NovelToon NovelToon
Nyonya Kampung Di Rumah Megah Sang Perwira

Nyonya Kampung Di Rumah Megah Sang Perwira

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Penyelamat / Menikahi tentara
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: PqxxyZ

Vina, gadis desa sederhana, menyelamatkan Radit, perwira militer yang terjebak perangkap dan badai kabut di hutan perbatasan. Merasa berutang budi sekaligus kagum, Radit akhirnya membawa Vina ke kota untuk dinikahi dan tinggal bersama keluarganya yang kaya raya serta terpandang.

​Namun di rumah itu, Vina terus ditekan dan direndahkan sebagai "gadis kampung". Di tengah kejamnya intrik kasta kota dan perbedaan status sosial, sebuah rahasia masa lalu perlahan terkuak.

Akankah cinta mereka mampu bertahan diuji antara ketulusan, harga diri, dan kejamnya tatanan kasta kota?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PqxxyZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19 : Aroma Kampung Penghancur Gengsi

Sambil menahan tangis, Vina terpaksa mengganti gaun indahnya dengan seragam pelayan yang kusam.

Beruntung, ia tidak sendirian. Ica, pelayan muda yang tulus, dengan setia membantu Vina membersihkan lantai dapur dan toilet bawah yang sengaja dikotori oleh kepala pelayan.

​"Nyonya Vina, biar saya saja yang menyikat bagian sudut ini. Nyonya istirahatlah sebentar," bisik Ica dengan raut wajah tidak tega sembari meras kain pel.

​"Tidak apa-apa, Ica. Panggil Vina saja seperti biasa kalau tidak ada orang," jawab Vina sambil menyeka keringat di dahinya dengan ujung lengan baju. "Aku sudah biasa kerja kasar di kampung."

​Saat mereka berdua sedang sibuk membilas lantai dapur, terdengar langkah kaki terburu-buru dari arah tangga dalam. Bi Asih, pelayan senior yang khusus melayani keperluan Nyonya Besar Laksmana—turun dengan wajah lesu. Di tangannya, ada sebuah nampan berisi semangkuk sup dan steak daging mewah yang penampilannya masih sangat utuh, sama sekali tidak tersentuh.

​Vina menghentikan kegiatannya dan menatap nampan itu dengan heran. "Bi Asih? Kenapa makanannya dibawa turun lagi? Apa menunya salah?"

​Bi Asih menghela napas panjang, lalu meletakkan nampan itu di atas meja dapur dengan frustrasi. "Bukan salah menunya, Vina. Nyonya Besar sudah beberapa hari ini jarang sekali makan. Katanya tidak nafsu, rasanya hambar, dan banyak sekali alasannya. Saya sampai bingung dan khawatir sekali kalau beliau jatuh sakit."

​"Memangnya koki mansion tidak memasak menu lain?" tanya Ica ikut mendekat.

​"Semua menu mewah sudah dicoba, Ca! Mulai dari makanan barat sampai makanan restoran bintang lima, tetap saja ditolak setelah satu suapan," keluh Bi Asih sambil memijat pelipisnya.

​Vina terdiam sejenak, menatap sisa makanan mewah yang terbuang sia-sia. Pikirannya langsung berputar mencari solusi. "Bi, kalau... kalau saya menawarkan diri untuk memasakkan sesuatu untuk Nyonya Besar, bagaimana? Siapa tahu lidah beliau sedang ingin merasakan sesuatu yang berbeda."

​Bi Asih dan Ica saling berpandangan dengan wajah bingung. "Mau masak apa, Vina? Koki profesional saja menyerah," ujar Bi Asih ragu.

​Vina tersenyum tipis, matanya berbinar saat mengingat sesuatu. "Ayam kampung. Dua ekor ayam kampung yang dibawakan oleh Ayah dari kampung kemarin. Daging ayam kampung asli punya rasa gurih yang khas dan kaldu yang sangat pekat. Kita bisa mengolahnya menjadi sup ayam kampung hangat dengan rempah-rempah segar."

​Mendengar ide itu, Bi Asih akhirnya mengangguk pasrah. "Baiklah, tidak ada salahnya mencoba. Toh, daripada Nyonya Besar tidak makan sama sekali."

​"Okee! Kalau begitu kita bagi tugas," seru Vina memimpin dengan cekatan. "Bi Asih, tolong bantu bersihkan dan potong ayam kampungnya kecil-kecil. Ica, tolong ambilkan jahe, bawang putih, merica asli, dan wortel di ruang penyimpanan. Saya yang akan mengulek bumbu dan menumisnya."

​Dapur mansion yang biasanya kaku dan dingin mendadak hidup. Vina dengan sangat lihai mengulek bumbu tradisional di atas cobek. Ketika bumbu halus itu bertemu dengan minyak panas di wajan, aroma wangi rempah dan jahe langsung menguar hebat, memenuhi seluruh ruangan dapur.

Setelah ayam dimasukkan dan direbus perlahan, kaldu kuning alami dari lemak ayam kampung mulai keluar, menciptakan aroma sup yang sangat menggugah selera dan menenangkan.

​Setelah sup matang dan disalin ke dalam mangkuk keramik putih yang cantik, Vina dan Bi Asih membawanya ke atas menuju kamar tidur mewah milik Nyonya Besar Laksmana.

​Tok! Tok! Tok!

​Bi Asih membuka pintu kamar perlahan. Di atas ranjang berukuran king-size, ibu mertua Vina sedang bersandar dengan wajah pucat dan ketus.

​"Nyonya Besar, ini saya bawakan sup hangat yang baru saja dimasak," ucap Bi Asih dengan sangat sopan seraya melangkah masuk bersama Vina yang berjalan menunduk di belakangnya.

​Mata tajam Nyonya Besar langsung tertuju pada Vina yang mengenakan seragam pelayan. Kerutan dalam muncul di dahinya. "Siapa yang menyuruh perempuan kampung ini masuk ke kamarku? Dan bau apa ini?! Menyengat sekali, menyingkir dari hadapanku!" bentaknya secara kasar.

​"Mohon maaf, Nyonya Besar," sela Vina dengan suara lembut namun tenang. "Ini sup ayam kampung tradisional. Jahe dan rempahnya bisa membantu menghangatkan perut dan mengembalikan nafsu makan Nyonya yang sedang kurang sehat."

​"Lancang sekali kamu! Memangnya kamu tahu apa tentang kesehatanku?!" usir sang ibu mertua dengan ketus, tangannya mengibas udara seolah mengusir lalat. "Aku tidak sudi memakan masakan dari tangan wanita kelas bawah sepertimu. Bawa pergi makanan menjijikkan ini!"

​"Nyonya Besar, tolong dicoba satu suap saja," bujuk Bi Asih dengan wajah memohon yang amat sangat. "Kasihan tubuh Nyonya kalau kosong terus. Ini aromanya sangat segar, Nyonya."

​Nyonya Besar mendengus kasar. Gengsinya yang setinggi langit bergejolak, namun entah mengapa, aroma gurih alami dari kaldu ayam kampung dan kehangatan jahe yang menusuk hidungnya sejak tadi benar-benar membuat air liurnya menetes secara tidak sadar. Perutnya yang kosong berbunyi pelan.

​"Cepat letakkan di meja dan kalian berdua keluar!" ketus Nyonya Besar, akhirnya menyerah pada rasa laparnya meski dengan nada yang masih sangat kasar.

​Vina meletakkan mangkuk sup itu dengan pelan dan tersenyum hormat sebelum melangkah keluar kamar bersama Bi Asih. Begitu pintu tertutup rapat, Nyonya Besar melirik mangkuk sup yang masih mengepulkan uap hangat itu. Dengan ogah-ogahan dan wajah cemberut, ia mengambil sendok dan mencicipi sedikit kuahnya.

​Sruuup...

​Mata Nyonya Besar seketika membelalak lebar. Rasa gurih yang murni dan kehangatan jahe langsung membelai tenggorokannya yang tadinya terasa hambar. Benar-benar berbeda dengan sup buatan koki mansion yang terlalu banyak menggunakan penyedap buatan.

Tanpa sadar, sendok kedua, ketiga, dan keempat meluncur dengan sangat cepat ke dalam mulutnya. Gengsinya runtuh total di hadapan rasa masakan kampung itu.

​Ibu mertua Radit itu memakan sup tersebut dengan sangat bersemangat dan lahap. Dalam waktu singkat, mangkuk pertama tandas tak bersisa.

​"Asih! Asih, masuk kamu!" teriak Nyonya Besar dari dalam kamar dengan suara yang mendadak kembali bertenaga.

​Bi Asih dan Vina yang masih berjaga di koridor luar langsung membuka pintu dengan tergesa-gesa. "Iya, Nyonya Besar? Ada apa?" tanya Bi Asih cemas.

​Nyonya Besar menyodorkan mangkuk kosongnya dengan wajah yang agak salah tingkah namun tatapannya tetap menuntut. "Ambilkan lagi! Tambah satu mangkuk lagi dan bawakan potongan daging ayamnya yang lebih banyak!"

​Bi Asih hampir saja memekik gembira, sementara Vina hanya bisa tersenyum lega dalam hati melihat rencana kecilnya berhasil. Namun, kegembiraan dan kehangatan sesaat di koridor kamar itu tidak bertahan lama.

​Tepat saat Vina dan Bi Asih berbalik hendak kembali ke dapur bawah untuk mengambilkan mangkuk kedua, langkah mereka terhenti total di ujung tangga.

Kepala pelayan senior yang tadi menghukum Vina sudah berdiri di sana bersama dua orang pelayan lain, melipat tangan di dada dengan tatapan mata yang sangat berapi-api penuh dendam dan rasa tidak suka karena Vina berhasil mengambil perhatian Nyonya Besar.

​"Bagus ya... baru satu hari kerja sudah pintar cari muka dan menjilat Nyonya Besar," desis kepala pelayan itu dengan suara rendah yang sangat mengancam, menghalangi jalan Vina dengan tubuh besarnya. "Kamu pikir dengan semangkuk sup sampah itu posisi kamu akan aman di sini, hah?!"

1
Putri Ayu/PqxxyZ
aduh maaf banget di bab kali ini banyak typo bertebaran 😭🙏
Ris Ris.25
Semangat ya Thor🙏
Ris Ris.25
Semangat thor🙏🙏
Ris Ris.25
mana nih kelanjutannya?🙏
Putri Ayu/PqxxyZ: Oke ditunggu ya kak😊
total 1 replies
Ris Ris.25
Bagus sekali Thor... semangat! 🙏
Sri Sulastri
mana lanjutannya min 🙏
Putri Ayu/PqxxyZ: huhu makasih ya kak sudah nungguin.. setiap Hari update 1 kali sehari ya biar sehat 🤣🤭 setiap jam 9
total 1 replies
Wawan
Salam kenal Vina ✍️💪
Putri Ayu/PqxxyZ: Hai kakk.. salam kenal kembali..
total 1 replies
Mustafa
Keren
Putri Ayu/PqxxyZ
ayo kita lihat bersama PERWIRA GANTENG DAN BAIK
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!