Azalea yang tidak mau dijodohkan dengan pria bernama Agam, anak dari teman ayahnya mencoba berbagai cara agar perjodohan itu tidak jadi dilaksanakan.
Segala macam cara pun dilakukan oleh Alea agar membuat Agam membenci dirinya dan mundur dari perjodohan itu.
Agam yang tidak ingin membuat Alea semakin terjerumus ke hal hal yang negatif hanya karena tidak ingin dijodohkan dengan dirinya pun akhirnya memutuskan untuk pergi menjauh dan menghilang dari kehidupan Alea.
Namun, disaat Agam sudah pergi, Alea baru menyadari jika di hatinya sudah terpaut kepada pemuda baik itu dan Alea pun merasa sangat kehilangan.
Lalu, bagaimana jadinya, jika sepuluh tahun kemudian keduanya pun kembali dipertemukan dengan Agam yang akan dijodohkan dengan wanita.
Akankah Alea merelakan Agam untuk bersama dengan wanita lain di saat dia sendiri sudah jatuh cinta kepada pria itu? Atau, Alea akan berusaha untuk mendapatkannya kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Triyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kembali Bertemu
Sementara di tempat lain. Alea baru saja masuk ke dalam mobil setelah berjalan sangat cepat menyusuri koridor gedung.
Jantungnya berdegup kencang, seirama dengan langkah kakinya yang berjalan setengah berlari menuju area parkir.
Air mata yang sejak tadi ia tahan mati-matian kini mulai menggenang di pelupuk mata. Sesampainya di dalam mobil, pertahanan Alea pun akhirnya runtuh.
Ia menyandarkan kepalanya pada kemudi, membiarkan air matanya lolos begitu saja, mengalir membasahi wajah cantiknya.
"Bodoh. Kenapa kamu harus menangis, Alea? Kenapa?" lirihnya bertanya kepada dirinya sendiri.
Ia merutuki dirinya sendiri, karena lagi-lagi ia melarikan diri layaknya seorang pengecut.
Ketakutan terbesar Alea bukanlah penolakan dari Agam, melainkan kenyataan bahwa ia harus melihat pria itu bahagia dengan wanita lain, sementara ia sendiri terjebak dalam perasaannya sendiri.
Ponsel di dalam tasnya tiba-tiba bergetar. Sebuah notifikasi pesan masuk terpampang di layar.
[Agam : “Al, kamu dimana? Hubungi aku kalau kamu sudah membaca pesan ini. Kita perlu bicara. Ada yang harus aku jelaskan. Hubungi aku secepatnya.”]
Alea menatap layar ponsel itu dengan nanar. Jemarinya gemetar di atas tombol reply.
Hatinya berteriak agar ia segera mengangkat panggilan atau membalas pesan tersebut. Dengarkan apa yang ingin Agam katakan.
Namun, ego dan rasa takutnya yang teramat sangat besar kembali menahannya untuk tidak membalas pesan itu.
Tanpa berpikir lagi, Alea pun langsung menonaktifkan ponselnya. Ia menyeka sisa air mata di pipinya, menarik nafas dalam-dalam untuk menenangkan diri, lalu menyalakan mesin mobil.
Dengan laju sedang, ia meninggalkan area parkir gedung perkantoran itu, meninggalkan Agam yang masih berada di dalam gedung itu.
***
Seminggu kemudian.
Sejak kejadian di kantin kantor itu, Alea benar-benar berusaha menjauh dari Agam.
Bukan hanya tidak membalas pesan-pesan pria itu, Alea bahkan berusaha menghindari segala kemungkinan yang dapat mempertemukan mereka.
Pesan dari Agam datang hampir setiap hari dan isi pesan itu hampir sama, menanyakan kabarnya hari ini. Begitu seterusnya.
Kadang sesekali, Agam juga mengirim pesan yang sedikit lebih panjang, meminta Alea memberinya waktu untuk bertemu dan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
Namun, tidak ada satupun pesan itu dibalasnya. Alea hanya membaca semua pesan itu dari notifikasi pop-up saja.
Alea benar-benar kehilangan keberaniannya. Meskipun itu hanya sekedar membaca dan membalas pesan dari Agam.
Ia tahu, sikapnya mungkin terlihat kekanak-kanakan. Namun, setiap kali membayangkan jika Agam membenarkan kabar pertunangan itu, hatinya kembali terasa sangat sesak.
Alea tahu, tidak seharusnya ia bersikap seperti itu. Namun, lagi-lagi, Alea belum siap menghadapi kenyataan kalau ia dipertemukan kembali dengan Agam dalam keadaan Agam sudah memiliki pasangan.
Dan karena itulah Alea memilih untuk menghindar. Menjauh sejauh mungkin sebelum perasaannya semakin dalam.
Bahkan ketika suatu sore Agam sengaja menunggunya di lobi gedung kantornya, Alea memilih keluar melalui pintu belakang setelah mendapat pesan dari asistennya bahwa pria itu sedang menunggunya.
"Alea."
Suara Agam sempat terdengar dari kejauhan. Langkah Alea berhenti sesaat. Tangannya mengepal di sisi tubuh.
Namun, ia tidak menoleh. Ia justru mempercepat langkahnya menuju mobil. Seolah-olah jika ia tidak melihat pria itu.
Dengan begitu, Alea berharap jika perasaannya terhadap Agam, perlahan akan mulai menghilang.
Akan tetapi pada kenyataannya, sama sekali tidak. Justru, semakin Alea berusaha menjauh, perasaan itu tumbuh semakin dalam dan semakin menyiksanya.
Sampai akhirnya. Hari itu, Alea yang mendapatkan undangan untuk menghadiri sebuah acara besar yang digelar oleh perusahaan bernama Jaya Group untuk merayakan hari ulang tahun perusahaan.
Acara tersebut diselenggarakan di salah satu ballroom hotel ternama di pusat kota. Para pemegang saham, jajaran direksi, rekan bisnis, serta beberapa keluarga besar yang memiliki hubungan dekat dengan perusahaan turut hadir.
Malam itu, Alea datang seorang diri. Dengan mengenakan gaun panjang berwarna hitam dengan potongan sederhana namun elegan.
Rambutnya ditata sangat rapi, sementara riasan tipis menghiasi wajahnya.
Setibanya disana, Alea menyapu setiap sudut ballroom yang sudah ramai, dipenuhi oleh para tamu undangan. Berharap kalau ia tidak akan bertemu dengan Agam disana.
Alea menarik nafas panjang sebelum berjalan memasuki ballroom. Menuju ke meja yang sudah disediakan untuknya.
Beberapa orang yang mengenalnya mulai menyapa dan Alea membalas dengan senyuman ramah dan sopan. Sesekali ia juga berbincang singkat mengenai pekerjaan dengan tamu lainnya.
Sampai beberapa menit kemudian. Pintu utama ballroom kembali terbuka. Beberapa orang yang menyadari pergerakan pintu besar itu langsung menoleh.
Termasuk Alea. Wanita yang tengah asik berbincang dengan tamu lain itu pun ikut menoleh. Dan…
Deg.
Seketika tubuhnya langsung membeku saat melihat siapa orang yang baru saja muncul dari balik pintu itu.
“Kak Agam?” gumamnya dalam hati.
Pria itu baru saja memasuki ballroom. Mengenakan setelan jas gelap yang membuat penampilannya terlihat semakin terlihat tampan dan berwibawa.
Disamping pria itu, berjalan seorang wanita yang malam itu, terlihat sangat cantik dan anggun.
Wanita itu tersenyum sambil berbicara sesuatu kepada Agam. Membuat pria itu menoleh kepadanya, lalu ikut tersenyum. Keduanya pun tertawa kecil secara bersamaan.
Pemandangan yang sangat sederhana dan normal. Namun, hal itu justru membuat dada Alea semakin penuh sesak.
Bahkan tanpa sadar, Alea semakin mengeratkan genggamannya pada gelas minum yang sedang ia pegang.
"Tenangkan dirimu, Alea. Sadarlah.” gumamnya lagi, dalam hati.
Alea buru-buru mengalihkan pandangan. Ia meneguk air mineralnya, berusaha terlihat biasa saja.
Namun, meski sudah berusaha keras mengalihkan perhatian, pandangannya kembali tertuju kepada pasangan yang baru saja memasuki ruangan itu.
Agam dan Sania kini berjalan semakin dekat ke tengah ballroom.
Dan seolah merasakan sesuatu, Agam tiba-tiba mengangkat wajahnya.
Deg.
Tatapan keduanya pun akhirnya bertemu. Seketika, waktu seolah berhenti. Pria itu tampak terkejut. Lalu, pandangannya terpaku hanya kepada Alea.
Sementara Alea hanya terdiam, membeku di tempat dengan jantungnya berdetak semakin cepat.
Untuk beberapa detik, tidak ada satupun dari keduanya yang bergerak.
Tatapan Agam masih tertuju lurus kepada Alea. Seolah pria itu baru saja menemukan yang sedang dia cari selama satu minggu terakhir ini.
Alea bisa melihat dengan jelas perubahan ekspresi di wajah Agam. Terkejut, lalu lega.
Beberapa detik kemudian, Agam mulai bergerak. Ia mengatakan sesuatu kepada Sania, kemudian menyerahkan gelas yang berada di tangannya kepada seorang pelayan yang kebetulan melintas.
Lalu, pria itu mulai melangkah maju, menuju ke arahnya.
Membuat jantung Alea seolah berhenti berdetak sesaat.
Refleks, pergerakan itu membuat Alea ikut bergerak, melangkah mundur.
"Kamu mau ke mana?" tanya salah seorang tamu yang sejak tadi berbincang dengannya saat melihat Alea bergerak, berjalan mundur perlahan.
Alea tersentak. Lalu tersadar dari lamunannya dan baru menyadari jika ia sudah berjarak dengan meja yang tadi ada di hadapannya.
Alea tidak langsung menjawab. Pandangan wanita itu kembali tertuju kepada Agam yang semakin mendekat ke arahnya.
Tidak. Tidak sekarang. Alea masih belum siap mendengar penjelasan Agam. Mendengar jika pria itu sudah memiliki pasangan, langsung lewat mulut Agam sendiri.
"Aku ke toilet sebentar." jawab Alea cepat.
Ia pun langsung pergi meninggalkan tempat. Bahkan tanpa menunggu jawaban dari lawan bicaranya.