NovelToon NovelToon
The Price Of Affair

The Price Of Affair

Status: sedang berlangsung
Genre:Poligami / Selingkuh / Pelakor / Suami Tak Berguna
Popularitas:98.3k
Nilai: 5
Nama Author: Maple_Latte

Sinopsis

Arumi Nadine, seorang wanita cerdas dan lembut, menjalani rumah tangga yang dia yakini bahagia bersama Hans, pria yang selama ini ia percayai sepenuh hati. Namun segalanya runtuh ketika Arumi memergoki suaminya berselingkuh.

Namun setelah perceraiannya dengan Hans, takdir justru mempertemukannya dengan seorang pria asing dalam situasi yang tidak terduga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maple_Latte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab: 20

Langit mulai menggelap ketika suara pintu apartemen terbuka keras dari luar. Hilda yang sedang membantu Arumi mengemasi koper sontak menoleh. Arumi yang baru saja memasukkan map berisi dokumen pernikahan dan kartu identitas ke dalam tas, langsung membeku.

Langkah kaki berat itu, tak salah lagi.

Hansel.

Tak lama, pria itu muncul di ambang pintu kamar. Wajahnya kusut, matanya merah, dan rahangnya mengeras. Sorot matanya menyapu seluruh ruangan, lalu berhenti pada koper terbuka di lantai.

"Apa ini?" suaranya datar, tapi bahaya mengendap di baliknya. "Mau ke mana kamu?"

Arumi tak menghiraukan Hansel, Wajahnya tetap tenang, meski dadanya berdegup kencang.

"Aku akan pergi dari sini. Dan besok aku ajukan gugatan cerai."

Hansel tertawa kecil, miris, lalu melangkah maju. “Gugat cerai?” suaranya naik satu oktaf.

"Iya, aku mau cerai dari kamu, dan silakan kamu hidup bahagia dengan istri barumu itu." Ujar Arumi.

Hansel menatapnya, terdiam sejenak, seolah tak percaya Arumi benar-benar mengatakan itu. Selama ini, ia terbiasa melihat Arumi tunduk, diam, patuh. Tapi kini, perempuan di hadapannya bukan lagi sosok yang bisa ia injak dan dia kendalikan semaunya.

"Kenapa kamu mengambil keputusan gegabah seperti itu Rum, aku kamu dan Nayla bisa hidup bersama, aku janji akan adil." Ujar Hansel.

“Adil?” Arumi tersenyum tipis, getir. “Setelah kita bercerai, kamu bebas cari perempuan lain sebanyak yang kamu mau. Tapi jangan bawa aku ke dalam konsep ‘adil’ yang kamu ciptakan sendiri.”

Nadanya masih lembut, tapi kalimatnya tajam, jelas, dan tak terbantahkan.

“Aku nggak mau dimadu, Hansel. Aku bukan perempuan yang sanggup berbagi suami. Dan kamu tahu itu sejak awal, tapi tetap kamu khianati.”

Hansel mulai kehilangan kendali. Ia melangkah mendekat, suaranya meninggi.

“Rum, kenapa kamu egois begitu, hah?!”

Arumi tetap berdiri di tempatnya. Wajahnya tenang, matanya jernih, seperti seseorang yang sudah berdamai dengan keputusannya.

“Kalau mempertahankan harga diri dan hak sebagai istri yang setia selama tiga tahun disebut egois, ya, mungkin memang aku egois.” Ia menarik napas sebentar, lalu melanjutkan, “Tapi daripada aku harus terus bertahan di hubungan yang nggak sehat dan membiarkan diriku disakiti lagi dan lagi, aku lebih pilih jadi egois daripada

harus hidup di madu.”

“Rum, kenapa sih masalah ini harus kita perpanjang?” kata Hansel dengan nada datar, nyaris tanpa rasa bersalah. “Sebagai seorang pria, aku punya hak untuk menikah lagi. Itu normal.”

Ucapan itu keluar begitu saja dari mulutnya, dingin, ringan, seolah tak ada luka yang ia tinggalkan. Seolah pengkhianatan bisa dibenarkan hanya karena dia laki-laki.

Arumi menatapnya lama, menahan getir di dadanya. Tapi ketika ia bicara, suaranya justru tenang. Tenang seperti air yang terlihat damai di permukaan, padahal menyimpan arus deras di dalamnya.

“Dan sebagai perempuan,” ucap Arumi pelan namun penuh ketegasan, “aku juga punya hak. Hak untuk memilih, bertahan atau pergi. Tetap menjadi istri atau mantan istri."

Ia menarik napas, suaranya masih tenang, tapi ada getaran kecil yang tak bisa disembunyikan dari dalam dadanya.

“Dan karena aku masih ingin hidup dengan waras, untuk menjadi mantan istri.”

Hansel terdiam. Matanya memanas, tapi tak bisa membalas. Kata-kata Arumi seperti cermin besar yang menampar sisi gelapnya.

Hilda dari kejauhan hanya mengangguk kecil, bangga sekaligus haru.

Itulah Arumi yang sesungguhnya. Perempuan yang akhirnya menemukan suaranya sendiri, meski harus melewati neraka untuk sampai ke titik ini.

“Besok aku akan ke pengadilan,” katanya sambil menatap Hansel tanpa berkedip. “Karena kamu nggak mau menceraikan aju, maka aku yang akan melayangkan gugatan cerai.”

Kata-kata itu menggantung di udara, berat namun melegakan.

Itu bukan sekadar ucapan, itu keputusan. Garis akhir dari hubungan yang sudah lama pincang, dan kini tak layak lagi untuk dipertahankan.

“Ok,” katanya sinis. “Tapi jangan harap kamu dapat harta gono-gini dari pernikahan kita.”

Arumi hanya tersenyum tipis. Senyum yang bukan karena bahagia, tapi karena ia sudah terlalu lelah untuk marah.

“Aku nggak butuh apapun dari kamu, Hansel,” jawabnya tenang. “Silakan kamu ambil semua harta kamu, nikmati dengan istri barumu itu.” ujar Arumi.

Hansel terdiam. Tak menyangka Arumi sudah sebegitu mantapnya. Dulu, Arumi yang ia kenal begitu penurut dan sabar. Tapi sekarang, perempuan itu berdiri di hadapannya sebagai sosok yang tak bisa lagi ia kuasai.

Setelah selesai berkemas, Arumi berdiri. Koper di sampingnya sudah tertutup rapat. Ia menatap sekeliling kamar yang selama ini menjadi saksi diam luka-luka yang ia telan sendiri.

"Yang aku bawa cuma baju-bajuku. Aku nggak ambil yang lainnya." ucapnya pelan, nyaris seperti bisikan, tapi cukup jelas untuk membuat Hansel terdiam.

Hansel mengepalkan kedua tangannya di sisi tubuh. Ada amarah yang menumpuk, ada gengsi yang tercabik, tapi tak satu pun bisa ia lontarkan menjadi kalimat.

Arumi menoleh ke arah Hilda, memberi anggukan kecil. “Kita pergi sekarang.”

Hilda segera menarik koper, dan Arumi melangkah pelan ke arah pintu. Ketika melewati Hansel, pria itu memanggilnya, suaranya parau, seperti seseorang yang akhirnya mulai menyadari apa yang ia lepas.

“Rum... kamu benar mau meninggalkan aku?”

Arumi berhenti. Punggungnya masih menghadap Hansel. Ia tak langsung menjawab.

Lalu, perlahan ia menoleh, menatap lelaki itu untuk terakhir kalinya. Bukan dengan amarah, tapi dengan luka yang sudah membeku.

“Bukan aku yang meninggalkan kamu, Hansel. Tapi, kamu yang mendorongku pergi.”

Dan dengan itu, Arumi melangkah pergi. Meninggalkan rumah, kenangan, dan hati yang pernah begitu mencintai.

Langkahnya ringan, tapi setiap tapak yang ia tinggalkan adalah suara kemenangan paling sunyi yang pernah ia miliki.

****

Di dalam mobil, Hilda menyetir pelan, membiarkan Arumi menikmati keheningan. Jalanan malam terlihat samar lewat jendela yang berembun.

“Kamu yakin nggak mau ambil apa pun dari laki-laki brengsek itu?” tanya Hilda tanpa menoleh.

Arumi memandang ke luar jendela, matanya sayu, tapi ada cahaya tenang yang mulai tumbuh di sana.

“Nggak, karena, kalau aku menuntut hak, minta harta, ibunya pasti nggak akan terima. Dia akan hina aku habis-habisan. Dibilang matre, numpang hidup, cari kesempatan.” ucap Arumi pelan, tetapi nadanya mantap.”

Meminta pembagian harga gono-gini hanya akan membuat dia tidak akan bisa bebas, mertuanya pasti akan terus meneror dan terus mengata-ngatai dirinya. Jadi, bercerai tanpa meminta atau membawa apapun adalah jalan terbaik untuk benar-benar lepas dari Hansel dan ibunya.

*****

Support author dengan like, komen dan subscribe cerita ini ya, biar author semangat up-nya. Terima kasih.....

1
Rusmini Mini
Hilda kamu hrs tau...
Rusmini Mini
teruslah saling menyalahkan
Rusmini Mini
kemana ular tua kok gak ada anak mantu tercinta lg berantem gak muncul
Rusmini Mini
tp Arumi kok nggak hamil hamil ya... yg kemarin 1x aja langsung tokcer ini sampai ber kali kali kok blm hamil jg
Rusmini Mini
kok Ryan gitu... coba aja berhenti godain dia hilang sejenak dia nyariin gak
partini
pas dugaanku satu dah tepar satu nongol ,,why why kenapa semua sama ceritanya
Rusmini Mini
dua duanya setres dan gila pas jd pasangan sampah
Rusmini Mini
tinggalin Nayla aja ngapain hidup dgn benalu rugi tau...
Rusmini Mini
taukan siapa yg mandul iya betul Hansel
kenapa si ular tua gak di ajak .../Grin//Grin/
Rusmini Mini
mau bilang apa kau ulet bulu...
Rusmini Mini
ayo siapa yg sekarang lebih kaya 🤭🤭
Rusmini Mini
kicep dah nayla... /Curse//Curse/
Rusmini Mini
malukan Nayla Arumi
Rusmini Mini
kamu akan menganga jika tau siapa istri Elfando /Gosh//Gosh/
Sity Lestari
Luar biasa
Rusmini Mini
jorokin Rumi /Grin//Grin/
Rusmini Mini
hebat Arumi /Good//Good//Good/
Rusmini Mini
Elfando suruh Arumi pake gaun warna maroon kenapa pake gaun blue safir kembaran sm Nayla ...
Rusmini Mini
kalau gak di hina ya di rubung penjilat apalagi status Arumi istri pemilik hotel /Sly//Sly//Sly/
Rusmini Mini
apa....iuran reuni 20 jt... Gila bisa bwt beli motor tuh /Curse//Curse//Curse/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!