NovelToon NovelToon
The Professor’S Karma

The Professor’S Karma

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Cintapertama / Mengubah Takdir
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: Ra H Fadillah

​"Jangan berharap terlalu tinggi, Aruna. Mahasiswi seperti kamu hanya akan menjadi sampah di industri ini."

​Kata-kata tajam dari Baskara Dirgantara, dosen jenius yang berhati es, masih terngiang jelas di telinga Aruna. Di London, Baskara adalah hakim yang menghancurkan kepercayaan dirinya. Namun, sebuah tragedi besar memaksa Aruna kembali ke tanah air dengan rahasia yang ia simpan rapat-rapat, jantungnya sedang perlahan berhenti berdetak.

​4 Tahun Kemudian, Aruna bukan lagi mahasiswi yang bisa diremehkan. Ia adalah pewaris tunggal yang siap mengambil alih kekuasaan. Namun, tepat saat ia mencoba berdiri tegak, sosok Baskara kembali muncul. Bukan lagi sebagai pengajar, melainkan sebagai pria yang mendadak muncul di setiap sudut hidupnya mengawasi setiap geraknya, memonitor setiap helaan napasnya, dan menunjukkan dominasi yang tidak masuk akal.


Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4 Rahasia di Balik Meja

Lampu-lampu di perpustakaan kota mulai meredup, menandakan waktu operasional akan segera berakhir. Aruna masih bergeming di sudut paling pojok, tersembunyi di balik rak-rak buku hukum internasional yang menjulang tinggi. Jemarinya masih lincah menari di atas papan ketik laptop tuanya, hingga sebuah bayangan tinggi menutupi cahaya lampu mejanya.

​Aruna tersentak. Ia segera menutup paksa laptopnya dan mendongak. Jantungnya berdegup kencang saat melihat siapa yang berdiri di hadapannya.

​Baskara Dirgantara. Masih dengan setelan jas rapi yang kini sedikit kusut, pria itu menatapnya dengan pandangan menyelidik yang sangat tajam.

​"Sedang apa kamu di sini? Bukankah jam kuliah sudah selesai sejak tadi?" tanya Baskara dengan suara rendah yang menggema di keheningan perpustakaan.

​Aruna segera mengubah ekspresi wajahnya. Ia memasang wajah polos dan tersenyum kikuk, tipikal mahasiswi desa yang ketakutan. "Eh, Pak Baskara? Saya sedang belajar, Pak. Mencari referensi tambahan karena tadi saya ketinggalan materi di kelas Bapak."

​Baskara tidak langsung menjawab. Matanya melirik laptop tua di meja Aruna, lalu beralih ke tumpukan buku di sampingnya. "Ketinggalan materi atau sedang merencanakan sesuatu? Nama belakangmu, Prawijaya... itu bukan nama yang umum di pelosok Indonesia."

​Aruna tertawa kecil, tawa yang terdengar sangat tulus dan tanpa beban. "Oh, itu nama pemberian kakek saya, Pak. Katanya biar terlihat keren sedikit kalau saya bisa kuliah tinggi. Kenapa, Pak? Apa nama saya terdengar seperti nama orang penting?"

​Baskara menyipitkan mata. Ia mencari celah, sedikit saja keraguan atau ketakutan di mata Aruna. Namun, yang ia temukan hanyalah binar mata gadis lugu yang tampak kelelahan.

​"Siapa nama ayahmu?" Baskara bertanya tiba-tiba, suaranya terdengar seperti interogasi di ruang sidang.

​Aruna terdiam sejenak, lalu menjawab dengan nada sedih yang dibuat-buat. "Ayah saya sudah tidak ada, Pak. Beliau hanya petani biasa yang bermimpi anaknya bisa jadi sarjana hukum agar tidak ditipu orang lagi."

​Mendengar jawaban itu, Baskara langsung menarik napas panjang. Ada rasa muak yang tiba-tiba muncul di benaknya. Ia merasa bodoh karena sempat mengira gadis di depannya ini adalah putri dari Wijaya Prawijaya yang terhormat.

​"Begitu rupanya," Baskara mendengus sinis. "Seharusnya saya tidak perlu berekspektasi tinggi. Mana mungkin seorang putri konglomerat berpenampilan seperti orang yang tidak mandi dua hari dan membawa aroma bawang ke mana-mana."

​Baskara memalingkan wajah, rasa jijiknya kembali muncul. "Lupakan saja. Saya hanya memastikan mahasiswa saya tidak melakukan hal-hal ilegal di perpustakaan ini."

​"Terima kasih atas perhatiannya, Pak," jawab Aruna sopan, meski hatinya mencelos mendengar hinaan pria itu.

​Baskara melangkah pergi tanpa mengucapkan kata perpisahan. Baginya, misteri itu sudah terpecahkan. Aruna Prawijaya di hadapannya hanyalah seorang mahasiswi miskin yang kebetulan memiliki nama belakang yang sama dengan relasi ayahnya. Tidak mungkin Wijaya Prawijaya memiliki anak seberantakan ini.

​Sepeninggal Baskara, Aruna menyandarkan punggungnya ke kursi. Napasnya yang sedari tadi tertahan kini keluar dengan berat. Ia membuka kembali laptopnya, melihat data-data sensitif yang nyaris saja terlihat oleh Baskara.

​"Hampir saja," gumamnya pelan.

​Sementara itu, waktu terus berjalan. Di Jakarta, pencarian besar-besaran yang dilakukan keluarga Prawijaya mulai mendingin. Wijaya menghentikan beberapa detektif swasta yang ia sewa.

​"Kalau dia ingin kembali, dia pasti akan kembali, Ma," ucap Wijaya pada istrinya yang masih sering melamun di balkon. "Dia hanya sedang marah. Biarkan dia merasakan kerasnya hidup tanpa uang dariku. Paling lama tiga bulan lagi, dia akan mengemis minta pulang."

​Ratna tidak menjawab. Ia hanya menatap langit malam, tidak tahu bahwa putrinya kini sedang bertaruh nyawa dan harga diri di negeri orang, berhadapan dengan dinginnya kota London dan kejamnya penilaian seorang Baskara Dirgantara.

​Aruna sendiri kini mulai terbiasa dengan kesendiriannya. Di kampus, ia tetap menjadi sasaran empuk Michelle dan teman-temannya. Di kelas, ia tetap menjadi sasaran kritik tajam Baskara. Namun di balik itu semua, Aruna sedang membangun sebuah tembok yang sangat kokoh, siap untuk meruntuhkan siapa pun yang pernah meremehkannya.

Hari-hari di kampus semakin terasa menyesakkan bagi Aruna. Entah apa yang ada di pikiran Michelle dan kawan-kawannya, semakin Aruna diam dan hanya membalas dengan senyuman kecil, semakin besar pula rasa iri yang membakar hati mereka. Mereka membenci ketenangan Aruna, mereka membenci bagaimana seorang gadis yang mereka anggap "sampah" bisa memiliki sorot mata yang begitu damai seolah ejekan mereka hanyalah angin lalu.

​Baskara, sebagai dosen, sering kali berada di sana saat perundungan terjadi. Namun, pria itu seolah memiliki hati dari es. Alih-alih melerai atau memberikan teguran pada Michelle, ia justru sering menimpali dengan sindiran pedas yang mempermalukan Aruna di depan umum.

​Puncaknya terjadi pada suatu sore di koridor lantai dua yang sedang ramai.

​"Eh, lihat si miskin ini! Jalannya menghalangi orang saja!" Michelle sengaja menabrakkan bahunya ke Aruna.

​Tanpa diduga, Michelle tiba-tiba menjatuhkan dirinya sendiri ke lantai dengan suara yang cukup keras. "Aduh! Kakiku! Aruna, kenapa kamu kasar sekali sampai mendorongku begitu?"

​Seketika, orang-orang berkumpul. Paula dan Gea langsung berteriak histeris, menuduh Aruna sengaja mencelakai teman mereka. Di saat yang sama, Baskara baru saja keluar dari ruang dosen. Ia melihat Michelle yang terduduk sambil memegang pergelangan kakinya dan Aruna yang berdiri kaku di depannya.

​"Ada apa ini?" tanya Baskara, suaranya berat dan mengintimidasi.

​"Pak Baskara, lihat! Aruna mendorong Michelle karena Michelle menanyakan soal tugas kelompok. Dia kasar sekali, Pak!" lapor Paula dengan wajah sedih yang dibuat-buat.

​Baskara menatap Aruna dengan pandangan menghakimi. "Benar begitu, Aruna?"

​"Saya tidak mendorongnya, Pak. Dia jatuh sendiri," jawab Aruna tenang, matanya menatap langsung ke manik mata Baskara.

​"Bohong! Jelas-jelas tadi tanganmu bergerak!" bentak Michelle sambil terisak palsu.

​Baskara mendengus. Ia tidak merasa perlu mencari saksi atau memeriksa CCTV. Baginya, Aruna adalah sumber masalah sejak hari pertama. "Aruna Prawijaya, saya tidak suka ada kekerasan fisik di departemen saya. Sebagai hukuman, kamu dilarang masuk ke perpustakaan fakultas selama satu minggu, dan kamu harus membersihkan seluruh ruang auditorium setelah kelas berakhir besok."

​Aruna menarik napas panjang. Ia hanya tersenyum tipis, sangat tipis. "Baik, Pak. Jika itu yang Bapak putuskan."

1
Desi Santiani
semangat trus thor up nyaa 😍💪
Desi Santiani
semakin seruuu, dtunggu selalu thor update kisah mereka😍
Desi Santiani
terima kasih thor, untuk up kisah mereka dgn lgsg bbrp bab, selalu dtunggu cerita mereka, sehat selalu thor /Heart/
Ra H Fadillah: Sama-sama 😉 Semoga kamu suka dengan ceritanya !
total 1 replies
Desi Santiani
semangat up nya trus thor, alur ceritanya sgt seru
Ra H Fadillah: Terima kasih, senang sekali melihat komentar mu yang sangat positif 😉 💞
total 1 replies
Ra H Fadillah
Terima kasih sudah bantu ngeramein💕 Semoga betah terus marathon bacanya ya!😇
Desi Santiani
up lg thor... ceritanya keren
⚔️⃠❥␠⃝ ͭ🍁🧸𝐘𝐖💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ🔱
Mantap, Aruna, tunjukkan 'pesona'mu 🔥🔥🔥
⚔️⃠❥␠⃝ ͭ🍁🧸𝐘𝐖💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ🔱: Cama², Ade, Siap, kami tunggu, udh gk sabar liat 'Karma' utk yg udh nyakitin Tuan Putri ❤️🤗😘
total 2 replies
Anonim
sepele bgt ni dosen 😡
Anonim
masuk tata rias aja lu michel 😡
Anonim
wahhhh 💞 cerita baru lagi dri author kesygn 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!