Menikah karena perjodohan, membuat Shera meminta perceraian setelah dua tahun menikah.
Begitu juga dengan Daren yang menuruti, lantaran keduanya tidak memiliki ketertarikan dan tidak adanya benih cinta yang tumbuh.
Namun semua terasa berbeda setelah tiga tahun perceraian itu.
apakah keduanya akan memiliki ketertarikan dan cinta setelah bertemu kembali???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Al-Humaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PMI_BAB 20
Setelah saling menyatakan perasaan yang ternyata saling mencintai. Kini hubungan Daren dan Shera tampak semakin terlihat dekat dan hangat. Daren sering kali memberikan perhatian yang terkadang tak dapat Shera duga. Contohnya saat ini.
Dalam ruangan rapat, Shera mendapatkan sesuatu khusus tanpa orang lain ketahui. Didepanya ada secangkir Cofelatte hangat dan kue favorit Shera, berbeda dengan yang lain. Mendapat hal seperti itu, Shera melirik Daren yang sedang memperhatikan presentasi. Shera menarik sudut bibirnya, tersenyum penuh hangat.
"Bagaimana aku tidak jatuh cinta," Pikir Shera.
"Ra, kenapa cake kamu beda sendiri." Bisik Rindu yang duduk disebelah Shera.
Shera menatap cake Rindu yang memang berbeda.
"Aku alergi cake vanila Rin, makanya aku minta cake stroberi." Bisik Shera.
Padahal Shera tak melakukannya. Dan semua itu adalah bentuk perhatian Daren.
Rapat siang itu berjalan dengan lancar, banyak masukan dan progres baru yang mereka lakukan untuk memajukan D'She. Shera pun selalu memberikan nuansa baru disetiap detail desain yang dia buat. Menciptakan fashion yang selalu mendapat penjualan tertinggi dua bulan berturut-turut.
Dan tentu saja Shera mendapatkan apresiasi atas pencapaian dan kerja kerasnya.
"Dan akhir bulan akan ada liburan untuk tim desain ke Bali. Sebagai bentuk apresiasi dan kerja keras kalian. Dan tidak lupa ada bonus masing-masing."
Yeyyy!!
Dan ruangan yang awalnya tegang, kini menjadi riuh setelah Daren menyampaikan hal yang sangat menggembirakan bagi Shera dan Tim lainya.
"Reward utamanya akan diberikan di penghujung acara nanti saat liburan, jadi persiapkan diri kalian."
Tidak ada yang tidak senang dengan reward yang diberikan D'She. Mereka begitu antusias untuk mendapatkan hasil terbaik dan paling baik.
Rapat sudah selesai, beberapa orang keluar bergantian, dan saling mengucapkan selamat. Shera dan Rindu keluar paling akhir.
"Kami permisi pak," Sapa Shera dan Rindu pada atasan mereka yang masih berada di sana bersama asisten Erik.
Daren mengangguk "Ya, selamat atas kerja keras kalian."
Shera tersenyum manis, sengaja mengedipkan matanya sebelah menggoda sang mantan suami.
Daren pun tak kuasa menahan senyum, membuat dua orang di sana tampak terbengong dengan apa yang mereka lihat.
Ehem
Shera baru tersadar begitu juga dengan Daren namun wajahnya tetap stay cool.
"Em, k-kami permisi pak." Rindu pun sampai tergagap, seolah apa yang dia lihat adalah hal yang paling mengejutkan.
Sampainya diluar, Rindu menarik Shera ketempat sepi, kepala Rindu toleh kanan dan kiri memastikan jika tidak ada orang yang disana.
"Ada apa Rin?" Tanya Shera yang tampak kebingungan melihat sahabatnya ini.
"Ra, kamu ada main sama pak Bos?" Pertanyaan Rindu membuat wajah Shera tampak kaku.
Sedangkan Rindu menatap Shera dengan tatapan serius dan menuntut jawaban.
Shera tampak menelan ludah senyumnya kaku.
"Ra, jawab!" Rindu menggoyangkan lengan Shera, seolah menyadarkan sahabatnya itu.
Ehem!
Keduanya menoleh, dan mendapati Daren berdiri di sana dengan tatapan lurus pada mereka berdua.
"Pak." Rindu tampak kikuk, wajahnya meringis.
"Sayang, kita makan siang bersama."
Hah!
Mulut Rindu terbuka, matanya tak berkedip. Sedangkan Shera semakin pias.
"Rin, sebenarnya kami sudah lama kenal, dan kami juga dekat." Tutur Shera pada akhirnya.
Mau bagaimana lagi, panggilan Daren barusan membuat Shera tak bisa mengelak didepan Rindu.
"Oh..May!"
**
"Aku sengaja mengundang kelurga untuk makan siang bersama." Daren fokus mengemudi, sedangkan Shera menatap Daren dengan tak percaya.
"Untuk apa kak?"
Daren tersenyum sekilas, tangannya megambil tangan Shera untuk digenggam.
"Meminta doa restu. Aku rasa semakin cepat semakin baik." Ucap Daren dengan pasti.
Shera tercenung, namun tak memungkiri jika ada ribuan kupu-kupu yang berterbangan dengan riang.
Bibirnya mengulas senyum,rasa haru bercampur bahagia.
Dulu mereka memiliki ikatan yang suci, namun semua hanya sebuah ikatan semata tanpa adanya keinginan membangun ikatan suci itu dengan baik.
"Kalau bisa sebelum ke Bali, kamu sudah menjadi milikku." Ucapan Daren seketika membuat tangan Shera yang satunya melayangkan pukulan di lengan Daren membuat pria itu justru mencium punggung tangan Shera.
Keduanya hanya menikmati indahnya cinta yang bersemi, secerah harapan dan angan yang menjadi keinginan tujuan hidup.
Di sebuah restoran yang sudah direservasi sudah ada Mama Rena beserta suami dan kedua orang tua Shera tentu saja.
Daren datang dengan menggandeng tangan Shera erat, seolah takut jika Shera akan hilang.
"Siang Pa, ma. Om dan Tante." Sapa Daren sopan, dan kedatangan keduanya menjadi pusat perhatian oleh para orang tua.
"Sayang, apa kabar?" Mama Rena tentu saja begitu antusias menyambut kedatangan Shera.
"Baik Ma."
Mereka saling menyapa tanpa ada yang terlewat.
"Jeng, sepertinya kita bakalan cepat dapat cucu." Kelakar Mama Rena menggoda pasangan kasmaran.
Shera yang mendengar hanya menunduk malu. Sedangkan Daren tampak tak terusik.
"Iya mbak, aku sih pengennya begitu." Balas Mama Shera.
Semakin merah wajah Shera karena malu.
"Mama ngomong apa sih." cicit Shera di sebelah sang Mama.
"Jadi kapan kalian akan kembali bersama, menikah lagi? Mama sih pengennya cepet, biar cucunya juga cepat jadi."
Mulut Mama Rena benar-benar tidak ada filternya, membuat Shera ingin sekali menghilang saat itu juga.
"Om Tante, Mama dan papa."
Kini semua menatap kearah Daren. Pria itu tampak santai namun tegas, sorot matanya mengarah pada calon papa mertuanya.
"Om, saya hanya ingin membuktikan, kalau saya sungguh-sungguh dengan ucapan saya. Didepan kalian saya berniat melamar Shera putri Om untuk kembali kepada saya dengan menjadi istri saya." Daren bicara dengan tenang sorot matanya tegas penuh keyakinan.
Semua terdiam, namun merasa terenyuh dengan keseriusan sang duda.
Hening, hanya ada kilatan haru bercampur bahagia. Namun tidak dengan papa Shera.
"Atas dasar apa kamu melakukannya, bukankah dulu kamu sengaja menyia-nyiakan putri saya."
Deg
Meskipun sering terdengar, namun tetap saja ucapan papa Shera mampu memukul relung hati Daren, dan rasanya sungguh sakit.
"Saya mencintai putri Om. Saya mengakui salah, saya minta maaf. Untuk itu saya ingin kembali menikahi putri Om," Daren benar-benar melakukan upaya untuk mendapatkan restu.
"Jika aku tidak merestui."
"Pah!" Mama Shera menyentuh lengan suaminya, tatapannya tak percaya dengan apa yang suaminya lakukan.
Kedua orang tua Daren hanya bisa diam, mereka tahu Daren pernah melakukan kesalahan yang berakhir penyesalan.
"Jika Om tidak merestui, maka dengan terpaksa saya,"
"Terpaksa apa?"
"Kawin lari!"
"Daren!!"
ekonomi pas"an tpi gila sm judi....
bner" g waras....