Elias Alexander Rainer, menyaksikan sendiri bagaimana ibunya dibunuh di apartemen kecil mereka di Brooklyn. Tetapi, karena usianya yang masih kecil, kesaksiannya dianggap tidak benar. Kasus pembunuhan itu akhirnya ditutup sebagai perampokan biasa dan pembunuh ibunya tak pernah ditemukan.
20 tahun kemudian, Elias tumbuh menjadi pria jenius yang sangat berbakat di dunia digital. Ia bertekad untuk menemukan pelaku pembunuhan ibunya dengan menyamar menjadi seorang Programmer IT.
Namun, semakin ia mendekati sang pelaku utama, Elias justru terlibat makin dalam. Yang membuatnya terancam bahaya. Orang-orang dari Zenthera mulai mengejar dan menargetkannya.
Belum lagi, kedatangan seorang agen divisi kejahatan siber ikut memburunya dan mencurigai Elias sebagai pelaku dari skandal jatuhnya beberapa pejabat penting dan tokoh publik terkenal.
Akankah Elias berhasil menemukan pembunuh ibunya? Mampukah Elias membongkar kejahatan-kejahatan yang dilakukan Zenthera Corp?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hernn Khrnsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
THC 03
Udara Manhattan terasa berat menjelang siang. Matahari mulai naik, cahayanya memantul di antara kaca gedung-gedung pencakar langit, menciptakan kilatan menyilaukan yang menusuk mata para pejalan kaki.
Motor sport Elias melaju kencang melewati jalanan Manhattan menuju Avenue Street. Pandangannya fokus ke depan, tujuannya kali ini mencari seseorang. Target pertama yang harus ia lumpuhkan.
Ia sudah mencari tahu, pria bernama Dennis Caldwell, seorang editor senior di Gotham Media. Pria itu, dikabarkan akan melakukan siaran wawancara langsung di sebuah stasiun televisi yang cukup terkenal.
"Ini waktu yang tepat untuk menghancurkan karirnya. Sama seperti ia menghancurkan nama baik keluargaku." Elias menggeram di balik helm hitamnya.
Api dendam itu makin membara di dalam dadanya kala ia melewati gedung Gotham Media. Elias memelankan laju motornya untuk melihat gedung pencakar langit tempat di mana ibunya dulu bekerja.
"Pria sialan itu seharusnya akan keluar sebentar lagi," gumam Elias seraya melirik arloji di pergelangan tangannya.
Ketika akhirnya ia melihat pria yang ia duga bernama Dennis Caldwell keluar dari kantornya. Darah Elias terasa bergejolak.
Dennis Caldwell terlihat berjalan keluar dari depan kantornya, memasuki sebuah mobil hitam. Selama beberapa detik, Elias memperhatikan setiap gerak pria itu.
Kemudian, setelah mobil itu melaju ke jalanan, Elias mengikutinya dari belakang. Ia berbelok ke kanan, memasuki sebuah kafe. Tempat yang Ia pilih untuk melakukan rencananya.
"Sudah waktunya," gumam Elias sambil memarkir motornya dan berjalan masuk ke dalam kafe itu. Ia mengambil duduk di pojokan, sudut yang tak terlihat oleh orang lain.
Elias mengeluarkan laptop kesayangannya, membukanya perlahan. Menit berikutnya, jemarinya sudah fokus menari-nari di atas tuts. Tatapan matanya, sepenuhnya tertuju kepada layar laptop di hadapannya.
Selama lima belas menit, Elias terus berkutat dengan deretan angka dan huruf yang tak akan mungkin bisa dimengerti oleh orang biasa.
"Permisi. Mau pesan apa?" tanya seorang pramusaji menanyakan pesanan Elias.
Pria itu mendongak, "Hot chocolate saja, thanks." Ia langsung kembali pada layar laptopnya begitu sang pramusaji meninggalkan mejanya.
Selepas tiga puluh menit berkutat dengan laptopnya, akhirnya Elias meregangkan tangannya. "Selesai!" katanya puas.
Ia menyandarkan punggungnya sejenak, menatap langit-langit kafe yang terasa menenangkan. Kemudian, Ia meminum seteguk hot chocolate-nya yang mulai dingin.
Elias kembali menutup laptopnya, memasukkannya kembali ke dalam tas. Ia meninggalkan selembar uang di meja sebagai tip tambahan pagi pramusaji tadi sebelum meninggalkan kafe dan kembali ke kantornya.
•••
Dennis Caldwell, editor senior surat kabar di Gotham Media itu kini sedang melakukan sesi wawancara eksklusif dengan salah satu stasiun televisi. Ia dipuji-puji atas prestasinya yang luar biasa selama menjadi editor senior.
Karirnya melejit saat ia berhasil menulis berita mengenai kematian seorang jurnalis investigasi. Namanya kemudian sering disebut-sebut sebagai editor berkelas.
Sebab bukan hanya pandai menyajikan fakta, Dennis juga lihai menyusun cerita investigasi menjadi sebuah kisah yang menegangkan.
Ketenarannya hampir menyamai seorang selebriti, orang-orang mulai mengenalnya di kalangan publik setelah dikabarkan dekat dengan seorang komandan kepolisian dan kedekatannya dengan seorang hakim.
"Sepanjang karir Anda, Tuan Caldwell. Adakah hal-hal tidak menyenangkan yang mungkin Anda alami sebagai editor? Jika ada, penonton pasti akan sangat senang untuk mendengarnya."
Dennis Caldwell tersenyum bangga, tatapannya tertuju ke kamera yang langsung merekam dirinya secara closure.
"Menurut saya, setiap profesi pasti ada saja hal-hal yang tidak menyenangkan yang kita dapat saat bekerja," kata Caldwell dalam siaran langsung itu, mengawali sesi bicaranya.
Sementara itu, Elias yang mendengarkan siaran langsung itu dari ponselnya menggertakkan rahangnya. Apalagi ketika Dennis menceritakan pengalamannya membuat berita mengenai kematian seorang jurnalis investigasi yang meninggal itu.
"Ketika aku menulis berita itu, aku benar-benar merasa gemetar. Bagaimana pun, Anita Rainer adalah rekan kami."
"Wow, Anda sangat luar biasa, Tuan Caldwell. Padahal kejadian itu sudah berlalu hampir 20 tahun, tetapi Anda tetap mengingat rekan kerja Anda. Ini sikap yang sangat luar biasa. Tak heran Anda sangat disegani, ya."
Mendengar penjelasan Dennis, serta wajahnya yang menyebalkan itu membuat Elias benar-benar kehilangan selera makannya. Ia bahkan merasa ingin meninju wajah pria itu.
Noah, yang duduk di seberangnya, melihat ekspresi Elias yang kelihatan tidak baik-baik saja. "El? Kau baik-baik saja?" tanyanya seraya menepuk pelan bahu Elias.
Tak sengaja, Noah melihat layar ponsel Elias yang menayangkan siaran langsung itu.
"Wah! Kau juga menyukai Dennis Caldwell itu, ya? Aku sangat mengaguminya! Pria itu benar-benar luar biasa!" seru Noah senang saat tahu Ia dan Elias memiliki idola yang sama.
Elias menggeleng, mematikan ponselnya. "Kau tidak akan pernah mengaguminya lagi nanti," katanya ketus.
Noah mengernyit, "Kenapa? Dia itu sangat keren, El. Ketenarannya bahkan mengalahkan selebriti," komentarnya tak tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Elias tak menyahut, seandainya Noah tahu kelakuan pria itu di belakang media, pria itu pasti juga akan mengutuk seorang Dennis Caldwell. Tapi tidak, Noah tidak tahu apa-apa. Pria itu bahkan terlalu polos untuk mengetahui hal-hal lain.
"Kenapa kau menatapku begitu? Apakah ada sesuatu di wajah tampanku, El?" tanya Noah, merasakan Elias menatapnya terus-menerus.
Elias menggeleng pelan, mendorong makanannya menjauh. "Tidak, tapi aku berpikir kadang-kadang kau terlihat lugu untuk ukuran wajahmu itu," ledeknya.
"Hei!"
Noah baru saja mengangkat tangannya untuk memukul lengan Elias saat terdengar bunyi orang-orang yang ribut dalam kerumunan.
"Ada apa itu? Apa ada sesuatu yang terjadi?" tanya Noah penasaran, ia langsung setengah berlari ke arah kerumunan itu.
Sementara Elias duduk dengan tenang sambil menyaksikan kerumunan yang tampak heboh dengan berita yang baru saja terjadi itu.
"Apa ini benar? Ini bukan prank, kan?"
"Sepertinya bukan, lihatlah presenter itu."
"Oh, astaga! Situasinya benar-benar kacau!"
"Ini benar-benar sangat memalukan!"
Dari tempatnya duduk, Elias dapat mendengar ocehan dan makian staff lain. Begitu pula dengan Noah yang ternganga tak percaya.
"Apa yang terjadi, Noah?" tanya Elias ketika temannya itu kembali ke tempat duduknya tadi.
"Ugh! Jangan bertanya padaku! Aku benar-benar merasa kecewa sekarang. Pria itu, si Dennis itu ternyata … sangat menjijikkan!" pekik Noah tak percaya sekaligus merasa kesal dengan apa yang baru saja ditontonnya.
Elias hanya mengedikkan bahu, tak perlu repot-repot mencari tahu, sebab yang menjadi dalang dari kejadian menggemparkan itu adalah dirinya sendiri.
"Ini hanya permulaan saja," bisik Elias pada dirinya sendiri. Ia mengambil buku catatan kecil yang selalu ia letakkan di sakunya.
Meraih pulpen, membuka catatan kecil itu dan mencoret satu nama yang sudah ia tulis dengan tinta berwarna merah.
"Target pertama, selesai."
•••
Preview bab berikutnya.
Tertangkapnya Dennis Caldwell dalam sebuah siaran langsung itu seketika langsung menjadi berita terhangat yang dibicarakan oleh media-media. Videonya bahkan ditonton hingga jutaan kali.
Berita tertangkapnya Dennis Caldwell itu juga mengundang beberapa pihak tertentu menjadi curiga. Belum lagi, sebuah akun anonim yang muncul ke media dan menceritakan skandal menjijikkan mengenai Dennis Caldwell berhasil membuat beberapa pihak semakin khawatir.
Selain itu, Elias juga bertemu dengan seseorang yang sangat ia kenali. Yang akan menjadi target berikutnya untuk dihancurkan.
entahlah, apa lagi yang harus kubilang, terkadang aku merasa, ko sengaja menulis genre ini, biar aku bisa belajar banyak hal (kepenulisan). Terimakasih, karya yang luar biasa, Thor! 🙆🏻♂️