NovelToon NovelToon
Sistem 2bit: Dari Sampah Jadi Dewa

Sistem 2bit: Dari Sampah Jadi Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Action / Sistem / Harem / Komedi / Mengubah Takdir
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: HAMBALANGVERSE

Raka Pratama pernah menjadi kebanggaan keluarganya.

Bakat luar biasa. Masa depan cerah. Tunangan idaman.

Sampai sebuah misi menghancurkan meridiannya.

Kultivasinya mandek. Pertunangannya dibatalkan. Keluarganya membuangnya ke gubuk tua di pinggir desa.

Saat semua orang menganggap hidupnya telah berakhir, sebuah warisan kuno terbangun.

Sistem 2Bit.

Sistem murahan yang mengaku dirinya kelas dua.

Tapi bagi yang sudah kehilangan segalanya, kesempatan sekecil apa pun sudah cukup.

Mereka mengira kisah Raka telah berakhir.

Padahal baru dimulai.


━━━━━━━━━━━━━━━

⚔️ ORIGINAL HAMBALANGVERSE ⚔️

Genre:
#Cultivation
#System
#Action
#Fantasy
#Harem
#Revenge
#Survival
#Hambalangverse.


🗓️ Jadwal update:
Sampai Matahari Padam

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HAMBALANGVERSE, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20

Gang menuju gubuk Raka seharusnya sunyi. Tapi malam ini, ada tiga sosok yang sengaja menunggu di persimpangan. Mereka berdiri dengan pose sok garang, tangan di pinggang, dagu diangkat tinggi seolah ingin menantang bulan. Baju mereka seragam lusuh. Wajah mereka familiar. Anak buah Bima. Yang paling depan, si Tono, memegang sebatang kayu runcing yang ujungnya sudah diasapi api.

Raka berhenti. Langkahnya tenang. Tidak ada tanda panik. Tidak ada sikap defensif berlebihan. Dia hanya berdiri di tempat, tas belanja di tangan kiri, tangan kanan rileks di sisi tubuh. Di sabuknya, artefak △404 masih bergetar halus. Getaran itu sekarang terasa berbeda. Bukan tarikan lapar. Tapi... peringatan. Seperti radar yang mendeteksi objek bergerak di zona aman.

Laras berhenti di sampingnya. Dia tidak mundur. Tidak bersembunyi di belakang Raka. Posisinya sejajar. Tas belanja dipegang erat. Matanya menyapu ketiga preman itu dalam hitungan detik. Menghitung jarak. Mengevaluasi senjata. Menilai niat. Lalu dia melirik sekilas ke arah gang gelap di belakang mereka. Gang tempat cangkir kopi tadi ditinggalkan. Kosong. Tapi udaranya masih terasa berat.

"Oi, sampah!" teriak Tono. Suaranya pecah, mencoba terdengar garang tapi gagal menyembunyikan gemetar di pita suara. "Kau pikir kau bisa jalan seenaknya setelah bikin masalah sama Pak Bima?"

Raka tidak menjawab. Dia hanya menatap Tono. Tatapan datar. Kosong. Seperti melihat tumpukan sampah yang menghalangi jalan pulang. Bukan musuh. Bukan ancaman serius. Hanya... gangguan.

"Lihat nih," lanjut Tono, mengayunkan kayunya pelan-pelan. "Kami cuma mau kasih pelajaran. Biar kau tau siapa yang berkuasa di desa ini."

Dua temannya tertawa renyah. Suara tawa yang dipaksakan. Nervous. Mereka tahu Raka bukan orang biasa. Tapi ego dan perintah Bima membuat mereka nekat.

Laras menghela napas pendek. Hampir tak terdengar. Tapi Raka mendengarnya. Itu adalah kode. Mereka tidak layak jadi target penuh perhatian.

"Kau punya tiga detik," bisik Raka. Suaranya rendah. Tenang. Bukan ancaman. Fakta. "Pergi. Atau menyesal."

Tono membeku. Ekspresinya berubah dari sok garang jadi bingung. Dia mengharapkan teriakan. Perlawanan. Ketakutan. Bukan kalimat singkat yang diucapkan seperti membaca daftar belanjaan.

"Sekian satu..." Lanjut Raka. Nadanya tetap datar.

Tono menggertakkan gigi. Marah karena merasa direndahkan. Dia mengangkat kayunya lebih tinggi. Siap menyerang.

"Dua..."

Angin malam berhembus. Membawa aroma asap arang dan keringat basi. Di kejauhan, lampu neon pasar berkedip sekali. Halus. Cepat. Seperti kedipan mata.

Raka merasakan getaran △404 di sabuknya berubah lagi. Dari peringatan menjadi... pengakuan. Wanita itu masih di sekitar sini. Mengamati. Menilai. Melihat bagaimana Raka menangani sampah desa ini. Apakah dia akan kehilangan kendali? Apakah dia akan bereaksi berlebihan? Atau apakah dia tetap tenang, efisien, dan fokus pada ancaman yang sebenarnya?

Ini ujian. Bukan dari Bima. Dari bayangan segitiga itu sendiri.

"Tiga."

Raka bergerak.

Bukan serangan brutal. Bukan jurus rahasia. Hanya satu langkah maju. Cepat. Presisi. Tangannya meraih pergelangan tangan Tono yang memegang kayu. Tekanan tepat di titik saraf. Kayu terlepas. Jatuh ke tanah dengan bunyi gedebuk. Dalam gerakan yang sama, Raka mendorong bahu Tono. Bukan keras. Cukup untuk membuatnya kehilangan keseimbangan. Tono terhuyung mundur, menabrak temannya yang berdiri di belakang. Keduanya jatuh berserempak. Berantakan. Memalukan.

Tidak ada darah. Tidak ada tulang patah. Hanya rasa sakit sesaat dan harga diri yang remuk.

Preman ketiga yang belum sempat bereaksi langsung lari. Kakinya gemetar. Napasnya tersengal-sengal. Dia tidak peduli lagi pada perintah Bima. Insting survivalnya lebih kuat daripada loyalitas buta.

Raka tidak mengejar. Tidak memukul saat mereka jatuh. Dia hanya berdiri kembali di posisi semula. Tangan kanan kembali rileks di sisi tubuh. Wajahnya tetap datar. Seolah-olah barusan hanya menyingkirkan batu kecil dari jalan.

Laras tidak berkomentar. Tidak memuji. Tidak mengejek. Dia hanya mengangguk sekali. Singkat. Apresiatif. Lalu matanya kembali menyapu gang gelap di belakang mereka. Tetap waspada. Tetap fokus pada ancaman nyata.

"Mari pulang," gumam Raka. Suaranya normal. Tidak ada adrenalin berlebih. Tidak ada kepuasan berlebihan. Hanya kelegaan bahwa gangguan telah selesai. Dan prioritas utama tetap utuh.

Mereka melanjutkan perjalanan. Langkah kaki senyap. Tas belanja aman. Artefak △404 di sabuk Raka bergetar stabil. Bukan lapar. Bukan marah. Tapi... puas. Seperti predator yang melihat mangsanya memilih jalanan yang benar.

Di belakang mereka, Tono dan temannya masih tergeletak. Mengerang pelan. Malu. Takut. Bingung kenapa serangan mereka gagal total tanpa usaha berarti.

Dan di suatu tempat dalam kegelapan gang, sepasang mata mengamati semuanya. Tanpa ekspresi. Tanpa suara. Hanya tatapan tenang yang menilai. Menimbang. Mencatat.

Bahwa Raka bukan sekadar bocah desa yang beruntung.

Dia adalah sesuatu yang lain. Sesuatu yang pantas diperhatikan. Sesuatu yang... mungkin berguna.

Atau mungkin berbahaya.

Wanita itu tidak bergerak. Tidak mendekat. Tidak menjauh.

Dia hanya terus mengamati.

Sampai Raka dan Laras menghilang di tikungan terakhir menuju gubuk.

Lalu, perlahan, dia berbalik. Menyatu dengan bayangan. Hilang tanpa jejak.

Hanya angin malam yang tersisa. Membawa aroma sate dingin dan janji konflik yang belum usai.

Bersambung.

1
Chen Haoran
Bagus toh sistem nya lucu
KZ2: Kalau gw tulis sejarahnya sistem 2bit bakalan jadi 10 bab🚬🗿🤣.
thanks udah mampir
total 1 replies
Chen Haoran
menurut ku ini menarik di setiap kata-katanya ada dialog yang interaktif dan tidak kelihatan kaku🙏
Chen Haoran: yap euy
total 2 replies
Chen Haoran
lucu euy sistem nya bisa becanda 🤣
KZ2: wkwkkw emang novel absurd
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!