NovelToon NovelToon
Takdir Di Ujung Janji

Takdir Di Ujung Janji

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cinta Seiring Waktu / Menikahi tentara
Popularitas:8.5k
Nilai: 5
Nama Author: NonaAns

Aira dan Baskara sama-sama tidak menginginkan perjodohan kedua orang tua mereka, tapi mereka memiliki kesamaan, yaitu enggan mengecewakan kedua orang tua yang sangat mereka hormati.

***

Janji masa lalu Hendra dan Gunawan untuk menjodohkan anak-anak mereka menjadi awal baru yang tak terduga bagi Aira dan Baskara.
Awalnya, Aira dan Baskara berpikir bahwa pernikahan adalah hal sederhana dan mudah. Namun, ternyata semua tidak sesederhana yang dibayangkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NonaAns, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19 : Diskusi Serius

Jelita mulai memberanikan diri untuk keluar kamar dan pergi ke kampus hari ini. Pagi-pagi benar, gadis itu sudah duduk di meja makan menyantap nasi goreng telur ceplok buatan Wina.

Kolonel Haryo yang baru saja pulang dari jogging menyambut baik perubahan Jelita yang sudah tidak mengurung diri di kamarnya. Ia datang dan meneguk air mineral yang sudah disediakan di atas meja. Kolonel Haryo tersenyum seraya duduk dan menyeka keringat di wajah dengan handuk kecil yang diberikan Wina.

Jelita menunduk. Ia menyimpan ponsel yang semula diletakkan di atas meja. Ia masukkan dalam tasnya. Jelita mulai makan dengan lahap. Lebih cepat dari biasanya. Sebelum akhirnya beranjak dari tempatnya, lalu berpamitan untuk berangkat ke kampusnya.

Kolonel Haryo menatap kepergian putrinya yang menurutnya terlalu cepat.

Dia ini sengaja menghindar atau apa, batin Kolonel Haryo.

Pria setengah baya itu menghabiskan sarapannya sebelum akhirnya bersiap-siap dan pergi ke kantornya.

"Duduk!"

Kolonel Haryo kembali memanggil Baskara pagi itu. Kali ini ia mempersilakan Baskara untuk duduk di kursi sofa tamu yang biasa digunakan Kolonel Haryo untuk menyambut tamu yang datang.

"Saya jadi sedikit berpikir akan omonganmu semalam, Bas." Kolonel Haryo menghentikan ucapannya sejenak. Ia mengambil napas, lalu kembali fokus pada Baskara.

"Sepetinya memang ada yang sengaja disembunyikan oleh Jelita. Entah tentang masalah kemarin atau masalah lainnya. Jika memang ada teman Jelita yang ikut menyebarluaskan vidio itu hingga viral artinya apakah Jelita juga terlibat?" Lanjut Kolonel Haryo dengan suara sedikit berat.

Baskara diam sejenak. Ia menatap komandannya, lalu berkata, "Siap, izin, Rekan intelejen saya sudah mendapatkan nama dari orang yang terindikasi menyebarkan vidio pertama kali, Komandan. Masalah Jelita terlibat atau tidak, izin, saya tidak dapat menjawabnya."

Kolonel Haryo mengangguk tegas. "Jika kamu sudah mendapat namanya, segera selesaikan saja. Minta dia untuk menarik dan menghapus vidio itu."

Baskara terdiam sejenak.

Ia menatap komandannya sebentar sebelum kembali menegakkan posisi tubuhnya.

"Siap, izin, dengan segala hormat, Komandan permasalahan ini tidak sesederhana menghapus atau menarik vidio yang sudah viral, tapi lebih dari itu. Nama saya sudah tercemar, istri saya harus menghadapi dan mendengar pergunjingan dari orang-orang setiap hari, prajurit dan anak buah saya juga sudah mulai bergunjing tentang kebenaran kasus ini, nama baik institusi juga dipertaruhkan. Masyarakat sudah mulai membentuk opini dan yang tidak saya inginkan adalah nama baik keluarga saya ikut terbawa.

"Izin, saya berkata demikian bukan karena saya adalah anak KSAD. Saya ingin menekankan pada komandan bahwa posisi saya disini adalah seorang anak buah dan perwira biasa. Saya tidak minta perlakuan khusus karena posisi dan jabatan ayah saya. Izin, yang saya inginkan dan harapkan hanyalah nama baik saya dipulihkan," ucap Baskara tegas.

Kolonel Haryo mengambil napas dalam-dalam. Ia menegakkan posisi tubuhnya. Sesekali memandang ke langit-langit kantornya. Tidak menyangka jika masalah yang ditimbulkan oleh putrinya bisa berdampak seluas ini. Ia pun membuang napas berat, lalu kembali menatap Baskara dengan saksama.

"Jika memang putri saya bersalah, saya sendiri yang akan meminta dia untuk mempertanggungjawabkan segalanya. Saya berjanji akan membersihkan namamu. Saya komandan dan kamu bisa pegang kata-kata saya!" ucap Kolonel Haryo tegas.

***

Jelita sengaja sampai di kampusnya pagi-pagi benar saat kampus masih sepi. Jelita berjalan cepat menuju ke belakang kantin kampus tempat anak-anak Mapala biasa berkumpul. Jelita melemparkan sejumlah uang pada Ryan, anak mapala yang sedang tidur-tiduran di dalam ruang penyimpanan.

Ryan membuka mata. Ia memicing sejenak, menatap Jelita yang sudah berdiri dengan napas memburu di hadapannya. Ryan menatap lima lembar uang seratus ribu rupiah tercecer diatas badannya. Ia tersenyum.

Ryan bangkit dari tempatnya, lalu mengambil uang itu satu per satu. Ia mendongak menatap Jelita yang wajahnya bahkan sudah merah padam.

"Untuk apa uang ini?" tanya Ryan.

"Hapus vidio itu sekarang!"

Ryan mendengus. Ia berdiri sembari tersenyum licik. Ia menatap Jelita seraya berjalan memutari gadis itu.

"Vidio yang mana? Vidio yang terlanjur viral itu atau ... vidio pengakuanmu?" tanya Ryan dengan senyum tersungging di bibirnya.

Jelita melirik tajam. Ia hendak menampar Ryan, tapi tangannya ditangan oleh pemuda itu. Ryan justru mendorong tubuh Jelita hingga membentur dinding dan menghimpitnya.

"Apa yang kamu lihat dari perwira itu? Dia bahkan nggak sadar kalau kamu mencintainya. Aku yang jelas-jelas bisa mencintaimu lebih dari dia. Kenapa masih mengharapkan perwira itu, Jelita!" ucap Ryan dengan nada meninggi.

Ia menatap Jelita kian dekat. Napasnya sedikit beraroam alkohol membuat Jelita memalinkan wajahnya.

"Bukannya seharusnya kamu senang karena aku membantumu," ucap Ryan. Ia menjeda sejenak kalimatnya. Ryan mendekatkan bibirnya pada telinga Jelita, lalu berkata, "Bagaimana kalau kita wujudkan saja kehamilan itu. Kamu tidak akan dianggap pembohong oleh publik dan karir perwira itu hancur, sesuai harapanku," lanjutnya.

Jelita meronta. Ia mencoba melepaskan diri dari cekalan Ryan, tapi gagal.

"Yang aku butuhkan bukan uang, Sayang, tapi kamu ...."

"Aku nggak suka sama kamu! Aku nggak cinta!"

Ryan melepaskan cengkramannya pada Jelita. Rahang kokohnya mengeras dan tatapannya menajam.

"Kalau begitu, kalian hancurlah bersama-sama! Toh, orang-orang tidak akan menyalahkanku. Kau yang menyulut apinya, Jelita."

"Tapi, kamu yang menyiram bensinnya! Kamu yang membakar masalah ini hingga jadi besar seperti ini!"

Ryan tertawa puas.

"Kamu menolakku seolah jijik denganku. Seolah aku tidak selevel denganmu jadi kamu bisa berbuat seenaknya. Rasakan sekarang! Selesaikan sendiri masalah yang sudah kamu buat!" ucap Ryan penuh amarah seraya melemparkan uang yang tadi ia pungut pada Jelita.

Jelita menunduk. Ia kembali menangis. Bahunya bergetar. Kedua tangannya mengepal kuat. Ia benci karena masalahnya tidak kunjung selesai. Ia benci karena orang-orang terlanjur percaya dengan vidio yang beredar. Ia bahkan tidak tahu harus menyelesaikan masalahnya ini dari mana.

***

Aira baru saja selesai mengantar pasien ke ruang bedah. Ia berlari sekuat tenaga agar pasien segera dapat di selamatkan. Ia berjalan lunglai, tapi merasa lega karena pasien dapat tertangani dengan baik. Aira mengambil sebotol minuman dingin dari mesin penjual minuman. Ia meneguk minuman itu hingga tandas. Ia mengernyit saat melihat Jelita duduk sendirian di ruang tunggu lobi rumah sakit.

Aira berjalan pelan menghampiri gadis itu.

"Jelita?"

Jelita mendongak. Wajahnya tampak datar, tapi bukan lagi wajah angkuh yang terlihat, melainkan wajah lelah dan putus asa.

Aira duduk tepat di samping Jelita. Ia tidak bertanya apapun. Hanya duduk dan diam seraya sesekali menatap Jelita yang masih setia menunduk.

"Kamu sudah makan?" tanya Aira memecah keheningan.

Jelita mendongak. Ia sedikit terkejut dengan pertanyaan Aira. Jelita heran karena sepertinya Aira sama sekali tidak marah padanya setelah semua yang terjadi.

"Dokter ... tidak marah?" tanya Jelita lirih.

Aira menarik tangan Jelita dan mengajak gadis itu ke kantin. Karena Jelita tidak memilih apapun, lalu Aira memutuskan membelikan satu paket makanan dan minuman untuk Jelita.

"Untuk marah, saya butuh makan. Sejak tadi mengurus pasien belum sempat makan. Jadi, lebih baik kita makan dulu," ucap Aira santai seraya menyantap bakso malang komplit dengan mangkok besar dan sepiring nasi.

Jelita menunduk. Ia menyodorkan sebuah amplop putih di atas meja. Aira mengerutkan dahi usai melihat amplop itu.

"Apa ini?"

"Buka saja. Dokter akan tahu," ucap Jelita lirih.

Aira mengusap bibir dan membersihkan tangannya, lalu mengambil amplop itu dan membacanya. Aira menatap setiap lembar dan setiap deret tulisan di amplop itu.

Hasil laboratorium dan hasil USG.

Aira mendongak menatap Jelita yang sejak tadi terus menunduk.

"Siapa yang menyuruhmu?" tanya Aira heran.

Jelita menggeleng. "Nggak ada. Papi dan mami bahkan nggak tahu aku ada di sini."

Aira mengerutkan dahi. "Kamu ... sendirian di sini?"

Jelita mengangguk.

"Maaf," ucap Jelita nyaris tak terdengar. Gadis itu kembali menunduk da menangis.

"Siapa yang sudah tahu hasil pemeriksaanmu ini?" tanya Aira tegas.

"Hanya dokter."

Aira menatap Jelita yang masih terisak. Ia menyodorkan sekotak tisue pada Jelita seraya terus memperhatikan gadis itu.

"Kenapa baru sekarang, Lita?" tanya Aira.

"Maaf."

"Kamu tahu, dalam masalah ini, kata maaf saja tidak cukup! Kamu sudah menyebarkan kebohongan, Jelita."

"Aku nggak bermaksud menyebarkannya. Aku hanya terbawa emosi sesaat. Aku hanya asal bicara," ucap Jelita mencoba membela diri.

Aira tampak tenang. Ia duduk diam seraya menatap Jelita.

"Apa kamu tahu dampak dari asal bicaramu itu? Kamu tahu nama baik Baskara terancam? Kamu tahu orang-orang terus bergunjing di belakang saya, membicarakan hal-hal buruk soal Baskara yang mereka belum tahu ini benar atau salah."

"Dokter berhak marah. Aku memang salah."

Aira membuang napas kasar. Ia mencoba untuk tenang.

"Saya nggak marah. Kalau saya marah, sudah sejak awal saya membalas setiap komentar di media sosial, sudah sejak awal saya balas ucapan ibu-ibu di asrama. Namun, saya tahu disini semuanya harus dipikirkan dengan kepala dingin. Saya tidak mau sikap saya justru memperburuk keadaan. Saya juga tidak mau membuat nama suami saya jadi semakin buruk karena kecerobohan terbawa emosi sesaat."

Seolah tertampar dengan ucapan Aira. Jelita terdiam. Ia terpaku menatap Aira.

"Kamu harus bertanggungjawab, Jelita. Selesaikan masalah yang sudah kamu mulai dan pulihkan nama baik suami saya!" ucap Aira tegas.

__________________________

1
Ema Soleha
ceritanya bagus,tapi iklanya MasyaAllah....bikin nyebut,iklanya udah ngelebihi apliksi novel berbayar
Ana Dww
/Sob/maaf bas, wanita punya prinsip sedia payung sebelum hujan walau itu kemarau
NonaAns: 🤣 iya lagi wkwkwkwk
total 1 replies
Nasyya
👍🏻👍🏻
Nasyya
wadidauw 🤣
Ana Dww
waittt!
Ana Dww
kalau nggak, paling parah jelita hamil anak orang😶
Ana Dww
ya emang jelita bohong!
Ana Dww
/Determined/
Ana Dww
😭😭😭😭 Istri lo abis ngamukkk
Ana Dww
tetap negatif thinking jelita bohong karena suka ibasss
Ana Dww
😭😭😭
Agustinus Wisnugroho
😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!