Elzia manofa, seorang anak SMA yang di jodohkan dengan duda anak satu, bagaimana kelanjutan cerita mereka, ikuti yuk
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Mia Novita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kantor Arkana
Sepanjang jam pelajaran, Zia sama sekali tidak bisa fokus. Kata-kata Reno yang berisi dan pesan posesif dari Arkan terus berputar di kepalanya. Bel pulang sekolah berbunyi, dan Zia segera menyambar tasnya, ingin segera menghilang dari kerumunan siswa yang masih memperhatikannya.
Namun, di lobi sekolah, langkah Zia kembali terhenti. Bukan mobil Arkan yang menunggunya, melainkan sebuah mobil sedan putih anggun yang menunggu tepat di depan tangga. Seorang wanita dengan pakaian bermerek, kacamata hitam besar, dan aura berkelas berdiri bersandar di pintu mobil.
Beberapa siswa berbisik, “Itu model ya?” atau "Cantik banget, siapa yang dijemput?"
Zia hendak melewati wanita itu begitu saja, tapi sebuah suara lembut namun tajam mencengangkan.
"Zia? Kamu Zia, kan?"
Zia menoleh, bingung. "Iya, saya. Maaf, Kakak siapa?"
Wanita itu melepaskan kacamata hitamnya, menampilkan mata yang indah namun tetap menampilkan dingin yang serupa dengan milik Arkan. "Namaku Sarah. Aku... teman lama Arkan. Dia sedang rapat penting dan memintaku menjemputmu. Mari, masuklah."
Zia ragu. Ia teringat foto di meja kerja Arkan. Wajah wanita ini sangat mirip dengan foto yang sudutnya terpotong itu. Apakah wanita ini yang membuat Arkan terluka?
"Tapi Om Arkan bilang supirnya yang jemput..."
"Arkan berubah pikiran. Dia ingin kita saling mengenal," sela Sarah dengan senyum yang tidak sampai ke mata.
Tanpa banyak pilihan karena Reno dan teman-temannya mulai mendekat lagi, Zia akhirnya masuk ke mobil Sarah. Suasana di dalam mobil sangat sunyi, hanya ada aroma parfum mawar yang menyengat.sangat berbeda dengan aroma woodsy Arkan yang menenangkan.
Di Dalam Mobil
“Jadi, kamu anak SMA yang berhasil membuat Arkan mau menikah lagi?” Sarah membuka percakapan sambil menyetir dengan santai. "Cukup mengejutkan. Arkan biasanya punya standar yang...sangat tinggi."
Zia merasa tersindir. "Ini hanya perjodohan orang tua, Kak."
"Aku tahu. Arkan memang paling tidak bisa menolak permintaan orang tuanya," Sarah terkekeh, namun terdengar terdengar meremehkan. "Tapi jujur saja, Zia, Arkan itu pria yang sempurna. Dia butuh pendamping yang bisa mengimbangi dunianya, bukan anak kecil yang masih harus diingatkan untuk makan."
Zia menggenggam tangannya di atas pangkuan. "Kenapa Kakak bilang begitu sama aku?"
Sarah melirik Zia dari kaca spion tengah. "Hanya peringatan. Arkan memilihmu karena kamu 'aman'. Kamu tidak punya masa lalu, kamu tidak punya ambisi yang bisa mengancamnya. Kamu hanya pelampiasan dari rasa sakit yang aku tinggalkan."
Duar! batin Zia seolah menyambar lebih keras dari petir semalam. Jadi benarkah, dia hanya seorang pelampiasan?
Sarah ternyata tidak membawa Zia pulang ke rumah, melainkan ke kantor Arkan. Begitu masuk ke ruangan pribadi Arkan, mereka melihat Arkan sedang berdiri membelakangi pintu, menatap jendela besar ke arah gedung-gedung SCBD.
“Arkan, lihat siapa yang kubawa,” ucap Sarah dengan nada manis yang dibuat-buat.
Arkan berbalik seketika. Matanya yang semula tajam langsung berubah menjadi gelap saat melihat Zia berdiri di samping Sarah dengan wajah pucat.
"Sarah? Apa yang kamu lakukan? Aku menyuruh supirku, bukan kamu," suara Arkan terdengar seperti geraman rendah.
"Aku hanya kebetulan lewat sekolahnya, Kan. Jadi aku menawarkan tumpangan," jawab Sarah santai.
Zia tidak tahan lagi. Ia merasa seperti bidak catur yang sedang dimainkan. Ia mengeluarkan kartu hitam dari sakunya dan membantingnya ke meja kerja Arkan.
"Aku bukan peliharaan yang bisa kalian oper-oper!" seru Zia dengan suara bergetar. "Om bilang aku dipilih karena aku tidak akan bisa nyakitin orang lain? Om salah. Aku bisa sakit hati juga!"
Zia berbalik dan lari keluar ruangan sebelum air matanya jatuh.
Arkan hendak mengejar, tapi Sarah menahan lengannya. "Biarkan dia, Arkan. Dia hanya anak kecil yang sedang tantrum. Kamu butuh wanita dewasa yang—"
"Lepas, Sarah," Arkan menepis tangan Sarah dengan kasar, matanya memancarkan amarah yang belum pernah terlihat sebelumnya. "Jangan pernah menyentuh milikku lagi. Dan jangan pernah berpikir kamu masih punya tempat."
Arkan berlari keluar, mengabaikan kebingungan karyawannya, demi mengejar gadis kecil yang baru saja menyadari bahwa dunianya tidak lagi terkena ujian matematika.
zia duda itu tidak selalu tua juga ada yg usia 20jadi duda 🤣🤣🤣
Belum juga ketemu udah bayangin om duda tua muka jelek jangan gitu dong,nanti kalau kamu terkejut gimana 🤔