Lahirnya seorang pangeran yang cerdas dan berbakat seharusnya menjadi keberuntungan suatu kerajaan ataupun kekaisaran, tetapi yang terjadi justru keberadaannya dianggap sebagai ancaman nyata oleh berbagai pihak yang mendambakan kekuasaan semu.
Melalui sebuah konspirasi, sang pangeran harus mengalami musibah. Ia yang sebelumnya dikenal cerdas dan berbakat, berakhir menjadi seorang pangeran yang tidak berguna.
Dengan kondisinya itu, sang pangeran diusir dari istana dan dibuang ke Gerbang Timur, tempat di mana para keluarga istana yang dianggap sampah diasingkan.
Namun, di balik musibah yang terjadi, Gerbang Timur menjadi titik balik kebangkitan sang pangeran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muzu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perang Alam Monster
Meskipun demikian, kekuatan setiap monster di sini sangatlah kuat dan berada di level berbeda dengan beast monster yang mendiami alam fana maupun alam dewa.
“Baiklah, aku akan membantu kubu Goziro. Semoga dengan ini bisa mengakhiri perang,” ucapnya memutuskan.
Qin Zhao kemudian mengeluarkan pedang dari alam pikirnya dan tatapannya seketika mencelat begitu melihat ukuran pedangnya sangat kecil.
“Sial, kenapa tusuk gigi yang keluar?” gerutunya.
Beberapa monster kembali mengepungnya dengan tekanan energi yang sangat besar hingga membuat Qin Zhao bertekuk lutut.
“Sial, aku tidak bisa bergerak!” Qin Zhao berusaha melepaskan diri dari tekanan kawanan monster yang mengepungnya, tetapi sangat sulit.
Seekor monster mendekatinya dengan melebarkan rahang yang terbuka lalu menelan kepalanya.
Kraak!
“Aaah!” Qin Zhao menjerit histeris.
Lehernya tertusuk taring tajam dan seketika itu pula si monster menariknya dengan kuat seraya membanting-bantingkan tubuh Qin Zhao ke tanah.
Kedua tangan Qin Zhao terus berupaya menarik mulut monster yang melahapnya, tetapi nahas, beberapa monster lainnya ikut menggerogoti tubuhnya.
Pada akhirnya, kondisi itu membuat tubuh Qin Zhao kembali terbetot ke sana kemari. Para monster seakan berebut untuk mendapatkan porsi daging terbanyak.
“Sa … sakiiiit!”
Qin Zhao kembali menjerit begitu merasakan bagian tubuh lainnya terbetot, memaksa energi vital di tubuhnya meledak keluar, tetapi kekuatan energi itu tidak cukup untuk melepaskan diri dari cengkeraman para monster yang semakin kuat menariknya.
Srrrt! Srrrt! Srrrt!
Terdengar suara robekan di tubuh Qin Zhao akibat gigitan taring tajam yang berhasil menembus ke dalam kulit. Satu per satu bagian tubuhnya terkoyak.
Tiba-tiba saja para monster yang menggerogoti tubuh Qin Zhao meraung histeris. Di dalam tubuh Qin Zhao tidak ada darah yang keluar melainkan lahar api yang merontokkan taring-taring tajam para monster.
Qin Zhao akhirnya terlepas dari jeratan taring para monster. Di sekujur tubuhnya dipenuhi lelehan lahar api, tampak seperti monster api. Tatapannya yang dingin membuat kawanan monster melangkah mundur, tetapi zona perang yang terlanjur berkecamuk membuat mereka tak bisa melangkah lebih jauh.
Aura membunuh terlanjur nampak dari sorot mata Qin Zhao yang dingin, membuatnya melupakan niat untuk meninggalkan zona perang. Ia bertekad untuk bertarung melawan para monster untuk melampiaskan emosinya.
“Kalian semua harus mati,” ucap Qin Zhao yang kemudian melompat ke arah seekor monster di depannya.
Bugh!
Satu pukulannya yang keras berhasil melubangi wajah seekor monster sebelum membuatnya terlempar menabrak monster-monster lainnya.
Beberapa monster yang melihatnya meraung keras, menyebabkan pertarungan di sekitarnya terhenti dan saling menoleh dengan tatapan membunuh ke arah seorang pemuda. Sejurus kemudian, lebih dari tiga puluh monster melangkah mengepung Qin Zhao dengan niat membunuh yang begitu kentara.
Menghadapi kawanan monster yang tengah mengepungnya tidak membuat Qin Zhao panik, adrenalinnya justru terpacu untuk menghabisi mereka semua.
“Kemarilah!” kata Qin Zhao seraya memasang kuda-kuda.
Kedua tangannya terkepal erat dan pandangannya menelisik setiap monster yang bergerak. Namun, pertarungan fisik yang diharapkannya tidak terjadi. Para monster yang mengepungnya tidak bergerak melainkan membuka rahang dan mengeluarkan bola api yang berputar cepat di dalamnya.
Dalam satu waktu, kawanan monster memuntahkan bola api ke arah Qin Zhao secara bersamaan. Tidak ada ruang bagi Qin Zhao untuk menghindari serangan. Namun, bukan berarti Qin Zhao diam saja menerima serangan itu.
Ia berlari melayangkan pukulan ke wajah para monster satu per satu sebelum ledakan dari bola api terdengar.
Duar! Duar! Duar!
Qin Zhao menggeram keras menahan gelombang kejut dari ledakan yang terjadi. Nahas, dampak dari ledakan itu membuat sebagian besar tubuhnya terkoyak.
Ia duduk dengan tubuh bergetar dan tatapan nyalang melihat kawanan monster lainnya berdatangan. Qin Zhao kembali terkepung oleh kawanan monster dari ras yang lain. Bentuk tubuh monster itu mirip Tyrannosaurus namun bersisik seperti ikan dan memiliki lidah bercagak seperti ular.
Suara mereka pun terdengar mendesis, dan lidah mereka terus meneteskan cairan lengket berwarna hijau pekat.
“Apakah kali ini aku benar-benar mati?” gumam Qin Zhao.
Kondisi tubuhnya yang kritis tidak memungkinkan baginya untuk melanjutkan pertarungan. Namun, ia tidak memiliki jalan keluar selain berusaha bangkit dan bersiap melanjutkannya dengan tubuh yang bergetar.
Beruntung tidak ada tekanan energi seperti kawanan monster sebelumnya. Yang perlu diwaspadainya adalah cairan racun yang disemburkan oleh para monster yang tetesannya saja bisa melubangi tanah. Ditambah ia juga perlu mewaspadai serangan lain yang bisa saja datang dari pertarungan di area sekitarnya.
“Apa kalian akan terus diam?” ucap Qin Zhao yang sedari tadi menunggu serangan.
Seekor monster bertubuh paling besar dan memiliki mutiara hijau berkilau di antara keningnya berjalan mendekati. Kepalanya meliuk-liuk pelan memperhatikan setiap lekuk tubuh Qin Zhao dengan seksama.
Lalu, secara perlahan tergumpal cairan kental berwarna hijau pekat di mulut si monster yang sedikit terbuka dan mengeluarkan suara mendidih serta asap hijau. Dan dalam sekejap, monster itu memuntahkan gumpalan racun ke arah Qin Zhao.
Pada saat itu Qin Zhao tak sempat menghindar. Tubuhnya yang bergetar membuat cairan itu menghantam telak sekujur tubuhnya. Panas dan menyengat begitu cairan berwarna hijau itu meresap ke dalam tubuhnya.
“Aaah!” jerit histeris Qin Zhao menggema kembali.
Jeritannya semakin melengking setelah kawanan monster lainnya ikut memuntahkan racun, dan akhirnya Qin Zhao tergeletak jatuh dengan tubuh yang meleleh sepenuhnya.
Perang masih berkecamuk liar. Bangkai-bangkai dari para monster yang bertumbangan terserak memenuhi tanah kosong yang berubah menjadi danau darah. Dan di antara bangkai-bangkai itu terdapat satu tubuh manusia yang tertimbun oleh tumpukan daging tak utuh.
Ajaibnya, Qin Zhao tidak mati. Jiwanya masih bersemayam di dalam lelehan tubuh yang berceceran.
***
Perang besar di alam monster berlangsung selama sepuluh tahun dan menyisakan tulang belulang dari jutaan monster yang gugur dalam pertarungan.
Dalam tempo selama itu pula jutaan inti monster terkumpul dan membentuk satu kekuatan absolut yang secara alami membangkitkan inti api abadi yang bersemayam di tubuh Qin Zhao.
Api abadi yang sejatinya berasal dari alam monster itu bersinergi ke dalam kekuatan absolut dan mengikat jiwa Qin Zhao bersamaan dengan jiwa dari para monster penghuni alam monster.
Kondisi itu membuat Qin Zhao tersadar dalam wujud sebuah jiwa di alam kekosongan.
“A … aku masih hidup,” kata Qin Zhao begitu tersadar dari kematian.
Di sekelilingnya terbentang hamparan kegelapan tanpa batas dan begitu sunyi. Lalu, dari kegelapan itu muncul jutaan gelembung kristal yang melayang-layang.
Qin Zhao menyipitkan mata begitu melihat dengan jelas di dalam gelembung kristal terdapat jiwa monster yang terkurung. Ia tersadar, dirinya menjadi anomali yang tidak terkurungdi dalam gelembung kristal oleh sebab ia berasal dari alam fana.
“Ini alam apa?” Qin Zhao bingung mendapati dirinya tengah melayang di antara jutaan gelembung kristal.
Dengan ragu, Qin Zhao mengulurkan tangan menyentuh satu gelembung di dekatnya. Seketika itu gelombang kristal terserap ke dalam dirinya dengan sangat cepat.
Qin Zhao menggigil ketakutan merasakan sesuatu menghujamnya dengan keras.
“A … apa yang terjadi?” ucapnya dipenuhi ketakutan.
Dan sebelum ketakutannya reda, jutaan gelembung lain ikut tertarik meluncur ke arahnya bak hujan cahaya.