Sebuah novel fantasi mitologi Nusantara (Batak). Berikut salah satu petikannya:
"Sebelum matahari mengenal pagi, langit telah lebih dahulu mengenal doa. Di Banua Ginjang, doa tidak diucapkan melalui bibir, melainkan tumbuh menjadi bunga-bunga cahaya yang bermekaran di antara akar bintang. Setiap kelopaknya membawa harapan, dan setiap harapan akan jatuh ke dunia bawah sebagai embun kehidupan."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sasip, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9. Tarian Matahari & Bulan (Bagian II)
...Gerhana yang Tidak Pernah Menjadi Permusuhan...
..."Gerhana bukanlah saat ketika cahaya kalah oleh bayangan. Gerhana adalah saat keduanya saling mempercayai satu sama lain."...
^^^—Petuah Ompu Sinar^^^
Beberapa hari setelah menyaksikan Tarian Matahari dan Bulan, Deak Parujar kembali mengunjungi Lembah Cahaya.
Namun hari itu terasa agak berbeda dari sebelumnya. Udara jauh lebih tenang. Burung-burung tidak banyak bernyanyi. Angin bertiup pelan seolah enggan mengganggu sesuatu yang sedang dipersiapkan oleh semesta. Bahkan Sungai Fajar dan Sungai Rembulan mengalir lebih lambat dari biasanya.
Nai Api sedang berdiri menghadap langit. Rambut apinya berkobar lembut. Namun kali ini nyala itu agak berubah warna. Dari emas menjadi putih kebiruan.
Ompu Sinar mengangkat wajahnya ke arah Deak, "Putri... Hari ini engkau akan melihat sesuatu yang bahkan Banua Ginjang hanya menyaksikannya beberapa kali dalam satu zaman tertentu."
Secara perlahan-lahan, matahari mulai bergerak mendekati bulan yang juga terlihat bergerak mendekati sang matahari. Keduanya sangat tidak terburu-buru. Tidak pula tergesa karena mengejar waktu.
Keduanya bergerak perlahan seakan mengikuti irama gondang yang hanya dapat didengar oleh semesta. Semakin dekat dan semakin dekat setiap waktunya.
Lalu, untuk sesaat, cahaya matahari terlihat seakan tengah dipeluk oleh rembulan, tidak hilang sepenuhnya, hanya seperti sedang diselimuti.
Namun seluruh permukaan Banua Ginjang terlihat berubah. Langit menjadi perak keemasan. Bayangan semua makhluk tidak lagi berwarna hitam, tapi lebih seperti biru yang lembut.
Hariara Bolon tampak memancarkan cahaya dari akar hingga pucuknya. Dan udara dipenuhi butiran cahaya yang melayang tanpa arah.
Saat itulah... satu demi satu makhluk-makhluk yang selama ini tersembunyi mulai bermunculan.
Makhluk pertama menyerupai rusa kecil yang seluruh tubuhnya terbuat dari kristal bening. Di dalam tubuhnya mengalir gugusan bintang. Setiap langkahnya meninggalkan bunga-bunga cahaya.
"Siapa mereka?" bisik Deak penuh keingintahuan.
Ompu Sinar menjawab pelan, "Parhorbo Bintang. Para Penjaga Jejak Cahaya. Mereka hanya muncul ketika cahaya dan bayangan sedang berdamai."
Tak jauh dari sana, udara bergetar pelan. Dari balik kabut lahirlah sekawanan ikan bersayap. Tubuh mereka bening seperti air pegunungan. Siripnya menyerupai daun perak. Mereka berenang di udara, menembus sinar gerhana dengan anggun.
"Simarmata Aek." kata Nai Api. "Ikan yang membawa mata air pertama. Setiap kali mereka muncul... mata air baru akan lahir di suatu tempat."
Di atas cabang Hariara Bolon terdengar bunyi lonceng yang sangat kecil.. Ting... Ting... Ting...
Puluhan makhluk mungil turun bersama embun. Tubuh mereka hanya sebesar bunga melati. Sayap mereka menyerupai kelopak anggrek putih. Ketika terbang, mereka meninggalkan jejak berupa butiran embun yang tidak pernah jatuh ke tanah.
"Apakah mereka kupu-kupu?" Deak kembali bertanya dengan berbisik.
"Bukan." jawab Ompu Sinar, "Mereka adalah Siboru Rintik. Putri-putri Embun. Merekalah yang menyimpan air mata kegembiraan semesta."
"Air mata?" tanya Deak tidak mengerti.
"Ya." jawab Ompu Sinar, "Semesta pun terkadang bisa menangis, namun ia menangis hanya karena bahagia."
Tiba-tiba Jonggi mengepakkan sayapnya cepat. Ia menatap ke arah langit. Di sana, melayang makhluk yang belum pernah dilihat Deak. Tubuh mereka panjang seperti naga kecil. Namun tidak bersisik. Seluruh tubuhnya tersusun dari pita-pita cahaya yang terus berubah warna. Saat bergerak, tubuh mereka membentuk lingkaran-lingkaran indah di udara.
"Pane Na Balga." bisik Burung Erung yang entah sejak kapan telah bertengger di atas Hariara.
"Penjaga Pelangi. Tanpa mereka... warna-warna langit akan saling bertabrakan." ujar Nai Api melengkapi bisikan sang Burung Erung.
Gerhana kini telah mencapai puncaknya. Tiba-tiba, keheningan menyelimuti Banua Ginjang. Tidak ada seekor burung pun bernyanyi. Tidak ada angin yang bertiup. Bahkan Sungai Fajar berhenti mengalir untuk sesaat.
Saat itulah, akar Hariara Bolon perlahan bercahaya. Dari sela-sela akar muncul sosok-sosok yang seluruh tubuhnya terbuat dari bayangan. Namun bayangan-bayangan itu tidak terlihat menyeramkan. Wajah mereka justru penuh keteduhan. Mata mereka memantulkan cahaya bintang. Mereka mengenakan jubah hitam kebiruan yang dihiasi titik-titik cahaya seperti langit malam.
Deak merasakan kehadiran mereka membawa ketenangan yang sangat dalam dan kembali bertanya dengan berbisik: "Siapakah mereka?"
Suara Ompu Sinar berubah menjadi sangat pelan ketika menjawab: "Parjaga Holong. Para Penjaga Keheningan. Mereka hanya hadir ketika terang dan gelap saling memaafkan."
Puluhan Parjaga Holong berjalan perlahan mengelilingi Hariara Bolon. Di tangan mereka terdapat lentera-lentera kecil. Namun api di dalam lentera bukan berwarna merah. Melainkan biru keperakan.
Ketika lentera-lentera itu diangkat serentak, seluruh makhluk ajaib di Banua Ginjang spontan menundukkan kepala. Bahkan Nai Api terlihat ikut merapatkan kedua telapak tangannya di dada.
"Mengapa semua memberi hormat?" tanya Deak.
Ompu Sinar menjawab dengan suara yang lebih pelan lagi, "Karena mereka membawa... Api Kesunyian. Api yang tidak membakar apa pun. Tetapi mampu menghanguskan kesombongan."
Tiba-tiba... Jam Pasir Bintang di tangan Ompu Tiktik, yang muncul tanpa suara di sisi mereka, kembali bersinar. Beliau tidak berkata apa-apa. Hanya membalik jam pasir itu.
Pada saat yang sama, gerhana perlahan mulai berakhir. Matahari kembali memperlihatkan sinar terangnya dan Bulan pun bergeser perlahan.
Lalu muncul makhluk-makhluk ajaib lainnya, badannya seperti manusia namun memiliki tanduk kecil di kepalanya dan bersayap hitam-putih yang sangat lebar. Makhluk-makhluk itu juga memiliki ekor burung yang panjang dan berkibar selaras angin yang juga mulai berhembus.
"Siapakah mereka Opung?" bisik Deak pada Ompu Tiktik.
"Parjaga Rambu, Putri-ku. Tugas mereka menjaga sang Matahari tidak terlalu lama berdampingan dengan sang Bulan." jawab Ompu Tiktik pelan.
Langit lalu kembali dipenuhi warna-warna pagi. Satu demi satu makhluk-makhluk ajaib tadi mulai memudar.
Parhorbo Bintang kembali menjadi cahaya. Simarmata Aek berenang menuju awan. Siboru Rintik berubah menjadi embun. Pane Na Balga melebur menjadi pelangi. Parjaga Holong kembali menyatu dengan bayangan Hariara. Seolah keberadaan mereka memang tidak pernah nyata.
Deak memandang langit yang kembali terang. "Opung... Apakah mereka akan datang lagi?"
Ompu Tiktik tersenyum dan menjawab: "Tentu."
"Kapan?" tanya Deak lagi.
"Ketika Matahari dan Bulan kembali saling mempercayai." jawab Ompu Tiktik lagi.
Burung Erung terlihat mengepakkan sayapnya perlahan. Lalu ia berkata, "Ingatlah, Putri. Dunia manusia kelak akan mengenal gerhana sebagai sesuatu yang menakjubkan. Sebagian akan menganggapnya sebagai suatu pertanda. Sebagian lagi akan mencoba menjelaskannya dengan ilmu pengetahuan. Keduanya tentu saja tidak salah. Namun jangan pernah lupakan satu hal. Di balik setiap gerhana... semesta sedang mengajarkan bahwa bahkan cahaya terbesar pun sesekali bersedia berbagi langit."
Dan Deak mengangkat wajahnya ke angkasa, menyaksikan Matahari dan Bulan kembali menempuh lintasannya masing-masing. Ia tersenyum, karena kini ia memahami bahwa perpisahan mereka bukanlah akhir sebuah tarian, melainkan awal dari pertemuan berikutnya.
...****************...
Horas! 🌿
Mauliate godang.. 🤎
📖 Bersambung ke Bab 9 – Bagian III: Pelangi yang Menjembatani Tiga Banua.
😏/CoolGuy//Casual//Shhh/
/Grin//Tongue//Facepalm//Joyful/