Bagaimana jika cinta terbesar adalah cinta yang diam-diam merantai, mengikat hati tanpa suara, dan terus hidup meski tanpa harapan?
Brant dan Luca hanya tahu satu hal: cinta itu masih ada dan mungkin akan tetap ada selamanya. Mereka hanya pasrah, tidak lagi bertarung untuk bersama.
!!!⚠️!!!
#BL
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Selene Mora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
7
Setelah menempuh perjalanan dari luar kota, tim basket akhirnya mendarat kembali ke kampus. Meski membawa medali perak sebagai juara kedua dari sembilan kampus, bagi Luca, Brant tetaplah pemenangnya. Malam itu, Brant menepati janjinya untuk mengajak Luca jalan.
•
"Kak, pokoknya karena Kakak juara, aku mau makan di restoran bintang lima yang ada pelayannya pake dasi kupu-kupu!" tagih Luca sambil memeluk pinggang Brant erat di atas motor.
Brant hanya mendengus pelan. Ia justru mengarahkan motornya ke arah pesisir, berhenti di sebuah gerobak ketoprak langganannya yang mangkal di pinggir pantai. Tempat legendaris kalau Brant dan kawan-kawannya sedang ingin hemat atau sekedar mencari angin laut.
Restoran bintang lima aku mana, Kak?" protes Luca saat melihat kursi plastik berwarna biru di depan mereka.
"Bintangnya ada di langit, Ca. Tuh, liat ke atas. Duduk," sahut Brant singkat sambil memesan dua porsi pedas sedang. Luca merengut, tapi akhirnya duduk juga karena aroma kacang gorengnya memang sangat menggoda.
Pesanan pun datang. Mereka mulai makan dengan lahap di bawah remang lampu jalan. Luca makan dengan penuh semangat.
Sembari menggigit kerupuk di tangannya hingga berbunyi kriuk, Luca mendongak menatap Brant.
"Kak Brant sering ke sini ya? Aku kok baru kali ini diajak ke tempat ini?"
Brant bergumam pelan, sengaja menjeda kalimatnya karena mulutnya masih penuh mengunyah tahu dan tumpukan taoge. Setelah menelannya, barulah ia menyahut.
"Nggak terlalu sering. Cuma kalau lagi ingin cari suasana lain aja."
"Sendiri?" tanya Luca lagi, menyelidiki dengan raut muka curiga yang dibuat-buat.
Brant terkekeh tipis. "Nggak. Biasanya bareng anak-anak lain."
"Ohhh...." Luca ber-oh ria sambil manggut-manggut. "Lagian, kalau Kak Brant nggak menang tanding kemarin, aku nggak bakal bisa makan ketoprak enak di pinggir pantai kayak begini," celetuk Luca lagi. Ia menoleh ke arah laut, menikmati angin malam yang berembus pelan menerpa wajah mereka. "Tapi tempatnya emang juara, sih."
Brant melirik Luca yang tampak sangat puas dengan traktiran "paksaan" ini. Sudut bibir Brant terangkat tipis. "Itu mah maunya lu aja yang pinter nyari celah buat morot gue."
Luca tertawa kecil tanpa dosa. Setelah menelan suapan terakhirnya, cowok gemas itu menopang dagu dengan kedua tangan, menatap Brant dengan mata berbinar penasaran. "Ih, kan itu hadiah buat aku karena udah doain Kak Brant dari jauh! Oh ya, pas di luar kota kemarin, lombanya sepadat itu ya, Kak? Sampai-sampai Kak Brant jarang pegang HP?"
Brant bersandar pada kursi plastiknya, pandangannya beralih ke riak ombak. "Lumayan parah. Jadwal tandingnya mepet, ditambah evaluasi tim tiap malam bareng pelatih.pulangnya capek banget. Makanya baru sempat ngajak lu keluar sekarang."
Karena angin pantai mulai terasa menusuk tulang, Brant bergerak ingin melepaskan jaketnya untuk diberikan kepada Luca. Namun, saat ia merosotkan jaket itu dari bahunya, pergerakannya terhenti sejenak.
Mata Luca tertuju pada pergelangan tangan Brant yang kini terekspos jelas. Ada lilitan perban putih di sana.
"Kak... itu kenapa?" Suara Luca berubah serius. Ia langsung menarik tangan Brant.
"Jatuh dari motor. Kecelakaan tunggal pas mau cari rokok," jawab Brant datar, mencoba bersikap biasa saja.
Mendengar itu, Luca mendadak meledak. "Kenapa nggak bilang?! Tiap hari kita teleponan, aku merengek minta kuota, minta jatah boba, tapi Kakak sama sekali nggak bilang kalau lagi luka?!"
Luca bicara begitu berapi-api Wajahnya yang memerah menahan tangis dan marah terlihat sangat kontras.
Brant terdiam menatap wajah panik itu. Ia mengambil selembar tisu, lalu dengan sangat telaten membersihkan sisa bumbu di sudut bibir Luca. Setelah bersih, ia tidak menjauhkan tangannya, melainkan mengusap kepala Luca dengan lembut dan mendaratkan kecupan singkat di sana.
"Gue cuma nggak mau lo panik di sana. Lagian cuma lecet, nggak parah," bisik Brant menenangkan.
Luca masih sesenggukan kecil. "Lecet pun harus lapor! Kalau Kakak kenapa-kenapa gimana?"
Brant tersenyum tipis. Di tengah ego dan tekanan yang ia alami selama di luar kota, perhatian tulus dari Luca yang konyol ini adalah obat paling mujarab. "Iya, maaf. Besok-besok kalau gue bersin pun gue lapor ke lo."
Sadar kalau udara malam makin dingin, Brant tidak mau berlama-lama lagi. Usai membayar ketoprak, ia segera mengajak Luca kembali ke motor. Luca sendiri sudah mendapatkan izin untuk menginap karena mamanya, sedang pergi berobat ke luar kota ditemani Lea dan baru akan pulang subuh nanti. Dengan hati tenang, mereka pun langsung meluncur, membelah dinginnya angin malam menuju apartemen milik Brant.
Begitu pintu apartemen terbuka, Luca langsung menarik lengan Brant menuju kamar utama dan menyuruh cowok itu duduk di tepi tempat tidur. Sadar kekasih gemasnya sedang dalam mode serius, Brant hanya bisa pasrah menuruti perintah tanpa bantahan. Luca kemudian bergegas mengambil kotak P3K, lalu dengan sangat hati-hati, ia mulai membuka perban lama Brant untuk mengecek kondisi lukanya.
"Sakit nggak, Kak?" tanya Luca pelan, wajahnya sangat serius saat meneteskan antiseptik.
Brant menatap Luca dalam-dalam. "Nggak, kalau lo yang ngobatin."
"Ih, aku tanya serius, Kak!" ucap Luca tanpa mendongak, jemari mungilnya tetap bergerak fokus merapikan balutan perban baru di luka lengan Brant.
Brant tertawa kecil dengan mulut tertutup, gemas sendiri menyaksikan raut serius di wajah imut Luca. "Iya sayang. Buruan selesain, gue mau minum, haus," goda Brant balik.
Begitu selesai menjadi perawat dadakan untuk Brant, Luca langsung disambut oleh udara kamar apartemen yang terasa begitu dingin. Perutnya yang begah dan hangat karena ketoprak tadi membuat pakaian yang ia kenakan terasa makin sempit dan tidak nyaman. Tanpa izin, Luca pun membongkar lemari Brant dan mengambil sebuah kaus hitam yang ukurannya jauh di atas porsi tubuhnya. Saat dipakai, kaus longgar itu tenggelam di tubuh Luca, menjuntai manis hingga menutupi setengah pahanya.
Brant sedang berdiri di dekat jendela, meneguk bir kalengnya sambil menatap lampu kota, saat Luca menarik ujung kaosnya.
"Kak, sini... jadi guling aku," gumam Luca manja, menarik kaos yang di kenakan Brant.
Tarikan tiba-tiba pada ujung kausnya membuat Brant mendongak dengan alis terangkat terkejut. Namun, begitu mendengar permintaan polos sang kekasih yang ingin menjadikannya guling hidup, pertahanannya langsung runtuh. Pria mana yang sanggup menolak jika diajak tidur sedekat ini?
Setelah meletakkan kaleng birnya, Brant segera merebahkan diri dan memposisikan tubuhnya miring menghadap Luca. Di bawah temaram lampu tidur, ia mengunci pandangan, mengagumi setiap inci wajah di depannya—mulai dari bulu mata lentik yang rapat hingga pahatan hidung yang sempurna. Bagi Brant, kecantikan cowok manis di sampingnya ini benar-benar memabukkan.
"Luca..." bisik Brant sangat rendah, suaranya serak dan dalam, mengirimkan getaran halus yang membuat bulu kuduk Luca meremang.
Luca membuka matanya perlahan, bertemu langsung dengan tatapan gelap dan intens milik Brant yang seolah ingin menelannya bulat-bulat. Tanpa menunggu sedetik pun, Brant merunduk. Ia mendaratkan ciuman-ciuman lembut yang berawal dari kening, turun ke hidung, hingga akhirnya bibir mereka bertemu dalam pagutan yang dalam.
Awalnya Luca hanya diam, namun ritme Brant yang semula halus perlahan berubah menjadi tuntutan yang mendesak. Luca mulai membalas, tangannya merambat naik ke tengkuk Brant, menjambak pelan rambut pendek pria itu demi membawa tubuh mereka lebih dekat tanpa celah.
Tangan kekar Brant mulai menjelajah. Ia mengusap pinggang Luca yang ramping, lalu jemarinya merayap masuk ke balik kaos hitam yang kebesaran itu. Kulit bertemu kulit. Telapak tangan Brant yang hangat—sedikit kasar—memberikan sensasi terbakar pada kulit perut Luca yang sensitif.
"Nghh... Kak ..." desah Luca lolos begitu saja saat bibir Brant beralih menyesap leher jenjangnya. Suara lirih itu terdengar sangat renyah di telinga Brant, memicu adrenalinnya untuk bertindak lebih jauh.
Sentuhan Brant kini lebih berani; telapak tangannya naik meremas lembut dada Luca sementara bibirnya terus meninggalkan jejak kemerahan di sepanjang tulang selangka. Setiap kali Brant memberikan rangsangan di titik-titik sensitifnya, Luca hanya bisa melenguh kecil, tubuhnya melengkung tipis mengikuti arah tangan Brant. Suasana kamar yang dingin mendadak terasa pengap oleh suhu tubuh mereka yang meningkat drastis.
Tangan Brant perlahan merayap turun, meraih ujung kaos hitam itu dan mulai menyibaknya ke atas, mengekspos perut rata dan dada Luca sepenuhnya di bawah cahaya remang. Namun, tepat saat kaos itu nyaris melewati kepala, Luca tersentak.
Kesadaran menyambar Luca seperti kilat. Ia segera memegang pergelangan tangan Brant yang kuat, menghentikan pergerakan itu dengan sisa napas yang tersengal.
"Kak... stop," bisik Luca dengan suara bergetar dan tatapan yang berkabut. "Maaf, Kak... aku... aku belum bisa."
Brant membeku. Posisinya masih berada di atas Luca dengan napas yang memburu hebat. Ia menatap Luca yang tampak berantakan di bawahnya—bibir yang bengkak kemerahan dan mata yang basah. Ada dorongan besar dalam dirinya untuk mengabaikan penolakan itu, namun saat melihat binar ketakutan di mata Luca, harga dirinya sebagai pria yang menghargai pasangannya menang.
Brant membuang napas kasar, melepaskan cengkeramannya pada kaos Luca dan menjatuhkan kepalanya ke ceruk leher Luca tanpa melakukan apa pun, hanya mencoba menenangkan detak jantungnya yang menggila.
"Kakak marah ya? Maaf, Kak... aku masih takut. Tolong sabar sedikit lagi sampai aku siap," lirih Luca, tangannya mengusap punggung Brant yang masih terasa tegang.
Brant hanya terdiam, mencoba mengatur napasnya yang masih berantakan.
Ini bukan pertama kalinya. Sejakk dua Bulan mereka resmi berpacaran, Brant sudah beberapa kali mencoba membawa hubungan mereka ke tahap yang lebih intim, namun Luca selalu menarik diri di saat terakhir.
Jujur, bagi pria seperti Brant, menunggu selama ini adalah hal yang baru.
Mantan kekasihnya terdahulu, biasanya dengan senang hati menyerahkan diri mereka bahkan di malam pertama.
Tapi Brant sadar, Luca berbeda. Luca bukan sekadar "teman kencan" lewat lalu.
"Gue nggak marah," ucap Brant akhirnya, suaranya terdengar sedikit kaku karna ia sedang berusaha keras mengendalikan diri.
Ia bangkit dari ranjang, meraih kaleng birnya yang tersisa. "Gue mau habisin bir sama ngerokok dulu di balkon. Tidur duluan, Ca."
Luca hanya bisa menatap punggung Brant yang menjauh dengan perasaan campur aduk. Ia tidak tahu bahwa tak lama setelah ia terlelap dengan posisi asal-asalan yang membuat paha putih mulusnya terekspos, Brant yang kembali dari balkon harus memutar otak lagi.
Melihat pemandangan "berbahaya" itu, Brant mengumpat pelan dalam hati. Bukannya ikut tidur, ia justru menyambar handuk dan langsung mengunci diri di kamar mandi. Ia butuh pancuran air dingin untuk mendinginkan kepalanya—dan memadamkan api yang baru saja Luca nyalakan lagi tanpa sengaja.
•
•
•
Langit di atas kampus mulai berubah kelabu, semuram hati Luca yang sejak pagi tak mendapat kabar dari Brant. Pesannya hanya berakhir di centang dua abu-abu. "Apa Kak Brant masih marah soal semalam?" batinnya gelisah. Ia merasa bersalah, namun rasa rindunya jauh lebih besar.
Melihat mobil Brant masih terparkir, Luca memutuskan menunggu. Rose dan Elena sudah pamit pulang duluan, menyisakan Luca yang berdiri sendirian hingga kakinya terasa kaku. Saat gerimis mulai turun, ia terpaksa berlari ke bawah pohon besar di sudut parkiran.
Hujan yang tak kunjung reda membuat tubuh Luca mulai basah terkena tampiasnya. Karena sudah terlalu lama menunggu dan tak tahan dengan rasa dingin yang menusuk kulit, Luca akhirnya memilih untuk pulang. Dengan tangan yang sedikit bergetar, ia segera mengirimkan pesan darurat pada Vin.
"Vin, lo masih di kampus? Gue boleh numpang balik?"
Namun, saat pesan itu terkirim, sosok yang dinantinya muncul. Brant berjalan keluar dari lapangan basket. Luca nyaris berlari menghampiri sebelum langkahnya terhenti. Vania muncul dari arah belakang, memanggil nama Brant dengan nada akrab.
"Brant! Tunggu,aku ikut ya ?," seru Vania.
Luca terpaku di balik batang pohon. Dadanya sesak saat melihat Brant masuk ke mobil, di ikuti Vania yang duduk di kursi depan tanpa keraguan sedikit pun. Mesin mobil menderu, lalu perlahan menghilang dari pandangan, meninggalkan Luca yang kini benar-benar basah kuyup.
"Ca?" sebuah suara berat menginterupsi isak tangisnya. Vin berdiri di sana dengan payung hitam, menatap Luca yang sedang jongkok memeluk lututnya sendiri.
"Vin... dia pergi sama Vania," bisik Luca lirih di sela tangisnya yang pecah bersama hujan.
Vin tak menjawab. Ia hanya bisa menghela napas panjang dan berjongkok di samping sahabatnya. Ia menyaksikan sendiri bagaimana mobil itu pergi tadi. Tanpa banyak bicara, Vin melepas jaketnya dan menyampirkannya ke bahu Luca yang gemetar.
"Sudah, jangan dilihatin terus jalanannya. Ayo pulang sama gue," ucap Vin lembut, mencoba merangkul Luca yang hatinya baru saja hancur di sudut parkiran yang dingin.