"Mati adalah akhir yang terlalu mudah bagi seorang pengkhianat. Aku akan memastikan kalian memohon kematian sebelum napas terakhir kalian kuhentikan."
Elikai Wijaya adalah agen elit legendaris berkode nama "Shadow" di organisasi intelijen Phantom. Tapi, kesetiaannya dibayar darah. Demi kekuasaan, paman kandungnya sendiri. seorang gembong mafia bernama Gaizka Wijaya bekerja sama dengan mentor Elikai, Jenderal Jendra, untuk membantai seluruh keluarga Elikai dan menembaknya hingga sekarat.
Dikira telah tewas, Elikai bangkit dari neraka berkat bantuan Belladona, sang hacker jenius. Dengan wajah baru hasil operasi rekonstruksi, ia menyamar menjadi Liam Jeren, seorang CEO muda yang kaya raya dan arogan.
Misi balas dendam pun dimulai. Liam sengaja mendekati Bellatrix, sepupu kandungnya sendiri yang polos, untuk dijadikan pion penghancur dinasti kriminal pamannya. Dari balik meja kerja CEO dan senapan runduknya, sang Agen Bayangan siap memburu para pengkhianat satu per satu tanpa ampun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ghost_Writer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Teror dari Masa Lalu
Jam dinding kayu jati di ruang kerja pribadi Gaizka Wijaya berdentang dua kali, gema beratnya memotong kesunyian malam Menteng yang pekat. Rintik hujan di luar jendela kaca raksasa telah mereda, menyisakan hawa dingin yang perlahan menyelinap masuk melewati celah-celah ventilasi. Di dalam ruangan, bau anyir darah dari tempat Leo dieksekusi kemarin sore masih tertinggal samar di udara, bercampur dengan aroma minyak cengkih yang sengaja disemprotkan pelayan untuk menyamarkan bau kematian.
Gaizka duduk terpuruk di kursi kebesarannya. Penerangan di ruangan itu dibuat seminim mungkin, hanya mengandalkan pendar kuning dari lampu meja yang meremang di sudut. Wajah gembong mafia itu tampak sepuluh tahun lebih tua. Matanya yang merah menatap kosong ke arah permukaan meja ek hitam yang bersih, tempat laptop bisnis Leo yang kini telah hancur berantakan di lantai.
Napasnya terdengar berat, tersengal karena paranoia yang kian menggerogoti kewarasannya sejak kepulangannya dari paviliun militer Jenderal Jendra. Ancaman sang jenderal yang siap mengirimkan regu tembak eksekusi terus berdengung di kepalanya bagai kutukan. Kerajaan bisnis Wijaya Group yang ia bangun dengan darah kini berada di ambang kehancuran total dalam waktu kurang dari empat puluh delapan jam.
Gaizka memijat pelipisnya yang berdenyut kasar. Keringat dingin membasahi kerah kemejanya yang sudah longgar karena dasinya telah dilepas secara kasar sejak tadi malam.
"Siapa..." bisik Gaizka parau pada ruangan yang sunyi. "Siapa bajingan yang meretas rekeningku..."
Ia bangkit dari kursinya dengan langkah kaki yang diseret, berjalan mendekati dispenser di sudut ruangan untuk menuangkan segelas air dingin. Tangannya yang gemuk bergetar hebat hingga air sedikit memercik keluar membasahi lantai kayu. Gaizka meneguk air itu dalam satu tegukan rakus, membiarkan dinginnya air meredam gejolak panas di dadanya.
Tetapi, ketika Gaizka membalikkan tubuhnya untuk kembali ke meja kerja, insting lamanya sebagai penjahat jalanan mendadak berteriak.
Udara di dalam ruangan terasa bergeser. Ada sesuatu yang berbeda di atas meja kerjanya yang luas.
Gaizka melangkah mendekat dengan sangat lambat. Sepasang matanya yang menyipit tajam mengunci sebuah benda kecil yang tergeletak tepat di titik tengah meja ek hitamnya, posisinya persis di atas bayangan lampu meja yang meremang. Benda itu sebelumnya tidak ada di sana ketika ia bangkit lima menit lalu. Pintu ruang kerja terkunci rapat dari dalam, dan tidak ada suara derit lantai atau desau angin yang menandakan adanya penyusup.
Saat jaraknya hanya tinggal selangkah, jantung Gaizka Wijaya mendadak berdenyut kencang hingga ia merasa nyeri di dadanya.
Di atas meja kayu ek itu tergeletak sebuah pin lencana perak berbentuk burung phoenix yang sedang mengepakkan sayapnya di atas lambang lingkaran geometris yang rumit. Lencana resmi bersemboyan intelijen tingkat tinggi milik organisasi Phantom. Tapi, yang membuat seluruh darah di tubuh Gaizka seketika membeku adalah kondisi lencana tersebut.
Permukaan perak yang seharusnya berkilau itu telah menghitam di beberapa sudut akibat efek panas ekstrem, dan di sela-sela ukiran sayap burung phoenix itu, kerak merah tua yang kering melekat erat.
Itu adalah noda darah lama. Darah yang sudah mengering dari empat bulan lalu.
Gaizka mengulurkan tangannya yang gemetar, berniat menyentuh lencana itu, namun jemarinya berhenti di udara. Rasa ngeri seketika merayap naik dari ujung kakinya, menjalar cepat ke sepanjang tulang belakang, memaku tubuh tambunnya di tempat. Ia mengenali lencana itu. Sangat mengenalinya. Itu adalah lencana berkode nomor 07 yang ia lihat terjatuh dari saku jaket taktis keponakannya sendiri, Elikai Wijaya, sesaat sebelum ia melepaskan tembakan revolver ke dada kiri pemuda itu di malam pembantaian.
"T-Tidak mungkin..." bisik Gaizka, suaranya pecah menjadi sebaris rintihan yang tak terdengar.
Ia melangkah mundur dengan panik hingga pinggulnya membentur lemari pajangan kaca di belakangnya dengan bunyi berdentang nyaring. Matanya melotot lebar, menatap lencana perak itu seolah benda itu adalah seonggok granat aktif yang siap meledak.
Kenangan malam jahanam empat bulan lalu seketika berputar liar di dalam kepalanya. Jeritan kakak kandungnya, kobaran api yang melahap rumah, dan tatapan mata Elikai yang sedingin es sebelum kesadarannya padam di tengah kepungan api. Jendra sendiri yang mengerahkan unit forensik internal Phantom untuk menyisir abu rumah tersebut dan menyatakan bahwa Elikai Wijaya telah tewas dengan tingkat kecocokan DNA sembilan puluh sembilan persen.
Akan tetapi lencana ini... lencana yang berlumuran darah ini tidak mungkin berada di sini jika sang pemilik telah menjadi abu.
Gaizka menatap ke sekeliling ruangan yang gelap dengan panik. Setiap bayangan pilar kayu mahoni di sudut ruangan mendadak tampak seperti siluet seorang pembunuh berjas hitam yang sedang mengintainya. Setiap desau angin di luar jendela terdengar seperti bisikan parau keponakannya yang datang menuntut balas.
"Kai..." raung Gaizka lirih, napasnya memburu pendek bagai orang yang kehabisan oksigen. "Kau... kau masih hidup, Bajingan?!"
Detik itu juga, seluruh teka-teki mengerikan dalam dua hari terakhir mendadak tertata rapi di dalam otaknya. Ledakan misterius kapal senjata di pelabuhan utara, bukti transfer palsu seratus lima puluh miliar yang tertanam sempurna di komputer Leo, hingga pengurasan seluruh rekening siber miliknya di Swiss dan Panama dalam waktu semalam. Itu semua bukan kerjaan Kartel Naga Merah. Itu juga bukan pengkhianatan Leo.
Itu adalah taktik spionase. Operasi pembersihan yang hanya bisa dilakukan oleh satu orang legendaris yang dibesarkan di dalam rahim organisasi Phantom. Shadow.
Elikai Wijaya telah kembali dari kerak neraka. Pria itu tidak datang untuk membunuhnya dengan cepat, melainkan pria itu sedang mempermainkannya, menguliti seluruh kekuasaan finansialnya, mematahkan lengan kanannya, membuatnya diisolasi oleh sekutunya, dan membiarkannya membusuk di dalam ketakutan sebelum ajal menjemputnya.
Gaizka merosot jatuh berlutut di atas karpet dengan tubuh bergetar hebat. Rasa aman yang selama ini ia beli dengan uang triliunan rupiah mendadak menguap tanpa sisa. Di dalam rumah mewahnya yang dijaga ketat oleh belasan pengawal bersenjata, sang gembong mafia itu kini meratapi ketakutannya bagai seekor tikus yang sudah terkunci di dalam perangkap besi, menanti sang malaikat maut berjas hitam datang untuk mengeksekusinya.