah kedai makanan yang tak terlalu besar dan tak jauh dari kampus. Rio menatap Restu yang seakan menyuruh mereka untuk masuk dulu. Ketika membuka buku menu semuanya halal. Rio tersenyum tipis akan kinerja Ezra.
Melihat sang putri puas dengan makanan yang ada, Rio kembali menghubungi seseorang dan menyuruhnya untuk masuk ke kedai. Pandangan semua orang yang ada di meja mulai teralihkan pada sosok yang baru saja datang dan mengangguk dengan sopan.
"Duduklah!"
Nika yang belum mengerti hanya menatap lelaki yang kini duduk tepat di seberangnya. Lelaki yang tadi pagi dilihatnya di apartment.
"Nika!" Panggilan sang ayah membuat gadis itu segera menoleh. Menatap ayahnya dengan serius.
"Kamu tahu kan ada syarat yang Papi berikan jika kamu kuliah di sini." Nika mengangguk.
"Selama di sini kamu akan dijaga oleh dia," tunjuk Rio ke arah Ezra.
"Papi enggak akan tenang kalau kamu hanya sendirian di negeri orang." Wajah tak percaya tak terelakkan. Yang bertugas menjaganya adalah lelaki yang memiliki kharisma kuat.
"Selamat sore, Nona. Saya Ezra Naradipta. Panggil saja saya--"
"PAMAN!"
Hah?
Ezra sangat terkejut mendengar ucapan Rio. Sedangkan Restu sudah mengulum senyum.
"Setua itukah gua di mata Bang Rio?"
Perbedaan usianya dan Nika hanya terpaut 10 tahun. Bisa-bisanya pria itu menyuruh putrinya untuk memanggil dirinya Paman. Tetiba bisikan kecil dari seseorang yang ada di sampingnya terdengar.
"Harus disamain dengan panggilan cucunya Axel."
WHAT THE FUCK!!
"CUCU KAK AXEL MASIH 3 TAHUN!!"
...***BERSAMBUNG***...
Boleh minta komennya???
wes angel klo udh dalam pengawasan elang kaga bakal bisa nemuin dah ntar si paman🤭
dan .... kira-kira Nika pergi ke mana ya .
lanjut terus kak semangat moga sehat slalu 😍😍😍
lanjut terus kak semangat moga sehat slalu 😍😍😍