"Ketika pengorbanan seorang istri dibalas dengan penghinaan, takdir akan mengirimkan tangan lain untuk mengangkatnya menjadi ratu."
Nirmala diperlakukan seperti babu oleh suami dan keluarganya.
Perlakuan suaminya Nirmala, Antoni pada Nirmala disebuah acara kantor, secara tidak sengaja terlihat oleh Theo, seorang duda pengusaha kaya yang disegani didunia bisnis.
Merasa kasihan pada Nirmala dan diam-diam mengaguminya, Theo secara diam-diam selalu jadi penolong bagi Nirmala.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RR Maesa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20. Suami yang Licik
Theo menyesap tehnya perlahan, memikirkan keputusan yang baru saja matang di kepalanya. Dia tidak melakukan ini semata-mata karena Antoni, melainkan demi memberikan jalan bagi stabilitas hidup Nirmala dan Andrew, sekaligus sebagai bentuk apresiasi nyata atas jasa Nirmala.
"Pak Antoni," panggil Theo dengan suara berat dan tenang, membuat Antoni yang tadinya tegang kembali mendongak penuh harap.
"Sebenarnya pembatalan kemarin masih dalam tahap pertimbangan internal kami," lanjut Theo santai. "Namun, mendengarkan cerita hari ini... saya menyadari satu hal penting. Seseorang yang memiliki istri seluar biasa dan setulus Bu Nirmala pasti memiliki dorongan moral yang kuat dalam hidupnya."
Antoni tersentak kaget, lalu matanya langsung berbinar gembira. "P-Pak Theo..."
Theo tersenyum tipis, lalu menatap Nirmala dengan penuh rasa hormat. "Jasa Bu Nirmala menjaga Naura adalah hal yang sangat berharga bagi saya. Saya tidak bisa membiarkan keluarga dari penyelamat putri saya berada dalam kesulitan. Karena itu, saya memutuskan untuk melanjutkan kerja sama investasi dengan perusahaan Pak Baskoro."
Zaki dan Firman tampak terkejut, namun dengan cepat mengangguk paham menanggapi keputusan mendadak Theo.
Nirmala mendongak pasrah bercampur haru, matanya berkaca-kaca menatap Theo. Ada rasa lega yang luar biasa karena nasib keluarganya terselamatkan, meski di sisi lain dia tahu Antoni mendapatkan keuntungan besar dari kebaikannya.
"Ini sungguh sebuah kehormatan dan kabar luar biasa, Pak Theo! Terima kasih banyak!" sahut Antoni dengan nada sangat antusias, hampir tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya. "Saya berjanji tidak akan mengecewakan Anda!"
"Pastikan Anda memegang janji itu, Pak Antoni," ujar Theo dengan nada yang mendadak dingin dan penuh penekanan, matanya mengunci pandangan Antoni. "Kerja sama ini berjalan karena rasa terima kasih saya atas jasa Bu Nirmala. Jadi, pastikan Anda menjaga dan membahagiakan istri serta anak Anda dengan baik."
Antoni tertegun sejenak mendengar penekanan Theo, namun dia dengan cepat mengangguk penuh semangat, tanpa menyadari bahwa Theo kini akan mengawasi gerak-geriknya jauh lebih ketat demi melindungi Nirmala dan Andrew.
"Tentu saja, Pak Theo. Membahagiakan Nirmala dan Andrew adalah prioritas utama saya," jawab Antoni mantap, mengumbar senyum paling manis yang dia punya meski dadanya sempat berdesir aneh mendengar nada ancaman terselubung dari pengusaha besar itu.
**
**
**
Sepanjang perjalanan pulang dengan mobil, Antoni tak henti-hentinya bersenandung kecil dan mengelus kemudi dengan jemari yang menari-nari gembira. "Kau lihat itu, Nir? Kerja sama bernilai miliaran rupiah kembali ke tangan Mas hanya dalam hitungan menit! Jabatan Direktur Pemasaran itu sudah seratus persen milikku!" serunya penuh kemenangan.
Nirmala yang duduk di sampingnya hanya menatap keluar jendela dengan tatapan kosong. Hatinya terasa begitu hampa dan perih. Niat tulusnya menolong Naura, seorang anak kecil yang ketakutan dan menangis di taman waktu itu, kini telah dikotori oleh keserakahan suaminya. Antoni menjadikan kebaikannya sebagai alat tawar-menawar, sebuah 'kartu as' untuk mengeruk keuntungan pribadi dan memuluskan ambisi jabatannya. Rasa masakan restoran mewah yang tadi sempat dia cicipi kini terasa hambar di tenggorokannya, berubah menjadi rasa pahit yang menyesakkan.
Setibanya di rumah, Antoni bahkan tidak merapikan jasnya terlebih dahulu. Dia langsung melangkah lebar menuju ruang keluarga dan berteriak memanggil keluarganya.
"Ibu! Sinta! Keluar sebentar! Eh Sinta ke kampus ya?" seru Antoni dengan suara lantang yang menggema di seluruh sudut ruangan.
Tak lama kemudian, Ibu Mertua Nirmala muncul dari kamar dengan raut wajah masam, diikuti Sinta yang sedang memainkan ponselnya dengan malas.
“Aku lagi malas hari ini!” teriak Sinta, yang sedang duduk diruang keluarga menonton tv.
"Ada apa sih, Antoni? Siang-siang begini berteriak-teriak seperti menang undian saja," gerutu Ibunya seraya melipat tangan di dada. Matanya sempat melirik tajam ke arah Nirmala yang masuk menyusul di belakang Antoni sambil menuntun Andrew.
"Bukan sekadar menang undian, Bu! Ini jauh lebih besar dari itu!" Antoni tertawa lebar, merangkul bahu ibunya dengan penuh semangat. "Investasi dari perusahaan Pak Theo resmi berlanjut! Keputusan pembatalannya ditarik kembali hari ini juga!"
Mata Sinta langsung bertaut, mengalihkan pandangan dari ponselnya. "Benaran, Mas? Wah, berarti... jabatan Direktur Pemasaran itu fix jadi milik Mas Antoni?"
"Seratus persen, Sinta! Pak Baskoro pasti tidak punya alasan lagi untuk menolak Mas. Jabatan itu tinggal menunggu surat keputusan resmi saja!" pekik Antoni bangga, membusungkan dadanya seolah dia adalah pahlawan besar di rumah itu.
Ibu Antoni menghembuskan napas lega, senyum lebar menyungging di wajahnya yang penuh kerutan. "Sukurlah... Akhirnya! Ibu sudah yakin anak Ibu yang tampan dan pintar ini pasti bisa mengatasi masalah perusahaan. Memang Pak Theo itu sadar kalau cuma Antoni yang punya kapasitas mengelola proyek besar itu!"
"Tentu saja, Bu," sahut Antoni congkak, sama sekali tidak menyebutkan bahwa keputusasaan dan kebaikan Nirmala lah yang sebenarnya melunakkan hati Theo.
Mendengar pujian berlebihan dari ibu mertuanya, Nirmala hanya bisa berdiri mematung di dekat pintu masuk. Dia meremas ujung gaun indahnya dengan jemari yang gemetar. Keheningan dan diamnya Nirmala justru menarik perhatian Sinta.
Sinta melirik Nirmala dari atas ke bawah, menatap gaun mahal yang melekat di tubuh kakak iparnya itu dengan tatapan iri dan tidak suka.
"Alah, paling Pak Theo luluh karena presentasi Mas Antoni yang hebat," cemooh Sinta sinis, lalu menunjuk gaun Nirmala. "Mas Antoni sampai belikan gaun mahal begitu buat Mbak Nirmala, cuma buat dipajang di restoran? Pemborosan saja. Coba uangnya dipake buat belikan Sinta tas baru, kan lebih berguna."
Ibu Antoni mendengus, ikut menatap Nirmala dengan tatapan dingin. "Benar kata adikmu. Kamu itu cuma mendampingi saja, Nirmala. Jangan merasa sok berjasa cuma karena diajak makan di restoran mewah. Semua keberhasilan ini ya murni karena kerja keras dan kehebatan suamimu!"
Nirmala menarik napas panjang, menahan air mata yang mendesak ingin keluar. Dia tidak berniat sedikit pun untuk mengakui atau memamerkan 'jasanya' di depan keluarga suaminya. Justru, dijadikan 'alat balas budi' oleh Antoni adalah hal paling merendahkan yang pernah dia rasakan selama menjadi seorang istri.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Nirmala menggendong Andrew yang mulai mengantuk, lalu melangkah perlahan menuju kamar mereka, meninggalkan riuh kesombongan Antoni dan pujian buta dari keluarganya.
Nirmala masih bisa mendengar suara mertuanya dan iparnya dari kejauhan.
“Nanti kalau sudah jadi Direktur pemasaran, belikan Ibu perhiasan, ya.”
“Aku juga Mas.”
“Tapi ingat jangan lagi membelikan istrimu yang mahal-mahal, nanti kebiasaan, banyak minta,” ucap Bu Yuli.
“Tenang saja Bu, tidak akan. Lagian Nirmala itu tidak cocok kalau memakai barang mewah.”
Bu Yuli dan Sinta mengangguk. Lalu mereka terbawa bersama membayangkan mereka akan kara raya.
Nirmala hanya menghela nafas panjang, tidak peduli dengan kesenangan mereka. Capek juga meladeni mereka. Diapun cepat-cepat membawa Andrew masuk kamar karena sudah menguap terus.
*****