Demi uang sepuluh milyar, Sean Yuritama rela bekerja sama dengan Christaly Jane untuk menemukan anak dari seorang miliarder yang telah lama menghilang. Jika bukan demi melunasi hutang-hutangnya, detektif swasta berparas tampan itu tidak akan sudi bekerja sama dengan gadis cerewet dengan segudang masalah. Sehingga mereka terlibat perdebatan hampir setiap waktu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azura Cimory, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pemanasan Di Kereta
Christaly jatuh dalam lubang frustrasi yang luar biasa dalam setelah Pak Agus menjelaskan sedikit tentang kebenaran yang sebenar-benarnya. Bahwa kepergian mereka berdua ke Malang tidak lebih buruk dari menjadi umpan untuk memancing keluar malaikat maut.
“Sudah dua orang detektif polisi yang bekerja untuk Tuan Wiyoko yang tewas mengenaskan saat mencoba menyelidiki penculikan Tuan Muda Alex,” kata Pak Agus.
“Mereka berdua tewas secara misterius di Malang, di kamar hotelnya yang terkunci dari dalam. Untuk kalian berdua, saya sarankan sebaiknya kalian banyak-banyak berdoa. Agar kalian mendapatkan keajaiban dari Tuhan bisa kembali pulang ke Jakarta dengan selamat.”
Setelah mengatakan hal itu Pak Agus pun bergegas kembali lagi ke kursi tempat dia duduk. Mengabaikan Christaly yang wajahnya sepucat mayat karena ketakutan luar biasa tanpa sedikit pun merasa bersalah telah membuat gadis itu begitu ketakutan. Bibir dan tangannya sampai gemetar karena saking takutnya dia.
“Christaly, kamu baik-baik saja?” tanya Sean yang agak sedikit khawatir melihat asisten pribadinya kondisinya seperti itu. Jika sebelumnya hanya bibir dan tangannya yang gemetaran, sekarang nyaris sekujur tubuhnya yang gemetar. “Christaly tolong jawab aku. Apa kamu baik-baik saja?”
“Aku ... uh, aku mau ke toilet. Aku harus ke toilet,” jawab Christaly serak. Suaranya seperti setengah tersangkut di tenggorokan.
Dengan gemetar layaknya seorang nenek tua, Christaly tertatih-tatih bangun dari kursi tempat duduknya, dia berjalan dengan terhuyung-huyung persis orang yang mabuk berat.
“Astaga! Sepertinya dia kena mental,” gumam Sean lalu dia bergegas bangkit dari kursinya dan mengejar Christaly. Untung saja Sean datang pada waktu yang tepat saat Christaly tersandung dan hampir saja dia terjatuh jika Sean tidak gerak cepat menangkap tubuhnya.
“Biar aku antar ke kamar mandi.”
Sean sama sekali tidak peduli dengan orang-orang di sana yang menatapnya dengan agak sinis alih-alih merasa simpatik. Beberapa orang juga tampak bersik-bisik ke teman sebangkunya dengan ekor mata melihat ke arah dia dan Christaly.
Meskipun Sean tidak bisa mendengar percakapan antara keduanya, tapi, dia bisa menebak dengan sangat yakin sekali kalau mereka sedang menggunjingkan Christaly.
Ya, pasti mereka menduga kalau Christaly sedang mabuk. Akan tetapi, meskipun begitu, Sean tidak bisa berbuat apa-apa dan sepertinya juga tidak perlu berbuat apa-apa. Karena di gerbong kereta itu, selain Pak Agus dan Christaly, Sean sama sekali tidak kenal siapa pun lagi. Dan para penumpang di sana juga pastinya tidak ada yang mengenal dirinya.
Christaly langsung membasuh mukanya dengan air dingin di toilet perempuan yang sepit. Dia mengulanginya sampai tiga kali dengan tujuan dia bisa menjadi lebih segar dan pikirannya sedikit lebih jernih, tidak keruh lagi.
Pada saat dia selesai membasuh mukanya serta merasa lebih baik, dia baru sadar kalau dia tidak sendirian di toilet yang sempit itu. Melainkan berdua dengan Sean.
Seketika, Christaly langsung memutar badan, di mana hal itu menyebabkan dia menjadi berhadap-hadapan langsung dengan Sean dalam jarak yang sangat dekat. Bahkan, Christaly bisa merasakan hangat napas dari pria itu di wajahnya.
“Astaga, kamu ngapain di sini?!” tanya Christaly yang canggung. “Ini toilet perempuan tahu!”
“Kalau dilihat dari jarak sedekat ini, ternyata kamu cantik juga, ya. Selain itu payudaramu juga jadi lebih menantang,” jawab Sean sambil mengedarkan pandangannya menyusuri seluruh tubuh Christaly. Mulai dari atas hingga ujung bawah. “Aku yakin pasti di balik jinsmu, di puncak sana, kamu sudah basah.”
“Kamu ini ngomong apa, sih, Sean?! Nggak jelas banget deh!” Christaly pura-pura marah, meski dia tidak yakin karena sadar kalau pipinya pasti bersemu merah.
Sean mengulurkan tangannya lalu menyelipkan rambut Christaly ke belakang telinga, setelah itu dia mengelus lembut pipi gadis itu, membelainya dengan satu tangan.
“Semakin pipimu merah, kamu jadi semakin cantik, Sayang. Pipimu benar-benar halus.”
Christaly menelan ludah. Dia tidak tahu harus bereaksi seperti apa, sekujur tubuhnya seolah berubah menjadi batu yang sangat berat dan sulit digerakan.
Akan tetapi, pada bagian tubuh tepat di bawah pusar, di celah sempit yang tersembunyi di puncak antara pangkal pahanya, dia bisa merasakan sesuatu yang basah, hangat, dan nikmat mengalir keluar.
Gairahnya melelehkan tulang-tulang di sekujur tubuhnya, membuat napasnya memburu secara otomatis.
“Oh, ya, Sayang. Bagaimana kalau kita lepaskan saja semuanya. Rasa frustrasi, putus asa, kebencian dalam hidup, dan segala hal yang membuat dada sesak?” bisik Sean. Suaranya terdengar berat karena bergairah.
“Bagaimana kalau kita bersenang-senang terlebih dahulu? Em, maksudku, kamu harus mengurangi rasa takutmu. Agar kamu tidak cemas berlebihan lagi seperti tadi.”
Rayuan maut Sean membuat jantung Cristaly nyaris melompat keluar. Apalagi, sambil terus merayu, jari jemari Sean yang lincah dan sangat terlatih terus menerus membelai pipinya. Membuat Christaly tegang bukan kepalang.
“Ayolah, Sayang. Setelah nanti kita sampai di Malang, kita nggak tahu apa yang akan terjadi. Bahkan, kita juga nggak tahu apakah kita masih bisa balik lagi ke Jakarta dalam kondisi masih hidup. ”Sean terus merayu.
“Tapi ....”
“Tapi kenapa, Sayang? Oh, soal kata-kataku sebelumnya itu, ya? Hem, sepertinya aku harus menarik kata-kataku kembali terkait aku yang pernah bilang bisa menjaga diri dari godaan bercumbu denganmu."
Sean mencondongkan sedikit wajahnya ke depan membuat hidungnya bersentuhan dengan hidung Christaly. Kemudian dia menatap dalam-dalam mata gadis di hadapannya itu dan tangannya yang bebas langsung menyelinap ke pinggang Chistaly dan langsung menarik tubuhnya hingga tubuh mereka menyatu.
Dan secara spontan, karena gerakan yang tiba-tiba dan cukup keras itu, Christaly yang masih belum siap jadi sedikit terdorong hingga bibirnya langsung menyentuh bibir Sean. Yang terjadi berikutnya adalah sesuatu yang selama ini Christaly impikan.
Sean melumat bibirnya dengan rakus, menghisap, dan menjelajahi mulutnya dengan lidahnya yang lihai. Chrsitaly tidak bisa tidak mendesah, sebab berciuman dengan Sean terasa begitu nikmat untuknya.
Perutnya menjadi tidak menentu, celah sempit di bagian bawah pusarnya terasa berkedut tidak sabar ingin segera dijamah oleh tangan terampil Sean.
Christaly menutup matanya, dia masih tidak yakin apakah itu sebuah kenyataan atau hanya halusinasinya semata. Yang jelas, entah itu kenyataan atau bahkan hanya sekadar hayalannya saja, Christaly tidak akan membiarkannya terhenti. Dia tidak akan membiarkan kenikmatan itu berhenti sebelum merasa puas.
“Emmhh ....” erang Chrsitaly saat yang paling dia tunggu akhirnya datang juga. Jari jemari Sean yang terampil akhirnya menyelinap membuka ritsleting jins yang dia kenakan dan langsung menariknya hingga merosot ke bawah. Setelah itu Sean menyelipkan tangannya ke balik celana dalam Christaly dan mengelus lembut bagian tubuhnya yang paling sensitif. “Uh! Emhhh ....”
“Shhh ... jangan keras-keras, Sayang. Nanti kita ketahun.”