Luz terperangkap dalam pernikahan kontrak yang penuh rahasia dan tekanan keluarga. Kehamilannya yang tak pasti membuatnya harus menghadapi kenyataan pahit seorang diri, sementara Zaren, ayah bayinya, pergi meninggalkannya tanpa penjelasan. Dalam kekacauan itu, Luz berjuang dengan amarah dan keberanian yang tak pernah padam.
Karel, yang awalnya hidup normal dan mencintai wanita, kini harus menghadapi orientasi dan hati yang terluka setelah kehilangan. Hubungannya dengan James penuh rahasia dan pengkhianatan, sementara Mireya, sahabat Luz, menjadi korban kebohongan yang menghancurkan. Di tengah semua itu, hubungan mereka semakin rumit dan penuh konflik.
Di balik rahasia dan pengkhianatan, Luz berdiri teguh. Ia tidak hanya bertahan, tapi melawan dengan caranya sendiri, mencari kebebasan dalam kegelapan yang membelenggunya. Trapped adalah kisah tentang perjuangan, keberanian, dan harapan di tengah gelapnya kehidupan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ann Rhea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PREGNANT
Entah kenapa feeling Luz benar-benar kuat kali ini kalau dirinya tengah mengandung. Dari mulai hormon yang tidak stabil, kepala pusing dan sensitif terhadap bau. Cuman bedanya tidak morning sickness.
Tidak ingin lebih dahulu di ketahui oleh orang lain. Saat tepat dua bulan telat menstruasi. Luz langsung membeli testpack dan mengeceknya di pagi akhir pekan.
Menunggu konfirmasi dari Zaren sama sekali belum ada jawaban, saat itu terakhir mereka bertemu dan katanya sedang sibuk.
Dengan wajah gusarnya, Luz menunggu sampai akhirnya jantung berdetak kencang. Nafasnya memburu saat dua garis merah terlihat jelas.
“Ck, i’m pregnant again with Zaren?” gumam Luz terlihat sangat frustasi.
Luz langsung mengambil foto testpack itu untuk memberitahu ke Zaren. Untuk konfirmasi juga waktu itu ejakulasi di dalam ulah siapa. Dirinya yang mengunci pergerakan Zaren atau memang Zaren sengaja?
Tak lama kemudian Zaren membalas.
Zaren: pantesan gua mabok parah, lu hamil.
...Luz: harus gimana? Siapa yang salah zar
...
Zaren: mana gua tau, salah lu ege, imbang keknya, lu tahan di awal, terakhir gua sengaja.
^^^Luz: tai lo
^^^
Zaren: semuanya sama-sama berisiko, itu tubuh lu sepenuhnya hak lu
Zaren: mau lu lahirin mau lu gugurin lagi, itu sama-sama bertarung nyawa
^^^Luz: please temenin gue bingung gue gamau aborsi lagi, sakit banget
^^^
Zaren: terus mau lo pertahanin?
Luz: maybe
Zaren: gua gabisa tanggung jawab kali ini sorry, tapi pengen nya sih aborsi lagi aja gue cape muntah terus ganggu banget
Mata Luz terbelalak kaget. “Maksudnya apa?”
Zaren bakalan kabur kali ini?
^^^Luz: jangan gitu, gue gak akan maksa lo nikah sama gue tapi bantu gue cari solusi tepat
^^^
^^^Luz: gue bingung
^^^
^^^Luz: gue takut zar gimana nasib gue
^^^
^^^Luz: lo gimana? Bisa ketemu?
^^^
Sayangnya Zaren tidak lagi membalas membuat Luz benar-benar ingin berteriak. Pikirannya kacau. Luz tidak ingin berpikir terlalu lama dia segera bersiap dan pergi sepagi ini.
Luz masih ingat dimana kontrakan Zaren, meskipun jarang banget ke sana kecuali kalo penting. Ternyata lampunya menyala, lantainya sudah berdebu dan banyak daun kering. Seperti tidak berpenghuni. Apakah Zaren sudah meninggalkan tempat ini cukup lama?
Kenapa hal seperti ini saja Luz tidak tahu, seasing itukah dirinya bagi Zaren yang sudah ia anggap seseorang yang spesial walau tak lebih sekedar kenalan? Lutut Luz benar-benar lemas. Tenggorokannya kering. Nafasnya tersengal-sengal. Kepalanya mulai pening dan wajahnya pucat.
Luz berusaha menghubungi Zaren, tapi bodoh. Ia sepakat untuk tidak bertukar nomor telepon dan cukup dengan salah satu sosial media saja. Dimana tidak lagi di balas atau call di jawab. Rasanya nelangsa, ingin menangis. Kabut masih tebal, cahaya matahari mulai naik. Keringat dingin melanda. Gusar dan bingung. Harusnya ia tidak sesedih sekarang tetap saja tidak rela.
Dirinya seperti sampah, atau barang sekali pakai. Ia tahu dari awal salah, harusnya tidak sekecewa ini bila memang Zaren telah pergi meninggalkannya.
Salah dirinya juga tidak pernah bertanya lebih dari sekedar teman bicara atau curhat sesuatu yang penting.
Luz teringat, ia akan bertanya siapa pemilik kost ini. Berharap menemukan jawaban. Saat bertemu dengan wanita pemilik rumah yang tak jauh dari sini. Dia mengatakan kalau Zaren telah pergi sebulan yang lalu tanpa memberitahu kemana dia singgah setelah dari sini.
Hal itu membuat Luz frustasi, dia tidak punya akses lebih dari itu. Apalagi mengenal teman Zaren. Dia sangat tertutup soal identitas. Luz tidak tahu nama lengkap, alamat atau apapun itu selain nama panggilan dia Zaren.
Zaren juga tidak tahu tentang Luz karna mereka berhubungan sebatas partner tidur.
Luz duduk di atas motor sambil berpikir. Kepalanya terasa mau meledak. “Kalo gue pertahanin, gue gak punya cukup biaya. Kalo gue aborsi, gue gatau bakalan selamat lagi atau enggak. Mungkin Tuhan bakalan marah, gimana kalau cabut nyawa gue sebelum gue sempet tobat?”
“Tapi gue juga gak mungkin melahirkan gak punya suami. Emang oon lo Luz.”
Saat Luz hendak menyalakan mesin motor. Ada notifikasi masuk. Luz senang itu balasan dari Zaren.
Zaren: lo garis dua, gua udah di bandara.
Sesingkat itu dan tidak pernah ada balasan apapun darinya. Dan dia juga tidak pernah muncul di hadapan Luz lagi walau Luz sangat menantikannya.
...--✿✿✿--...
“Gimana perkembangan hubungan kamu sama dia?” tanya Elena sepagi ini karna ingin sekali bertemu dengan kekasih Karel.
Thomas mengelus bahu istrinya. “Sudah jangan di tanyakan terus. Setiap hari Mama tanpa absen bertanya hal itu terus.”
“One day, gak ada perkembangan apapun, kayaknya asing lagi. Mama yang sabar ya hehe,” kata Karel yang sudah muak tapi di tahan.
Elena merajuk. “Yah padahal Mama udah cariin vendor, butik, bahkan desain undangan. Berharap cepet gelar pesta. Mama iri banget sama temen Mama yang udah pamer kedekatan sama menantu mereka. Apalagi Mama gak punya anak cewe, pasti seru shopping bareng.”
“Andai aja waktu itu Mama enggak keguguran, Mama punya anak gadis sekarang hm.”
Karel jadi merasa bersalah. Ia tahu pasti mamanya kesepian. “Maaf, Ma.”
“It’s okey, Mama akan carikan jodoh buat kamu oke!”
Ini lebih gawat dari sebelumnya. Karel harus apalagi?
Mana ada cewek yang mau sama Karel kalau tahu yang sebenarnya. Tapi ya sudah, paling mamanya tak akan dapet.
“Kalo gitu aku ke kantor dulu ya Ma, Pa, see you.” Pamit Karel, padahal cuman pengen kabur dari pertanyaan absurd.
Datang ke kantor Karel melihat manager dan seorang perempuan bertengkar.
“Ada apa?”
“Dia selalu datang terlambat dan tidak menunjukkan perubahan apapun. Dia berperilaku seenaknya makanya saya memberhentikan dia kerja. Tapi dia terus memohon.”
Luz kehabisan energi. Dia belum sarapan harus di terpa badai lagi. “Meskipun saya terlambat tapi semua pekerjaan selalu selesai tepat waktu, tolong maafkan saya. Jangan pecat saya.”
Apalagi sekarang Luz beneran butuh uang buat hidup. Meskipun akhir-akhir ini konsentrasi berkurang dan juga suka terlambat.
“Baiklah berikan dia kesempatan satu kali lagi, kalau terulang pecat saja,” kata Karel singkat.
Membuat Luz semakin lunglai. Dia semakin kurang fokus, masalah kesehatan mulai menurun. Di hari yang berbeda lagi dan lagi kena tegur manager saat ketiduran pas kerja dan di berhentikan saat itu juga.
Luz tidak terima tapi akhirnya berkenan, dia langsung pergi mencari ruangan pria waktu itu. Tapi tidak ketemu, karna tidak ada yang mau memberitahu. Akibat ulah manager itu yang sepertinya punya dendam pribadi.
Akhirnya Luz berkenan duduk di sekitar kantor untuk menunggu pria itu turun. Lalu menemuinya.
Saat terlihat berjalan keluar Luz langsung menghampirinya. “Pak izinin saya bicara sebentar saja, saya tau bapak punya status tinggi dan penting disini. Intinya saya gamau di pecat!”
“Kenapa gamau?”
Gak mungkin juga kan Luz bilang dia lagi hamil? Dan butuh biaya. Bisa makin di pecat. “Mmm saya butuh biaya buat hidup, iya itu! Please....” Luz memohon sambil mengedipkan mata tapi tak di hiraukan.
Luz pun teringat wajah itu, wajah yang familiar. Langsung saja ia kejar Karel sebelum masuk ke dalam mobil, ia tahan, tapi gagal, ia masuk ke dalam.
“Ngapain masuk?”
“Mau tanya, wajah bapak kayak familiar gitu. Saya sering liat di hotel, iya gak sih? Dua bulan lalu kalo gak salah, bapak nabrak saya sampe HP bapak jatoh, dan bener itu retak!” Luz berseru menunjuk handphone Karel yang memang retak belum sempat di ganti.
Karel kelimpungan dia dalam situasi berbahaya. “Apa buktinya?”
“Hotel A di kamar nomor 487 kan? Saya di sebelahnya gak jauh.”
Karel lagi-lagi menelan ludahnya. “Apa yang kamu pikirkan?”
Luz tersenyum miring dengan mata menyipit. Ia mencondongkan wajahnya membuat Karel takut. “Bapak gay ya?”
Oh shit!
“Enggak!”
“Boong.”
Luz menunjuk leher Karel yang ada bekas merah memudar. “Ini kissmark, di buat sama pacar ganteng bapak ya?” Ia tertawa membuat Karel takut.
“Bagus ini buat jadi rumor di kantor.”
Karel menggeleng. “Apa sih, security!"
Luz suka permainan ini, ia langsung mengirimkan voice note di grup kantor. “Eh guys tau gak? CEO kita seorang penyuka sesama jenis tau, gue tau karna sering gak sengaja berpapasan woi.”
Karel merebut handphone nya, tapi ternyata akibat ulahnya justru voice note itu malah terkirim. Ada beberapa orang mungkin yang sudah mendengarnya. Dengan cepat ia langsung hapus dan mengembalikan handphone Luz.
“Mau kamu apa? Jangan gegabah dalam bicara, itu merusak nama baik saya. Kamu mau berurusan dengan hukum?!”
Luz tertawa memperhatikan mimik wajah Karel yang memang gampang di tebak baginya. “Gausah panik gitu kalo bukan. Pedang kok makan pedang ciah.”
“Tapi seru juga sih, wah banyak yang reply,” ujar Luz.
Membuat Karel kelimpungan. “Apapun caranya kamu harus membersihkan nama baik saya bilang itu candaan atau apalah, intinya tidak benar.”
“Gamau.”
“Kenapa?”
“Jangan pecat aku, baru deh mau bilang itu boongan.”
Sosmed zaman sekarang ngeri, berita miring gampang naik. Demi nama baik, oke Karel setuju.
“Mulai besok balik kerja lagi dan bilang itu candaan. Sekarang turun, saya masih ada urusan, jangan kurang ajar lagi.”
Luz terkekeh. “Oke udah aku rekam. Sebagai bukti. Bye-bye yang mau check in sama mas pacarnya.”
“Stop it!”
...--To Be Continued--
...