Sinta Aniswari (23) dulunya adalah mahasiswi kedokteran paling ceria dan cerewet se-FK.
Sampai ayahnya bangkrut dan satu-satunya cara menyelamatkan rumah sakit keluarga adalah dengan menikahi Dean Galang Wijaya (30).
Pengusaha muda, perfeksionis, kaku seperti robot, dan sedingin kulkas dua pintu.
Dua tahun menikah tanpa cinta. Sinta berubah menjadi Nyonya Wijaya yang anggun dan penurut. Dari luar, semua orang mengira ia adalah istri yang tidak disayang. Pernikahan yang kaku seperti dua orang asing yang tinggal di rumah yang sama.
Sampai mereka tau sisi lainnya.
Bahwa Dean yang kaku itu ternyata menjadwalkan segalanya. Bahkan untuk menyentuh istrinya. Satu bulan empat kali. Setiap tanggal 5, 12, 19, dan 26. Jam 21.00 tepat.
Dan selalu diawali dengan kalimat yang sama, dengan wajah datar yang sama:
"Apa mau main?"
Sinta pikir pernikahan ini hanya soal peran. Sampai Dean yang kaku itu mulai membuatnya bingung, berubah menjadi lebih aktip.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Park ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SISI LAIN SUAMIKU DEAN G.W BAB 34 KOMPENSASI WAKTU AFEKSI
SISI LAIN SUAMIKU DEAN G.W
BAB 34 KOMPENSASI WAKTU AFEKSI
Lidah Dean yang hangat dan dominan langsung menyapu masuk, menenggelamkan Sinta ke dalam kedalaman ciuman yang tidak memberi ruang untuk napas maupun pikiran. Dahi mereka yang saling menempel perlahan terpisah, digantikan oleh sentuhan bibir yang membumi hangus seluruh pertahanan sopan santun Sinta.
Tangan Dean yang berada di belakang pinggang Sinta semakin erat menarik tubuh istrinya hingga tak ada satu sentimeter pun celah di antara mereka. Sinta bisa merasakan detak jantung suaminya yang berpacu stabil namun kuat di balik kemeja krispinya—sebuah kontras yang aneh antara ketenangan luar dan intensitas sentuhan yang membakar.
Sinta yang sempat terkejut dengan transisi mendadak dari "evaluasi modul domestik" ke "kompensasi afeksi", perlahan-lahan melepas pertahanannya. Jemarinya yang tadi sempat meremas pelan ujung kemeja Dean kini naik melingkar ke leher pria itu, jari-jemarinya menyusup ke sela-sela rambut hitam yang rapi.
Ciuman itu berlangsung lama, dalam, dan penuh tuntutan. Dean tidak meminta izin—dia mengambil apa yang dia klaim sebagai kompensasi atas waktu yang hilang. Dan Sinta, yang sejak tadi menahan napas dan rasa hangat yang meluap di dadanya, akhirnya menyerah sepenuhnya pada dominasi suaminya.
Ketika Dean akhirnya menarik wajahnya sedikit ke belakang, napas keduanya sama-sama memburu. Bibir Sinta yang ranum dan kemerahan terlihat mengilap karena sisa sentuhan, sementara manik matanya berkilat kabur menatap wajah suaminya yang masih terlihat tenang namun dengan rona hangat di ujung telinganya.
"Kompensasi waktu afeksi... selesai dieksekusi," bisik Dean, suaranya sedikit lebih serak dari biasanya. Dia menatap bibir Sinta sebentar sebelum kembali menatap mata istrinya. "Efisiensi kepatuhan kamu dalam menerima kompensasi dinilai 98,7 persen. Sedikit kurang responsif pada fase ketiga, namun dapat ditoleransi."
Sinta hampir saja menyemburkan napasnya. Dia menepuk pelan dada bidang suaminya, pipinya merona merah padam.
"Mas Dean!" protes Sinta dengan nada tertahan, matanya membulat lucu. "Masa habis ciuman dikasih nilai sih?! Ini ujian mid semester apa apa?!"
Dean terkekeh pelan—suara rendah yang jarang terdengar namun selalu berhasil membuat lutut Sinta lemas. Pria itu menyusupkan satu tangannya ke saku celana bahan, sementara tangan lainnya masih bertumpu di pinggang Sinta.
"Setiap interaksi memerlukan evaluasi untuk peningkatan berkelanjutan," jawab Dean serius, namun sudut bibirnya tetap terangkat tipis. "Fase ketiga yang kurang responsif adalah saat kamu menahan napas terlalu lama. Rekaman medis menunjukkan bahwa oksigenasi optimal diperlukan untuk respon emosional yang maksimal. Lain kali... bernapaslah."
Sinta memejamkan matanya, menahan rasa malu yang campur aduk dengan rasa gemas.
"Ya ampun... suamiku ini benar-benar robot dengan upgrade versi romantis ya," gumam Sinta pelan, namun bibirnya tidak bisa berhenti tersenyum. "Oke deh, Pak CEO. Lain kali saya pastikan bernapas sesuai standar operasional prosedur."
Dean mengangguk puas, lalu meraih tangan Sinta kembali ke dalam genggamannya.
"Bagus. Sekarang, poin keempat," ucap Dean lempeng, berbalik menuju meja makan yang sudah dipenuhi hidangan hangat. "Kue sus dengan kadar gula yang telah disesuaikan menunggu untuk dikonsumsi. Durasi konsumsi: minimal sepuluh menit. Tidak boleh terburu-buru. Ini bagian dari regulasi emosi pasca-stres."
Sinta menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum lebar, mengikuti langkah suaminya menuju meja makan.
"Siap, Mas Dean. Saya akan menikmati kue sus ini dengan efisiensi 100 persen," jawab Sinta manis, lalu menambahkan pelan, "Tapi kalau nanti saya minta ciuman lagi sebagai pencuci mulut... itu masuk poin berapa nih?"
Dean berhenti melangkah sejenak, bahunya bergetar menahan tawa. Dia menoleh sedikit, menatap istrinya dengan tatapan yang kembali berubah hangat dan penuh tantangan halus.
"Itu masuk poin tambahan bonus. Yang belum termasuk dalam modul saat ini," jawab Dean rendah. "Silakan ajukan proposal tertulis nanti malam. Saya akan pertimbangkan."
Sinta tertawa renyah, suara tawanya memenuhi ruang makan yang mewah itu.
"Dasar suami ajaib," gumam Sinta, lalu duduk di kursinya dan langsung meraih satu buah kue sus yang masih hangat.
Saat gigitan pertama kue sus itu meleleh di lidahnya—krim vanila yang manis namun tidak berlebihan, persis seperti yang dia suka—Sinta menatap Dean yang sedang memperhatikannya dengan tatapan lembut yang tidak dia sadari.
Di dalam hati, Sinta tahu satu hal pasti: di balik semua istilah korporat yang kaku, di balik semua grafik dan evaluasi, Dean Galang Wijaya hanyalah seorang suami yang berusaha sekuat tenaga menunjukkan cintanya dengan cara yang dia kuasai. Dan itu lebih dari cukup.