"Kamu tidak perlu bertanggung jawab. semua yang kamu takutkan tidak akan terjadi,"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arzeerawrites, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Levin malu
"Levin, Ini sudah pagi kamu tidak bekerja?"
Alona mennyentuh lengan suaminya, namun tidak ada pergerakan apapun yang terlihat.
"Levin cepat bangun!"
Kali ini Alona melakukannya lebih kencang hingga Levin merasa kesakitan di lengannya. Ia menatap marah pada Alona.
"Kenapa harus sekasar itu membangunkanku? Tidak ada cara lain?"
Ucapan Levin membuat Alona bersungut-sungut seraya menarik selimut dari atas tubuh suaminya itu untuk Ia lipat.
"Aku hanya menyentuh lenganmu. Jadi tidak perlu marah,"
Levin duduk seraya menyugar rambutnya yang sangat berantakan itu. Matanya masih terlihat sangat mengantuk. Alona terpaksa membangunkannya karena hari ini Levin harus bekerja.
"Tapi lenganku mau lepas kamu tahu? "
Alona membulatkan matanya terkejut. Memang Ia sekasar apa sampai Levin merasa lengannya akan lepas?
"Yasudah beruntunglah kamu hanya lengan yang mau lepas bukan kepalamu,"
Alona memutus perdebatan dipagi itu dengan membuat Levin semakin jengkel. Terlihat dari wajahnya yang semakin suntuk.
Tanpa berkata apapun lagi Levin bangkit untuk segera membersihkan dirinya dan pergi bekerja karena berada dalam radius yang sangat dekat dengan istrinya itu membuat kepalanya terasa ingin pecah. Masalah mereka belum selesai, Alona malah semakin membuatnya geram.
"Kopi atau susu?" Sambut Alona saat melihat suaminya yang sudah mendekati meja makan. Lelaki tampan itu memilih untuk duduk berjauhan dari istrinya.
"Kopi, kenapa masih bertanya bukannya sudah tahu kalau aku kurang suka dengan susu? Ya...wajar memang, kamu kan tidak menganggap pernikahan ini penting. Jadi hal yang menjadi kesukaan ku juga kamu anggap tidak penting," Ujar Levin dengan santai namun mampu membuat Alona tertegun. Perempuan itu menatap suaminya dengan pandangan terluka.
Ia bertanya seperti itu tujuannya hanya ingin menciptakan topik pembicaraan di antara mereka. Alona tidak menyangka Levin kembali membahas permasalahan mereka. Alona pikir, Levin akan berusaha untuk menyelesaikannya tanpa mengungkit kembali.
"Aku harus bagaimana lagi agar kamu mau memaafkanku, Levin?" tanya Alona seraya menatap suaminya dengan sendu. Belum ada tanda-tanda Levin akan memaafkannya. Jujur Ia lelah berada dalam situasi seperti ini. Ia merasa kehilangan sosok Levin yang biasanya selalu hangat terhadapnya.
"Kamu membuat aku kecewa. Jadi sekarang aku juga akan melakukannya,"
************
Sudah sebulan Alona kembali melanjutkan pendidikan sarjana nya yang tertunda karena keterbatasan ekonomi yang di alaminya. Berada dalam lingkup keluarga konglomerat, membuat Alona harus mampu membuat dirinya sejajar dengan keluarga suaminya.
Ketika Anita memintanya untuk menuntut ilmu kembali tentu saja Alona sangat bahagia. Karena dirumah Ia tidak ada pekerjaan apapun selain menyiapkan segala keperluan Levin.
"Seharusnya Istri harus pulang lebih dulu daripada suaminya,"
Alona yang baru memasuki rumah pun menghela napas pelan saat Levin menyindirnya seperti itu.
"Kelas aku baru selesai sekarang. Lalu aku harus apa?"
Levin menghidupkan televisi di ruang tengah tak ingin menatap perempuan itu.
"Sebelumnya aku sudah melarangmu untuk kuliah,"
Jujur Alona kesal dengan sikap Levin yang terlalu kekanakan seperti ini. Sebelum memutuskan untuk melanjutkan kuliahnya, Alona sudah meminta persetujuan dari lelaki itu. Namun sekarang apa yang terjadi? Levin seolah melarang Alona untuk kuliah.
"Kamu labil. Waktu itu kamu sudah mengizinkan aku. Sekarang kenapa marah-marah karena aku kuliah?"
Alona bergegas ke dapur untuk menuntaskan rasa dahaganya sekaligus berusaha menjaga emosinya dalam menghadapi Levin.
Setelah itu Alona duduk di meja makan untuk mengisi perutnya. Ia mengelilingi pandangannya ke segala penjuru.
"Mama dan Papa sudah tidur?" Tanya Alona pada suaminya. Alona menjelaskan penglihatannya. Ia kira Levin akan menjawab namun nyatanya, suaminya itu hanya mengangkat bahu acuh.
Giginya begemelutuk kesal. Tak ingin memikirkan sikap Levin, Alona memutuskan untuk mengisi piringnya dengan nasi dan lauk pauk yang tersedia di meja makan.
Beberapa menit mereka ada didalam suasana yang sunyi. Levin menghadapkan kepalanya ke belakang untuk melihat kegiatan istrinya itu yang terlihat sangat menikmati makanannya.
Merasa diperhatikan, Alona mengalihkan perhatiannya dari piring. Saat melihat Levin yang langsung kembali ke posisi semula dengan tergesa-gesa membuaat Alona ingin tertawa. Sebenarnya apa yang dilakukan Levin?
"Kalau mau makan bersama jangan malu-malu, Levin"
Levin tidak fokus pada tontonannya. Ia memaki dirinya sendiri yang tertangkap basah memperhatikan istrinya diam-diam saat sedang makan.
"Sial!!"
**************
Malu-malu kucing dia😂😂 jgn lupa dukungannya ya guiseee makasii
mampir jg di bukalah hatimu untukku
Gabungin ja thor sm MCH biar bareng sm triple A.
Khadziya ketinggaln jauh dech si triple A udh pd gede si dziya mlh msh baby 😂