NovelToon NovelToon
Penaklukan Sang Asisten

Penaklukan Sang Asisten

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Perjodohan / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Bhebz

Ketika efisiensi bertemu dengan kekacauan, siapa yang akan benar-benar menaklukkan siapa?

"Cinta bukan soal efisiensi, tapi tentang bagaimana ia membuatmu kehilangan kendali."

Kisah tentang Ben Arganza, asisten dingin dan merupakan bayangan Baron Frederick yang sedang menjadi target penaklukan seorang gadis ceroboh bernama Lala Narayan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bhebz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13 Tidak Efesien

"Tapi malu tahu tuan kalau sampai di kantor dengan kemeja kebesaran seperti ini. Tuan dan nyonya Frederick tadi saja sempat bisik-bisik lihat Desainer berbakat seperti saya pakai kemeja tuan yang kebesaran. Tuan kelihatan banget pelitnya!"

Ben menginjak rem dengan halus namun mendadak, membuat mobil berhenti tepat di depan sebuah pusat perbelanjaan kelas atas yang masih sepi karena baru saja buka. Ia tidak menoleh ke arah Lala, namun rahangnya tampak menegang hebat.

​"Bisik-bisik?" ulang Ben dengan nada rendah yang berbahaya. "Mereka tidak sedang membicarakan kemeja itu, Lala. Mereka sedang membicarakan bagaimana seorang pria yang hidupnya didasarkan pada logika dan prosedur, bisa kehilangan kendali hanya karena seorang desainer interior yang ceroboh."

​Ben membuka pintu mobil, lalu keluar dengan langkah yang sangat tegap dan intimidatif. Ia memutar ke arah pintu penumpang, membukanya, dan menatap Lala dengan tatapan tajam yang membuat nyali gadis itu menciut.

​"Keluar," perintahnya singkat.

​"Buat apa ke sini?" Lala mengerjapkan mata, masih memegangi jas Ben yang menyelimuti tubuhnya.

​Ben tidak menjawab. Ia meraih tangan Lala dan menariknya keluar dari mobil, lalu menggiringnya masuk ke dalam mall dengan langkah yang sangat cepat, seolah-olah ia sedang mengejar seorang buronan. Mereka berhenti di depan salah satu brand pakaian wanita yang paling eksklusif dan mahal di lantai tersebut.

​"Beli pakaian apa pun yang kamu inginkan," ucap Ben datar, mengeluarkan kartu hitamnya dan memberikannya pada seorang pelayan toko yang langsung menyambut mereka dengan sangat hormat.

​"Tunggu, Tuan! Ini terlalu mahal! Gaji saya nanti—"

​"Gaji kamu sudah saya bayar di muka, bukan?" potong Ben dingin. "Saya tidak akan membiarkan staf saya terlihat seperti gembel yang baru saja keluar dari tempat pembuangan sampah. Itu merusak reputasi saya sebagai manajer proyek."

​Ben berbalik ke arah pelayan toko tersebut. "Pilihkan dia setelan yang profesional, tidak transparan, dan yang paling penting... tidak memberikan celah bagi siapa pun untuk menatapnya kecuali saya."

​Pelayan toko itu tersenyum sopan, meski ia tampak bingung mendengar instruksi Ben yang sangat spesifik dan sedikit posesif itu.

​Lala memandang Ben dengan mulut sedikit terbuka. "Anda... Anda benar-benar pelit sekaligus sombong, ya? Mengatur cara saya berpakaian, mengatur tempat tinggal saya, lalu sekarang mengatur pakaian yang saya pakai?"

​Ben mendekat ke telinga Lala, suaranya kini berbisik sangat pelan, membuat bulu kuduk Lala meremang.

​"Saya tidak pelit, Lala. Saya hanya sangat protektif terhadap aset yang saya miliki," bisik Ben. "Dan aset saya tidak boleh terlihat berantakan di depan orang lain. Jika saya harus membeli seluruh isi mall ini untuk memastikan kamu terlihat profesional—dan hanya terlihat indah di mata saya—maka saya akan melakukannya tanpa berpikir dua kali."

​Ben menarik diri, kembali ke mode stoik-nya, dan melirik arlojinya. "Pilih. 15 menit. Jika lebih, saya akan masuk ke kamar ganti dan memilihkannya untukmu sendiri. Kamu tidak mau itu terjadi, bukan?"

​Lala menatap pria itu dengan tatapan jengkel namun juga heran. Sang "robot" itu sedang melakukan tindakan yang sangat tidak logis, sangat boros, dan sangat tidak efisien. Tapi entah mengapa, melihat Ben yang begitu serius memastikan penampilannya—meski dengan alasan "reputasi"—membuat perasaan Lala meluap.

​"Robot sombong," gumam Lala sambil melangkah masuk ke toko pakaian, diikuti oleh pandangan Ben yang tidak lepas sedetik pun dari setiap langkahnya.

​Ben tetap berdiri di luar toko, dengan tangan terlipat di dada. Ia menatap pantulan dirinya di etalase kaca, mendapati bahwa ia tidak lagi melihat seorang asisten yang efisien, melainkan seorang pria yang sedang berusaha sekuat tenaga untuk tidak membiarkan "bencana" ini lepas dari genggamannya.

Ponsel di saku jas Ben bergetar dengan nada dering khusus yang membuat bulu kuduknya berdiri. Nama 'Baron' terpampang di layar. Ben mengangkatnya, menempelkan ponsel di telinga dengan gerakan kaku.

"Ya, Tuan?"

Suara Baron di seberang sana tidak meledak, justru terdengar tenang—dan itulah yang jauh lebih menakutkan.

"Ben," suara Baron terdengar berat dan sangat jernih. "Ini sudah pukul dua siang. Selama sepuluh tahun aku bekerja di gedung ini, kursi meja kerjamu tidak pernah kosong saat aku tiba. Tapi hari ini? Aku duduk di ruanganku, melihat jadwal, dan menyadari bahwa tangan kananku sedang... sibuk berbelanja di mall?"

Lala, yang sedang berada di dalam ruang ganti, tidak mendengar percakapan itu, namun Ben bisa merasakan tatapan tajam Baron seolah menembus sinyal telepon.

"Tuan, saya sedang menyelesaikan... urusan operasional terkait desainer baru," sahut Ben, berusaha menjaga suaranya tetap datar meski jantungnya berdegup tidak karuan.

"Urusan operasional?" Baron tertawa sinis. "Aku melihat laporan transaksi di ponselku, Ben. Kartu hitammu sedang digunakan di butik kelas atas. Sejak kapan 'operasional keamanan' Frederick Group melibatkan pembelian gaun wanita?"

Ben memejamkan mata, memijat pelipisnya. Ia tahu Baron pasti sudah melihat notifikasi transaksinya.

"Dia adalah aset proyek, Tuan. Penampilannya—"

"Penampilannya adalah masalah pribadimu, bukan masalah perusahaan," potong Baron dengan nada yang kini dibuat-buat marah, meski Ben bisa menangkap nada geli di balik kedok itu. "Dengar, Ben. Aku tidak peduli apakah kau sedang jatuh cinta, sedang tersesat, atau sedang disabotase oleh gadis itu. Tapi jika dalam dua puluh menit kau tidak berdiri di depan mejaku dengan laporan proyek itu—dan tanpa membawa 'bencana berjalan' itu ke ruang rapat utama—aku akan memastikan kau menjalani hukuman di markas latihan selama satu bulan penuh."

Klik.

Panggilan itu terputus.

Ben berdiri mematung di depan etalase toko. Sepuluh tahun dedikasi mutlak, sepuluh tahun hidup tanpa celah, dan hari ini ia dicap sebagai pria yang membolos hanya untuk mengurusi pakaian seorang desainer.

"Tuan Ben?"

Lala keluar dari ruang ganti, mengenakan setelan blus sutra berwarna navy yang elegan dengan potongan profesional yang sangat rapi. Penampilannya sempurna, profesional, dan—yang paling penting bagi Ben—sangat tertutup namun memancarkan aura yang begitu memikat.

Ben menatapnya, kehilangan kata-kata sejenak. Efek dari penampilannya jauh lebih mematikan daripada saat Lala mengenakan kemejanya.

"Kita harus pergi. Sekarang," suara Ben terdengar terburu-buru.

"Kenapa? Bajunya ada yang kurang?" tanya Lala bingung.

"Berhenti bicara dan ikuti aku!"

Lala hampir tersandung karena tarikan Ben, namun ia melihat raut wajah Ben yang tegang dan kaku. Benar-benar seperti robot yang tak punya perasaan.

Di dalam mobil, Ben tidak lagi menatap Lala. Ia menatap jalanan dengan tatapan yang penuh dengan ketegangan. Ia tahu, setelah ini, ia harus menjelaskan pada Baron bahwa Lala bukan sekadar aset. Tapi bagaimana cara menjelaskan sesuatu yang bahkan ia sendiri belum paham logikanya?

Tuhan, ini benar-benar tidak efisien, pikir Ben, sambil menginjak pedal gas hingga mobil itu melesat membelah kemacetan Jakarta.

***

Like dong untuk asisten kesayangan kita

1
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
sakit kerasnya itu pegangan hingga memutih itu buku"
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
darrrr derrrr dorrrr derrrr durrrrr pasti itu suara harinya ben.... uhhhhhh kayak mau turun hujan badai donk bun
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
karna semuanya di luar kendalimu...
jadi nikmati aja alurnya
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
aisssstttttt mulai menghayal yang tidak" dehhh lala
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
makanya la sedia air sebelum terbakar
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
berarti selama ini setiap keputusan nya selalu salah donk dalam hidupnya
nur annisa
tarik nafas huffft
nur annisa
baru muncul Thor 💪
Bubu
harus update pokoknya😄
Bubu
Ben pokoknya aku padamu🤭
Raffi975
update lagi dong Thor pliss😍
Raffi975
waduhh
Raffi975
lanjut Thor, kayaknya Mas Ben udah jatuh cintrong nih 🤭
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
Servis donk biar top cer lagi arus listriknya.... hihihi
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
tidak di pecat.. tapi di pikat... 😇🤭😃😄
Raffi975
kacian mas Ben, pertemukan lagi dong Thor
Raffi975
lanjut Thor
Raffi975
oh tidak
Raffi975
waduhhh plot twist nya keren
Raffi975
jangan mau dipengaruhi sama Nadya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!