NovelToon NovelToon
Dikhianati Suami, Dihamili CEO Dingin

Dikhianati Suami, Dihamili CEO Dingin

Status: tamat
Genre:Perubahan Hidup / CEO / Selingkuh / Cinta Lansia / Tamat
Popularitas:42k
Nilai: 5
Nama Author: Anindita Kirana

Ratna mengira pernikahan 28 tahunnya hanya sedang lelah. Sampai ia melihat Hendra, suaminya, memeluk sekretaris muda di rumah sakit, bersama anak laki-laki yang memanggilnya Papa.
Selama ini Ratna bekerja diam-diam, mengurus mertua, anak, menantu, dan cucu, sementara uang keluarga mengalir ke apartemen perempuan lain.
Saat semua orang mengira Ratna terlalu tua untuk melawan, ia justru bangkit. Dengan bantuan Arga Wijaya, CEO dingin yang tak pernah banyak bicara, Ratna mulai merebut kembali harga dirinya.
Tapi semakin jauh ia melangkah, semakin banyak rahasia keluarga yang terbongkar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anindita Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 20

Bab 20 - Bukan Karena Kasihan

Ratna tidak tahu bahwa makan malam itu disebut kencan sampai Bu Laras mengatakannya.

"Kamu pulang jangan terlalu malam. Tapi kalau Arga membosankan, pulang saja lebih cepat."

Ratna yang sedang membantu memilih syal untuk Bu Laras langsung berhenti.

"Makan malam kerja, Bu."

"Dengan anakku?"

"Iya."

"Di restoran?"

"Iya, tapi katanya sekalian membahas daftar tamu gala amal."

Bu Laras menatapnya seperti menatap anak kecil yang terlalu polos.

"Ratna, kalau Arga ingin bahas daftar tamu, dia punya ruang meeting, email, Hanif, Dita, dan seluruh gedung. Kalau dia mengajak makan malam berdua, itu bukan karena daftar tamu."

Ratna merasa wajahnya panas.

"Bu Laras..."

"Apa? Aku sudah tua, bukan buta."

Ratna tidak menjawab.

Sejak Niko muncul, sikap Arga memang sedikit berbeda. Tidak banyak. Arga tetap dingin, tetap bicara seperlunya, tetap lebih sering memberi instruksi daripada basa-basi. Tapi ia mulai muncul di meja Ratna untuk hal-hal kecil yang sebenarnya bisa disampaikan Hanif.

"Dokumen ini sudah makan?"

Kalimat itu salah. Maksudnya mungkin, "Ibu sudah makan?" Tapi Arga mengucapkannya sambil memegang map, membuat Dita hampir tersedak.

Ratna pura-pura tidak mengerti.

Namun malam ini, ketika Arga mengirim pesan singkat, "Bu Ratna, setelah jam kerja ada waktu? Saya ingin membahas gala amal sambil makan," ia tidak bisa lagi berpura-pura sepenuhnya.

Ia ingin menolak.

Lalu ia bertanya pada diri sendiri, kenapa?

Karena takut orang bicara?

Orang sudah bicara.

Karena baru cerai?

Benar.

Karena Arga terlalu tinggi untuknya?

Mungkin.

Karena ia merasa tidak pantas?

Itu yang paling menyakitkan.

Akhirnya ia menerima.

Restoran yang dipilih Arga tidak terlalu ramai. Bukan tempat yang memamerkan kemewahan, tapi jelas mahal dari cara pelayan menyebut menu tanpa melihat catatan.

Ratna duduk dengan punggung kaku.

Arga memperhatikannya.

"Tidak nyaman?"

"Sedikit."

"Kita bisa pindah."

"Tidak perlu. Saya hanya belum terbiasa."

Arga mengangguk. Ia tidak memaksa memilihkan makanan. Ia hanya menjelaskan beberapa menu yang tidak terlalu berat, lalu membiarkan Ratna menentukan sendiri.

Hal kecil itu membuat Ratna lebih tenang.

Setelah makanan datang, mereka benar-benar membahas gala amal. Daftar tamu, susunan meja, nama yayasan, kebutuhan protokol. Ratna mencatat di tablet, memberi beberapa masukan soal alur tamu lansia karena pengalaman menjaga Bu Laras di rumah sakit.

Arga mendengarkan.

Benar-benar mendengarkan.

"Masukan Ibu bagus," katanya.

"Karena saya biasa mengantar orang tua kontrol. Mereka tidak suka menunggu terlalu lama, tapi juga tidak mau terlihat merepotkan."

"Mama seperti itu."

"Bu Laras lebih suka merepotkan dengan bangga."

Arga terdiam sebentar, lalu tertawa kecil.

Ratna membeku.

Tawa itu singkat. Hampir tidak terdengar. Tapi cukup untuk mengubah wajah Arga dari dingin menjadi manusia yang lelah tapi hangat.

"Ibu benar," katanya.

Ratna menunduk, menyembunyikan senyum.

Setelah urusan kerja selesai, keheningan turun di antara mereka. Bukan keheningan yang menekan. Lebih seperti ruang kosong yang menunggu diisi.

Arga meletakkan gelas.

"Bu Ratna."

"Ya?"

"Saya ingin bicara di luar pekerjaan."

Jantung Ratna langsung berdebar.

"Baik."

Arga tampak memilih kata dengan hati-hati. Untuk pria yang bisa berbicara di depan dewan direksi tanpa ragu, ia terlihat canggung.

"Saya tahu posisi Ibu sekarang tidak mudah. Baru bercerai, masih ada proses harta bersama, keluarga lama belum selesai, dan Ibu sedang mulai bekerja."

Ratna menggenggam sendok.

"Pak Arga kalau membuka pembicaraan pribadi tetap seperti rapat."

Arga berhenti.

Ratna langsung menyesal.

Namun Arga malah menghela napas kecil.

"Saya memang buruk dalam hal ini."

"Tidak buruk. Hanya... sangat rapi."

"Saya akan coba lebih jelas."

Ratna menahan napas.

Arga menatapnya langsung.

"Saya tertarik pada Ibu."

Sendok di tangan Ratna hampir jatuh.

Arga melanjutkan sebelum ia sempat bicara.

"Bukan karena kasihan. Bukan karena Mama menyukai Ibu. Bukan karena saya ingin menjadi penyelamat. Saya tertarik karena Ibu kuat tanpa merasa perlu terlihat kuat. Karena Ibu takut tapi tetap berjalan. Karena Ibu bisa kehilangan hampir seluruh hidup lama, lalu besoknya tetap belajar bekerja."

Ratna tidak bisa berkata apa-apa.

Matanya panas.

Ia sudah lama tidak dipuji sebagai dirinya.

Bukan sebagai ibu yang baik.

Bukan sebagai istri yang sabar.

Bukan sebagai menantu yang rajin.

Sebagai Ratna.

"Pak Arga," katanya pelan. "Saya lima puluh."

"Saya tahu."

"Saya punya anak dewasa. Cucu."

"Saya tahu."

"Saya baru keluar dari pernikahan buruk. Saya tidak tahu apakah saya masih bisa percaya laki-laki."

"Saya tidak meminta Ibu percaya sekarang."

"Lalu Bapak meminta apa?"

Arga diam sejenak.

"Kesempatan untuk berada di dekat Ibu tanpa membuat Ibu merasa terkurung."

Ratna menatapnya.

Kalimat itu sederhana, tapi justru membuat pertahanannya goyah.

"Saya takut."

"Saya juga."

Ratna hampir tertawa.

"Bapak? Takut?"

"Iya."

"Takut apa?"

Arga menatap gelasnya.

"Takut Ibu mengira saya sama seperti orang yang baru saja Ibu tinggalkan. Takut perhatian saya terasa seperti tekanan. Takut Mama terlalu bersemangat dan membuat Ibu lari."

Ratna tertawa kecil meski matanya basah.

"Bagian Bu Laras cukup masuk akal."

"Saya akan mengendalikannya."

"Saya ragu."

"Saya juga."

Mereka sama-sama tersenyum.

Untuk pertama kalinya, Ratna merasa percakapan dengan Arga tidak setinggi gedung kantornya. Pria itu tetap dingin, tetap kaku, tapi ia sedang berusaha turun ke tanah tempat Ratna berdiri.

Selesai makan, Arga mengantar Ratna pulang ke apartemen kecil sementara yang disediakan dekat kantor. Bukan rumah Bu Laras, karena Ratna meminta tempat sendiri. Ia ingin belajar hidup tanpa menempel pada siapa pun.

Mobil berhenti di depan lobi.

Ratna membuka sabuk pengaman.

"Terima kasih makan malamnya."

"Terima kasih sudah datang."

Ratna menoleh.

"Pak Arga."

"Ya?"

"Saya belum bisa menjawab apa pun."

"Saya tahu."

"Tapi saya tidak menolak Bapak berada di dekat saya."

Arga menatapnya lama.

"Itu cukup."

Ratna turun dari mobil. Arga ikut turun untuk memastikan ia masuk lobi. Saat ia hendak berjalan, sebuah suara memanggil dari arah parkiran.

"Ratna."

Tubuh Ratna menegang.

Hendra berdiri di bawah lampu parkir, wajahnya kacau. Entah sejak kapan ia menunggu. Matanya berpindah dari Ratna ke Arga, lalu kembali pada Ratna.

"Jadi benar," katanya pahit. "Kamu sekarang dengan dia."

Ratna menarik napas.

Arga berdiri di sampingnya, tidak maju, tidak menyentuh. Memberi ruang.

Ratna menatap mantan suaminya.

"Aku baru pulang makan malam."

"Dengan laki-laki lain."

"Aku sudah bukan istrimu."

Kalimat itu membuat Hendra terdiam seperti dipukul.

Ratna melanjutkan, "Dan sekalipun aku belum dengan siapa-siapa, kamu tetap tidak punya hak atas hidupku lagi."

Hendra mengepalkan tangan.

"Kamu berubah."

"Iya."

"Karena dia?"

Ratna menggeleng.

"Karena kamu membuatku harus berubah."

Hendra memandang Arga dengan kebencian.

Arga akhirnya berbicara, suaranya tenang.

"Pak Hendra, Bu Ratna sudah meminta Anda tidak menghubunginya langsung. Kalau Anda menunggu di tempat tinggalnya lagi, kami akan menganggap ini gangguan."

Hendra tertawa pahit.

"Kamu pikir bisa membeli hidupnya?"

Ratna menjawab lebih dulu.

"Tidak. Justru karena dia tidak pernah mencoba membeli hidupku, aku bisa berdiri di sini tanpa takut."

Hendra menatapnya. Untuk pertama kalinya, matanya tidak hanya marah.

Ada kehilangan di sana.

Namun Ratna tidak lagi ingin menyelamatkannya dari perasaan itu.

Ia berbalik menuju lobi.

Arga tetap menunggu sampai ia masuk.

Di balik kaca, Ratna melihat dua pria itu berdiri berjauhan. Masa lalu dan kemungkinan masa depan. Keduanya tidak menyentuhnya.

Keputusan tetap ada di tangannya.

Dan malam itu, Ratna tidur dengan satu pikiran yang asing tapi hangat.

Mungkin dicintai tidak harus berarti dikurung.

Sebelum tidur, ia membuka pesan dari Arga yang masuk beberapa menit setelah ia naik ke kamar.

"Maaf kalau tadi membuat Ibu tidak nyaman."

Ratna menatap layar lama. Arga tidak perlu meminta maaf. Ia tidak menarik tangannya. Tidak mengakuinya di depan Hendra seolah ia barang yang baru berpindah pemilik. Ia hanya berdiri di sana, memberi batas.

Ratna mengetik.

"Saya tidak tidak nyaman. Saya hanya belum terbiasa ada orang berdiri tanpa menuntut saya ikut."

Balasan Arga datang agak lama.

"Kalau suatu hari saya menuntut terlalu banyak, beri tahu saya."

Ratna tersenyum.

"Saya akan langsung marah."

"Saya percaya."

Ratna meletakkan ponsel di dada. Di luar kamar, kota masih bising. Di dalam dirinya, banyak hal juga belum tenang.

Tapi malam itu ia tidak merasa sendirian.

Dan yang lebih penting, ia tidak merasa dimiliki.

1
adisty aulia
Karakter Ratna kuat meski telat sadarnya🙁🙁🙁
adisty aulia
🌺🌺🌺
adisty aulia
Suka alur ceritanya🌺🌺🌺
Nicky
Ratna memandang mantan suaminya? Raka? ga panggil mama lagi?
Nicky
Arga melamar Ratna lagi? mengajak menikah? bukannya di part² sebelum hamil ini sudah menikah di KUA dan pulangnya mereka yang menghadiri lanjut makan soto. Agak membingungkan ini KK author.
Nicky
ada part yg ga sinkron, mulai dr panggilan ibu yg di beberap bab sebelumnya setelah hasil tes DNA Bagas di ketahui sebagai anak Ratna, sudah panggil ibu, di bab ini malah bukan anak kandung, panggil nama saja dan baru mulai panggil ibu?
Endang Sulistia
pengen tampol keluarga hendra😤😤😤
Hertanti Mandanya Dhafin
novel yg keren saya suka sama bahasanya, authornya hebat 👍
Fia Ayu
Knpa up nya pelit banget, pertama rilis langsung banyak, lagi tegang2nya di gantung 😢
Fia Ayu
Lanjut kak,, penasaran weee
Fia Ayu
Wkwkwk
Fia Ayu
Sokor,
Klo sudah tiada
Baru terasa,,,,,, 💃
Fia Ayu
Tuman😏
Fia Ayu
Mampir,,, baru bab pertama dah bikin nyesek 😢
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!