NovelToon NovelToon
Satu Cinta Untuk Istri Ketiga

Satu Cinta Untuk Istri Ketiga

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Istana/Kuno / Aliansi Pernikahan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Mom young

Apa jadinya ketika seorang pria yang tidak memiliki perasaan harus disandingkan dengan seorang wanita yang mampu merubah seluruh hidupnya, Raja Gustaf pria dingin keturunan bangsawan itu sudah memiliki dua istri, akan tetapi selama pernikahan dengan kedua istrinya dia tidak merasakan arti cinta yang sesungguhnya.

Namun dengan datangnya Layla Candra kedalam hidupnya menjadi istri ke tiga Gustaf merasakan adanya perasaan cinta untuk Layla...

Namun Layla sendiri merasa pernikahnya dengan Raja Gustaf adalah kematiannya setiap hari, karena ia di paksa menikah oleh Ayahnya sebagai aliansi demi sebuah wilayah benteng Candra...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mom young, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter~20 Sambutan hangat di istana Candra

Raja Candra, atau yang akrab disapa Raja Batara oleh rakyat dan keluarganya, memeluk putrinya lama sekali, seolah takut Layla akan hilang lagi. Di sampingnya, berdiri Ratu Saraswati, ibunda Layla. Wanita itu sejak tadi menatap Raja Gustaf dengan pandangan waspada dan penuh tanya. Selama lima hari ia memendam rasa khawatir, mengira menantunya itu adalah raja kejam yang mengurung dan menyakiti putrinya.

Namun saat melihat Gustaf turun dari kereta dengan penuh hormat, menundukkan kepala di hadapan ayah mertuanya, dan membiarkan Layla menjadi pusat perhatian dengan senyum bangga—hati Ratu Saraswati perlahan meleleh.

“Selamat datang, Putriku... Selamat datang, Raja Gustaf,” ucap Ratu Saraswati dengan suara berwibawa namun lembut. Ia menepuk bahu Gustaf, sebuah tanda persahabatan yang tak terucapkan. “Kau membawa pulang lebih dari sekadar putriku. Kau membawa pulang kehormatan dan kedamaian yang lama hilang di antara kita.”

Ratu Saraswati melangkah maju, menyentuh pipi Layla, memeriksa apakah ada luka atau jejak kesusahan di wajah anaknya. Tapi yang ia temukan justru wajah yang bersinar, mata yang berbinar, dan senyum yang tulus—hal yang sama sekali tidak ia duga.

“Ibu,” Layla menggenggam tangan ibunya, lalu menoleh ke arah Gustaf yang berdiri tegak di sampingnya. “Baginda Gustaf bukan seperti yang kita duga. Dialah yang memberi hamba kebebasan, dialah yang mengakui kesalahan masa lalu di hadapan seluruh rakyatnya. Hamba aman, Bu.”

Gustaf menatap Ratu Saraswati dengan pandangan tulus, tanpa rasa takut atau sombong. “Ibu Ratu, saya sadar kedatangan saya kala itu membawa ketakutan. Tapi hari ini, saya datang untuk membuktikan bahwa Layla adalah Ratu tertinggi di Jaya Wijaya, dan saya adalah suami yang berjanji melindunginya seumur hidup. Jika ada yang menyakitinya, itu berarti menyakiti diri saya sendiri.”

Mendengar itu, keraguan yang masih tersisa di hati Ratu Saraswati lenyap sepenuhnya. Ia tersenyum haru, mengangguk pelan. “Aku percaya padamu, Gustaf. Terima kasih... terima kasih sudah menjaga permata berharga kami ini lebih baik dari yang kami bayangkan.”

Sore itu berlalu dengan penuh kehangatan. Berita tentang pengakuan Gustaf di pengadilan Jaya Wijaya pun tersebar di kalangan keluarga istana Candra, membuat semua anggota keluarga mulai memandang raja besar itu dengan mata yang berbeda—bukan lagi sebagai musuh, melainkan sebagai bagian dari keluarga.

__

Matahari sudah sepenuhnya tenggelam, digantikan oleh remang cahaya bulan dan ratusan lampu minyak yang menerangi balai besar istana Candra. Meja panjang dari kayu jati terpajang megah, penuh dengan hidangan khas Candra: nasi kuning beraroma kunyit, ikan bakar bumbu pedas manis, sayur lodeh, hingga beragam kue basah dan buah-buahan segar yang harum semerbak.

Suasana makan malam begitu akrab dan hangat. Tidak ada lagi suasana kaku atau tegang seperti pertemuan diplomatik dulu. Raja Batara duduk di ujung meja, di sebelahnya Ratu Saraswati. Di sisi kanan Raja Batara, duduk Layla, dan di sebelahnya lagi, Raja Gustaf. Anggota keluarga lain—paman, bibi, dan saudara jauh—duduk mengelilingi meja, berbicara riuh rendah.

“Makanlah banyak-banyak, Yang Mulia,” kata Raja Batara sambil menyendokkan lauk terbaik ke piring Gustaf. “Di sini makanan kami sederhana tapi penuh cinta. Semoga kau suka.”

Gustaf tersenyum, mengangguk hormat. “Sangat lezat, Ayahanda. Bahkan di istanaku sendiri, rasanya belum tentu bisa mengalahkan masakan Candra ini.” Ia melirik sekilas ke arah Layla yang sedang tersenyum malu. “Mungkin karena istrinya orang Candra, selera saya jadi berubah.”

Kalimat itu membuat seisi ruangan tertawa kecil. Ratu Saraswati yang tadinya masih agak diam, kini tertawa renyah melihat betapa lembut dan perhatiannya Gustaf kepada Layla. Ia melihat sendiri bagaimana Gustaf selalu memastikan gelas Layla terisi, bagaimana ia memotongkan daging agar mudah dimakan Layla, dan bagaimana tatapan mata raja itu tak pernah lepas dari wajah istrinya, seolah Layla adalah satu-satunya pemandangan indah di ruangan itu.

“Layla sering bercerita bahwa kau pandai memasak,” ujar Raja Gustaf

“Siapa sangka, seorang Ratu mau berkotor tangan di dapur, dan justru itu yang membuat hatimu bersinar.”

“Justru itulah yang membuatnya luar biasa, Ibu,” sahut Gustaf cepat. “Di Jaya Wijaya, semua wanita bersolek demi terlihat cantik. Tapi Layla... dia cantik karena hatinya yang tulus, karena tangannya yang mau bekerja dan memberi. Itu yang membuat saya sadar, bahwa saya belum pantas menjadi pemimpin sebelum saya belajar darinya.”

Layla menunduk malu, pipinya merona merah terang. Di dalam hatinya, ia merasa bahagia luar biasa. Dua dunia yang dulu saling bermusuhan, kini bersatu dimeja makan yang sama, saling menghormati, dan saling menyayangi. Malam itu, Raja Gustaf bukan lagi raja yang ditakuti, melainkan seorang menantu yang disayangi dan dihargai oleh keluarga besar Candra.

__

Waktu berlalu hingga larut malam. Para tamu dan keluarga sudah kembali ke kamar masing-masing. Layla dan Gustaf pun diantar ke kamar tidur utama milik Layla—kamar tempat ia tumbuh dewasa, yang kini kembali ia tempati.

Ruangan itu beraroma bunga melati yang digantung di sudut jendela. Perabotnya sederhana namun penuh kenangan: sebuah cermin kayu ukir, peti kayu tua tempat ia menyimpan mainan masa kecil, dan tempat tidur lebar dengan kelambu putih bersih.

Setelah pelayan pamit dan menutup pintu, hanya tinggal mereka berdua di dalam ruangan yang remang itu. Suasana menjadi hening dan hangat. Gustaf berdiri diam di dekat pintu, menatap sekeliling ruangan dengan rasa penasaran, seolah ingin mengenal setiap jejak kehidupan istrinya sebelum mereka bertemu.

“Jadi... di sinilah kau tumbuh besar,” gumam Gustaf pelan, lalu melangkah mendekat ke arah Layla yang sedang duduk di tepi ranjang, melepas selendangnya. “Tempat yang indah, persis seperti pemiliknya.”

Layla tersenyum malu, menundukkan wajah. “Tempat kecil saja, Baginda. Tidak sebesar atau semegah kamar di istana Jaya Wijaya.”

“Tapi di sini ada kehangatan yang tidak bisa dibeli dengan emas atau batu permata,” Gustaf duduk di samping Layla, jarak di antara mereka hanya tinggal beberapa jengkal. Ia mengangkat tangan perlahan, lalu dengan lembut menyentuh pipi Layla, membalikkan wajah istrinya agar menatapnya. Matanya yang tajam kini penuh kelembutan, berbinar di bawah cahaya lilin. “Terima kasih sudah membawaku ke sini, Layla. Terima kasih sudah tidak membenci aku lagi.”

Napas Layla tertahan. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena takut, tapi karena rasa bahagia yang meluap. “Hamba tidak pernah benar-benar membenci Baginda... Hanya saja, dulu kami belum saling mengerti.”

Gustaf tersenyum tipis, mendekatkan wajahnya perlahan. “Sekarang kita sudah saling mengerti. Dan malam ini... akhirnya aku bisa berada di sampingmu bukan sebagai Raja, bukan sebagai musuh, tapi sebagai suamimu.” ada sebuah hasrat lain di mata seorang suami.

Ia hampir saja menyentuh kening atau bibir Layla dengan bibirnya, saat...

Cklek!

Pintu kamar yang ternyata tidak dikunci rapat itu tiba-tiba terdorong terbuka lebar dengan keras.

“Bibi Layla!!!”

Suara anak kecil yang ceria dan nyaring menggema di seluruh ruangan. Gustaf dan Layla kaget seketika, langsung menjauhkan wajah mereka satu sama lain. Gustaf bahkan refleks mau meraih keris di pinggangnya karena terkejut, tapi urung saat melihat siapa yang datang.

Di ambang pintu berdiri seorang anak perempuan berusia sekitar lima tahun, mengenakan baju tidur berwarna merah muda, rambutnya berantakan, dan matanya berbinar ceria sambil memeluk boneka kain. Itu adalah Citra, keponakan Layla—anak dari Pangeran Kudus yang paling disayang.

Di belakangnya, tampak kepala kakak iparnya. Layla yang mengintip malu, hendak memanggil anak itu kembali, tapi sudah terlambat.

Citra berlari kecil masuk ke dalam kamar, langsung melompat naik ke atas kasur, dan memeluk pinggang Layla erat-erat, seolah tidak peduli ada orang lain—apalagi ada Raja Gustaf yang ditakuti seisi negeri—duduk di situ.

“Aku rindu Bibi! Kenapa Bibi pergi lama sekali? Aku mimpi buruk kalau Bibi tidak ada,” oceh Citra panjang lebar tanpa henti, mengusap wajahnya ke dada Layla.

Layla tertawa, menahan rasa haru sekaligus malu karena momen manis mereka tadi terganggu. Ia mengusap rambut keponakannya itu dengan sayang. “Citra... sayangku. Bibi juga rindu sekali sama Citra. Maaf ya pergi lama.”

Gustaf diam saja di samping mereka. Wajahnya yang biasanya kaku dan berwibawa kini tampak bingung dan canggung. Ia menatap anak kecil itu dengan heran. Seluruh rakyat takut padanya, panglima perang menunduk hormat di hadapannya, tapi anak kecil ini... malah melompat seenaknya di kasur yang sama dengannya seolah ia tidak ada.

Citra mengangkat wajahnya, baru menyadari ada Gustaf di sebelah bibi kesayangannya. Ia menatap Gustaf lekat-lekat, memiringkan kepalanya bingung.

“Lho... Bibi, siapa Pak Laki-laki besar ini?” tanya Citra polos, menunjuk tepat ke dada bidang Gustaf. “Wajahnya seram tapi matanya ngeliatin Bibi terus.”

Layla menutup mulutnya menahan tawa, sementara Gustaf sampai tersedak ludahnya sendiri mendengar pertanyaan polos itu. Wajah gagah Raja itu memerah sedikit, entah karena malu atau lucu.

“Citra, jangan sembarangan menunjuk,” tegur Layla lembut, tapi senyumnya tak hilang. “Ini Suami Bibi. Raja Gustaf. Dia baik kok, tidak seram.” Layla mulai mengagumi hal itu.

Citra mengerutkan kening, lalu mendekatkan wajahnya ke arah Gustaf, mengamati wajah raja itu dari dekat sekali. Gustaf yang biasanya tidak ada yang berani menatap matanya, kini justru diam mematung, membiarkan anak kecil itu mengamatinya, bahkan ia sedikit mencondongkan badan agar lebih mudah dilihat.

“Suami Bibi?” Citra bergumam, lalu tiba-tiba ia tersenyum lebar dan mengulurkan tangannya yang kecil untuk bersalaman. “Oalah... Kalau begitu selamat ya, Paman! Kalau Paman jahat sama Bibi, nanti Citra gigit lho!”

Gustaf tertegun sejenak, lalu perlahan senyum lebar yang sangat tulus dan jarang sekali terlihat, merekah di wajahnya. Ia menerima uluran tangan mungil itu, menggenggamnya pelan sekali seolah takut melukai.

“Aku janji... aku tidak akan jahat sama Bibimu,” jawab Gustaf dengan suara rendah dan lembut, nada bicaranya berubah total menjadi ramah, jauh berbeda saat ia berbicara di pengadilan kemarin. “Kalau aku jahat, kau boleh menggigitku.”

Dari ambang pintu, Kakak ipar Layla hanya bisa tersenyum melihat pemandangan langka itu. Raja Gustaf yang ditakuti seantero wilayah, kini tunduk dan ramah hanya karena seorang anak kecil.

“Yah... kalau begitu aku mau tidur di sini sama Bibi ya!” seru Citra riang, lalu langsung memeluk lengan Layla dan menyandarkan kepalanya di bahu Layla, seolah mengusir Gustaf dari sebelah sana. “Paman tidur di sana saja ya, di kursi. Kasihan kalau diusir, tapi Bibi punya aku sekarang!”

Layla tertawa terbahak-bahak melihat wajah Gustaf yang bercampur antara heran, terhibur, dan sedikit kecewa karena momen malam mereka terputus total. Gustaf sendiri hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum pasrah. Ia menatap Layla dengan pandangan yang berkata: “Baiklah, untuk malam ini aku mengalah demi kebahagiaanmu.”

Di bawah cahaya remang lilin itu, di antara tawa kecil istri dan celoteh polos keponakannya, Raja Gustaf sadar satu hal: Bahagia sejati bukan didapat dari kekuasaan atau kemegahan, melainkan dari kehangatan sederhana seperti ini. Dan di sinilah tempatnya sekarang—di sisi Layla, dikelilingi kasih sayang keluarga yang akhirnya menerimanya

1
vj'z tri
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/ di usir bocah
Seroja_layu: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
vj'z tri
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
vj'z tri
dasar memang sifat lu itu ....susah kasih tahu lalat jika bunga lebih wangi di banding sampah 🤧🤧🤧
vj'z tri
selamattt 🫣🫣🫣🫣
vj'z tri
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣 masa langsung kebuka kartu lu
vj'z tri
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣 salah cari lawan Mpok
vj'z tri
samperin say 🤧🤧🤧🤧
vj'z tri
hayolah keluarkan insting detektif mu 🤧🤧🤧
vj'z tri
maka nya kenalan Mpok kalau gak kenal 🤣🤣🤣🤣🤣
vj'z tri
hadeuhhhh para lampir mulai bergosip ria 🤧🤧🤧🤧
vj'z tri
kerennnnnn🎉🎉🎉🎉
vj'z tri
yakin amat mas bro ,kaya nya nanti lu yang tunduk 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
vj'z tri
mau kesel ,tapi semua itu benar 🤧🤧🤧🤧
vj'z tri
hadeuh 🤧🤧🤧kan juga gegara u nyerang tadi malam neng 🤧🤧
FiaNasa
akankah Laila bisa mewujudkan dendamnya pada guztaf
vj'z tri
yang kemarin itu di hapus ta ?
Blueberry Solenne
iya tapi tindakannya terlalu kejam
Blueberry Solenne
Dasar ibl!$ serakah ya
Blueberry Solenne
wah sekeluarga di sandera, kejam juga tu raja Gustaf
Blueberry Solenne: Heheh takut kena sensor,
total 2 replies
Blueberry Solenne
Ya Tuhan serem amat isinya kelapa orang (takut di hide jadi di plesetin)
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!