Sinopsis / Deskripsi
Adella hanyalah seorang perempuan sederhana yang menjalani hidup dengan ritme yang tenang—mungkin terlalu tenang hingga terasa hampa. Kesehariannya berubah ketika ia bertemu dengan sosok pendidik yang karismatik, seseorang yang menawarkan "kehangatan" dan perhatian yang belum pernah Adella rasakan sebelumnya.
Bagi Adella, guru ini adalah pelindung, tempatnya bersandar dari kerasnya dunia. Namun, di balik tutur kata yang lembut dan tatapan yang menenangkan, tersimpan rahasia gelap yang tersusun rapi di balik dinding rumahnya yang sunyi.
Satu per satu kejanggalan mulai muncul. Perhatian yang semula terasa manis perlahan berubah menjadi obsesi yang menyesakkan. Adella segera menyadari bahwa kehangatan yang ia dambakan bukanlah sebuah pelukan, melainkan sebuah jerat. Di dunia yang penuh intrik ini, Adella harus memilih: tetap terbuai dalam kenyamanan yang semu, atau melarikan diri sebelum ia menjadi bagian dari koleksi rahasia sang guru.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon who i am?, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9
Pak Adwan melangkah maju, sepatu pantofelnya berbunyi nyaring di lantai semen. Kakak Nadia, yang masih terikat di pipa besi, mencoba meronta, namun tubuhnya terlalu lemah. Pak Adwan bahkan tidak melirik pria itu; baginya, kakak Nadia hanyalah debu di rak buku yang perlu dibersihkan.
"Kamu tahu apa yang paling menyedihkan dari manusia, Adella?" Pak Adwan berhenti tiga langkah di depan Adella. "Mereka takut pada kegelapan, padahal di dalam kegelapanlah segala sesuatu yang berharga disimpan agar tidak pudar oleh matahari."
Ia mengangkat remot kontrol kecil di tangannya. Dengan satu tekanan tombol, sebuah tirai baja di belakangnya terbuka, menampakkan sebuah ruangan kaca kedap suara yang di dalamnya terdapat meja belajar, rak buku, dan tempat tidur yang sangat mirip dengan kamar Adella di rumah.
"Ini adalah 'ruang baca' barumu. Tidak akan ada lagi gangguan dari orang tua yang tidak peduli atau teman-teman sekolah yang dangkal. Hanya ada kamu, saya, dan ilmu pengetahuan," ujar Pak Adwan dengan nada yang sangat tulus, yang justru membuatnya terdengar seribu kali lebih gila.
Adella menggenggam ponsel milik kakak Nadia di balik punggungnya. Jemarinya meraba-raba tombol power, berusaha menyalakan layar tanpa melihat. Ia butuh sinyal. Namun, begitu ia melirik sekilas ke bar sinyal di pojok layar, hatinya mencelos.
No Service.
Pak Adwan tertawa kecil, suara tawa yang halus namun menusuk. "Kamu pikir saya akan membiarkan gelombang radio mengganggu simfoni kita? Ruangan ini telah dilapisi bahan yang membuat sinyal apa pun mati sebelum sempat keluar. Kamu cerdas, Adella, tapi saya adalah orang yang membuat aturan di sini."
Adella menarik napas panjang. Ia melepaskan ponsel itu ke lantai—sebuah gerakan yang membuat Pak Adwan sedikit mengernyit. Adella tidak lagi berpura-pura polos. Ia menatap Pak Adwan dengan tatapan yang sangat tajam, tatapan seorang pemangsa yang sedang menghitung jarak untuk menerjang.
"Bapak bilang keluarga Bapak punya kuasa atas kota ini," kata Adella dengan suara yang sangat rendah. "Tapi kuasa itu dibangun di atas kebohongan bahwa Bapak adalah orang baik. Apa yang terjadi jika kakek Bapak tahu bahwa cucu kesayangannya adalah seorang penculik yang gagal?"
"Gagal?" alis Pak Adwan terangkat. "Lihat sekelilingmu. Kamu ada di sini. Kakak Nadia ada di sini. Saya memegang semua kendali."
"Bapak salah satu hal," Adella maju satu langkah, menantang ruang pribadi pria itu. "Bapak sangat teliti pada detail, tapi Bapak terlalu sombong untuk melihat hal yang paling sederhana. Bapak bilang Bapak sudah mempelajari saya, tapi Bapak lupa bahwa saya adalah pengumpul informasi sejati."
Adella meraih bros burung walet yang masih tersemat di kerah hoodie yang baru ia beli—ia sengaja memasangnya kembali sebelum masuk ke sini.
"Bros ini... inisial N.A. di belakangnya bukan hanya milik Nadia," ujar Adella. "Nadia bukan satu-satunya yang punya bros seperti ini. Kakaknya bilang, ini adalah warisan nenek mereka. Dan nenek mereka... punya saudara perempuan yang masih hidup."
Pak Adwan terdiam. Untuk pertama kalinya, ekspresi tenang di wajahnya sedikit retak.
"Saya sudah mengirimkan foto bros ini ke keluarga besar Nadia melalui email terjadwal sebelum saya masuk ke perpustakaan tadi pagi," lanjut Adella, sebuah kebohongan yang ia rakit dengan sangat rapi menggunakan fakta yang ia temukan di blog semalam. "Jika saya tidak masuk ke akun saya dalam waktu dua jam dari sekarang, email itu akan terkirim secara otomatis ke dewan yayasan pendidikan kakek Bapak, lengkap dengan koordinat GPS terakhir saya di gedung ini."
Ini adalah gertakan (bluffing) tingkat tinggi. Adella tahu dia tidak sempat membuat email terjadwal sekonstruksi itu, tapi dia tahu Pak Adwan adalah pria yang sangat menghindari risiko pada nama baiknya.
Rahang Pak Adwan mengeras. "Kamu berbohong."
"Silakan coba," tantang Adella. "Bapak punya waktu 90 menit sebelum nama keluarga Adwan hancur di seluruh media nasional. Apakah Bapak ingin mempertaruhkan warisan kakek Bapak hanya untuk satu 'koleksi' yang bahkan tidak ingin berada di sini?"
Suasana di gudang bawah tanah itu berubah drastis. Kekuasaan Pak Adwan yang tadinya terasa absolut, kini goyah oleh satu variabel yang tidak bisa ia kendalikan: keraguan.
Pak Adwan menatap Adella dengan kebencian yang mendalam, namun juga ada semacam kekaguman yang sakit di sana. "Kamu... kamu benar-benar mahakarya yang berbahaya."
"Lepaskan dia," Adella menunjuk ke arah kakak Nadia. "Dan biarkan kami keluar. Bapak bisa tetap memiliki rahasia Bapak, asalkan Bapak menghilang dari kota ini besok pagi. Itu kesepakatannya."
Pak Adwan memutar-mutar remot kontrol di tangannya. Ia tampak sedang menimbang-nimbang antara egonya sebagai kolektor atau kelangsungan hidup dinasti keluarganya.
"Kesepakatan yang menarik," bisik Pak Adwan. Ia berjalan mendekati panel kontrol di dinding. "Tapi ada satu hal yang kamu lupa, Adella. Saya lebih suka menghancurkan koleksi saya daripada melihatnya dimiliki atau merusak saya."
Tangan Pak Adwan bergerak menuju sebuah tombol merah yang berbeda dari yang lain.
"Jika saya jatuh, perpustakaan ini akan jatuh bersama saya."