Renita Rakhwati Putri, Gadis yang sudah siap menikah, namun tak kunjung ada laki-laki yang datang kepada nya. Hingga akhirnya, adiknya yang telah memiliki pasangan berniat untuk menikah muda.
Namun niat adik nya terhalang restu sang ayah. Karena ayah dari Renita masih percaya hal-hal kuno, dan menganggap adik yang menikah melangkahi kakak nya adalah suatu aib yang sangat memalukan dan melanggar adat.
Renita akhirnya di paksa menikah secepat nya, karena laki-laki calon suami sang adik sudah tidak mau menunggu lama lagi. Renita harus berkorban menikah cepat dan kilat demi sang adik.
Cerita lengkapnya akan temen-temen baca di naskah novel Ini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noktafia Diana Citra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 20
Jam 10 nanti, aku akan mengulang kejadian yang sangat menyakitkan dan meninggalkan trauma yang sangat mengerikan dalam hidupku. Kembali datang dan hadir dalam acara lamaran. Lamaran dengan laki-laki yang kali ini, aku tidak mencintainya, tidak mengenalnya, atau bahkan aku sama sekali tidak pernah melihat sekalipun wajah nya.
Aku memandangi wajahku yang terpantul di depan cermin meja rias kamarku. Aku hanya diam, melihat tukang rias panggilan memoles wajahku dengan berbagai alat makeup. Hari ini aku sangat tidak antusias dan tidak semangat, trauma itu masih tergambar jelas di ingatanku. Sangat mengerikan dan menyakitkan.
" Lipstik nya mau warna apa mbak Renita ?".
Tiba-tiba mbak-mbak tukang rias ini menanyakan warna lipstik yang ingin aku gunakan. Jangankan lipstik, jika bisa aku tidak udah berias seperti ini. Biarlah semua tahu, jika aku sangat terpaksa menerima lamaran ini. Biar mereka tahu, bahwa ini sangat sulit untukku. Jika tidak karena adikku Zaskia, aku tidak akan pernah mau berkorban sedemikian parah nya.
" Mbak ?!, mau warna apa mbak ?".
" Oh... i-iya. Terserah". Jawabku tergagap.
Tangan mbak perias ini sangat cekatan. Hanya dalam waktu beberapa menit, segala kesedihan, perih, rasa sakit, kecewa di wajahku begitu saja tertutupi dengan kedok riasan hasil karya tangannya. Tapi tidak dengan rasa trauma, mau bagaimana pun trauma itu masih sangat melekat jelas. Trauma itu masih sangat menyakitkan untukku. Aku melirik jam dinding yang tergantung di dekat pintu kamarku. Tiga puluh menit lagi, rombongan laki-laki bernama Hamzah itu akan datang kerumahku.
" Sudah selesai mbak, saya pamit keluar ".
" Te-terimakasih".
Benar saja, aku sudah berubah total. Wajahku dan tubuhku sudah lebih segar dilihatnya. Andaikan semua ini aku lakukan tanpa terpaksa. Aku jalani karena atas dasar saling cinta. Mungkin detik ini, jantungku sedang berdegup kencang karena bahagia. Bukan rasa nelangsa yang menyayat jiwa karena trauma. Tapi faktanya adalah kebalikan nya. Semua ini aku lakukan dengan terpaksa. Dan aku hanya mampu berdoa, agar laki-laki ini adalah laki-laki yang mampu membuatku jatuh cinta dan bahagia.
" Kak, mobil keluarga laki-laki sudah datang ".
Suara Adelia membuyarkan lamunanku. Aku tak bergeming. Aku masih terus menghadap kecermin dan membendung air mata.
" Kak ?. Kakak sangat cantik. Lebih cantik dari yang dulu ".
" Terimakasih Adel".
" Kak, Semoga mas Hamzah adalah laki-laki yang baik ya kak, laki-laki yang bisa membuat bahagia kak Renita di dunia dan akhirat. Adelia selalu mendoakan yang terbaik untuk kak Renita".
" Semoga saja ".
" Kak, kak Renita orang baik. Allah pasti akan kasih laki-laki yang baik untuk kak Renita ".
" Aamiin. terimakasih Adel ". Ucapku datar.
" Adeliaaa.... ?!. Suruh Renita untuk keluar". Suara ayah menggelegar.
Rupanya acara lamaran sudah dimulai. Dan aku harus segera hadir di tengah-tengah acara itu. Kaki ku sangat berat untuk beranjak dari tempat duduk ku. Aku sangat tidak ingin melakukannya lagi. Aku masih trauma, aku takut.
" Kak, ayok kak. Ayah sudah menyuruh kak Renita untuk segera hadir di acara lamaran".
Aku merasakan tangan Adelia mengangkat lengan tanganku. Aku ingin menolak, sangat ingin. Tapi rasa takutku pada ayah, dan rasa kasihanku pada Zaskia membuatku beranjak dengan berat dari tempat meja riasku. Aku berjalan keluar dari kamar sambil di gandeng oleh Adelia di sampingku. Aku hanya mampu pasrah, dan memperbanyak istighfar dalam hati. Aku lihat di halaman depan, ada beberapa mobil yang terparkir. Persis saat acara lamaran yang dulu. Aku duduk di samping ibu, aku menundukkan pandangan ku. Aku bahkan sudah tidak penasaran seperti apa rupa laki-laki yang hari ini akan melamarku.
" Baik, karena putri kami sudah hadir di tengah-tengah acara ini. Mari kita lanjutkan dengan acara inti nya saja, silahkan dari pihak keluarga nak Hamzah untuk menyampaikan maksud dan tujuan datang kerumah kami".
Aku mendengar ayah, membuka acara yang sempat terputus karena harus menunggu aku hadir di tengah-tengah mereka. Dan aku masih saja dalam posisi yang sama. Duduk dengan kepala tertunduk tak bersemangat.
" Baik, Bismillah.. tujuan kami datang ke kediaman bapak hari ini, tidak lain adalah untuk melamar putri sulung bapak yang bernama Renita Rakhmawati Putri untuk Putra sulung kami Muhammad Hamzah. Bagaimana ?, apakah dari pihak Putri bapak dan keluarga bapak menerima lamaran dari putra kami ?".
Kali ini aku mendengar suara dari seorang laki-laki yang sangat asing di telingaku. Laki-laki yang tidak lain adalah bapak dari laki-laki bernama Muhammad Hamzah itu.
" Bagaimana Renita ?, apakah kamu menerima lamaran dari nak Hamzah ?".
Ayah bertanya padaku. Menanyakan kesediaan ku untuk menerima atau menolak lamaran itu. Ini pertanyaan yang seharusnya sudah tidak perlu ayah tanyakan padaku. Aku bahkan sudah menolak jauh sebelum mereka semua datang kerumah. Tapi nyatanya ayah memaksa ku untuk menerima lamaran ini. Untuk apa ayah menanyakan pertanyaan yang tidak ada gunanya lagi untukku. Kalaupun aku menolak saat ini juga, akan banyak rasa sakit dan kekerasan yang akan aku terima. Dan aku takut, ibu harus merasakan nya juga.
" Re-re-renita, me-menerima lamaran ini ayah".
Aku dengan gugup dan terbata menjawab pertanyaan dari ayah. Aku masih menunduk. Bahkan setelah aku menyatakan menerima lamaran ini, aku masih saja belum ingin melihat seperti apa wajah Hamzah.
" Alhamdulillah..". Terdengar riuh ucapan syukur dari kedua belah keluarga.
" Baik, sekarang kita lanjutkan saja acara tukar cincin. Ibu dari pihak nak Hamzah akan memakaikan cincin pertunangan pada nak Renita. Dan sebaliknya, cincin untuk nak Hamzah akan dipakaikan oleh ibu dari pihak nak Renita. Silahkan dimulai ". Ucap ayah melanjutkan acara.
Aku berusaha mengangkat kepalaku. Mau tidak mau, aku harus memandang wajah ibu calon mertuaku. Aku harus tetap menghormati nya. Ibu mertuaku memegang tanganku dengan lembut.
" Nak Renita, semoga bisa langgeng dengan putra ibu. Semoga bahagia dunia akhirat ya nak".
" Aamiin, terimakasih ibu".
Cincin tunangan telah di sematkan di jari manis tangan kiri ku. Kini aku benar-benar sudah di lamar oleh laki-laki bernama Hamzah. Aku duduk kembali di samping ibu. Jilbab warna biru mudaku tertiup angin, hingga menghalangi wajahku.
" Maaf, bolehkah aku melihat wajah Renita ?".
Aku mendengar sosok laki-laki yang meminta ijin untuk bisa memandang wajahku. Memang sedari tadi, aku menundukkan kepalaku dalam-dalam. Ditambah, jilbabku yang menutupi bagian wajahku, karena tertiup angin. Aku kaget, dan sangat enggan untuk mengangkat kepalaku.
" Boleh, silahkan nak Hamzah. Renita, angkat kepala kamu. Biarkan calon suamimu melihat wajahmu".
Kali ini ayah yang memerintah kan padaku. Lagi-lagi aku hanya mengikuti perintah ayah. Aku dengan sangat berat mengangkat kepalaku.
" MasyaAlloh, cantik sekali. Sudah cukup Renita".
Hanya itu kata-kata yang aku dengar dari laki-laki bernama Hamzah. Dan aku langsung menunduk kan kepalaku lagi. Aku sangat enggan berlama-lama dalam situasi seperti ini.
" Renita, jangan menunduk terus. Ayok gantian. Sekarang kamu yang melihat wajah Hamzah". Ah, lagi-lagi ayah menyuruhku.
" I-i-iya ayah". Aku tergugup.
Aku memberanikan diri untuk mengangkat wajahku dan menatap wajah Hamzah. Laki-laki yang kini telah melamarku. Laki-laki yang akan menjadi suamiku. Ini kali pertama aku melihat wajah nya. Dia sosok yang sangat penyayang dan sabar, itu terlihat dari sorot matanya. Tampan, untuk ukuran laki-laki. Ya, Hamzah laki-laki yang tampan.
" Sudah cukup ayah". Ucapku sembari menunduk kembali.
Zaskia, cepatlah pulang. Kak Renita sudah ikhlas dilamar laki-laki yang baru pertama kali ini kak Renita lihat. Cepatlah pulang, kak Renita sudah berkorban untukmu. Ucapku dalam hati.
Acara lamaran itu diakhiri dengan penentuan tanggal pernikahan ku dengan Hamzah. Jantungku seolah berhenti berdegup, ketika keluarga Hamzah mengajukan untuk menikah dalam waktu empat hari lagi. Secepat itu kah ?. Kenapa harus terburu-buru ?. Rasanya ingin menangis. Kenapa tidak ada waktunya bagiku untuk menenangkan diri ?. Aku sangat berharap ayah atau ibu menolak rencana pernikahan yang terlalu cepat bagiku.
" Baik, kami setuju. Lebih cepat lebih baik".
Aku terkejut mendengar ucapan ayah, yang menerima rencana pernikahan yang kilat itu. Kenapa ayah tidak bisa memahami ku ?. Rasanya ingin menangis. Benar-benar seperti seorang tawanan. Aku tidak bisa menolak, aku hanya bisa terdiam dan mengikuti semua permainan ini.
Acara lamaran selesai pukul 12:00. Tepat setelah adzan Dzuhur berkumandang. Aku langsung undur diri dan menuju ke kamar. Aku mengunci kamarku, dan menjatuhkan tubuhku dengan keras di kasur. Wajahku kubenamkan pada bantal, dan aku menangis dan berteriak sekencang-kencangnya. Rasanya semua ini seperti siksaan bagiku. Dipaksa melawan rasa trauma, dan di paksa menerima lamaran, dan akan menikah dalam waktu kurang dari satu Minggu.
" Ini tidak mudah ya Allah. Renita lelah".
Ucapku di sela Isak tangisku.
Aku mendengar pintu kamarku di ketuk beberapa kali. Aku mengabaikan nya, aku masih hanyut dalam kepedihan meratapi nasibku yang tak karuan.
Belum apa" banyak bawangnya 😭
sukses
semangat