Bagaimana rasanya terbangun di pagi hari dan mendapati dirimu memiliki dua kehidupan yang sepenuhnya berbeda?
Selama ini, hidup 'Bara' adalah sebuah komedi pahit. Bertubuh gemuk, pendek, dan selalu dilingkupi rasa tidak percaya diri, ia menjadi sosok tak kasat mata yang selalu diremehkan di lingkungan sosialnya. "Aku ini siapa?" menjadi pertanyaan retoris yang terus menghantui hari-harinya di kamar yang berantakan.
Namun, takdir memainkan lelucon yang teramat gila.
Tanpa ada penjelasan ilmiah maupun magis, Bara mendadak terbangun dengan dua tubuh yang terhubung pada satu jiwa yang sama.
Saat tubuh aslinya tertidur, kesadarannya berpindah ke tubuh seorang pria lain: sosok yang sempurna, tinggi, tampan, atletis, dan berbalut setelan jas mewah dengan latar belakang gemerlap kota metropolitan. Di satu sisi, ia adalah pria malang yang terpinggirkan; di sisi lain, ia adalah pangeran sempurna yang dipuja semua orang.
"ketika takdir memberikan mu dua tubuh, mana yg akan kamu pilih?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rachmat Rachimullah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Liburan!!
Beberapa hari berlalu setelah malam penuh kejanggalan di minimarket itu, hari libur semester yang dinanti-nantikan oleh anak-anak kelas akhirnya tiba.
Suasana pagi yang cerah mengantar keberangkatan Bara bersama teman-teman sekelasnya Okid, Zian, Melani, Bella, Ani, Cindy, serta tak ketinggalan Arif yang ikut meramaikan rombongan menuju sebuah kawasan pantai selatan yang cukup jauh dari pusat Kota Surabaya.
"bar lo bawa apa aja selama kita liburan ke pantai" tanya Zian
"gua cuman bawa beberapa baju aja, sama duit si hehe" jawab Bara
"bener tuh yang penting tuh bawa duit" ucap Arif yang tiba-tiba menyambar
"ehh kunyittt nyambar aja lo ga di ajak ngomong juga" kata Zian
Demi kenyamanan dan kebersamaan, mereka memilih menggunakan kereta api sebagai moda transportasi. Sepanjang perjalanan di dalam gerbong kereta, gelak tawa dan obrolan seru memecah kebosanan, membuat jarak tempuh yang panjang terasa begitu singkat. Begitu tiba di stasiun tujuan, rombongan langsung melanjutkan perjalanan pendek menggunakan kendaraan sewaan menuju garis pantai yang membentang luas.
Setibanya di sana, hamparan pasir putih bersih dan deburan ombak laut langsung menyambut kedatangan mereka. Tanpa buang waktu, Bara dan teman-temannya langsung melepas penat.
Mereka menikmati liburan dengan penuh antusiasme mulai dari bertanding voli pantai yang seru dengan tawa canda yang membahana, hingga menyiapkan acara barbeque sederhana di sore hari sambil menikmati panorama matahari terbenam yang memukau.
"guys kita main voli yokk" Ucap Arif
"wahhh seruu tuh Rif, ayooo ayooo" jawab Bella excited
"ayoooo ayoooo"
Suasana kebersamaan itu sejenak meredakan segala beban pikiran dan ketegangan dunia luar yang selama ini menghantui Bara.
Setelah hari mulai gelap dan energi mereka terkuras habis setelah seharian beraktivitas di bawah terik matahari, rombongan memutuskan untuk beranjak menuju hotel tempat mereka memesan kamar untuk menginap semalam.
Namun, takdir seolah mempermainkan langkah mereka. Saat berjalan menyusuri trotoar malam menuju lobi hotel, pandangan mereka tak sengaja berpapasan dengan sekumpulan pria berbadan tegap yang baru saja keluar dari salah satu area komersial di dekat sana.
Salah satu dari mereka adalah 'God Lion' kelompok jalanan yang terkenal beringas di wilayah barat. Dan yang lebih mengejutkan lagi, pemimpin dari kelompok God Lion itu tidak lain adalah Johan, sahabat lama Zian.
Melihat sosok tersebut, ingatan Zian langsung tertarik mundur ke masa beberapa tahun lalu.
*Flashback*
Di sebuah aula sasana tinju yang dipenuhi bau keringat dan suara pukulan punching bag yang konstan, Zian dan Johan, dua remaja yang saat itu tidak terpisahkan, tengah bersiap di atas ring.
Hubungan mereka lebih dari sekadar teman mereka adalah saudara seperjuangan yang berbagi mimpi besar di dunia olahraga tarung bebas. Johan memiliki bakat alami yang luar biasa, kecepatan tangan yang mematikan, serta insting bertarung yang tajam.
Setiap sesi sparring selalu menjadi ajang pembuktian bagi mereka berdua. Namun, betapapun kerasnya Zian berlatih dan mengerahkan seluruh kemampuan terbaiknya, ia tidak pernah sekalipun keluar sebagai pemenang saat melawan Johan.
Setiap pukulan Johan selalu akurat, dan setiap pertahanan pemuda itu terlalu kokoh untuk ditembus. Kendati demikian, tidak ada rasa iri di hati Zian; ia justru sangat menghormati dedikasi sahabatnya itu.
*Flashback off*
Kembali ke suasana nyata di malam yang gerah itu. Zian, yang diliputi rasa rindu dan keterkejutan setelah sekian lama tidak berjumpa dengan sahabat karibnya, langsung mengambil inisiatif untuk melangkah maju menghampiri Johan.
"Johan? Hei, ini aku... Zian!" panggil Zian dengan nada suara yang bersemangat, melambaikan tangan ke arah mantan sahabatnya itu.
Namun, reaksi yang ditunjukkan oleh Johan di luar dugaan. Pria itu menoleh sekilas, tetapi tatapannya dingin tanpa secercah pun pengenalan. Raut wajahnya datar, seolah ia sedang melihat orang asing yang tidak penting.
"Maaf, aku tidak kenal siapa kamu. Jangan cari masalah di sini," ujar Johan dingin dengan suara berat yang menghentikan langkah Zian seketika.
Zian terpaku, merasa tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Didorong oleh rasa penasaran dan kebingungan, Zian kembali mendekat, mencoba mengingatkan Johan tentang kenangan masa lalu mereka di sasana tinju. Keadaan di sekitar lobi hotel mulai memanas.
Para anak buah God Lion di belakang Johan langsung memasang kuda-kuda siaga, sementara teman-teman sekelas Bara terutama Melani, Bella, dan Ani mulai panik melihat situasi yang mendadak menjadi chaos.
Melihat situasi yang bisa berujung pada pertarungan fisik yang tidak diinginkan, Bara dengan sigap melangkah maju menembus kerumunan. Dengan postur tubuh atletisnya yang kini jauh lebih tegap, ia berdiri di antara Zian dan Johan, merentangkan satu tangan untuk menahan sahabatnya agar tidak semakin maju, sementara mata tajamnya menatap langsung ke arah Johan tanpa sedikit pun rasa gentar.
"Cukup, kawan. Teman saya hanya salah paham. Kami tidak berniat mencari keributan," ucap Bara dengan nada tenang namun tegas, menguji respons kelompok preman tersebut.
Johan menyipitkan matanya, mengamati sosok Bara dari atas sampai bawah dengan penuh selidik sebelum akhirnya membuang muka dan memberi isyarat kepada anak buahnya untuk pergi.
"Jauhkan temanmu dari hadapanku, atau urusannya bakal panjang," tukas Johan penuh ancaman sebelum ia dan kelompoknya berlalu meninggalkan area hotel.
Meski keributan kecil itu reda begitu saja, insiden baru saja meninggalkan benih kecurigaan yang mendalam di kepala Bara.
Mengingat kembali informasi rahasia mengenai peta kekuatan bawah tanah Kota Surabaya yang sempat ia dengar dari desas-desus dan keterlibatan faksi-faksi besar, otak analitis Bara langsung bekerja cepat.
Ia menduga kuat bahwa Johan dan kelompok God Lion yang dipimpinnya bukanlah sekadar geng jalanan biasa, melainkan salah satu faksi penting yang berada di bawah kendali sindikat besar Four Men Crew.
Sebuah kenyataan pahit yang membuktikan bahwa lingkaran hitam dunia malam kota ini telah merangsek masuk ke berbagai lini kehidupan, bahkan di tempat yang seharusnya aman bagi seorang remaja biasa.