Pernikahan impian yang sudah dibangun dengan asa dan cinta akhirnya kandas, tidak pernah terbayangkan oleh Clarissa bahwa hidup nya tak seperti orang diluar sana. Dulu berharap memiliki pernikahan yang abadi sampai maut memisahkan dengan lelaki pilihannya. Perceraian tak terelakkan hingga membuat jiwanya terguncang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon introvert girl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kepercayaan yang Tergerus
Clarissa menyiapkan pakaian kerja Ethan ke dalam keranjang kotor, pemiliknya baru beberapa menit lalu memasuki kamar mandi dan mulai terdengar suara percikan air.
Ponsel suaminya berdering dan Clarissa hanya membiarkan, selama ini Clarissa tidak pernah mau memeriksa ponsel suaminya begitu juga dengan Ethan. Mereka berkomitmen untuk saling percaya.
Biasanya jika yang menelepon ethan adalah keluarga maka akan langsung menghubungi Clarissa dan menitipkan pesan. Jika hingga beberapa menit tidak ada yang menelponnya itu artinya bukan keluarganya.
Nada pesan masuk beberapa kali terdengar membuat Clarissa penasaran, dia mendekat ke nakas dimana ponsel itu diletakkan dan sedang mengisi daya.
Namanya sangat asing dan nama perempuan, beberapa isi pesannya yang muncul di layar membuat Clarissa menahan nafas. Membaca berulang kali dan yakin matanya tak salah.
Rasa penasaran terpancing dan menyentuh layar ponsel. Dia masih ingat sandi suaminya meski jarang menyentuh ponselnya. Pernah sesekali dia sekedar melirik dan tak sengaja melihat suaminya memasukkan sandi untuk membuka ponselnya.
Layar itu terbuka dan segera Clarissa memeriksa isi pesan itu,darah semakin berdesir. Rasa panas menjalar ke seluruh tubuhnya.
"Sayang, nanti makan siang bareng ya"
"Sayang nanti sore sebelum pulang mau jalan-jalan dulu ke Mall ya"
Dua pesan yang berasal dari wanita itu, yang pernah dia temui.
Semakin Clarissa membaca runtut dadanya terasa sesak karena Ethan membalas dengan lembut seperti orang yang saling mencintai dan dimabuk asmara.
"Iya sayang, makan siang di cafe dekat kantor ya"
"Boleh sayang, tapi jangan lama ya. Nanti Clarissa curiga"
Dua pesan dengan waktu selisih satu hari, namun tampak intens. Terlalu banyak pesan romantis dan memuakkan yang dibaca Clarissa.
"Sayang, istri kamu udah tau hubungan kita. Apa selanjutnya" Isi pesan yang membuat Clarissa mengingatkan kejadian ketika memergoki suaminya dengan wanita lain.
"Iya sayang, kita jangan komunikasi dulu. Aku mau menenangkan diri dulu" balas Ethan yang tampak jujur kala pertengkaran mereka dia menuju rumah orangtuanya. Clarissa membaca detail setiap isi pesan itu termasuk waktu yang tertera, terlihat Ethan membalas pesan itu setelah keluar dari rumah.
Bahkan wanita itu kerap mengirim foto yang terlihat anggun dan manis, bahkan diwaktu yang sudah dipastikan kalau Ethan ada di rumah bersama istrinya.
Bagi Clarissa lebih terlihat menjijikkan, wanita muda yang menyukai suami orang dan rela merendahkan harga dirinya dan mengemis perhatian dengan memamerkan lekuk tubuh dengan pakaian seksi.
Respon Ethan sungguh diluar dugaan dan Clarissa seperti tak mengenal sosok itu. Tidak percaya bahwa yang membalas dan memberi pujian menjijikkan itu adalah suaminya.
"Kamu cantik sekali sayang, pengen peluk kamu" salah satu balasan dengan beberapa emoticon cinta dan ungkapan liar yang menggoda.
Pikirannya kian kalut dan belum siap membaca semua pesan, namun tindakannya cukup cerdas karena mengumpulkan semua bukti itu.
Dengan langkah gemetar dia meraih ponselnya dan siap memotret isi percakapan itu. Tidak ada yang tersisa bahkan memeriksa galeri foto yang kian membuat emosinya terguncang. Ada beberapa foto romantis dari keduanya yang terlihat mengenakan pakaian kantor. Clarissa ingat betul dengan warna kemeja itu, pakaian yang selalu disiapkan Clarissa untuk suaminya setiap paginya.
Dia terus menggeser dan terhenti di sebuah foto yang membuat air matanya akhirnya tumpah juga, foto mesra tanpa busana dan wanita murahan yang tampak bangga dengan pencapaiannya.
Air matanya segera diusap, dan ponsel suaminya diletakkan pada tempatnya. Berpura-pura semua terlihat biasa. Beberapa menit kemudian Ethan telah keluar dengan handuk di atas kepalanya mendekat ke sisi ranjang dan mengambil pakaian yang telah disiapkan.
Clarissa menyibukkan diri di keranjang kotor, meski terkesan aneh. Bagi Ethan cukup aneh karena sebelum masuk ke kamar mandi dia sudah meninggalkan istrinya yang menyimpan pakaian kotornya ke keranjang itu, sampai selesai mandi pun masih mendapatkan istrinya yang sibuk dengan keranjang kotor.
"Ada apa Sa, kenapa kamu dari tadi di situ?" Tanyanya untuk memecahkan rasa penasarannya.
"Mmm....Tidak Mas, cuma lupa menaruh barangku" Balas Clarissa yang menetralkan nada suaranya, meski jawabannya sedikit tidak nyambung.
Ethan tidak memperpanjang dan memiliki duduk di meja rias dan mulai mengeringkan rambutnya. Clarissa mencari alasan untuk keluar dari kamar dan segera menuju dapur.
Namun sepanjang menuruni anak tangga, jeritnya tertahan dan air matanya mengalir hebat.