membalas dendam atas kematian keluarga dari seorang penghianat.
bercerita tentang Kenzie Laurent dan Reinzie Laurent yang telah menjadi yatim piatu, dua sosok saudara yang memiliki sifat yang berbanding terbalik Kenzie memiliki selera humor yang teramat konyol dan santai sedangkan Reinzie memiliki sifat normal dan sangat serius.
mereka berdua melakukan petualangan di dunia. Kaka beradik ini ingin membalas nyawa pada seorang penghianat yang telah membunuh orang tua mereka.
dan keduanya diseguhkan oleh petualangan yang mengubah takdir dari yang konyol menjadi sosok yang sangat di hargai serta di agungkan dan yang satunya akan menjadi seorang pendekar hebat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LanLan.CNL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 20
...20: PANGGUNG KENZIE DAN RYUJIN...
...****************...
"AYO MAJU KALIAN SEMUA SEKALIGUS, DASAR KEROCO-KEROCO TIDAK BERGUNA!!" Teriak Ryujin menantang, menyulut api kemarahan di dalam dada ratusan peserta.
"KUNYUK SIALAN! JANGAN SOK JAGO KAU RAMBUT MERAH! MAJU DAN SERANG PRIA KURUS ITU TERLEBIH DAHULU!" teriak salah seorang peserta ujian yang suaranya langsung bergema, memprovokasi massa untuk menjadikan Ryujin sebagai target utama mereka.
Melihat gelombang manusia bersenjata tajam merangsek maju ke arahnya, Ryujin bukannya gentar, ia justru menyeringai lebar dengan kilat mata yang liar. "Bwahahaha! Panggung ini adalah milikku seorang! Rasakan ini! *Langkah Jalan Langit... Teknik Keempat: Lintas Ruang!*"
*SWOSHH!*
Seketika itu juga, atmosfer di atas panggung bergetar hebat. Tubuh Ryujin mendadak melebur bagai bayangan kelabu dan menghilang sepenuhnya dari pandangan mata telanjang para calon murid. Ia seolah-olah menguap begitu saja ke dalam udara hampa.
Namun, hanya berselang beberapa detik kemudian...
*PLAK! PLAK! GEDEBUK!*
Satu per satu peserta ujian terlempar keluar dari arena dengan tubuh yang tereliminasi begitu saja tanpa ada yang tahu dari arah mana serangan itu berasal. Gerakan Ryujin terlalu cepat, tidak menyisakan jejak visual sedikit pun bagi para pendekar amatir di sana.
Di tribun penonton tempat para murid resmi berkumpul, pemandangan itu membuat mereka spontan melongo. Dagu mereka seolah melorot secara bersamaan karena benar-benar tidak menyangka bahwa pemuda kolot yang berpenampilan acak-acakan seperti Ryujin ternyata memiliki kehebatan yang sepenuhnya sebanding dengan omong besarnya.
Di kursi kehormatan para guru agung, Master Helena yang duduk menopang kepalanya dengan anggun tampak mengamati jalannya pertempuran. Bocah kolot berambut merah itu... ternyata sehebat itu ya? Kecepatannya memanipulasi celah udara hampa sangat luar biasa. Tidak masalah jika nanti aku mempertimbangkannya untuk menjadi salah satu murid pribadiku, gumam Helena di dalam batinnya penuh penilaian.
Namun, pandangan mata indahnya kemudian bergeser ke sudut panggung, dan urat di pelipisnya kembali berkedut. Tapi bocah nakal berambut perak yang satunya itu... dia malah menyempatkan diri untuk duduk bersantai seolah-olah tidak terjadi apa pun! Padahal semua kekacauan massal ini adalah ulahnya sendiri! Haiss... Apakah dia tidak tahu bahwa sejak tadi aku selalu memperhatikan gerak-geriknya dari sini? lanjut Helena bergumam gemas di dalam pikirannya.
Seolah memiliki radar tak kasat mata, dalam radius puluhan meter di atas panggung, Kenzie mendadak melirik tepat ke arah tribun tempat Helena duduk. Pemuda berambut perak itu melemparkan sebuah senyuman super percaya diri yang tampak sangat menyebalkan, seolah sengaja menggoda sang Guru Agung, sebelum akhirnya ia kembali mengalihkan fokusnya untuk mengamati jalannya pertarungan.
Heh... Sepertinya aku sedikit meremehkan kemampuan bocah berambut merah itu, batin Kenzie sembari terus mengikuti setiap pergerakan Ryujin di dalam ruang hampa.
Meskipun bagi ratusan penonton dan peserta biasa gerakan Ryujin sama sekali tidak terlihat, hal itu tidak berlaku bagi Kenzie. Sepasang mata merah padam milik Kenzie sanggup menangkap dengan sangat jelas ke mana pun bayangan Ryujin berpindah.
Kenzie sanggup melihat apa yang orang lain tidak mampu lihat, sebab ia terlahir dengan garis darah istimewa yang diwarisinya dari silsilah legendaris Keluarga Laurent. Tidak hanya mempertajam penglihatan spiritualnya, garis darah murni itu juga menyimpan banyak keunikan lain, seperti lonjakan kekuatan fisik yang mampu naik secara luar biasa di bawah tekanan, hingga mempertajam kejeniusan dan melipatgandakan bakat bertarungnya ke level yang tidak masuk akal.
Di tribun kehormatan, sejumlah guru agung dan guru berstatus biasa juga ikut melongo kaget. Mereka saling berbisik penuh ketidakpercayaan. Mereka tidak menyangka akan disuguhi dengan pemandangan kultivasi tingkat tinggi dari seorang pemuda yang penampilannya terlihat sangat biasa dan cenderung udik.
Beberapa menit telah berlalu dengan intensitas pertarungan yang sangat tinggi. Efek dari penggunaan teknik Lintas Ruang secara beruntun mulai menguras habis stamina Ryujin. Langkah kakinya mulai melambat, dan napasnya terdengar semakin memburu.
Dari total seratus dua puluh orang penantang yang berada di atas panggung pada awalnya, kini sekitar lima puluh orang telah sukses tereliminasi keluar dari arena, menyisakan tujuh puluh orang yang masih berdiri kokoh mengepungnya.
Di antara sisa peserta tersebut, terdapat beberapa nama calon murid berpotensi yang kekuatannya terhitung cukup hebat dan sulit ditumbangkan dalam sekali serang, seperti Lopes Howk, Jasson Mops, Kyujiro Misasi, Ji-Joon, dan Kael Marpis. Lima orang ini mulai memimpin barisan untuk memojokkan Ryujin yang staminanya sudah di ambang batas.
Kenzie yang sedari tadi hanya duduk menonton pertunjukan sembari bersiul-siul tanpa melakukan tindakan apa pun, akhirnya memutuskan untuk bergerak. Ia bangkit berdiri dan melangkah santai menuju pusat pertempuran demi membantu Ryujin yang sudah terkepung rapat.
"Ehh... Kakak Kenzie?" ucap Ryujin terbata-bata dengan napas tersengal-sengal. Tubuhnya tampak sempoyongan menahan lelah saat melihat Kenzie berjalan mendekat. "Mengapa... mengapa Anda malah datang ke area pertempuran yang berbahaya ini? Serahkan saja keroco-keroco ini padaku, dan Anda cukup duduk manis menonton kehebatanku di pojok arena seperti tadi!"
Kenzie menghela napas panjang, menatap Ryujin dengan pandangan malas. "Kamu bermain terlalu lama dan terlalu berbelit-belit, tahu. Aku sudah sangat bosan menunggumu di pojok sana," kata Kenzie santai sembari memegang jarinya sehabis digunakan untuk mengorek kupingnya.
"Lagipula, tubuhmu sudah lelah dan gemetaran seperti itu masih saja bersikap sok kuat. Sana pergi ke belakang dan istirahatlah, kumpulkan kembali tenagamu yang terkuras itu!" titah Kenzie mengusir Ryujin dari hadapannya.
Kenzie kemudian maju selangkah, melakukan pemanasan singkat dengan memutar leher dan meregangkan kedua otot tangannya hingga terdengar bunyi gemertak tulang yang renyah. Ia menoleh ke belakang, melirik Ryujin sembari menyeringai sombong. "Perhatikan baik-baik menggunakan mata kepalamu itu, Adikku. Kakakmu yang super tampan tiada tandingan ini akan menunjukkan kepadamu bagaimana cara menghabisi mereka semua dalam sekejap mata!"
Di tribun penonton, Rava akhirnya bisa mengembuskan napas lega setelah melihat Kenzie akhirnya memutuskan untuk ikut turun tangan. Akan tetapi, setelah diperhatikan lebih jeli, cara mereka berdua bertarung sama sekali tidak terlihat seperti kerja sama tim, melainkan seperti pergantian pemain dalam permainan bola. Sontak saja Rava kembali menepuk jidatnya dengan keras akibat frustrasi melihat kelakuan absurd kedua orang tersebut.
"Konyol sekali! Bagaimana bisa mereka berdua melakukan pergantian pemain dengan sesantai itu, sementara jumlah orang-orang yang mereka hadapi saat ini masih terhitung sangat banyak?!" keluh Rava dengan wajah kusut.
"Sudahlah, Tuan Rava, tidak masalah..." sela Liera sembari tersenyum kecil, mencoba menenangkan rekannya. "Yang paling penting adalah Tuan Kenzie sudah ikut serta dalam pertarungan ini, dan sekarang Master Helena bisa melihat langsung bagaimana kemampuan tersembunyi yang dimiliki oleh Tuan Kenzie."
"Iya, kamu benar. Lebih baik begini ketimbang dia terus berdiam diri di pojok panggung seperti patung. Dan kita berdua juga sudah tahu pasti... bahwa Tuan Kenzie memiliki kekuatan yang lebih dari cukup untuk menghadapi mereka semua sekaligus!" ucap Rava kembali percaya diri, menaruh harapan penuh pada pemuda berambut perak tersebut.
Kenzie kini telah berdiri tegap di tengah arena, berhadapan langsung dengan tujuh puluh peserta sisa yang dipimpin oleh Lopes Howk dan kawan-kawannya. Dengan tatapan meremehkan, Kenzie mulai memprovokasi musuhnya, "Ayo, tunggu apa lagi? Berikan aku serangan terkuat dan paling mematikan yang kalian miliki!"
Mendengar tantangan dari orang yang sejak tadi hanya melakukan hal konyol mengorek kuping di sudut arena, amarah para peserta langsung meledak ke ubun-ubun. Mereka merasa sangat terhina. Lopes Howk dan Jasson Mops saling melemparkan pandangan satu sama lain, mengangguk serentak, lalu memberikan instruksi untuk melancarkan serangan kombinasi massal demi menumbangkan Kenzie dalam satu kali hantaman.
Melihat para peserta itu hanya saling pandang dan berteriak-teriak dengan kemarahan yang menurut Kenzie sangat tidak jelas, Kenzie memutuskan untuk mengambil inisiatif serangan terlebih dahulu. "Kalian benar-benar membuang-buang waktu istirahatku yang berharga. Jika kalian tidak mau maju, maka terimalah serangan dariku!"
Kenzie memundurkan kaki kanannya, mengokohkan kuda-kuda tubuhnya, lalu mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi ke udara. Dengan ekspresi wajah yang dibuat seserius mungkin namun terdengar sangat konyol, ia berteriak, "Terhembuslah wahai sekumpulan kutu busuk yang mencoba menggigit kulit sang penguasa agung!!"
Kenzie menghembuskan dan mengayunkan telapak tangannya ke depan. Pada detik itu juga, seluruh atmosfer di area akademi mendadak macet. Dari telapak tangan Kenzie, meledak sekumpulan gelombang energi spiritual raksasa berwarna biru laut yang sangat pekat, menciptakan sebuah aura penekanan gravitasi yang luar biasa kuat hingga sanggup meretakkan lantai batu panggung arena.
Padahal, kenyataannya Kenzie hanya merapalkan mantra secara asal-asalan dan sekadar mengarang kalimat sekonyol mungkin di kepalanya. Namun, dasar fundamental dari teknik yang digunakan oleh Kenzie tersebut sebenarnya adalah salah satu sihir penghancur tingkat tinggi milik Arvendel!
Sihir kuno sehebat dan seagung itu dipraktikkan oleh Kenzie dengan cara yang sangat acak-acakan dan dirusak estetikanya demi memuaskan selera humornya sendiri, sama sekali tidak menghargai perasaan sang master yang bersusah payah mengajarinya di hutan.
Meskipun mantranya terdengar konyol, daya rusak murni yang dihasilkan oleh tebasan energi Kenzie tetap berada di level yang sangat dahsyat. Gelombang energi biru laut itu menyapu ke depan bagai tsunami, menciptakan tekanan angin topan yang menghantam dan menerbangkan tubuh ketujuh puluh peserta ujian yang ada di hadapannya tanpa terkecuali!
*BOOMMM!!!*
Lantai panggung arena hancur berkeping-keping. Debu tebal mengepul tinggi ke udara, mengubur pandangan semua orang selama beberapa saat. Ketika angin perlahan meniup sekumpulan debu tersebut, seluruh area lapangan seketika sunyi senyap, hening bagai kuburan.
Tujuh puluh peserta ujian termasuk para petarung tangguh seperti Lopes Howk, Jasson Mops, Kyujiro Misasi, Ji-Joon, dan Kael Marpis, seluruhnya telah terkapar pingsan dan tergeletak kelabakan di luar garis arena dengan pakaian yang compang-camping akibat hantaman angin energi biru laut milik Kenzie. Mereka semua tereliminasi mutlak hanya dalam waktu satu kedipan mata!
...****************...
setiap bab yang kalian baca berikan tanggapan kalian agar author tau apa yang kurang dari novelnya /Grievance//Whimper//Whimper/
jadi ingat untuk memberi like yaa😄..