NovelToon NovelToon
KUTUKAN MAUT PADMINI

KUTUKAN MAUT PADMINI

Status: sedang berlangsung
Genre:Kutukan / Misteri / Horor / Tumbal / Iblis / Balas Dendam
Popularitas:317.1k
Nilai: 5
Nama Author: Cublik

Padmini, mahasiswi kedokteran – dipaksa menikah oleh sang Bibi, di hadapan raga tak bernyawa kedua orang tuanya, dengan dalih amanah terakhir sebelum ayah dan ibunya meninggal dunia.

Banyak kejanggalan yang hinggap dihati Padmini, tapi demi menghargai orang tuanya, ia setuju menikah dengan pria berprofesi sebagai Mantri di puskesmas. Dia pun terpaksa melepaskan cintanya pergi begitu saja.

Apa yang sebenarnya terjadi?
Benarkah orang tua Padmini memberikan amanah demikian?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

26 : Sedikit membalas

Sebelumnya.

Setelah menjual emas titipan Padmini, Igun membeli kendaraan bekas, tapi bukan motor melainkan becak mesin. Tentu ada alasannya, dia tidak ingin dicurigai oleh warga kampung Hulu – demi mengelabui tentu dirinya paham tak boleh mencolok mata.

Maka dari itu membeli becak motor, bukan cuma memudahkan langkahnya, tapi digunakan pula untuk menarik penumpang. Dari kuli tebu jadi tukang ojek motor, itulah profesi Igun kini.

Barang-barang pesanan Padmini sudah dibelinya. Sungguh dia ngeri kala melihat karung muat beban lima puluh kilogram, berisi obat-obatan, peralatan medis, dan sesuatu berbahaya.

Setibanya di gubuk bu Halimah, Padmini menyambutnya dengan tatapan datar. Dia membuka karung berisi pesanannya, ada juga kresek besar berisi pakaian dalam dan celana serta kaos longgar serba hitam, pembalut pun ada.

Ya, dia masih manusia normal … cuma jiwanya saja yang mati rasa, serta tingkah laku menggila, kehilangan rasa empati. Lainnya tetap memerlukan kebutuhan pribadi serta konsumsi.

Igun sama sekali tidak keberatan diminta membeli barang kebutuhan wanita, bukan masalah baginya. Diapun tidak dicurigai karena cara jalannya layaknya perempuan, sikap serta tutur kata dibuat-buat. Sungguh penyamaran sempurna.

Pada sore hari menjelang hari pelaksanaan pesta pernikahan paling mewah di kampung Hulu dan sekitarnya.

"Aku tak menjamin keselamatanmu bila kau ceroboh dan kepergok warga!” Padmini mengulurkan botol bekas air mineral kepada Igun.

Pemuda feminim itu menyipitkan mata, hatinya meragu tapi egonya tertantang. Dia suka sesuatu memacu adrenalin, diambilnya botol berisi air racikan Padmini.

Igun berjalan seorang diri menembus hutan menuju kediaman juragan Pandu. Setibanya di sana, dia layaknya pencuri – sabar menunggu sampai memiliki kesempatan beraksi.

Hari sudah menjelang malam, langit pun mulai gelap. Para warga yang gotong royong membantu hajatan Sumi, satu persatu kembali pulang ke rumah mereka.

Saat itulah Igun mengendap-endap masuk ke dalam kamar mandi yang pintunya tidak ditutup, menuang isi botol ke dalam sumur. Kemudian cepat-cepat dia keluar, lalu berlari kencang mencari tempat aman.

Tanpa Igun ketahui, Padmini melindunginya lewat ilmu gaib turunan dari Rukmi.

***

“Kakang … ah, geli Kang.” Bibirnya tidak berkesudahan melenguh, merintih, mendesah memanggil pria yang tak halal baginya.

Bambang terus bermain di bawah sana. Mereka tidak melakukan penyatuan, tapi saling menyenangkan menggunakan indera pencecap dikarenakan sang pria belum bisa memberikan kepuasan disebabkan keadaannya masih belum memungkinkan.

Kala sama-sama sudah mendapatkan pelepasan, Rinda cepat-cepat mengenakan lagi pakaiannya. Dia harus segera kembali ke tempat pesta.

“Kau hebat sekali, Rin. Padahal cuma tangan dan bibirmu yang bekerja, tapi rasanya lebih nikmat daripada bercinta dengan Sundari yang cuma menerima saja tak bisa berinisiatif sepertimu.” Dia begitu puas, masih menikmati sisa-sisa pelepasan dengan mengelus bukti keperkasaannya.

Rinda mencebik, ada rasa bangga pada sorot mata. ‘Bukan mauku menggoda suamimu Sundari. Salahkan dirimu sendiri yang berubah kala sudah menjadi orang kaya. Curiga tanpa sebab, seolah aku ini seorang pengkhianat!’

Rinda sakit hati akan sikap Sundari. Dia merasakan perubahan nyata, terlebih ibunya dicurigai. Keluarga Sumi seperti kacang lupa kulitnya, malah sering memandang sinis.

Awalnya Rinda dan ibunya biasa saja mungkin itu efek jadi orang kaya dadakan, jiwa sombong yang terpendam puluhan tahun menyeruak ke permukaan.

Namun lambat laun, sifat dan perangai Sumi beserta keluarganya semakin kurang ajar. Dari yang menyindir halus berganti secara terang-terangan. Entah apa sebabnya, yang jelas Rinda membenci Sundari. Maka dari itu dia membalas lewat Bambang, pria kebanggaan sahabatnya.

***

Pesta masih berlanjut meriah. Para biduan wilayah kecamatan sedang menyanyikan tembang kenangan. Malam nanti, ada tontonan wayang kulit.

Sundari menolak kala ditawari untuk ganti baju pengantin. Untuk apa memakai busana bagus kalau dia merasa seperti patung pajangan – duduk diam, tak ada teman mengobrol.

Netranya melihat Rinda yang entah dari mana. Sewaktu tatapan mata mereka bertemu, ia merasa senyum itu berbeda.

‘Ada apa dengannya? Senyumnya seperti mengandung rahasia,’ batinnya mulai menerka-nerka atau memang dirinya saja yang sedang dalam suasana hati melankolis.

“Kau dari mana sih, Rin? Kok lama betul? Jangan-jangan bukan buang air besar, tapi kau sengaja tidur-tiduran kan, hayo ngaku!” Wati menodong dengan pertanyaan bertubi-tubi.

Rinda terkikik, dia sedang berkaca menggunakan cermin kecil, menambahkan lipstik pada bibir terlihat pucat dan sedikit lecet. “Selagi ada kesempatan ya dipergunakan sebaik mungkin. Lagian capek berdiri, mondar mandir. Betisku sampai terasa keras.”

Mirna langsung menyahut. “Sama lah. Sewaktu bangun tidur tadi pagi, badanku pegal-pegal.”

Sesudahnya mereka kembali mengurusi meja prasmanan. Mengisi wadah makanan yang sudah hampir kosong, mengelap alat makan baru saja diantarkan pemuda bagian mengangkat piring kotor.

Senja pun menyapa, acara hajatan dihentikan sejenak. Para tamu undangan ibu-ibu dan orang tua sudah pada bubar, malamnya giliran kawula muda yang datang membawa kado dan memberikan ucapan selamat kepada mempelai pengantin.

Di dalam kamar pengantin, Sundari merasakan ada yang berbeda dari suaminya.

Bambang sama sekali tidak bersemangat, menatap biasa saja terkesan malas-malasan saat ditanyai dan dimintai pendapat penampilan cantik sang istri.

“Aku jelek ya, Bang? Atau riasan ini berlebihan, sehingga respon Abang sangat datar?” Sundari memandang tajam suaminya.

Bambang memaksakan senyum, dia yang berbaring miring di ranjang pengantin, menarik tangan dan mengecup lama di sana. “Aku sedang tak enak hati. Kasihan melihatmu menyambut tamu seorang diri, menahan malu pada para undangan yang hadir.”

Sundari tidak langsung percaya, menilik wajah suaminya mencari ada tidaknya kebohongan di sana. “Betul seperti itu? Bukan karena hal lainnya ‘kan?”

Dibalasnya tatapan curiga dengan sorot hangat, kata-kata penuh bujuk rayu. “Sayang, ini hari bahagia kita. Kau pun sangat cantik sampai Abang sulit memalingkan wajah ke lainnya. Sungguh hati ini bertambah kadar rasa cinta teruntuk dirimu, cuma saja kurang lengkap karena Abang tidak bisa duduk bersanding di pelaminan bersamamu. Wajah murung, sikap acuh tak acuh ini demi menutupi rasa bersalah menggunung.”

Sebagai pelengkap, dagu istrinya ditarik sampai wajahnya merunduk, lalu dilumat kasar seolah menahan hasrat menggebu-gebu.

Sundari pun membalas tak kalah brutal. Dia memang tidak terlalu mencintai Bambang. Namun pria ini menjadi kebanggaan dikarenakan statusnya yang berpendidikan dan seorang Mantri puskesmas. Hal tersebut membuat Sundari merasa lebih tinggi derajatnya dibandingkan gadis-gadis lainnya yang bersuamikan pria pekerja kasar.

.

.

Tepat pukul delapan malam, pagelaran wayang kulit dimulai. Para warga yang sangat antusias ingin melihat, duduk tertib di atas tanah beralaskan tikar, terpal dan lainnya.

Halaman samping rumah juragan Pandu yang sangat luas, dipenuhi warga duduk menghadap panggung.

Pada bagian dapur, para ibu-ibu tetangga Sumi sedang menyeduh teh, membuat minuman hangat jahe, serta merebus kacang tanah – wajah mereka mulai memerah dan gesture tubuh gelisah.

“Aduh, mengapa perutku sakit sekali!” rintih ibu-ibu tengah mengupas jahe.

“Iya ini, perutku pun mulas.”

Keluhan lainnya menyertai, sampai kegiatan mereka terhenti dan tergesa-gesa mencari kamar mandi.

“Mana minumannya? Mengapa lama sekali?!”

.

.

Bersambung.

1
Aprisya
pokoknya sayang banyak2 kak cublik🥰🥰🥰🥰 udah bikin jantung dag dig dug seeerrrr🤣🤣🤣
≛⃝⃕|ℙ$°Siti Hindun§𝆺𝅥⃝©☆⃝𝗧ꋬꋊ
Teruskan kegilaan ini Padmini, aku suka. Jangan biarkan Bambang mati dengan mudah/Applaud/
Secret Admire
ampuuunnnn kak😄 bacanya aja aku gemeteran 😄
Lisstia
ngeri sih tapi bikin kepo bacanya
Reni
astaga pagi2 mana banjir dari kemarin cuma surut sak empritttt dingin2 eeee baca lha kok lha kok lha kok duarrrrrr mbak Padmini main dokter dokteran sadis sama mas bojo tercinta 😬
SENJA
aaaiih aku kok ngilu 🥶
neni nuraeni
anjaay psikopet... bantai terus padmi... lnjut thor
SENJA
yang gila itu elu bambang buseh , padmini cuma balikin doang 😁
Salim ah
huuuuwaaa
Watiningsih
padmini jadi psikopat mati hati nurani karena rasa sakit hati yg luar biasa, semua akibat ketamakan kamu Bambang
Muhammad Arifin
AQ seng puyeng 😨😨
mudahlia
terserah kau lah padmi sukahati kau
*^Ciput Cantik^*
Sicalon dokter terbaik padmini ,digergaji trs dijahit lagi terlalu cepat menjahit ditmbh lg potonganya,habis jari nanti lidahny yg dipotong trs dijahit lagi begitu trs ,padmini memang luar biasa calon dokter yg handal
nara
uh sadis pembalasannya padmini,,satu persatu warga kampung hulu bakal mati semua
Shee
nah abis deh tuh jari, besok apa nya ya??? ko q seneng saat Bambang di siksa, maaf ya kang🤣🤣🤣
Eli Rahma
sadis bgt pembalasan padmini..
Eva Wahyuni
kayak nonton film Suzanna Thor 😱😱😱..
ngeri ngeri sedap 😁😁😁
lyani
kali ini pak mantri jadi bahan koas
🍒⃞⃟🦅☠Calon mertua🪱ᵘᵄᵟᵘᵎᵓᵄᵓ
kang Adi apakabar nya yaa
thorr
sdh sembuh
apa masih sakit
di bawa ke dokter Korea aja thor.biar ganteng kembali sperti dlu
Y.S Meliana
ga kebayang kan kang bambang klo pembalasan padmini se kejam itu 😳😏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!