"Hei Betina! Dia Jantan ku! Apa kau berani, menyentuh Milikku?" lembut, namun tajam.
Qingling, gadis dengan sejuta pesona yang selalu menampilkan wajah datar tanpa ekspresi setelah kematian kakeknya.
Tanpa disadari ia telah melakukan perjalanan waktu karena ulah seniornya, hingga sampai zaman dimana, para Orc atau Beastman berkuasa.
"Jantan Tampan, Manis, Arogan, Penurut dan suka Mengintimidasi aku memiliki semuanya."
"Mereka memaksaku untuk kawin dengan mereka semua? yang benar saja!"
Penasaran dengan kisah Qingling dan Jantan Tampan disekelilingnya? Bukan hanya Percintaan, tapi juga tentang Hubungan, Keberanian, Kejujuran, dan Balas Dendam.
Yuk! Simak kehidupan Qingling di Dunia Binatang.
No Plagiat. Karya murni dari isi pikiran Author. Jika ada Kesamaan Nama atau Tokoh, Mohon di maafkan..
Selamat Membaca...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hua chia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20 Penyakit Mematikan?
"Pastikan tidak ada yang tau, saat kalian memberikan ini kepada Ketua Suku" Qingling memberikan batang bambu kecil yang didalamnya, terdapat rebusan Akar Merah, kepada salah satu anggota Suku Serigala.
Tabib Su mengernyit heran, mendengar ucapan Qingling, ia tak mengerti tujuan Qingling yang menyembunyikan proses pengobatan Ketuanya. Begitupun anggota Suku Serigala.
"Nak Qing, kenapa kau merahasiakan pengobatan Ketua Suku? Apa ada hal, yang tidak kakek ketahui?" kerutan kasar, terlihat jelas di kening tabib Su.
"Kakek, setahuku racun yang ada di tubuh Ketua Suku tidak bisa menyerang tubuh, jika di berikan dalam dosis banyak, racun itu bisa bekerja karena ada rangsangan"
Keterkejutan tergambar jelas di wajah semua Jantan. Mereka tak mengerti maksud perkataan Qingling tapi, sepertinya itu berbahaya. Kegaduhan terjadi, mereka bertanya-tanya siapa yang berani, menyerang Ketua Suku mereka.
"Betina cantik... Apa yang harus kami lakukan sekarang" ucap salah satu diantara mereka, yang membuat kegaduhan seketika berhenti.
"Jadi..."
Qingling memberitahu langkah-langkah yang harus dilakukan, Jantan Suku Serigala. Tapi, ia tak mengatakan bahwa tabib Su terkena racun. Qingling merasa ada konspirasi pembunuhan yang tidak bisa, ia katakan sekarang.
'Huft... Mereka sangat polos, penghianatan sering terjadi tanpa disadari' batin Qingling merasa kasian, melihat Suku Serigala terlebih lagi kepada tabib Su.
Raut bahagia, tercetak jelas di wajah Jantan Suku Serigala. Mereka tak menyangka betina cantik, ditengah mereka sangat pintar.
"Betina, ini sangat luar biasa."
"Betina cantik, kau membuatku terpana maukah kau menjadi pasangan ku."
"Ketua, akan menjadi Jantan paling beruntung. Jika bisa menarik perhatian, betina cantik ini."
"Donna, tak ada apa-apanya dibandingkan, calon Ibu Ketua kita."
Diantara sorakan dan teriakan yang diucapkan Jantan Suku Serigala, Qingling ternganga tak percaya, mendengar kalimat terakhir yang diucapkan Jantan Suku Serigala. 'Se-sejak kapan aku menjadi calon Ibu Ketua mereka?' batin Qingling bertanya-tanya.
Berbeda dengan Qingling yang terlihat bingung. Yuze terlihat menajamkan pandangannya, kepada Jantan yang mengatakan kalimat tersebut. Wajahnya tenang, namun tatapan matanya seolah siap merobek mangsanya.
Sadar ada mata yang menatapnya tajam, Jantan itu menolehkan kepalanya dan melihat Yuze yang menatapnya, dengan sangat tajam. Ia mencari aman, dengan berlari bersembunyi di belakang Qingling.
Tak terima Betinanya didekat Beastman lain, Yuze menarik tangan Qingling dan mendudukkan di atas pangkuannya.
"Jangan coba-coba mendekati, betina ku" ucap Yuze tenang, tapi matanya seolah siap membunuh siapa saja yang terlihat tertarik, dengan betinanya. Sedari awal Yuze menyadari bahwa, para Orc Suku Serigala tertarik dan jatuh hati kepada Qingling.
Melihat Yuze yang sepertinya sedang dilanda api cemburu, Qingling tersenyum dan berdiri di belakang Yuze sambil memijat Kepalanya, agar kembali tenang.
"Yuze... Jangan berkata seperti itu, mereka hanya bercanda, dan kalian... Berhenti memanggilku dengan betina. Nama ku Qingling kalian bisa memanggilku Qing"Qingling memukul pelan kepala, Yuze dan menatap Jantan Suku Serigala saat mengatakan namanya.
Melihat kepedulian Qingling kepada Yuze membuat mereka semua iri. Kebanyakan di antara mereka sudah memiliki pasangan. Tapi, pasangan mereka tak ada yang seperti Qingling yang penuh, perhatian dan lembut kepada pasangannya.
'Huh... Yuze sangat beruntung, memiliki pasangan seperti Qingling'
batin mereka iri dan melirik Yuze yang tengah tersenyum pongah, menatap mereka. Seakan memperingatkan, mereka untuk menyerah kepada betinanya.
Sesuai kesepakatan bersama. Jantan Suku Serigala dibagi, menjadi dua kelompok. Ada yang menetap di gua bersama tabib Su dan ada yang kembali, ke Suku membawa kabar serta memberikan obat kepada Ketua Suku.
Qingling dan lainnya, yang masih menetap di gua. Memutuskan untuk memulai perjalanan mereka dua hari lagi. Berbeda dengan kelompok kedua, yang segera kembali ke Suku setelah menerima ramuan dari Qingling. Karena, perjalanan dari gua ke Kota Niye, dengan kecepatan penuh memakan waktu hingga 1 hari.
Hari mulai petang, melihat banyak tamu yang datang menginap, Qingling meminta Yuze mencari makanan dan dirinya menyalakan api, Jantan dari Suku Serigala tidak hanya tinggal diam melihat Yuze berburu sendiri. Mereka segera mengikuti langkah, Yuze dan menyisakan Qingling dan tabib Su yang sedang menyiapkan bumbu masakan.
"Nak Qing, ada yang Kakek ingin tanyakan"
Qingling mengangkat kepalanya menatap tabib Su. "Ada apa Kek? Sepertinya sangat serius" tanyanya, dengan nada santai.
"Dari awal kita bertemu, Kakek mencium bau darah dari tubuhmu nak... Tapi, kakek tak pernah melihat kau kesakitan. Apa kau baik-baik saja nak Qing... Lusa kita akan memulai perjalanan, kakek takut kau jatuh sakit..."
Tanpa ragu, tabib Su bertanya tentang sesuatu yang mengganjal hatinya. Wajahnya terlihat tambah tua, dengan kerutan kasar di wajahnya dengan tatapan, menyelidik menatap tubuh Qingling.
Mendengar itu, sontak Qingling menegang. Ia lupa, bahwa Serigala memiliki penciuman yang tajam. 'Kakek Su, menyadarinya. Ini...' pikir Qingling bingung, menyusun kata agar tak dicurigai dan mudah dipahami tabib Su.
Keheningan terjadi, setelah tabib Su bertanya. Ia bisa melihat wajah Qingling yang semulanya tenang, menjadi tegang dan bingung. Kebingungan yang semulanya singgah, di hati tabib Su berubah menjadi Khawatir.
"Nak Qing... Mengapa kau diam saja... Apa kau memiliki penyakit mematikan, yang kau sembunyikan?" tabib Su, seketika berdiri dan meneliti tubuh Qingling dari atas sampai bawah.
Melihat tingkah, tabib Su yang sangat berlebihan. Qingling segera menghentikan tingkah tabib Su saat akan mengangkat kakinya.
"Tenang Kek. Aku baik-baik saja, tubuhku memang akan mengeluarkan darah, di bagian bawah. Setiap satu bulan sekali. Itu hal wajar, tidak ada yang perlu di khawatirkan" jelas Qingling, dengan wajah datar untuk menekan rasa malu.
Tabib Su terdiam. Berusaha mencerna apa yang di katakan Qingling, ia terlihat tak percaya mendengar penjelasan Qingling, matanya yang tua menatap bola mata Qingling berusaha mencari kebohongan.
Melihat kejujuran, dimata Qingling. Tabib Su menghela nafas dan memeluk Qingling.
"Kakek sangat peduli padamu nak. Entah, mengapa kakek sangat menyayangi mu, dari awal pertemuan kita."
Qingling terdiam. Ia tak membalas pelukan tabib Su, air matanya tiba-tiba mengenang, di pelupuk matanya. Ia menengadahkan kepalanya, menahan sesuatu yang bisa jatuh kapan saja.
'Ternyata.. Bukan aku, sendiri yang merasakannya' batin Qingling, sedih bercampur bahagia.
Ia seperti melihat Kakeknya, di tubuh Tabib Su dan Dewa memberikannya kesempatan, untuk merasakan kehangatan seorang Kakek di dunia yang berbeda.
Tepat setelah melepaskan pelukannya. Dari arah timur terdengar lolongan Serigala dan auman Singa, membawa Babi hutan dan Sayuran di mulut mereka.
'Sangat lucu' batin Qingling terkikik, melihat karnivora menggigit sayuran.
"Qing, Yuze bilang tumbuhan liar ini bisa dimakan, apakah benar?" tanya salah satu, di antara mereka dengan wajah penuh tanya, menatap Qingling.
"Benar, dan kalian akan merasakannya" ucap Qingling, berlalu meninggalkan mereka dan membawa kubis, diikuti Yuze yang diam-diam mencuri, ciuman di bibirnya dan merengkuh pinggangnya.
Wajah mereka sontak, terkejut dan menatap sisa sayuran ditangannya dengan tatapan aneh. Tiba-tiba mereka menutup mulutnya merasa mual, membayangkan dirinya memakan tanaman.
"Tabib Su, apa kau pernah merasakan tanaman liar ini?" mereka, merasa tak yakin dengan perkataan Qingling. Terbiasa memakan makanan mentah dan minum darah membuat mereka tak yakin, dengan makanan selain daging.
"Percayalah... Itu sangat enak. Sudah, ayo bersihkan Babi ini untuk segera dimasak"
"Ap-Apa Masak?" tanya mereka, serempak dengan mata melotot tak percaya.
semangat tor.. /Determined//Determined/
ditunggu ya kelanjutannya author 🤭
jangan lama2 soalnya penasaran nungguin yaa author
jangan lama2 thor
jangan lama-lama😊😊😊😊