Seorang murid sekte luar yang dihina karena akar spiritualnya yang cacat secara tidak sengaja membangkitkan sebuah pusaka kuno di lembah terlarang. Pusaka tersebut tidak memberinya kekuatan instan, melainkan sebuah metode kultivasi purba yang memungkinkannya menyerap dan memurnikan Qi dari garis keturunan binatang buas mitologis. Untuk mencapai puncak, ia harus menempuh jalur yang penuh darah dan memburu eksistensi terkuat di langit dan bumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Interogasi Berdarah dan Penghalang Taring Darah
Keheningan di lorong tebing itu terasa mencekik. Bau anyir darah segar dari mayat pria berkapak mulai menguar di udara, bercampur dengan angin gunung yang lembap.
Pria berbopeng dan satu rekannya yang tersisa gemetar hebat. Kaki mereka seolah dipaku ke tanah. Seorang kultivator tingkat empat dibunuh dalam satu detik tanpa perlawanan, tanpa teknik bela diri, hanya dengan cengkeraman tangan kosong! Apakah monster berjubah abu-abu di depan mereka ini benar-benar manusia?
"Kau... kau menyembunyikan tingkat kultivasimu!" teriak rekan si pria berbopeng dengan suara pecah karena panik.
Didorong oleh insting bertahan hidup yang putus asa, pria itu menarik pedang melengkung dari pinggangnya. Qi hijau gelap meledak dari tubuhnya, menandakan elemen racun. Ia menerjang maju, menebaskan pedangnya ke arah perut Lin Tian dengan kecepatan penuh.
Lin Tian tidak berkedip. Matanya sedingin es. Tepat saat mata pedang itu hampir menyentuh jubahnya, tubuh Lin Tian sedikit condong ke belakang, membiarkan bilah tajam itu lewat hanya selebar rambut dari perutnya. Di saat yang sama, tangan kirinya melesat ke depan, mencengkeram pergelangan tangan penyerangnya.
KRAK!
"ARGH!"
Pergelangan tangan pria itu hancur berkeping-keping di bawah tekanan jari-jari Lin Tian yang sekeras baja. Pedang melengkung itu terlepas dari genggamannya. Sebelum pedang itu jatuh ke tanah, Lin Tian menangkap gagangnya dengan tangan kanan, memutar tubuhnya, dan menebaskan pedang itu ke leher pemilik aslinya dalam satu gerakan mulus yang tak terhentikan.
Sreett!
Kepala pria itu terpisah dari tubuhnya, menggelinding jatuh ke tanah berbatu. Darah menyembur layaknya air mancur kecil sebelum tubuh tanpa kepala itu ambruk.
Dua serangan. Dua kultivator tingkat empat tewas layaknya semut yang diinjak.
Pria berbopeng yang kini sendirian kehilangan seluruh tenaganya. Kakinya lemas, dan ia jatuh berlutut dengan suara berdebum. Senjata belati beracunnya terlepas dari tangannya yang gemetar. Air mata dan keringat dingin membasahi wajahnya yang kotor.
"T-Tuan... Ampun! Tuan Besar, ampuni nyawa anjing ini!" Pria berbopeng itu bersujud hingga dahinya membentur batu, berulang kali hingga berdarah. "Saya buta! Saya tidak tahu sedang menyinggung Gunung Tai!"
Lin Tian menendang belati beracun itu menjauh, lalu berjalan mendekat. Ujung pedang berlumuran darah yang ia pegang kini menunjuk tepat ke dahi pria yang sedang bersujud itu.
"Satu kesempatan," ucap Lin Tian datar. "Bunga Teratai Api Berdarah. Beri tahu aku semua yang kau ketahui. Jika lidahmu bergetar karena kebohongan, aku akan memotongnya."
"S-Saya bicara! Saya akan bicara semuanya!" Pria berbopeng itu menelan ludah dengan susah payah. "Herbal itu... rumornya bukan rahasia lagi di Kota Perbatasan! Sepuluh hari yang lalu, Kawah Puncak Merah di wilayah tengah Pegunungan Darah Besi tiba-tiba menyemburkan gelombang hawa panas dan kabut ungu. Fenomena itu adalah tanda alam bahwa Teratai Api Berdarah akan mekar sempurna dalam beberapa hari ke depan!"
Alis Lin Tian sedikit berkerut. Zhao Kuang pasti mendapat informasi ini dari jalur khusus dan mengira ia bisa mengambilnya diam-diam. Sialnya, fenomena alam tidak bisa disembunyikan.
"Jika semua orang tahu, mengapa tempat ini masih terlihat sepi dan tidak ada keributan perebutan?" selidik Lin Tian.
Pria itu buru-buru menjawab, "K-Karena Kelompok Taring Darah! Mereka adalah kelompok tentara bayaran terkuat di wilayah utara ini. Pemimpin mereka, Serigala Mata Satu, adalah kultivator ranah Mortal tingkat tujuh puncak! Begitu fenomena itu muncul, Serigala Mata Satu langsung membawa ratusan anak buahnya untuk memblokade seluruh akses menuju Kawah Puncak Merah. Siapa pun yang mencoba menerobos akan disembelih."
"Tingkat tujuh puncak," gumam Lin Tian dalam hati. Ini sedikit lebih merepotkan dari dugaannya. Menghadapi satu tingkat tujuh mungkin ia bisa menang dengan Tinju Runtuh, tetapi menghadapi ratusan tentara bayaran secara bersamaan akan menguras habis Qi naga astralnya yang lambat beregenerasi.
"Di mana pos-pos pemblokiran mereka?" tanya Lin Tian.
Pria berbopeng itu segera merogoh ke dalam bajunya dengan tangan gemetar, mengeluarkan sebuah gulungan kulit binatang yang lusuh. "I-Ini peta wilayah luar dan tengah gunung. Titik-titik hitam ini adalah pos jaga Taring Darah. Saya... saya bersumpah ini peta yang akurat. Kami awalnya ingin mengendap-endap lewat jalur tebing barat, tapi tidak berani masuk terlalu dalam. T-Tuan, saya sudah memberikan segalanya. Tolong lepaskan saya..."
Lin Tian mengambil peta itu dengan tangan kirinya dan menyimpannya ke dalam jubah. Matanya menatap pria berbopeng itu dengan tenang.
"Terima kasih atas informasinya," kata Lin Tian.
Pria itu baru saja menghela napas lega dan hendak berdiri, ketika kilatan baja menyapu lehernya dengan kecepatan yang tak terlihat oleh mata.
Mata pria berbopeng itu terbelalak ngeri, tangannya berusaha memegangi lehernya yang robek, namun darah terus menyembur deras. Ia menatap Lin Tian dengan pandangan menuduh sebelum akhirnya ambruk menyusul kedua rekannya ke neraka.
Lin Tian membuang pedang yang kini tumpul itu ke tanah. Ia tidak merasakan sedikit pun penyesalan. Di alam liar yang tanpa hukum, membiarkan musuh hidup sama saja dengan mengundang pisau di punggung saat tertidur. Belas kasihan hanya diperuntukkan bagi mereka yang memiliki kekuatan mutlak, dan saat ini, Lin Tian masih mendaki.
Setelah memungut kantong penyimpanan milik ketiga bandit tersebut—yang isinya hanya beberapa belas Batu Roh tingkat rendah dan koin emas fana—Lin Tian menarik tudung jubahnya kembali menutupi kepalanya.
Ia melangkah masuk ke dalam rimbunnya pohon-pohon raksasa berdaun gelap di Pegunungan Darah Besi. Udara di dalam hutan ini jauh lebih berat dan dipenuhi aura buas yang kental.
Tujuan utamanya adalah Kawah Puncak Merah, tetapi sebelum menghadapi blokade tentara bayaran, ia harus menaikkan kekuatan fisiknya ke batas maksimal. Syarat penyelesaian misinya dari sekte—mengumpulkan 10 Inti Beruang Punggung Besi—akan menjadi ajang pemanasan yang sempurna.
Dua jam perjalanan ke dalam hutan, pendengaran Lin Tian menangkap suara derak dahan yang patah secara brutal, disusul raungan rendah yang menggetarkan dedaunan di sekitarnya.
Dari balik semak berduri raksasa, sesosok makhluk setinggi hampir tiga meter melangkah keluar. Bulunya berwarna cokelat kotor, namun punggungnya ditutupi oleh lapisan pelindung tulang luar yang berkilau layaknya baja hitam.
Beruang Punggung Besi. Binatang buas tingkat empat. Monster yang terkenal memiliki pertahanan setara kultivator tingkat lima.
Melihat manusia kecil di depannya, mata beruang itu memerah. Ia berdiri dengan dua kaki belakangnya, memperlihatkan cakar setajam pedang, lalu mengaum dengan kekuatan yang menghasilkan gelombang angin busuk.
Lin Tian tidak mundur selangkah pun. Ia meregangkan lehernya hingga terdengar bunyi retakan ringan. Qi ungu keemasan mulai mengalir di dalam pembuluh darahnya, beresonansi dengan aura buas di dalam hutan.
"Mari kita lihat," gumam Lin Tian dengan senyum predator yang perlahan mengembang. "Apakah baja di punggungmu lebih keras dari tulang nagaku."