Malam itu, semuanya berubah. Kegelapan yang seharusnya membaw kedamaian, justru menjadi saksi bisu atas kekerasan yang tak terkatakan.
Indira perempuan malang. Dia harus kehilangan kehormatannya yang di renggut paksa dari seseorang yang tidak di kenalinya. Hidupnya berubah drastis setelah mengalami musibah itu, dia di usir sama tetangganya karena tidak mau nama baik lingkungannya tercoreng karena keberadaannya.
Angksa Bagaskara. Harus memilih antara menerima perjodohan dari orang tuanya atau di coret dari hak waris keluarganya.
Simak ceritanya yu jangan sampai ketinggalan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Osiye, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20. Datang Dengan Sendirinya
"Ayah harus melakukan ini, Nak," gumam tuan Malik.
Tuan Malik tau kalau putranya itu menaruh hati sama anak majikannya, beliau tidak mau kalau putra semata wayangnya itu mendapatkan masalah besar nantinya. Bagaimana jika seandainya tuan Edgar tau kalau putranya itu memiliki perasaan sama Freya, akan semarah apa nanti? Mereka adalah keluarga terpandang tentu saja tuan Edgar, mencarikan pasangan hidup untuk putrinya yang sederajat bukan seperti keluarganya yang hanya bekerja menjadi bawahannya di kantor.
Candra melihat wallpaper ponselnya terlihat foto seorang gadis lagi berada di taman bunga dengan balutan stelan warna putih tulang memadupadakan dengan hijab cream muda, senyum manis tersemat di bibir tipisnya foto itu dirinya ambil secara diam-dian saat lagi berada di bandung berapa waktu lalu.
"Apa aku salah menyimpan perasaan ini sama anda, Nona muda? Tapi rasa ini muncul dengan sendirinya, Nona. Berdekatan rasanya candu dan berjauhan rasanya sangat rindu, itulah yang aku rasakan, Nona muda." ucap Candra pelan mengusap foto Freya yang ada di ponselnya.
Lagi-lagi Candra menghela nafasnya berat rasanya sangat susah untuk menghilangkan rasa sukanya terhadap Freya. Sosok gadis kecil yang kini mulai tumbuh menjadi sosok perempuan dewasa mampu menarik hatinya, mengingat kasta antara dirinya dan juga Freya yang jelas sangat berbeda membuatnya tidak mempunyai keberanian untuk mengungkapkan perasaannya sama gadis itu.
Candra menyipitkan matanya saat ponsel di tanganya bergetar ada panggilan masuk dari seseorang, dia menyipitkan matanya melihat nama orang yang tertera di layar ponselnya. Candra berdecak lida mengacuhkan panggilan yang masuk rasanya dia bener-bener males.
"Anin, ah.. Gadis ini mau ngapain dia menelpon ku? Aku sunggu males mendengar suaranya," ucap Candra membiarkannya begitu saja.
**
Akh!
Di tempat yang berbeda seorang gadis terlihat begitu kesal karena telponnya tidak kunjung di angkat, Anin berteriak marah dan membanting ponselnya di ranjang rasanya ingin sekali menghampiri Candra di rumahnya sekarang juga.
"Kak Candra, kaka kenapa sih enggak pernah mau mengangkat telpon dariku? Kalau ketemu juga, kaka terlihat cuek sama aku dan lebih banyak ngobrol sama, Freya emang apa kurangnya aku!" Andin meremas-remas spreinya.
Aninda merai kunci mobilnya dan keluar dari kamarnya mukanya di tekuk seperti daun kering yang kusut sangat tidak enak di lihat tujuannya sekarang yaitu ke rumah Candra. Dia ingin tau kenapa Candra tidak mengangkat panggilannya.
Tin! Tin!
Enggak butuh waktu lama kini Andin sudah sampai di depan ruma tuan Malik, dia menglakson mobilnya beberapa kali saat tidak ada satpam yang membukakan gerbang untuknya. Dia melihat jam di tangannya ternyata baru jam 9 malam tapi rumah Candra, tampak begitu sepi pun kamar Candra lampunya sudah padam mungkinkah laki-laki itu sudah tidur? Tanya Anin dalam hati untuk mendapatkan jawaban atas pertanyannya Anin ingin memastikannya sendiri kedalam.
"Non, Anin," sapa satpam menghampiri mobil yang terpakir di depan gerbang.
"Darimana saja, Pak, kok lama? Tolong bukain pagarnya ya," ucap Anin memita tolong.
"Baik, Non," sahut satpam mengangguk.
Di ruang kerjanya Candra menyingkap tirai saat mendengar suara klakson mobil, dia ingin tau siapa gerangan malam-malam datang ke rumahnya? Dia berpikir kalau itu Angkasa, lagian siapa lagi orang yang suka seenak jidat datang kerumahnya kalau bukan, Tuan mudanya itu, ternyata dugaannya salah yang datang bukanlah Angkasa melainkan Aninda, gadis yang menelponnya barusan.
"Anin, ngapain dia malam-malam datang kesini." ujar Candra memijat pelipisnya.
Anin yang baru naik tangga langkahnya langsung terhenti saat melihat Candra lagi berjalan menuruni anak tangga, dia tersenyum senang akhirnya laki-laki itu mau menemuinya. Seperti dugaannya kalau Candra belum tidur.
Candra memasukan tangannya kedalam saku celananya dia melewati Anin begitu saja tanpa mengatakan sesuatu sama gadis itu, Candra duduk di sofa ruang tamu dengan menyilangkan kakinya, sedangkan Anin masih berdiri mematung bahkan Candra tidak menyapanya. Dia menghampiri Candra ikut duduk di sebelahnya membuat laki-laki itu merasa risih.
"Ada apa, Anin? Ini sudah malam kenapa kau masih kelayapan kesini?" tanya Candra tanpa melihat lawan bicaranya.
"Kak Candra, kenapa kaka enggak mengangkat telpon ku?" Anin malah balik bertanya.
"Aku tidak mendengarnya, ponsel ku di kamar sedangkan aku ada di ruang kerja, ada apa kamu kesini?" tanya Candra lagi.
"Oh, pantes saja, em, aku hanya mau memastikan saja, om Malik, sudah memberi tau kan kalau, Papah ngundang kalian buat makan malam? Kaka tau aku seneng banget waktu, Papah memberi tau soal ini rasa..." Anin tidak melanjutkan ucapannya karena Candra menyela ucapannya begitu saja.
"Aku sudah tau, ini sudah malam sekarang kau pulang lah," Candra memotong ucapa Anin.
"Apa-apaan ini bahkan aku baru sampai, kak Candra malah nyuruh aku pulang," batin Anin tidak terima.
Candra yang melihat Anin terdiam berdehem kecil membuat gadis itu melihat ke arahnya. Candra menaikan alisnya bingung kenapa gadis di depannya malah melamun? Dia berdiri di ikuti Anin. gadis itu merai lengan Candra yang langsung di tepis.
"Kak, aku baru sampe loh, kenapa kaka malah menyuruh aku pulang?" tanyanya.
"Terus kamu mau nginep disini?" sahutnya.
"Tidak, bukan begitu maksudku, tapi apa kak Candra enggak mau mengantarku? Kaka bilang ini sudah malam enggak mungkin kan aku pulang sendirian, kalau ada apa-apa di jalan bagaimana." Anin berharap Candra mau mengantarkan dirinya pulang.
"Iya, Nak, biarkan putra om yang mengantarkan kamu pulang," ujar tuan Malik tiba-tiba.
Tuan Malik melihat putranya beliau memberi kode agar Candra, mau mengantarkan Anin pulang keruma. Beliau tidak bisa membiarkan seorang perempuan pulang sendirian apalagi sudah larut malam selain itu beliau juga tidak mau sesuatu yang buruk terjadi sama Anin.
Candra menganggukan kepalanya akhirnya dia bersedia mengantarkan Anin pulang.
"Ya sudah ayo aku antar kamu pulang," Candra keluar lebih dulu tanpa melihat ayahnya dan juga Anin.
******
Indira menggeliat saat mendengar suara adzan subuh, dia merenggangkan otot-ototnya yang terasa kaku. Indira melihat ke arah ranjang tapi tidak mendapati keberadaan suaminya dia melipat selimut dan menatanya dengan rapih.
"Dia kemana ko tidak ada," ucap Indira mencari keberadaan suaminya yang tidak dia temukan di kamarnya.
Sesuai sholat, Indira bergegas turun ke bawah mau bikin sarapan buat orang rumah dan ternyata sudah ada bi Narsi, sedangkan art yang lagi mengerjakan tugasnya masing-masing 2 art yang melihat kedatangannya saling berbisik dengan tatapan tidak suka rambut basah Indira menarik perhatian keduanya.
"Enggak tau malu ya kelihatannya saja alim tapi semalem, dia berusaha cari perhatian sama tamunya tuan muda! Dasar perempuan ganjen," bisiknya tapi masih terdengar di telinga Indira.
Indira yang mendengar ucapan salah satu dari mereka hanya bisa diam, dia tetep tersenyum tidak mau memasukan kedalam hati ucapan mereka. Indira tidak mempermasalahkan dan menganggap ucapan mereka hanya angin lalu saja, kalau cape pasti mereka bakal diam sendiri.
"Ada apa ini?" suara bariton mengagetkan Indira dan yang lain.
*****
Bersambung........