Bagi Rindu Setia Wiratman, hidup adalah buku catatan yang penuh dengan aturan ketat, ekspektasi, dan kesempurnaan semu. Sebagai gadis populer yang selalu memegang kendali, ia tidak pernah menyangka bahwa takdir akan menuliskan babak paling menyakitkan di saat ia merasa paling rapuh—ketika keluarganya runtuh dan dunianya hancur perlahan.
Di sisi lain, ada Langit Batara Nugroho, cowok arogan yang kehadirannya selalu berhasil menyulut emosi Rindu. Di balik sikapnya yang menyebalkan, Langit menyimpan luka masa lalu yang belum tuntas dan sebuah rahasia besar yang sengaja dikubur rapat-rapat.
Pertemuan mereka bukanlah sebuah kebetulan, melainkan bagian dari halaman-halaman berat yang harus mereka balik bersama. Ketika badai menerpa hidup Rindu, justru Langit—seseorang yang paling ia benci—menjadi satu-satunya tempat untuk bersandar.
Namun, pertanyaannya: apakah mereka akan bertahan hingga akhir babak cerita, atau justru terhenti di halaman terakhir kisah ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon T.K. OKVIANDI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HALAMAN DUA BELAS
Satu hari sebelum pertandingan basket terbuka di SMA 2 kota Bandung di mulai. Perlumbaan yang diikuti oleh 6 SMA kota Bandung dan 6 SMA dari luar kota Bandung ini di adakan selama 3 hari . Waktu sudah menunjukkan pukul 14.00 , sebuah Bis besar dan sebuah mobil minibus nampak sudah parkir di depan SMA Merah Putih. Siswa siswi yang akan berangkat adalah para Siswa ekskul Basket, PMR , Cheersleader, dan beberapa anggota OSIS. Termasuk Langit yang termasuk anggota dari ekskul Basket, Allisya anggota dari Ekskul PMR , dan Rindu yang merupakan anggota OSIS dan dari ekskul cheersleader.
Kepala sekolah bersama pembina ekskul dan beberapa guru sudah berada didalam mobil minibus milik sekolah tersebut. Sedangkan para siswa baru beberapa yang sudah ada didalam bis, dan yang lainnya masih nampak baru berdatangan kesekolah. Hampir sebagian besar para siswa-siswi telah menaiki bis diikuti oleh Ibu Riri selaku pembina Osis dan pak Amir selaku Guru olahraga. Didalam bis nampak Allisya dan Ferry sedang mendata siswa-siswi yang telah ada didalam bis. Dari arah pintu masuk bis, nampak Langit menaiki tangga disana, selagi Langit sedang melangkahkan kaki nya, dari luar bis nampak Rindu terburu-buru memasuki bis menyerobot langkah Langit disana.
"Buruan jalannya , jangan ngalingin pintu oi" Ucap Rindu.
"Buru-buru amat, nggak bakal ditinggalin kok, sabar aja napa" Sanggah Langit sambil berpegangan pada pintu karena akan terjatuh ditabrak Rindu.
Rindu sontak melihat ke arah Langit, dan dia baru saja menyadari bahwa itu adalah cowok yang sangat di bencinya yaitu Langit. " Eh lu ternyata, niat banget sih tiap hari nyari gara-gara sama gue, sengaja banget kayaknya ya lu dilama-lamain jalan nya, salah apa sih gue sama lu " celuteh Rindu dengan wajah jengkelnya. "Udah nabrak gue, bukannya minta maaf malah galakkan lu, dasar cewek aneh" balas Langit sambil berlalu meninggalkan Rindu menuju dalam bis mencari kursi yang masih kosong.
"Dasar Cewek aneh" kata-kata itu sangat terdengar jelas ditelinga Rindu yang sontak tambah kesal dibuatnya.
Rindu pun berjalan cepat ditemani wajah kesalnya menuju ke Langit. "Ngomong apa lu tadi, coba ulangi lagi" Rindu kesal saat mendengar ucapan Langit. "Dasar Cewek aneh, masih kurang jelas? Dasar Cewek aneh" Langit menegaskan dengan menatap mata Rindu.
Rindu yang mendengar perkataan dari mulut Langit semakin emosi dibuatnya, dengan penuh rasa kesal yang tak terbendung lagi, Rindu melayangkan tangan nya ke arah pipi Langit. Langit yang melihat gerakan tangan Rindu langsung menangkap nya sesaat sebelum tangan Rindu menyentuh pipi Langit. Seluruh isi bis terkejut melihat kejadian itu termasuk pembina OSIS dan Guru olahraga yang berada dalam satu bis. "Langit , Rindu cepat duduk jangan cari masalah disini, duduk atau keluar kalian berdua" Ucap Pak Amir memberi teguran keras kepada Langit dan Rindu. "Jangan lu kotori tangan lu ini dengan kekerasan, gue yakin nyokap lu juga nggak mau punya anak cewek yang emosi nggak jelas begini" Ucap Langit sambil masih memegang tangan Rindu.
Dengan menahan emosi Rindu menarik tangannya, melepaskan dari genggaman tangan Langit. Rindu menaruh tas yang dibawanya di tempat tas diatas kursi tempat dirinya berada. Segera Rindu duduk di kursi dekat dengan jendela dan membuang mukanya menghadap kejendela. Tidak berselang lama, dengan terpaksa Langit meletakkan tas nya didekat tas Rindu dan Langit menduduki kursi disebelah Rindu duduk karena seluruh kursi telah penuh. Rindu yang menyadari hal itu langsung membalikkan pandangannya menatap Langit. "Ngapain lu malah duduk disini, amit-amit gue sebangku sama lu, sono pindah lu jauh-jauh dari gue" Ucap Rindu memaki Langit. "Eh cewek aneh, gue juga sebenernya nggak mau deket lu, tapi mata gue masih normal, gue liat semua kursi penuh, kalu lu nggak mau sama gue, lu aja yang pindah, minta ke anak-anak lain tukeran, tapi jangan minta gue yang tukeran, ogah gue, nggak penting" Balas Langit.
Mereka pun terus saling membalas , tak ada satupun dari mereka mengalah atau sekedar berdiam diri tak mengeluarkan kata. Hingga akhirnya pertengkaran mereka pun terdengar oleh telinga Pak Amir, sehingga Pak Amir pun naik darah dibuatnya. Pak Amir bangkit dari kursinya menghampiri mereka berdua. "Langit , Rindu , sebaiknya kalian duduk atau kalau kalian masih mau melanjutkan permasalahan kalian silahkan kalian turun, karena kita semua nggak mungkin cuman buat liatin kalian berantem aja" Tegur Pak Amir kepada Langit dan Rindu.
Dengan wajah masih dipenuhi kekesalan, Rindu memutuskan untuk duduk di kursinya dan menghadap ke arah jendela membelakangi Langit yang duduk di kursi sampingnya. Tak lama setelah itu, Bis mulai bergerak maju meninggalkan sekolah, Langit mengeluarkan handphone dari saku nya dan memasangkan headset untuk mendengarkan lagu ditelinga nya. Beberapa siswa terlihat bernyanyi-nyanyi, ada juga yang berfoto-foto , dan ada juga beberapa yang asik berbincang-bincang dalam bis. Suasana dalam bis semakin ramai saja, kecuali hanya Langit dan Rindu yang duduk bersebelahan tapi hanya terdiam masing-masing dengan kesibukkannya sendiri, Langit yang sibuk mendengarkan lagu, dan Rindu yang sibuk bersosial media dengan handphonenya.
Bis baru saja memasuki gerbang tol, terlihat di dalam bis Allisya dan seorang siswi kelas 11 membagikan kue dalam box kepada para siswa dalam bis. Saat sampai di kursi tempat duduk Langit dan Rindu, Allisya sedikit terkejut melihat mereka berdua yang masih saja memasang wajah kesal satu sama lain. Allisya memberikan sebuah senyuman penuh makna kepada Langit dan Rindu, maksudnya agar mereka berdua tersenyum satu sama lain , tidak lagi bermusuhan. Tapi, semua itu berbeda dimata Rindu yang mengetahui kedekatan Langit dengan Allisya. Setelah mengambil box yang diberikan Allisyadengan sedikit menarik, Rindu kembali memalingkan wajahnya ke arah jendela. Allisya hanya bisa terkejut dan melanjutkan tugasnya , hingga akhirnya dia kembali ketempat duduknya lagi.
Allisya kembali duduk dan langsung mengeluarkan handphone nya, menggunakan whatsapp Allisya mengirimkan pesan kepada Langit. Tidak selang lama handphone Langit berbunyi tanda sebuah pesan whatsapp masuk dan Langit langsung membuka nya. "Oh Allisya ternyata , ada apa ya" Kata Langit sambil membuka pesan tersebut.
"Yang sabar ya kak, kakak kan cowok nggak boleh ngebales gitu ke kak Rindu, mungkin aja kak Rindu BT soalnya anak cheers dari kelas 12 itu kak Rindu doang, yang lain nya kelas 11 sama 10, anggota osis juga kak Rindu doang yang kelas 12 , oke kakak" Langit membaca pesan dalam whatsapp dari Allisya dalam hatinya
Rindu yang berada di samping Langitpun tanpa sadar menjadi ingin tahu tentang alasan Langit senyum-senyum sendiri setelah membaca pesan dari Allisya. "Et dah satu mobil pake lewat whatsappan segala, ngomong aja kali langsung" Rindu menyindir Langit dengan suara kecil.
"Sirik aja sih, nggak ada yang WA lu ya? Lu galak sih, mana ada cowok yang mau deketin" Langit membalas sindiran dari Rindu.
"Idih sirik sama orang kayak lu, gue galak atau nggak itu urusan gue, bukan urusan lu, jadi cowok julid banget" Rindu membalas. Seketika itu juga Rindu langsung mencoba mengalihkan semuanya dengan streaming beberapa video dari youtube di handphonenya.
Waktu sudah semakin senja, matahari mulai menghilangkan sinarnya namun bis tersebut masih terjebak dalam kemacetan yang sangat padat di jalan tol sehingga bis tersebut tidak bergerak sama sekali selama 1 jam sudah. Para siswa susah mulai terasa bosan, hingga beberapa siswa ada yang keluar bis sekedar mencari udara bebas dan melihat ada apa gerangan didepan sana.Sementara Langit tetap duduk di tempatnya mengeluarkan Laptop nya untuk melanjutkan tulisan nya dan Rindu masih tetap menghilangkan rasa jenuhnya dengan menyaksikan video film streaming di handphonenya, hingga sampai saat video itu mulai mengalami buffering dan akhirnya koneksi internet Rindu terputus. Rindu semakin kesal dibuatnya, belum selesai kekesalannya kepada Langit ditambah lagi kemacetan yang sangat parah, kini hiburan satu-satunya harus berhenti karena tidak ada sinyal sama sekali di handphonenya.
"Aduh, apes banget gue hari ini, udah sebangku sama cowok freak, jakarta bandung dari tadi nggak nyampe-nyampe, sekarang nggak ada sinyal hp gue, ada wifi gratisan pliss " Gerutu Rindu pada dirinya sendiri.
Rindu menyalakan wifi handphonenya dan terus berusaha mencari jaringan wifi yang ada disana, berharap ada orang yang berada tidak jauh dari bis nya menyalakan modem atau sekedar hotspot pribadi dari handphone tanpa kata kunci. Ada beberapa jaringan wifi dia peroleh namun sayang semua dikunci. Langit yang mendengar celutehan kekesalan Rindu akhirnya memainkan handphonenya sekedar menyalakan hotspot pribadi nya tanpa kata kunci dengan nama "Tara meRindu". Rindu akhirnya sedikit senang setelah beberapa kali merefresh wifinya muncul satu wifi yang tidak dikunci dengan nama "Tara meRindu", Rindu tak memikirkan siapa pemilik hotspot itu dia hanya berpikir dia bisa menghilangkan kejenuhan dengan menonton streaming di handphonenya.