Meloudy Tanuwirama, pemilik tato mencolok yang menutupi seluruh lengan kanan hingga pundak, adalah seorang gitaris metal dan kreator konten dengan 100 juta lebih pelanggan. Di balik kesuksesannya di dunia maya, ia berjuang keras menafkahi sekaligus membiayai pengobatan ibunya yang sakit — menjadi satu-satunya tulang punggung keluarga tanpa ayah. Namun penghasilannya belum cukup menutupi biaya yang terus menumpuk.
Sementara itu, Vano S. Viandra — pemilik perusahaan S Group yang berpengaruh di seluruh Benua Asia, berparas tampan luar biasa namun berhati sedingin es — terkejut luar biasa saat menyadari siapa wanita itu sebenarnya.
"Tato itu… Kau Loudy? Gitaris metal yang punya seratus juta lebih pelanggan? Kau?!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arni Arlinawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20 — Dua Dunia, Satu Atap
Meloudy duduk di mejanya, menunduk di atas tumpukan berkas yang belum selesai. Pena di tangannya bergerak lincah, namun pikirannya sesekali melayang — sejenak teringat wajah Vano, lalu kembali dipaksa fokus pada deretan angka dan kalimat di hadapannya. Ia harus kuat. Harus bekerja. Demi Ibu.
Ponsel di sudut meja tiba-tiba berdengung, memecah keheningan yang mencekam. Nama yang muncul di layar membuatnya tersenyum tipis, seakan sepotong kenangan manis yang terselip di tengah hari yang kelam — Gita Amelia, sahabat yang pernah berbagi tawa dan air mata di lorong-lorong sekolah menengah pertama, teman satu angkatan yang kini menjadi satu-satunya jembatan menuju masa lalu yang tak ternoda beban berat di pundaknya.
Ia mengangkatnya pelan, jari-jarinya sedikit gemetar, seakan takut suara yang keluar akan mengkhianati kelelahan yang disembunyikan rapat-rapat.
"Halo, Gi?" jawab Meloudy.
"Meloudy! Akhirnya kau angkat! Dengar, Neneng juga di sini. Kami berencana mengadakan reuni angkatan kita nanti malam, sekalian merayakan ulang tahunku — di Hotel Medina!"
Meloudy tersenyum tipis, jemarinya menepuk tepian meja pelan.
"Wah… selamat ulang tahun duluan, Gi. Biar aku cek jadwalnya dulu, ya. Takutnya—"
"Eh, belum selesai kubilang!" potong Gita sambil tertawa ceria.
"Tunanganku sudah mengurus semuanya! Hotel ini milik kerabat dekatnya, jadi ia sudah memesan satu kamar istimewa sejak sebulan lalu. Kamar itu menyatu langsung dengan kamar pribadi pemilik hotel di sebelah! Ruangannya luas, balkonnya lebar, menghadap kolam renang — pemandangannya indah sekali! Kami hanya ingin berpesta kecil-kecilan, berkumpul dengan teman-teman lama, makan dan bercanda sepuasnya!"
Neneng Herliani yang juga teman satu angkatan nya menyahut di latar belakang, suaranya terdengar antusias.
"Iya, Meloudy! Sengaja Gita yang menelepon. Kami sangat ingin kau datang! Sudah lama kita tak berkumpul, ayo ikut!"
Meloudy terdiam sejenak, menatap tumpukan berkas di hadapannya, lalu ke arah jendela yang menampilkan langit mulai menggelap. Kamar yang menyatu dengan milik pemilik hotel… tempat yang begitu istimewa, begitu jauh dari kesehariannya. Hatinya terasa hangat sekaligus berat — ingin sekali bertemu mereka, ingin sejenak melepaskan lelah bersama kawan lama, namun di sisi lain, keterbatasan waktu dan tanggung jawab di rumah sakit seakan menariknya mundur.
Ia menarik napas pelan, lalu menjawab dengan suara lembut.
"Baiklah… aku usahakan datang. Terima kasih sudah mengundangku."
Setelah panggilan terputus, ia meletakkan ponselnya kembali ke meja. Bayangan balkon luas itu terlintas di benaknya — tempat yang terasa begitu mewah, begitu indah, seakan bukan milik dunianya. Namun senyum tipis tak lepas dari wajahnya. Setidaknya untuk satu malam, ia boleh sejenak menjadi gadis biasa di antara teman-temannya.
...****************...
Vano melangkah masuk ke klub itu, dan seketika itu juga dentuman musik yang memekakkan telinga menyambutnya. Di sudut ruangan yang agak sepi, Eren duduk di samping Elona, wajahnya tampak lelah setengah mati. Wanita itu terus meronta, menolak disentuh siapa pun, matanya tak lepas dari pintu masuk.
Namun Vano tak benar-benar melihatnya. Pikirannya masih tertinggal pada satu nama yang tak bisa ia miliki — Laudys. Sosok yang hanya ia kenal dari layar, yang tak pernah ia temui, namun mengisi setiap ruang sepi di hatinya. Ia kesepian. Begitu kesepian, ditinggalkan, tak punya tempat untuk menumpahkan rindu yang tak bertepi. Dan dalam kesunyian yang mencekam itu, ia pernah terjatuh — membiarkan orang lain mengisi kekosongan yang seharusnya hanya milik satu orang.
"Sudahlah, Elona… duduk tenang. Dia pasti datang," bujuk Eren untuk kesekian kalinya, namun bagi Vano, suara itu terdengar samar, seakan datang dari tempat yang jauh.
Saat Elona akhirnya melihatnya dan berlari mendekat, mencengkeram lengan jasnya erat, Vano tak merasakan kehangatan. Ia hanya melihat bayangan lain.
"Vano! Kau datang! Aku tahu kau tak akan meninggalkanku!"
Eren mendekat, menatapnya dengan wajah penuh permohonan maaf.
"Aku sudah berusaha menenangkannya sejak tadi, tapi dia tak mau mendengar siapa pun selain kau. Maaf, Vano… aku tak tahu lagi harus berbuat apa."
Vano mengangguk pelan, lalu merangkul pinggang Elona yang masih gemetar — bukan karena menginginkannya, melainkan karena tak sanggup menatap kekosongan di dalam dirinya sendiri.
"Baiklah… aku bawa kau pergi. Ayo."
Ia tahu ini salah. Tahu betul. Malam itu, ketika ia mabuk dan hancur, ia tak memeluk Elona — ia memeluk bayangan Laudys. Dan bukan hanya Elona. Ina Marlina, calon tunangan Damian, sepupunya yang tulus… ia pun pernah terjatuh bersamanya, membayangkan wajah lain, menyebut nama lain. Ia membiarkan mereka menjadi pelampiasan, karena tak sanggup menahan rindu sendirian. Ia tahu itu kejam, tahu itu salah, namun kesepiannya begitu dahsyat hingga ia tak peduli lagi siapa yang ada di sampingnya.
**
Di dalam mobil, keheningan tak pernah terjadi. Begitu pintu tertutup, Elona semakin menjadi-jadi. Ia memeluk lengan Vano erat, menarik-narik pakaian pria itu, suaranya melengking histeris.
"Jangan kirimku pulang! Aku tidak mau sendirian! Aku ingin bersamamu semalaman! Menjadi pasanganmu malam ini, Vano!"
Vano mencengkeram setir hingga buku jarinya memutih. Amarahnya bukan pada Elona, melainkan pada dirinya sendiri.
"Elona, diamlah…"
"Tidak!" teriaknya keras, tubuhnya menegang, tangan kirinya meraih gagang pintu mobil seketika.
"Kalau kau tetap memaksaku pulang… kalau kau menolakku… aku akan membuka pintu ini dan meloncat sekarang juga! Aku tidak bercanda, Vano!"
Vano menoleh sejenak, matanya membelalak tak percaya, lalu kembali menatap jalanan dengan napas kasar yang terdengar di sela-sela gigi yang mengatup rapat. Rasa kesal membakar dadanya — dipaksa, diancam, dipermainkan ketakutan wanita itu sendiri. Namun di balik kemarahannya, tersembunyi ketakutan yang lebih dalam: takut ditinggal sendirian kembali dengan kesepiannya.
"Baiklah!" bentaknya pelan, suaranya gemetar menahan kekesalan.
"Kau ikut. Kita ke Hotel Medina. Sekarang tarik tanganmu dari pintu itu!"
Elona seketika tersenyum lebar, melepaskan gagang pintu dan kembali memeluk lengan Vano dengan wajah puas.
"Kau memang menyayangiku… aku tahu kau tak akan menolakku… biarkan aku menemanimu malam ini, Vano… aku akan membuatmu bahagia…"
Vano tak menjawab. Ia menekan pedal gas lebih dalam, pandangannya gelap, menatap jalanan tanpa benar-benar melihatnya. Di sampingnya, Elona terus berbicara, memuji, merayu — namun tak satu pun masuk ke telinganya.
Di benaknya, semuanya menyatu: Elona, Ina, ancaman, rahasia yang bisa menghancurkan Damian… semuanya bermula dari satu hal — ia tak bisa memiliki Laudys. Dan dalam keputusasaannya, ia meraih siapa saja yang ada, membiarkan mereka mengisi kekosongan itu tanpa menyadari bahwa ia justru menciptakan luka yang jauh lebih dalam.
Ia bukan pria yang dicintai siapa-siapa. Ia hanya pria yang begitu kesepian, hingga menggenggam bayangan apa pun yang lewat — meski tangan itu bukan miliknya.
Mobil meluncur menuju Hotel Medina. Dan di dalam hatinya, Vano hanya tahu satu hal: ia sedang menuju tempat yang tak ia inginkan, bersama orang yang tak ia cintai, karena orang yang ia inginkan tak akan pernah ada di pelukannya.
^^^Bersambung...^^^
ah cowok kan emang begitu