NovelToon NovelToon
Wasiat Yang Menyakitkan

Wasiat Yang Menyakitkan

Status: tamat
Genre:Angst / Ibu Mertua Kejam / Penyesalan Suami / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Dijodohkan Orang Tua / Menikah dengan Kerabat Mantan / Tamat
Popularitas:510.4k
Nilai: 4.9
Nama Author: Rani

Enam bulan pernikahan Anindia, badai besar datang menerpa biduk rumah tangganya. Kakak sang suami meninggalkan wasiat sebelum meninggal. Wasiat untuk menjaga anak dan juga istrinya dengan baik. Karena istri dari kakak sang suami adalah menantu kesayangan keluarga suaminya, wasiat itu mereka artikan dengan cara untuk menikahkan suami Nindi dengan si kakak ipar.

Apa yang akan terjadi dengan rumah tangga Nindi karena wasiat ini? Akankah Nindi rela membiarkan suaminya menikah lagi karena wasiat tersebut? Atau, malah memilih untuk melepaskan si suami? Ayok! Ikuti kisah Nindi di sini. Di, Wasiat yang Menyakitkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#20

Desi akhirnya masuk ke dalam setelah beberapa menit terdiam sambil memandangi punggung Afi dengan tatapan kesal. Malam ini dia mungkin tidak berhasil membuat pria itu tunduk padanya. Tapi masih ada malam-malam berikutnya. Dia yakin dia akan berhasil nanti.

Sementara itu, Afi masih sibuk dengan gawai miliknya. Dia masih terus berusaha untuk menghubungi Nindi. Padahal, dia tahu kalau usahanya itu akan tetap sia-sia. Karena sekali Nindi kesal, maka akan sulit untuk membujuknya.

*

Pagi-pagi sekali Afi sudah siap untuk meninggalkan Desi. Tentu saja setelah drama panjang yang telah mereka lewati tadi malam. Mulai dari usaha Desi yang gagal, hingga permintaan Afi untuk pisah ranjang. Tadi malam, benar-benar hal yang sangat menjengkelkan bagi Desi.

"Apakah harus pulang sepagi ini, Fi?"

"Iya. Tentu saja. Aku sudah melewatkan janji untuk pulang tadi malam. Jadi, aku harus pulang cepat pagi ini."

"Tapi ... iya, baiklah. Pulanglah. Titip salam buat Nindi. Sampaikan permintaan maaf ku padanya karena telah menahan kamu di sini tadi malam."

"Hm. Baiklah. Akan aku katakan."

Tentu saja jawaban itu bukan jawaban yang Desi inginkan. Tapi yah, mau bagaimana lagi? Hati Afi sulit untuk ditaklukkan. Desi ingin sekali menunjukkan rasa kesal yang sedang bersarang dalam hatinya. Hanya saja, dia sadar, itu bukanlah pilihan yang tepat.

Hanafi yang dibenaknya hanya ada Nindi, tentu saja tidak ingin memikirkan hal lain. Dia berjalan cepat meninggalkan kamar pengantin mereka tanpa menoleh.

Saat pintu terbuka, Lena sudah berdiri di sana. Tatapan mata lugu cukup mampu untuk menahan langkah Afi yang ingin segera meninggalkan tempat tersebut. Afi pun berjongkok untuk mensejajarkan tubuhnya dengan Lena.

"Selena. Selamat pagi." Afi berucap dengan wajah bahagia. Dia singkirkan wajah cemas yang sebelumnya ada di wajah sebelumnya.

"Om papa. Mau ke mana?"

"Om papa mau pulang ke rumah nenek, sayang. Mau lihat tante Nindi sedang apa." Jujur Afi pada anak kecil tersebut.

"Gak boleh," ucap Lena dengan nada khas miliknya.

Afi pun langsung mengernyitkan mata karena ucapan Lena barusan. "Gak boleh? Kenapa, sayang? Kok gak boleh sih?"

"Lena mau main sama om papa. Lena gak mau om papa pergi."

Anak kecil itupun langsung Afi raih agar bisa masuk ke dalam pelukannya. Setelahnya, Afi menggendong tubuh mungil milik Selena dengan penuh kasih.

"Lena sayang. Om papa harus pulang karena ada hal yang harus om papa lalukan. Lena bisa main sama mama dulu ya."

"Gak mau! Lena gak mau main sama mama. Maunya sama om papa. Lena mau main sama om papa."

Dengan wajah bahagia, Desi keluar dari dalam kamar. "Lena sayang, om papa harus pulang dulu. Nanti sore, om papa akan kembali. Jadi, Lena harus sabar jika mau main sama om papa ya, Nak."

"Nanti ... sore?"

"Fi." Desi memberi kode pada Afi untuk membenarkan apa yang baru saja dia katakan.

Tentu saja Afi merasa cukup keberatan. Tapi, perasaan tidak tega malah membuatnya langsung mengiyakan apa yang hatinya tidak inginkan. Maklum, sejak awal pun, sejak sang kakak masih ada, Lena juga sudah cukup dekat dengan dia. Yah, namanya juga keponakan pertama dan satu-satunya dalam keluarga. Jadi, wajar jika anak itu cukup di manja.

"Iya, iya baiklah. Om papa akan kembali buat main sama Lena nanti sore."

"Janji," ucap si gadis kecil sambil mengangkat jari kelingking di depan wajah Afi.

"Iya. Janji, nona sayang."

"Hore ... Lena tunggu. Om papa harus kembali secepatnya."

"Hm. Baiklah."

Setelah membuat kesepakatan dengan Lena, Afi pun langsung meninggalkan rumah tersebut. Dia pergi dengan hati yang sedikit berdebar. Maklum, yang akan dia temui adalah orang yang ia cintai. Mana dia baru saja melanggar janji yang dia buat lagi. Sudah pasti dia harus berhadapan dengan wajah yang tidak enak di lihat oleh mata nantinya setelah bertatap muka.

"Huh .... " Berulang kali Afi melepas napas berat. Sambil mengemudi, sambil berusaha menenangkan hati.

Mobil itupun melewati tempat yang menjual bubur ayam. Afi menepikan mobilnya. Dia masih ingat dengan sangat baik kalau Nindi sangat menyukai makanan tersebut. Afi membelikan dua porsi bubur ayam untuk dirinya dan untuk sang istri.

"Dua saja sudah cukup. Mama dan Hana, mungkin mereka sudah sarapan. Jadi, tidak perlu lagi." Afi berucap sambil melihat ke arah plastik yang dia jinjing.

Senyum terkembang di bibir Hanafi. Segera dia kembali ke mobil sambil membawa bubur ayam yang sudah dia beli. Hatinya semakin tak sabar untuk kembali ke rumah. Walaupun dia tahu, pertemuannya dengan Nindi pasti tidak akan berjalan dengan baik.

Sementara itu, di sisi lain, tepatnya di kediaman ayah Nindi. Sadan datang bertamu dengan membawakan satu pot kecil tanaman anggrek.

Pria itu datang bertamu pagi-pagi sekali dengan alasan agar ayah Nindi membantunya menyelamatkan tanaman favoritnya itu.

Padahal, itu hanya sebagai alasan saja. Karena niat utama dari kedatangan Sadan pagi ini hanya untuk melihat Nindi. Memberikan sarapan untuk si perempuan yang selalu hadir dalam benaknya. Yang sudah merusak pikiran jernih Sadan sejak awal bertemu.

"Mm ... pak Roslan bisa menyelamatkannya 'kan, Pak?"

"Ini ... kita coba saja, Nak. Mungkin masih bisa diselamatkan."

"Huh. Baguslah kalau gitu, pak."

"Oh iya, sarapannya .... "

"Ayo sarapan sama-sama!"

Ucapan yang langsung membuat senyum manis terkembang di bibir Sadan. Bahagia? Tentu saja. Karena itulah yang dia harapkan dengan kedatangannya pagi ini.

"Anin, apa sudah siap?"

"Iya, Yah. Sudah."

"Nak Sadan, ayo!"

"Mm .... " Sadan melirik Nindi yang masih diam tanpa mengeluarkan suara. Tidak mengajaknya bicara sejak tadi.

Seolah mengerti dengan apa yang Sadan pikirkan, Anindia pun angkat bicara. "Belum sarapan, kan? Ayo! Sarapan sama-sama."

"Ah, he he." Sadan tertawa kecil. "Iya. Belum ... sempat. Soalnya ... cemas."

Nindi hanya mampu tersenyum kecil dengan sikap Sadan yang cukup lucu. Pria itu cukup terlihat kekanak-kanakan sebenarnya. Namun, dia punya daya tariknya tersendiri. Dia mungkin lebih asik dari pada pria yang selalu menjaga harga diri yang tinggi.

*

Mobil yang Afi kendarai kini telah tiba ke halaman rumah. Senyum manis kembali terkembang. Setelah turun dari mobil, Afi langsung mendongak untuk melihat ke arah kamar tidur mereka.

"Anin, aku pulang." Afi berucap lirih.

Setelah menarik napas dalam-dalam, lalu melepas dengan kasar, Hanafi langsung mengambil langkah besar untuk masuk ke dalam rumah. Namun, baru juga masuk, langkah itu malah langsung tertahankan. Penyebabnya adalah, obrolan sang mama yang mengatakan bahwa Anindia sudah tidak ada di rumah lagi sekarang.

"Apa? Anin, tidak ada?"

Bubur yang dia bawa terjatuh. Wajah bahagianya menghilang. "Dia pergi ke mana?"

"Hanafi. Sejak kapan kamu di sana?" Wajah Nisa terlihat sangat terkejut.

Namun, Afi tidak ingin memikirkan apa yang sedang sang mama rasakan. Karena baginya saat ini hanyalah keberadaan Anindia yang paling penting.

1
Endang Sulistia
dokter aneh...bisa bisanya meriksa pasien gak di dampingi keluarganya..🤔🤔
ᥣׁׅ֪ꫀׁׅܻ݊݊ꪀꪱׁׁׁׅׅׅ
aneh dengernya panggil kok suami
Eyang Putri
Trus gmn ne..maju kena mundur kena...Sadan ayo cpt bicara trus terang jgn keduluan Hanafi....
Eyang Putri
lelaki yg tdk punya ketesan. wasiat kok mau fi andal kan tpi menyakiti wanita lain. cerai saja ...kelak mrk kan menyesali krn sdh berlaku kejam.
Lina Mei
bagus
Anifa
udah di skip skip masih drama terus Thor, cerita mu jelek bulet terus kek usus 🥴
Rani: lah terus gimana? Aku udah usaha kok biar jadi enak di baca. tapi ya gitu deh.
total 1 replies
guntur 1609
kau salah nindi tk menyikapi hal tersebut. itu kan masa lalu sdan. apa kau hidup terus di masa lalu. kalau kau menghargai dan mencintai seseorang. maka kau harus menerima juga segala kekurangan dan kesalahan dia di masa lalu
guntur 1609
jujur lh kau saran krn tu akan membuatmu ancur. tu kn masa lalu
guntur 1609
jangan bilang nantibafi jadinya sm tia
guntur 1609
romantis btul si sadan. sprti aku🤭🤭🤭🤭
guntur 1609
laki2 yg bodih. kau fikir dengan bercerai sm desi. anin mau akukan sm pecundang sprti mu.. Daaar kang halu
guntur 1609
karna kau pelakor
guntur 1609
mapus kau hana
tgu penderitaan mu selanjutnya. biar kau sadar apa yg kau buat sm iparmu
guntur 1609
bukan abangmu yg menghancurkan ya. tapi sikapmu tu goblok. abangmu hanya suruh jaga bukna menikahi
guntur 1609
karna kau goblok
guntur 1609
namanya keluRga gila ni. si afi pun begok. dasar laki2 plin plan
yulia nisma
lama2 jd kasihan sm hanafi..gak ada kesalahannya..cm patuh ke orangtua yg aneh..toh tdk pernah menggauli desi..rasanya gak adil klo hanafi yg trus menderita sementara anin cpt bngt moved on
Yati Syahira
siapa selingkuhan desi
Yati Syahira
knapa baru sekarang ambil tegas laki ini
Happy Kids
ga ada otak emg ibunya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!