NovelToon NovelToon
BENCI SETIPIS TISU: OBSESI TUAN MUDA ARGIAN

BENCI SETIPIS TISU: OBSESI TUAN MUDA ARGIAN

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Obsesi
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Ai_Li

Dunia Aiswa runtuh saat Devan Argian, investor berkuasa yang dingin, mengklaimnya secara sepihak. Bukan sekadar lamaran, ini adalah jeratan. Demi ambisinya, Devan tak segan mengancam nyawa orang-orang tercinta Aiswa. Nasib adiknya yang bekerja sebagai operator alat berat di Kalimantan kini di ujung tanduk; satu perintah dari Devan bisa menghancurkan masa depan, bahkan nyawanya.

​Terjepit antara rasa benci dan keselamatan keluarga, Aiswa terpaksa tunduk dalam "penjara emas" sang tuan muda. Namun, di balik dominasi gelap Devan, hadir Zianna, putri kecil sang investor yang sangat menyayanginya. Akankah ketulusan Zianna dan pesona posesif Devan mampu mengikis kebencian Aiswa hingga setipis tisu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ai_Li, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20: Runtuhnya Benteng Terakhir

Aiswa menarik napas panjang, mencoba mengisi paru-parunya yang terasa sesak oleh dominasi pria di depannya. Ia sudah terpojok, bukan hanya oleh dinding beton di belakang punggungnya, tapi oleh kenyataan bahwa Devan Argian bukanlah pria yang bermain dengan gertakan sambal. Setiap langkah Devan yang mendekat terasa seperti lonceng kematian bagi kebebasannya.

"Oke, Bapak Devan yang sangat terhormat... apa sebenarnya mau Anda?" tanya Aiswa dengan suara serak, berusaha menutupi getaran ketakutan di nadanya.

Devan tidak langsung menjawab. Ia menarik senyum miring yang terlihat sangat mengerikan bagi siapa pun yang menjadi targetnya. Ia terus melangkah hingga Aiswa benar-benar terhimpit di dinding, mengunci pergerakan gadis itu dengan tatapan yang seolah siap menerkam.

"Saya mau..." Devan menjeda, menikmati kepanikan yang terpancar dari mata Aiswa.

"Kamu jadi istri saya."

Aiswa tidak terkejut. Sejak awal, ia tahu pria ini tidak akan berhenti sebelum mendapatkan apa yang ia inginkan. Mengingat ancaman terhadap Arkananta, adiknya yang bekerja jauh di Kalimantan, Aiswa sadar ia tidak punya ruang untuk bernegosiasi.

"Saya tidak menerima penolakan, Aiswa. Dan kamu sudah tahu betul apa akibatnya jika kata 'tidak' itu keluar dari mulutmu," lanjut Devan dengan nada bicara yang datar namun mematikan.

Aiswa menghela napas panjang untuk kesekian kalinya, merasa tidak habis pikir dengan logika pria ini.

"Bapak Devan, please deh. Bapak itu kaya, punya segalanya. Anda bisa dapat model atau wanita yang jauh lebih cantik dan seksi daripada saya. Saya ini cuma guru TK biasa, Pak! Muka saya standar!" keluh Aiswa frustrasi.

Devan justru tersenyum, sebuah senyuman yang jarang ia perlihatkan. Ia mengulurkan tangan, mengelus sekilas pipi Aiswa sebelum akhirnya berbalik dan duduk kembali di meja kebesarannya dengan santai.

"Saya mau kamu. Dan Zianna juga suka kamu. Itu sudah menjadi alasan yang lebih dari cukup bagi saya," jelas Devan tenang.

"Untuk pertama kalinya, saya dan Zianna memiliki pendapat yang sama tentang seorang wanita."

Aiswa terdiam. Kekuasaan Devan memang tidak hanya terletak pada uangnya, tapi pada kemampuannya menutup semua celah pelarian korbannya.

***

Satu jam kemudian, suasana berubah menjadi sangat kelabu di sebuah restoran milik Aditya. Aiswa duduk berhadapan dengan pria yang selama ini menjadi rumah dan tempatnya pulang.

"Mas akan cari investor lain, Ai. Mas nggak akan biarkan dia mengancam kita begini," ucap Aditya dengan nada yang berusaha tegar, meski matanya menyiratkan keputusasaan.

Aiswa menggeleng pelan, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Ia menceritakan semuanya, tentang nasib Arkananta yang berada di ujung jari Devan. Mendengar itu, Aditya terdiam sangat lama. Ruangan itu mendadak terasa dingin dan sunyi.

"Ai..." suara Aditya tercekat.

Ia menatap Aiswa dengan pandangan yang sangat hancur.

"Mas... Mas nggak berdaya. Mas nggak mungkin membiarkan adik kamu dan keluarga kamu hancur karena ego Mas yang ingin mempertahankan kamu."

Ada sesuatu yang nyeri menusuk ulu hati Aiswa. Bukan hanya karena paksaan Devan, tapi karena kenyataan bahwa Aditya, pria yang paling ia sayangi, akhirnya memilih untuk melepaskannya demi keselamatan semua orang.

"Jika ini satu-satunya jalan... Mas ikhlas, Ai," bisik Aditya lemah.

Aiswa tidak mampu berkata-kata lagi. Ia berdiri dengan kaku, memberikan tatapan terakhir pada pria yang gagal ia pertahankan.

"Aku pamit ya, Mas."

Aiswa berjalan keluar dari ruangan itu dengan langkah gontai. Aditya tidak menahannya, tidak juga memanggil namanya. Sepanjang jalan keluar, air mata Aiswa mengalir deras membasahi pipinya, namun wajahnya tetap datar tanpa ekspresi. Ia merasa separuh jiwanya mati di restoran itu, sementara separuh lainnya kini telah resmi menjadi milik sang duda gila, Devan Argian.

1
Ibu² kang Halu🤩
𝚔𝚎𝚛𝚎𝚗𝚗 𝚒𝚑 𝚌𝚎𝚛𝚒𝚝𝚊𝚗𝚢𝚊, 𝚖𝚊𝚜𝚒𝚑 𝚊𝚍𝚊 𝚕𝚊𝚗𝚓𝚞𝚝𝚊𝚗 𝚐𝚊𝚔 𝚗𝚒𝚑 𝚔𝚊𝚔 𝚊𝚞𝚝𝚑𝚘𝚛???
Ibu² kang Halu🤩: oke kak. semangat ya💪💪 sehat selalu kak🤗
total 2 replies
Lisa
👍 Gercep aj nih si Devan 😊
Lisa
Ceritanya makin asyik nih 😊
Lisa: sama² Kak Ai
total 2 replies
Lisa
Rejeki nomplok utk Lucas nih 😊👍
Lisa
Ceritanya menarik juga nih
Ai_Li: Terima kasih kak sudah baca🥰
total 1 replies
Lisa
Aku mampir Kak
Lisa: Amin..sama² Kak..
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!