Seorang CEO penderita Post Traumatic Relationship syndrome, tidak bisa jatuh cinta lagi ketika kehilangan calon istrinya dikejutkan ketika melihat ada seorang gadis begitu mirip dengan calon istrinya yang telah tiada.
Tanpa berpikir panjang, gadis malang itu dipaksa menjadi pengantin pengganti sang CEO.
Aluna, gadis berusia 25 tahun yang dalam titik terendah dalam hidupnya.
Ayahnya terkena serangan jantung, calon suaminya selingkuh dengan sahabatnya sendiri, dan hutang menumpuk untuk biaya pengobatan ayahnya.
Rasanya dunia tempat ia berpijak dipenuhi oleh duri kaca yang menyakitinya.
Sampai ketika dia bertemu dengan seorang CEO bernama Edgar Brown (30), pengusaha terkaya namun terkenal dingin dan kejam.
Pertemuan itu membawa Aluna ke kehidupan yang jauh berbeda, semua masalah hidup dan finansial semuanya terpecahkan atas bantuan Edgar.
Namun ada bayaran untuk semua itu, dimana Aluna harus menjadi pengganti untuk Edgar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anak Kost, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 3 : Gadis itu harus menjadi milikku.
Episode 3 : Gadis itu harus menjadi milikku.
***
"Ini tidak mungkin! Fiona?" seru Edgar tak percaya dengan apa yang lihat.
Dia menarik Aluna dengan sangat kencang membuat Aluna merasakan sakit di tangannya.
“Tu ... Tuan apa yang anda lakukan?”
“To … tolong lepaskan saya!”
Seru Aluna kebingungan dengan sikap Edgar ini kepadanya.
Lengannya yang begitu sakit ketika Edgar mencengkeramnya kuat.
Aluna kebingungan ketika melihat wajah lelaki yang merupakan lelaki nomor satu di negeri ini ketika melihatnya dengan tatapan yang begitu menyedihkan, seolah mata itu menunjukkan kepedihan yang mendalam.
Seperti seseorang yang baru melihat seseorang yang tidak pernah ia jumpai selama ini dan dia sangat merindukannya.
“Fiona? Kenapa kau meninggalkan aku sendirian, aku sangat merindukan mu sayang …”
“Aku tidak tahu apakah ini mimpi atau tidak, tetapi terimakasih sudah datang … terimakasih!”
Di tengah Aluna memberontak dan hendak melepaskan dirinya, Edgar malah memeluknya lebih kencang.
"Pak ... tolong saya!"
Aluna berteriak kecil memanggil supervisor nya, dia kebingungan dan ketakutan disaat yang bersamaan.
Supervisor barr yang melihat itu segera datang untuk memeriksa apa yang sebenarnya terjadi.
"Aluna ada apa ini?"
Supervisor itu masih sangat takut dan segan hanya untuk melepaskan Aluna dari genggaman Edgar Brown.
Jika dia salah langkah maka bisa jadi hidupnya akan dihancurkan begitu saja oleh Edgar mengingat bagaimana Edgar memiliki tempramen yang sangat buruk.
"Pak ... tolong saya ... tiba-tiba Tuan ini menarik dan mendekap saya ... saya kebingungan ..."
Keluh Aluna mengadu dan berusaha sekuat tenaga hendak meminta pertolongan dari atasannya itu.
.
.
Lalu demi menjaga profesionalitas, supervisor itu mencoba melepaskan Aluna dengan sangat halus dan hormat.
"Tuan Edgar mohon maaf sekali, boleh kah saya menanyakan sebenarnya apa yang tengah terjadi?"
"Sangat tidak baik jika orang-orang melihat Tuan berperilaku seperti ini ..." seru supervisor itu menyadarkan Edgar jika sudah beberapa tamu memperhatikan mereka.
Dimana hal itu bisa saja mencoreng nama baik Edgar karena melecehkan seorang gadis pekerja barr.
Mata Edgar melebar ketika menyadari itu, dia menatap kembali ke arah Aluna yang sudah ketakutan dan merasa perih di tangannya.
"Ah!"
Geram Edgar memegangi kepalanya, bagaimana tidak ... setelah ia perhatikan lagi Fiona dan Aluna ternyata memiliki perbedaan.
Keduanya memang sangat mirip dibagian mata akan tetapi bentuk wajah dan yang lain masih terlihat perbedaan yang jelas.
Namun jika dilihat sekilas memang keduanya akan sangat mirip.
"Aku pasti sudah gila!"
Geram Edgar mengusir supervisor dan Aluna menggunakan lambaian tangan kasar.
Dimana Edgar segera mengambil botol sampanye dan meneguknya dalam jumlah banyak.
Ketika Aluna dan supervisor itu pergi, matanya masih menatap tajam ke arah Aluna.
Ada beberapa hal mengerikan yang tengah bergejolak dalam hatinya, dimana dia merasa Aluna harus berada di sekitarnya dan menjadi miliknya apapun yang terjadi.
"Kemiripan gadis itu dengan Fiona pasti adalah takdir, gadis itu harus menjadi milikku dan dia harus hidup menjadi Fiona!"
"Jika tidak aku tidak akan pernah bisa menikah!" geram Edgar meneguk minuman itu sampai habis satu botol penuh.
Jantungnya masih berdegup sangat kencang, dimana dia merasa gadis yang tadi merupakan Fiona.
Dan fakta itu tak akan ia sangkal.
"Tring ... Tring ... Tring!"
Panggil telepon segera menghampiri assiten Edgar, dimana ketika Edgar sudah mabuk dia segera menghubungi Dean.
"Dean! kosongkan barr malam ini, dan gadis yang bernama Aluna yang bekerja di barr ini bawa dia ke kamar ku!"
Perintah Edgar segera bangkit dengan wajah mabuknya lalu ia melangkah ke kamar hotel yang memang menjadi langganannya setiap waktu.
.
.
.
.
gak nyambung lah dengan sindrom"nya atau penyakit apalah itu. karena pd nyatanya mau fiona salah atau tdk ttp fiona yang diinginkan.