NovelToon NovelToon
Om Duda Come To Me!

Om Duda Come To Me!

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Duda
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: neyrfly

Apa jadinya kalau Zyan, Direktur dingin yang dunianya cuma berisi angka dan rapat bosan, harus menikah dengan Alexa, mahasiswi bar-bar yang lebih sayang motor ZX-nya daripada sisir rambut?

​Zyan baru saja menduda dan bersumpah nggak mau berurusan sama drama cinta lagi. Tapi, takdir (dan paksaan orang tua) membawanya ke pelaminan bersama gadis rambut wolfcut yang hobinya nantangin maut.

​Bagi Alexa, nikah muda itu bencana. Tapi melihat wajah kaku Zyan yang kayak manekin, jiwa jahilnya meronta-ronta. Misi Alexa cuma satu: Bikin si Om kaku ini darah tinggi tiap hari sampai minta ampun! Tapi, siapa sangka, di balik tembok es Zyan, ada kehangatan yang bikin Alexa perlahan lupa cara nge-gas motornya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon neyrfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4

Hari yang paling dihindari Alexa akhirnya tiba juga. Gedung ballroom salah satu hotel bintang lima di Jakarta Pusat sudah disulap menjadi taman bunga indoor yang sangat megah. Aroma bunga lili dan mawar putih menyeruak di setiap sudut, berpadu dengan wangi parfum mahal para tamu undangan yang terdiri dari pejabat, kolega bisnis Zyan, hingga sosialita kelas atas.

Di sebuah ruangan privat, Alexa duduk di depan cermin besar dengan perasaan ingin meledak. Ia sudah dirias selama tiga jam. Rambut wolfcut-nya yang biasanya acak-acakan kini ditata sedemikian rupa dengan hiasan tiara kecil dan wedding veil panjang yang menjuntai hingga ke lantai. Wajahnya dipoles make-up natural namun tetap memberikan kesan tegas di bagian mata.

"Cantik banget, Lex. Sumpah, gue hampir nggak nalin lu," celetuk Rio, sahabatnya yang berhasil menyelinap masuk ke ruang rias.

Alexa menoleh dengan tatapan lesu. "Yo, lu liat motor gue nggak di parkiran? Gue ngerasa kayak tahanan politik yang mau dieksekusi mati, nih."

"ZX lu aman di parkiran VIP, dijagain ketat sama anak-anak bengkel. Udah deh, jalani aja dulu. Si Om Duda itu ganteng banget lho hari ini, gue tadi papasan di depan. Aura CEO-nya keluar banget, bikin minder," balas Rio sambil ngemil kue kering di meja rias.

"Ganteng kalau kaku mah percuma, berasa nikah sama patung pahlawan!" gerutu Alexa.

Pintu terbuka, ibunya masuk dengan mata berkaca-kaca. "Alexa, ayo sayang. Acara akadnya mau dimulai. Zyan sudah siap di meja akad."

Jantung Alexa berdegup kencang—bukan karena jatuh cinta, tapi karena merasa ini adalah akhir dari masa lajangnya yang bebas. Dengan langkah berat dan harus menjaga keseimbangan di atas sepatu hak tinggi yang menyiksa, ia berjalan menuju aula utama.

Di ujung lorong, Zyan Arsalan sudah duduk tegak di depan penghulu. Ia mengenakan beskap modern berwarna putih bersih dengan sulaman perak. Wajahnya tampak lebih tenang dari biasanya, namun ketegangan masih terlihat dari jemarinya yang sesekali mengetuk meja.

Saat pintu aula terbuka dan Alexa masuk didampingi ayahnya, suasana mendadak hening. Semua mata tertuju pada pengantin wanita. Zyan menoleh, dan untuk sesaat, ia terpaku. Ia sering melihat model-model cantik di sampul majalah bisnis atau pesta-pesta kelas atas, tapi Alexa pagi ini terlihat berbeda. Ada aura pemberontak yang masih terpancar meski ia dibalut gaun pengantin yang anggun.

Dia benar-benar akan menjadi tanggung jawabku sekarang, batin Zyan.

Prosesi akad nikah berlangsung dengan sangat khidmat. Suara Zyan terdengar mantap saat mengucapkan kalimat ijab kabul dalam satu napas.

"Saya terima nikah dan kawinnya Alexa Atmadja binti Surya Atmadja dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!"

"SAH!"

Suara sahutan para saksi itu terdengar seperti bunyi lonceng kematian bagi Alexa, tapi di sisi lain, ada getaran aneh yang menjalar di hatinya saat mendengar nama panjangnya disebut dengan penuh otoritas oleh Zyan.

Kini mereka resmi menjadi suami istri. Saat sesi bersalaman dan mencium tangan, Alexa menunduk, mencium tangan Zyan yang terasa dingin namun kokoh. Zyan membalas dengan mengecup kening Alexa. Kecupan itu singkat, hanya dua detik, tapi cukup membuat bulu kuduk Alexa meremang.

"Selamat datang di neraka kecilmu, Om," bisik Alexa tepat di telinga Zyan saat mereka berpose untuk foto.

Zyan tetap tersenyum tipis ke arah kamera, tapi balas berbisik dengan nada dingin yang mematikan. "Neraka ini saya yang punya, Alexa. Jadi pastikan kamu patuh pada aturannya."

Resepsi pernikahan berlangsung di malam harinya. Tamu yang datang mencapai ribuan orang. Zyan dan Alexa berdiri di atas pelaminan selama berjam-jam, menyalami orang-orang yang sebagian besar tidak Alexa kenal.

"Duh, kaki gue mau copot," keluh Alexa saat tamu mulai agak sepi. Ia mencoba mengangkat sedikit roknya untuk mengistirahatkan kakinya yang mulai lecet karena high heels.

"Tahan sebentar lagi. Ini bagian dari etiket," sahut Zyan tanpa menoleh, tetap memberikan senyum profesional pada tamu di kejauhan.

"Etiket pala lo! Lo sih enak pake sepatu rata, lah gue? Berasa turun dari gunung!"

Tiba-tiba, terdengar suara raungan mesin motor dari luar gedung yang sangat keras. Beberapa tamu sempat kaget. Alexa langsung mengenali suara itu—itu adalah suara motor anak-anak komunitasnya yang datang untuk memberikan "penghormatan".

"Wah, anak-anak dateng!" Alexa mendadak semangat. Ia tidak peduli lagi dengan berat gaunnya. Ia berlari kecil menuju balkon gedung yang menghadap ke area parkir bawah.

"Alexa! Mau ke mana kamu?!" teriak Zyan yang terpaksa ikut mengejar karena tidak ingin ada skandal di depan tamu.

Di balkon, Alexa melambaikan tangan ke arah belasan motor sport yang sedang melakukan aksi revving (menggeber mesin) di bawah. "WOOYYY! GUE DI SINI!" teriak Alexa tanpa malu.

Zyan sampai di sampingnya, wajahnya merah padam karena malu. "Alexa, masuk sekarang! Kamu pengantin wanita, bukan penonton balapan liar!"

"Biarin sih, Om! Mereka itu temen-temen gue! Mereka dateng jauh-jauh buat ngerayain ini!"

Tiba-tiba, Rio yang ada di bawah berteriak lewat pengeras suara kecil. "ALEXA! MOTOR LU UDAH SIAP DI DEPAN! KATANYA MAU ESCAPE?!"

Mata Alexa berbinar. Ia menoleh ke arah Zyan dengan seringai nakal. "Om, bosen kan di sini terus? Mending kita kabur."

"Jangan gila, Alexa. Acara belum selesai."

"Acara ini formalitas doang. Yang penting kita udah sah, kan? Ayo, ikuti gue kalau lo berani!"

Tanpa menunggu persetujuan, Alexa melakukan hal yang membuat seluruh tamu undangan terpekik: ia merobek bagian bawah gaun pengantinnya yang panjang sampai sebatas betis agar lebih mudah bergerak.

"ALEXA! APA YANG KAMU LAKUKAN PADA GAUN MAHAL ITU?!" Zyan terbelalak.

"Bikin gaya baru! Ayo!"

Alexa berlari menuju pintu keluar samping, menuruni tangga darurat dengan cepat. Zyan, yang entah kenapa merasa tertantang dan tidak ingin istrinya melakukan hal konyol sendirian, akhirnya ikut berlari mengejar. Persetan dengan citra CEO, ia melepas dasinya dan membuka dua kancing teratas kemejanya.

Begitu sampai di depan lobby, motor ZX-25R milik Alexa sudah terparkir cantik di sana, dikelilingi teman-temannya.

"Mana kuncinya?!" tanya Alexa pada Rio.

"Nih! Helm lu juga udah gue bawa."

Alexa segera naik ke atas motor, masih dengan gaun yang sudah compang-camping namun terlihat sangat keren di atas motor sport hitam itu. Ia memakai helmnya, lalu menoleh pada Zyan yang berdiri terengah-engah di depannya.

"Naik, Om! Atau gue tinggal sendirian sama tamu-tamu tua itu?"

Zyan menatap kerumunan tamu yang mulai keluar gedung karena penasaran, menatap ibunya yang tampak pingsan di depan para tamu, lalu menatap Alexa yang tampak sangat hidup di bawah lampu jalanan.

"Saya akan menyesali ini besok pagi," gumam Zyan. Ia akhirnya naik ke jok belakang, duduk dengan posisi yang lagi-lagi tidak efisien untuk seorang pria berjas.

"Pegangan yang kenceng, Suamiku!"

VROOOAM!

Alexa menarik gas sedalam-dalamnya. Motor itu melesat meninggalkan hotel mewah itu, membelah malam Jakarta yang dingin. Gaun pengantin yang robek itu berkibar tertiup angin seperti sayap putih di kegelapan.

Zyan terpaksa memeluk pinggang Alexa dengan sangat erat. Angin malam menerpa wajahnya, menghilangkan segala penat dari urusan kantor dan tekanan keluarga. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, Zyan merasa... bebas. Bukan sebagai Direktur Zyan Group, bukan sebagai duda yang gagal, tapi hanya sebagai seorang pria yang sedang dibonceng oleh istrinya yang gila.

Mereka berhenti di sebuah jembatan layang yang sepi. Alexa melepas helmnya, membiarkan rambutnya berantakan total. Ia tertawa lepas, suaranya menggema di antara bising kendaraan di bawah.

"Gimana, Om? Lebih asik daripada dengerin pidato rekan bisnis lo kan?"

Zyan turun dari motor, merapikan rambutnya yang juga berantakan. Ia berdiri di samping Alexa, menatap lampu-lampu kota. "Kamu benar-benar perusak reputasi saya, Alexa."

"Reputasi itu cuma label. Yang penting lo ngerasa hidup, kan?"

Zyan menoleh ke arah Alexa. Di bawah cahaya lampu jalan yang kuning remang-remang, Alexa terlihat sangat cantik dengan cara yang tidak biasa. Ada keberanian yang tulus di matanya.

Zyan perlahan mendekat, lalu menarik tengkuk Alexa dengan lembut. Sebelum Alexa sempat melontarkan ejekan lagi, Zyan sudah mendaratkan ciuman yang lebih dalam dan penuh perasaan daripada saat akad nikah tadi.

Kali ini, Alexa tidak melawan. Ia malah memejamkan mata, membiarkan dirinya tenggelam dalam kehangatan yang diberikan pria kaku itu. Ternyata, si Om Duda ini tidak sedingin kelihatannya.

"Mulai malam ini," bisik Zyan di depan bibir Alexa, "permainan kita yang sebenarnya baru saja dimulai."

Alexa tersenyum miring. "Siapa takut, Om? Gas terus!"

Malam itu, mereka tidak kembali ke pesta. Mereka menghabiskan malam dengan berkeliling kota, sebuah awal yang sangat tidak biasa untuk sebuah pernikahan yang dimulai dari perjodohan. Dan besok pagi, seluruh Jakarta pasti akan gempar melihat berita tentang "CEO Kabur Naik Motor dengan Pengantinnya".

Bersambung......

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!