NovelToon NovelToon
SEPHIA

SEPHIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Diam-Diam Cinta / Slice of Life
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Azkaqia

Sephia tidak pernah menyangka, kehadiran tetangga baru itu akan mengubah segalanya.
Berawal dari pertemuan-pertemuan tak sengaja, satu sekolah, hingga satu kelas—mereka perlahan menjadi dekat. Terlalu dekat, sampai Sephia mulai merasakan sesuatu yang seharusnya tidak ada.
Sayangnya, perasaan itu datang di waktu yang salah.
Dia sudah memiliki seseorang.
Sephia memilih diam, menyimpan semuanya sendiri.
Hingga sebuah kejadian memaksa mereka untuk saling mendekat, lebih dari yang seharusnya.
Namun, bahkan setelah jarak memisahkan, waktu tetap tidak pernah berpihak.
Dan saat mereka dipertemukan kembali…
segalanya sudah berbeda.
Kali ini, justru Sephia yang harus belajar melepaskan.
Karena tidak semua yang hampir, akan benar-benar menjadi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azkaqia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perasaan yang campur aduk

Rumah Hana tidak terlalu jauh dari sekolah.

Hanya sekitar sepuluh menit berjalan kaki, melewati deretan ruko kecil dan taman kompleks yang setiap sore selalu ramai anak-anak bermain.

Sepanjang perjalanan, Hana beberapa kali melirik Sephia yang sejak tadi berjalan sambil menendang kerikil kecil di jalan.

Aneh.

Biasanya justru Sephia yang paling banyak ngomel.

Sekarang malah diam.

"Pia..."

"Hm?"

"Lo yakin nggak nyesel tadi nolak mereka berdua?"

Sephia langsung mendengus.

"NyeseI apanya?"

"Ya... Kak Sagara sama Alan."

Sephia berhenti melangkah, lalu menatap Hana seolah baru saja mendengar pertanyaan paling aneh sedunia.

"Gue harus nyesel?"

"Bukan gitu..." Hana menggaruk pipinya yang tidak gatal. "Maksud gue... kan mereka niat nganterin lo."

"Niat?"

Sephia mendengus lagi.

"Yang satu nagih utang."

"Yang satu bikin gue serba salah."

"Bedanya di mana?"

Hana terdiam.

"...Ada benarnya juga sih."

Sephia kembali berjalan.

"Justru gara-gara mereka, gue sekarang jadi bahan gosip satu sekolah."

"Padahal gue cuma pengen sekolah yang tenang."

Hana tersenyum kecil.

"Kayaknya sejak Alan pindah, kata 'tenang' udah nggak berlaku buat hidup lo."

Sephia langsung melirik tajam.

"Lo mulai lagi."

Hana terkekeh pelan.

"Nggak, serius."

"Lo sadar nggak sih?"

"Apa lagi?"

"Kak Sagara tuh nggak pernah kayak gitu sebelumnya."

Sephia mengernyit.

"Maksud lo?"

"Dulu kalau Kak Sagara jemput lo, ya jemput aja."

"Nggak pernah sampai kayak rebutan di depan kelas."

Langkah Sephia sedikit melambat.

Kalimat Hana barusan...

Ada benarnya.

Sagara memang berubah.

Atau mungkin...

Keadaanlah yang membuatnya berubah.

Hana melanjutkan,

"Terus Alan juga..."

"Apa lagi dia?"

"Ya... dia emang nyebelin."

"Tuh kan."

"...Tapi gue rasa dia nggak pernah sengaja bikin lo malu."

Sephia spontan menoleh.

"Han."

"Hm?"

"Lo sahabatan sama gue apa sama Alan?"

Hana langsung mengangkat kedua tangannya.

"Sama lo, lah!"

"Nah, makanya jangan ngebelain dia."

Hana terkekeh.

"Ya kan gue cuma ngomong apa yang gue lihat."

Sephia mendecak pelan.

Entah kenapa...

Semakin Hana membahas Alan...

Semakin ia teringat percakapan mereka siang tadi di kelas.

"Gue nggak suka lihat orang maksa makan sesuatu yang dia sendiri nggak kuat."

Sephia buru-buru menggeleng pelan.

"Ih... ngapain juga gue kepikiran omongan dia."

Tak lama kemudian, mereka berdua sampai di depan pagar rumah Hana.

Hana membuka gerbang sambil tersenyum.

"Selamat datang di markas rakyat jelata."

Sephia terkekeh.

"Apaan, sih."

Suasana yang sejak siang terasa begitu berat...

Akhirnya perlahan mulai mencair.

Begitu pintu rumah dibuka, aroma pisang goreng yang baru matang langsung menyambut mereka.

"Assalamualaikum..."

"Waalaikumsalam."

Seorang wanita paruh baya keluar dari dapur sambil membawa piring berisi pisang goreng yang masih mengepulkan asap.

"Oh, Sephia juga ikut?" tanyanya sambil tersenyum hangat.

"Iya, Tante. Maaf jadi ngerepotin."

"Ih, ngomong apa, kamu. Dari dulu juga rumah ini udah kayak rumah sendiri."

Sephia tersenyum kecil.

"Makasih, Tante."

"Udah sana, masuk dulu. Tante baru bikin teh."

Hana langsung nyengir.

"Nah, rezeki anak saleh."

Ibunya Hana langsung mencubit pelan lengan putrinya.

"Anak saleh dari mana? Pulang-pulang langsung nyomot gorengan."

"Hehehe..."

Sephia yang melihat itu ikut terkekeh.

Entah kenapa...

Suasana sederhana seperti ini selalu berhasil membuat kepalanya terasa lebih ringan.

Kamar Hana tidak terlalu besar.

Di salah satu dindingnya terpajang rak buku penuh novel dan beberapa boneka kecil berjajar rapi di atas meja belajar.

Begitu pintu kamar ditutup, Hana langsung menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur.

"Capek..."

Sephia ikut duduk di kursi belajar milik Hana.

"Iya."

Hana memiringkan kepala.

"Lah, tumben lo ngaku capek."

Sephia mengambil salah satu boneka kecil di meja, lalu memainkannya asal.

"Capek ngadepin manusia."

Hana tertawa.

"Spesifik dong."

"Ya... dua manusia itu."

Hana mengangguk pelan.

Lalu, tanpa aba-aba, ia bertanya,

"Pia..."

"Hm?"

"Lo pernah kepikiran nggak..."

"...kenapa Alan pindah ke sini?"

Sephia berhenti memainkan boneka di tangannya.

"Emang kenapa?"

"Soalnya aneh aja."

Hana bangkit dari kasur.

"Katanya dia dari Jakarta."

"Iya."

"Terus... sekolah lamanya kan bagus."

"Iya."

"Ngapain pindah ke sekolah kita?"

Sephia mengangkat bahu.

"Mungkin ikut orang tuanya."

"Ya, bisa aja."

Hana mengangguk pelan.

"Tapi menurut gue..."

"...kayaknya ada alasan lain."

Sephia menatap Hana beberapa detik.

Lalu mendengus kecil.

"Dasar tukang teori."

Hana nyengir.

"Ya siapa tahu."

Sephia terkekeh pelan.

"Kalau penasaran, sana tanya sendiri."

"Ogah."

"Takut dicuekin."

"Syukur."

Mereka berdua tertawa bersamaan.

Namun, setelah tawanya mereda...

Entah kenapa, pertanyaan Hana tadi masih terngiang di kepala Sephia.

"Kenapa Alan pindah ke sini?"

Untuk pertama kalinya...

Sephia benar-benar penasaran.

Sore mulai berganti malam.

Matahari yang sejak tadi menggantung di ufuk barat perlahan menghilang, meninggalkan langit jingga yang semakin redup.

Alan memarkirkan motornya di halaman rumah.

Rumah nomor empat itu masih terlihat cukup sepi. Beberapa kardus besar masih tersusun di teras, pertanda keluarga mereka memang belum lama menempati rumah itu.

Baru saja Alan hendak membuka pagar, pintu rumah lebih dulu terbuka.

"Udah pulang, Lan?"

Seorang wanita berusia sekitar empat puluh tahunan tersenyum hangat dari ambang pintu.

Mama Olive.

"Iya, Ma."

"Gimana sekolahnya hari ini?"

Alan melepas sepatunya, lalu menjawab singkat.

"Biasa."

Mama Olive terkekeh kecil.

"Biasa versi kamu itu bisa berarti seribu macam."

Alan hanya tersenyum tipis.

"Ya... lumayan."

Mendengar jawaban itu, Mama Olive tampak sedikit lega.

"Syukurlah."

Ia kembali masuk ke dalam rumah.

"Buruan cuci tangan. Mama baru selesai masak."

Alan mengangguk pelan.

Saat hendak melewati ruang tamu, pandangannya tertuju pada sebuah bingkai foto yang masih terbungkus koran di atas kardus.

Ia berhenti.

Pelan-pelan, Alan membuka lipatan koran itu.

Sebuah foto keluarga muncul di baliknya.

Di sana ada dirinya yang masih duduk di bangku SMP.

Di sampingnya berdiri Mama Olive.

Dan...

ayahnya.

Tatapan Alan berubah.

Beberapa detik, ia hanya diam memandangi foto itu.

Sampai akhirnya...

"Lan?"

Suara Mama Olive dari ruang makan membuat Alan tersadar.

Dengan cepat ia membungkus kembali bingkai foto itu menggunakan koran yang sama.

Lalu meletakkannya kembali ke atas kardus.

"Iya, Ma."

"Makan dulu."

Alan mengangguk.

"Iya."

Ia melangkah menuju ruang makan seolah tidak terjadi apa-apa.

Namun jauh di dalam pikirannya...

bayangan wajah pria di dalam foto itu belum benar-benar hilang.

Malam mulai menyelimuti kompleks perumahan.

Suara jangkrik bersahutan dari taman kecil di ujung jalan, sesekali diselingi deru motor warga yang baru pulang bekerja.

Di dalam rumah nomor empat, suasana terasa jauh lebih tenang.

Alan baru saja selesai mandi. Rambutnya masih sedikit basah saat ia keluar dari kamar dengan kaus hitam dan celana training.

Begitu melewati ruang tamu, langkahnya terhenti.

Mama Olive masih duduk di lantai, dikelilingi beberapa kardus yang belum sempat dibuka sejak mereka pindah ke kota itu.

"Ayo, Ma. Besok aja beresinnya."

Mama Olive menggeleng pelan sambil tersenyum.

"Kalau ditunda terus, kapan rapinya?"

Alan menghela napas kecil.

Tanpa banyak bicara, ia ikut duduk di samping ibunya.

Satu per satu barang di dalam kardus mulai mereka keluarkan.

Ada beberapa buku lama.

Pajangan keramik.

Album foto.

Sampai sebuah kotak kayu kecil yang sudah mulai kusam.

Mama Olive berhenti bergerak.

Tatapannya jatuh pada kotak itu.

Beberapa detik ia hanya diam.

Alan ikut melihat.

"Itu apaan, Ma?"

Mama Olive tersenyum tipis.

"Kenangan lama."

Pelan-pelan ia membuka tutup kotak tersebut.

Di dalamnya tersimpan beberapa surat, tiket bioskop yang warnanya mulai memudar, dan sebuah jam tangan pria.

Alan mengenali jam itu.

Jam yang dulu hampir tidak pernah lepas dari pergelangan tangan ayahnya.

Mama Olive menatap benda itu cukup lama.

Lalu...

Tanpa berkata apa-apa, ia menutup kembali kotak kayu tersebut.

"Buang aja."

Suara Alan memecah keheningan.

Mama Olive menoleh.

Alan menatap lurus ke arah kotak itu.

"Nggak ada gunanya disimpan."

Mama Olive tersenyum kecil.

Bukan senyum bahagia.

Melainkan senyum yang dipaksakan.

"Mama tahu."

"Terus kenapa masih disimpan?"

Mama Olive mengusap pelan permukaan kotak itu.

"Soalnya..."

Ia berhenti sejenak.

"...ngelupain seseorang ternyata nggak semudah buang barangnya."

Alan terdiam.

Kalimat itu terdengar sederhana.

Namun entah kenapa...

Dadanya terasa sedikit sesak.

Tiba-tiba...

Ponsel yang tergeletak di atas meja ruang tamu bergetar.

Layar menyala.

Papa.

Nama itu muncul jelas di layar.

Alan dan Mama Olive sama-sama melihat ke arah ponsel.

Tidak ada yang bergerak.

Ponsel itu terus berdering.

Sekali.

Dua kali.

Tiga kali.

Mama Olive perlahan mengalihkan pandangannya.

"Angkat aja, Nak."

Alan masih diam.

Tatapannya tidak lepas dari nama yang berkedip di layar.

Beberapa detik kemudian...

Ia meraih ponsel itu.

Mama Olive menatap putranya tanpa berkata apa-apa.

Alan mengembuskan napas pelan.

Lalu...

Ia menekan tombol merah.

Suara dering itu langsung berhenti.

Ruangan kembali sunyi.

Mama Olive tersenyum tipis.

"Maaf ya..."

Alan menoleh.

"Mama yang seharusnya minta maaf."

"Kamu jadi harus ikut pindah..."

"...ikut ninggalin semuanya."

Alan menggeleng pelan.

"Nggak."

"Mama nggak salah."

Jawabannya singkat.

Tapi cukup membuat mata Mama Olive berkaca-kaca.

Ia buru-buru mengalihkan wajahnya sambil berpura-pura merapikan isi kardus.

Alan melihat itu.

Namun ia memilih tidak mengatakan apa-apa.

Karena terkadang...

Diam adalah satu-satunya cara agar luka yang masih terbuka tidak kembali berdarah.

Di atas meja...

Ponsel Alan kembali menyala.

Sebuah pesan singkat masuk dari nomor yang sama.

Alan hanya melirik sekilas.

Lalu membalikkan ponselnya.

Seolah apa pun yang ada di layar...

Tidak lagi penting untuk ia baca.

1
Ayunda
judulnya bikin inget lagu Sheila on seven yg viral pd jamanya
Arya Suluran
wahh adapakah ini??😄
Arya Suluran
plenger juga sih Sephia ini ya😄
Azkaqia Ratna: ya gugup soalnya doi hehe
total 1 replies
Arya Suluran
apakah jatuh cinta pandangan pertama??
Azkaqia Ratna: belum kyknya, cuma awal mengagumi 😆
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!