Olivia Caroline adalah seorang wanita matang dengan latar belakang kedua orang tua broken home. Meski memiliki segalanya, hatinya sangat kosong. Pertemuan dengan seorang gadis kecil di halte bis, membuatnya mengerti arti kejujuran dan kasih sayang.
"Bibi, mau kah kamu jadi Mamaku?"
"Ha? Tidak mungkin, sayang. Bibi akan menikah dengan pacar Bibi. Dimana rumahmu? Bibi akan bantu antarkan."
"Aku tidak mau pulang sebelum Bibi mau menikah dengan Papaku!"
Bagaimana kisah ini berlanjut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kumi Kimut, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 20
"Di taman kota, kamu ke sini bersama adikmu. Ini pesan dari Aarav."
"Baik pak, kami otewe ke sana."
Panggilan telepon usai. Peter yang mendengar perintah ini lantas meminta sang kakak bersiap-siap.
"Mbak, tenangkan dirimu. Jangan terbawa emosi." Peter menatap wajah sang kakak yang sudah meneteskan air mata sedemikian banyaknya. Dia paham bagaimana kesedihan Olive.
"Iya, aku akan berusaha untuk baik-baik saja," jawab Olive berusaha tegar.
Peter membawa jaket dan tas, sang kakak juga melakukan hal yang sama. Keduanya keluar dari rumah dan mengunci pintu rapat.
"Mbak, biar aku yang nyetir." Peter sudah masuk terlebih dulu ke dalam mobil sedangkan Olive lagi membuka pintu dan duduk di samping kursi kemudi."Ya peter."
Tatapan mata Olive begitu kosong. Dia tidak tahu apa yang harus dilakukan selain mendoakan Aarav." Tuhan, sertai Aarav. Tunjukan kebenaranmu."
*
*
*
Di taman kota ...
Roni sudah menunggu dikedai es krim yang ada di area taman kota. Dia memberikan kode kalau sedang ada di sana lewat pesan WA.
Tak berapa lama kemudian, Roni melihat Olive, dia tahu wajah ini karena menjadi wallpaper di ponsel Aarav.
"Mbak Olive!" Panggil Roni.
Olive dan Peter berjalan ke arah Roni. Mereka sudah bisa memastikan kalau pria ini benar-benar sahabat Aarav.
Ketiga orang itu lantas duduk bersama dan membahas tentang strategi untuk mengeluarkan Aarav dari fitnah Mario.
"Mbak Olive, hp pak Aarav. Dia bilang agar kamu yang bawa."
"Tapi pak, ini punya calon suamimu."
Deg!
Olive menangis. Dia tak kuasa menahan diri karena ucapan Roni." Hiks harusnya aku tidak kerja di tempat Pak Aarav, Mario pasti gak akan memfitnah dia."
"Mbak, yang tenang mbak. Semua ini bukan tanpa alasan. Mario memang sudah menargetkan Aarav sejak awal. Dia menguasai pasar global. Orang yang bakalan menjegal Mario hanya Aarav."
"Jadi, mario sudah mengincar aarav sejak awal?"
"Iya, aku tak tahu kenapa kamu bisa pacaran dengan Mario tapi setahuku dia nikah sama wanita lain. Setidaknya Itu kabar yang aku tahu selama ini."
"Iya pak Roni benar. Dia memang menikah dengan seorang wanita yang cukup berpengaruh di kota. Aku gak peduli, hanya saja dia tiba-tiba datang ke dalam hidupku dengan kejutan ini."
"Dia sudah dendam sama Aarav, aku sahabatnya sejak dulu. Musuh Aarav adalah dia tapi waktu itu gak tahu kalau Mario mantan kamu."
"Astaga, kenapa aku bodoh banget sih?"
"Gak usah merasa bersalah. Sekarang kita cari cara untuk melepaskan Aarav dari hukuman."
"Pak, saya mau ketemu Aarav."
"Apa kamu siap?"
"Siap pak."
"Oke, Peter, antar mbak mu ke kantor polisi. Aku akan menyelidiki kasus ini dengan teliti."
"Baik Pak."
**
Peter meminta Olive masuk ke dalam mobil untuk mengantar sang kakak ke kantor polisi. Namun, di dalam mobil, bukannya ceria karena akan bertemu Aarav, justru Olive sedih. Dia terus saja menangis.
Peter sebagai adik yang baik lantas menenangkan dengan memberikan vibes positif berupa kata-kata semangat.
“Kak, semuanya akan baik-baik saja. Aarav pasti kuat menghadapi ini. Yang penting, kita ada di sini untuknya,” ujar Peter sambil melirik Olive yang duduk di kursi penumpang dengan mata sembab.
Olive menghela napas panjang, mencoba menenangkan diri, tapi pikirannya terus dipenuhi kekhawatiran. Aarav ditahan karena tuduhan yang tidak jelas. Olive yakin Aarav tidak bersalah, tapi sistem hukum yang lambat membuat semuanya terasa lebih sulit. Mario terlalu hebat melakukan rekayasa ini.
Peter menghidupkan radio dengan harapan bisa mengalihkan perhatian kakaknya. Namun, lagu yang sedang diputar justru semakin membuat Olive terhanyut dalam kesedihannya.
“Kak, Aarav butuh kamu dalam keadaan kuat. Kalau kamu terlihat seperti ini di depannya, dia justru akan semakin sedih,” kata Peter, mencoba membuat Olive bangkit.
Olive mengangguk pelan. Dia tahu adiknya benar. Aarav tidak akan mau melihatnya lemah. Dia harus tegar.
Mobil terus melaju melewati jalan-jalan kota yang mulai dipenuhi kendaraan. Udara di luar tampak mendung, seakan ikut mencerminkan perasaan Olive yang gelisah. Peter menepikan mobil di sebuah kafe kecil dekat kantor polisi.
“Kita beli kopi dulu, Kak. Kamu butuh sesuatu yang bisa membuatmu sedikit lebih tenang.”
Olive awalnya ragu, tapi akhirnya mengangguk. Mereka masuk ke dalam kafe, dan Peter segera memesan dua cangkir kopi favorit Olive. Saat mereka duduk menunggu pesanan datang, Olive mencoba menarik napas dalam-dalam.
“Terima kasih, Peter. Aku beruntung punya adik seperti kamu,” ujar Olive dengan suara yang masih terdengar lemah.
Peter tersenyum. “Ya iyalah, aku ini kan adik terbaik!” candanya, mencoba meringankan suasana.
Setelah kopi mereka datang, mereka melanjutkan perjalanan ke kantor polisi. Sesampainya di sana, Olive semakin gugup. Tangannya dingin, tapi Peter menggenggamnya erat, memberi dukungan tanpa banyak kata.
Mereka masuk ke dalam dan menemui petugas yang bertanggung jawab atas kasus Aarav. Tak lama kemudian, seorang polisi mengantar Aarav ke ruang kunjungan.
Begitu melihat wajah Aarav, Olive langsung merasa lega sekaligus sedih. Pria itu tampak lelah, tetapi masih berusaha tersenyum untuknya.
“Kamu baik-baik saja?” suara Olive hampir berbisik.
Aarav mengangguk. “Aku baik. Lebih baik sekarang karena kamu di sini.”
Peter memberi mereka ruang untuk berbicara dan duduk di sudut ruangan, mengamati kakaknya yang akhirnya bisa berbicara dengan orang yang paling ia cintai.
Percakapan mereka dipenuhi harapan. Olive berjanji akan melakukan segala cara untuk membantu Aarav keluar dari situasi ini.
Olive menatap mata Aarav dengan lekat. Dia tak menyangka kalau pria yang selama ini diabaikannya justru masuk penjara karenanya.
Padahal Aarav adalah bos yang baik, meski agak ketus, dia adalah ayah luar biasa untuk Alesia. Aarav tersenyum. Dia senang karena ada Olive menjenguknya.
"Aku seharusnya tidak pernah berhubungan dengan Mario dan menjadi mantannya," suara Olive bergetar di antara isakannya. "Kalau saja aku lebih berhati-hati, Aarav, kamu tidak akan menderita karena aku."
Aarav menggeleng pelan, menatap Olive dengan tatapan penuh ketenangan. "Ini bukan salahmu, Olive. Aku justru berterima kasih sama kamu karena udah menjadi calon mama terbaik untuk Alesia. Soal Mario, biar menjadi urusanku dan Roni. Aku hanya tidak memiliki cukup bukti sebelumnya. Sekarang, yang penting adalah menjaga Alesia. Aku tahu kamu bisa melakukannya."
Olive menunduk. Alesia adalah anak kecil yang ceria, tetapi sangat bergantung pada sosok ayahnya. Selama ini, Olive memang selalu ada untuknya, tetapi dia tahu bahwa kehadiran Aarav jauh lebih berarti bagi Alesia.
"Alesia masih belum tahu kamu di sini?" ucap Olive lirih.
"Belum," Aarav menarik napas dalam. "Jangan katakan apapun padanya, kalau Alesia ngeyel, bilang aja aku lagi ada perjalanan bisnis ke luar negeri."
Olive mengangguk, meski hatinya masih dipenuhi rasa bersalah. Dia ingin melakukan sesuatu, apa pun, untuk menebus kesalahannya. Dia tidak bisa membiarkan Aarav berjuang sendiri.
"Tolong, biarkan aku membantu. Aku akan mencari cara agar kamu bisa keluar dari sini," ujar Olive dengan suara penuh tekad.
Aarav tersenyum tipis. "Jaga Alesia, itu sudah sangat membantu."
Suara langkah kaki petugas terdengar mendekat. Waktu kunjungan sudah habis. Olive merasa dadanya semakin sesak.
"Aku akan menjaga Alesia, aku janji," katanya sebelum akhirnya beranjak pergi, meninggalkan Aarav di balik jeruji besi.
***
Keluar dari kantor polisi, Olive menatap langit yang mendung. Air mata masih mengalir di pipinya, tetapi kali ini dia berjanji pada dirinya sendiri—dia tidak akan menangis tanpa melakukan sesuatu. Dia harus menemukan cara untuk membuktikan bahwa Aarav tidak bersalah.
Saat dia masuk ke dalam mobil, Peter menatapnya khawatir. "Bagaimana keadaannya?"
"Dia kuat," jawab Olive, meski suaranya masih terdengar berat. "Dan aku harus lebih kuat. Aku tidak bisa diam saja, Peter. Aku harus mencari bukti bahwa Mario adalah dalang dari semua ini."
Peter mengangguk. "Apa pun yang kamu butuhkan, aku akan membantumu. Tapi untuk sementara, tunggu aba-aba dari Pak Roni. Dia lebih profesional dalam melakukan penyelidikan. Sementara waktu, biar aku yang antar jemput Alesia."
Olive menatap adiknya dengan penuh rasa syukur." Terima kasih Pete, kamu adik yang baik."
"Sama-sama mbak, oh ya kondisi perusahaan kira-kira gimana ya? Aku baca di media online kalau ada demo besar-besaran menuntut Pak Aarav di menutup perusahaannya karena terlibat masalah hukum."
"Apa?"
***
Bersambung ...