persahabatan segitiga antara Tobia, seorang laki-laki tampan cekatan dan penyayang yang sudah bekerja sebagai perawat dengan Mada, seorang gadis periang yg masih kuliah semester 5, mereka tumbuh bersahabat sejak Mada pindah rumah saat usianya 9 tahun. Akankah persahabatan ini berubah menjadi rasa lain atau akankah persahabatan ini menjadi aneh karena kehadiran dokter Harun diantara mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YoshuaSatrio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
sakit yang sama
Sejenak,,, mari kita flashback ke beberapa tahun lalu, dimana Harun masih awal-awal masuk kuliah.
Pagi itu, lalu lintas jalan hilir mudik, padat merayap. Harun adalah mahasiswa baru, di universitas Zhet. Mahasiswa kedokteran tepatnya.
Walaupun dia berasal dari keluarga yang luar biasa, dimana ayahnya adalah seorang dokter senior di rumah sakit keluarga yg didirikan oleh kakek buyut Harun, ia lebih memilih mengayuh sepeda untuk berangkat dan pulang kuliah.
Selain karena ia hobi bersepeda, juga karena jarak tempuh dari rumah menuju kampus yang tidak terlalu juah.
Namun pagi ini kondisi jalanan begitu padat. Macet terjadi dimana-mana. Hampir si setiap persimpangan, selalu terdengar kalimat makian dari seorang pengemudi kepada pengemudi lainnya.
Harun melipir berkayuh ditrotoar. Karena jalur lambat pun sudah tampak penuh dengan sepeda motor.
"Ei!!!!! Hei!!!!! Kamu yang naik sepeda!!!! Hei!!!!" samar-samar terdengar panggilan. Harun berhenti sejenak dan menoleh mencari sumber suara.
Seorang gadis memakai kemeja kotak-kotak gradasi orange dan hijau muda, dipadukan dengan celana jeans cutting pencil, tidak terlalu ketat, berjalan cepat menuju dirinya.
Harun masih terdiam memperhatikan si gadis yang tampak anggun dengan rambut terurai sebatas pundak.
“Kamu mahasiswa baru di Zhet kan? Aku nebeng ya. Macet banget jalanan.” Kata si gadis sambil melemparkan tubuhnya di dudukan belakang sepeda lipat milik Harun.
“Buruan, kayuh!!! Terlambat nanti.” Seru si gadis lagi sambil menepuk sedikit punggung Harun.
Harun refleks mengayuh sepedanya dengan mulut yang masih enggan bertanya.
“Eh, berhenti dulu sebentar. Tunggu ya. Jangan kemana-mana. Jangan ditinggal.” Ujar si gadis lagi memberikan aba-aba seenaknya.
Namun anehnya, Harun hanya menurut dan pasrah saja.
Tak lama, si gadis kembali dengan dua gelas es teh ditangannya kirinya.
“Kenalin dulu. Namaku Auristela, panggil saja Stela.” Kata si gadis sambil mengulurkan tangan kanan mengajak Harun bersalaman.
Harun menyambut tangan Stela.
“Aku Harun.” Jawabnya singkat.
“Aku tahu. Kita satu kelas kemarin. Kamu menjawab pertanyaan dosen dengan sangat detail. Kamu terkenal diantara kami para perempuan.” Ujar Stela.
“Haah?”
“Nih!! Minum dulu. Kamu pasti capek, mengayuh sambil mboncengin aku. Aku berat ya?” kata Stela seraya menyerahkan segelas es teh untuk Harun. Dan menyeruput es miliknya sendiri.
“Terima kasih.” Jawab Harun singkat, langsung meraih ea dari tangan Stela.
“Kenapa kamu ke kampus selalu pakai sepeda?” Stela bertanya.
“Rumahku tak jauh dari sini. Kamu kenapa malah jalan kaki?”
“Aku diantar sopir pakai mobil. Tapi karena macet, kamu lihat kan tadi. Terus aku lihat kamu, makanya aku minta turun, nebeng kamu deh.”
“Kita lanjut. Nanti terlambat.” Harun mengajak Stela melanjutkan perjalanan pagi itu ke kampus.
Tak lama mereka sampai di kampus.
Harun disambut meriah oleh kawan-kawannya yang tampaknya sudah menunggunya di loby.
“Wiiiih.... kawan kita sudah punya pacar aja nih....”seru salah satu temannya.
“Pacar?!” Harun terheran dengan sambutan kawannya itu.
“Tadi.... siapa yang bonceng kamu? Cantiknya luar biasa.” Seru yang lainnya.
“Namanya Stela. Dia teman kita kok.” Jawab Harun sangat santai.
Harun dan kawan-kawannya berjalan menuju kelas.
“Kok bisa berangkat bareng?” temannya masih tampak penasaran.
“Apa sih. Nggak penting. Buruan kita masuk. Agak terlambat kita.” Harun tak begitu menghiraukan ocehan penasaran kawan-kawannya.
Sejak hari itu, Harun dan Stela semakin dekat, terlebih karena mereka sering mengerjakan projek dan tugas-tugas kuliah bersama.
.........
Singkat cerita, suatu sore setelah kelas kuliah selesai, Harun berjalan sedikit lunglai menuju parkiran sepeda.
Namun lengannya ditarik Stela dengan paksa.
“Temenin bentar di perpus yuk.”
Harun tak mampu mengelak ajakan gadis cantik itu.
Sampai di perpustakaan, Stela dusuk di bangku dekat jendela, lalu berpangku tangan di meja.
“Oi!! Kenapa malah merem?” tanya Harun penuh keheranan.
“Tolong... jagain aku. Lima belas meniiiit saja. Aku ngantuk banget. Oke,,, please... lima belas menit saja.” Kata Stela memohon.
Harun menghela nafas melihat tingkah random Stela.
Tanpa banyak lagi bertanya, Harun hanya bisa memperhatikan wajah Stela yang tertidur pulas.
Tanpa disadarinya, ia tersenyum saat memperhatikan wajah ayu di depan matanya itu.
“Tilililit...tililililit...tililililit....” Harun terkejut dengan suara alarm dari jam tangan yang dipakai Stela.
Perlahan Stela membuka mata, lalu menggeliat meregangkan kedua tangan dan tubuhnya.
Stela melihat jam ditangannya dan menekan tombol agar bunyi alarm berhenti.
Harun memalingkan pandangan, ia tampak salah tingkah di depan Stela kala itu.
“Makasih ya... Hmmm.... aku lapar. Kita makan dulu ya.” Seru Stela sambil memegangi perutnya yang tampak rata.
Stela beranjak dan dengan sesuka hatinya menarik lengan Harun.
“Oh ya, sebagai informasi saja, tempat tadi itu adalah tempat favoritku kalau main-main di perpustakaan. Jadi kalau kamu mau duduk di sana, ijin dulu sama aku. Oke?” ujar Stela saat mereka berdiri tepat di pintu keluar perpustakaan.
Saat itulah, bahu kanan Harun tersenggol dengan sangat keras, oleh seorang kawan yang dulu baik dan sangat dekat padanya, namun entah kenapa tiba-tiba menjauhinya.
“Jangan berhenti di tengah jalan..” ujar Yaksha , kawan Harun, dengan raut wajah sangat tidak bersahabat.
“Yaksa!!!! “ Harun memanggil berniat menyapa temannya itu. Namun Stela menariknya.
“Kamu nggak apa-apa kan?” Stela nampak khawatir.
Harun mengangguk pelan sambil menghela nafas.
........
Keesokan harinya, saat Harun sedang sarapan di rumahnya, ponselnya berdering.
Ada panggilan dari salah satu temannya.
“Kau sudah dengar kabar? Yaksha meninggal.” Suara dari teman baiknya itu membuat mata Harun yang tadinya penuh semangat, menjadi terbelalak dengan sayu.
“Jangan bercanda.”
“Kalau tidak percaya, ke rumahnya sekarang. Kami perjalanan dari rumah sakit.”
Yaksha adalah teman yang sangat baik bagi Harun. Namun akhir-akhir ini, sikap Yaksha sangat berubah.
Yaksha lebih sering menyendiri dan melarikan diri dari teman-temannya.
Padahal sebelumnya, Yaksha lah yang selalu hadir paling pertama, jika salah satu temannya membutuhkan bantuan.
Buru-buru Harun menuju ke rumah Yaksha, tanpa menghabiskan sarapannya.
Harun mengayuh sepedanya dengan sangat cepat. Ia menggila saat membayangkan sahabatnya mengalami hal buruk tanpa sepengetahuannya.
Sampai di rumah Yaksha, tampak orang-orang sudah berkerumun.
Harun melempar sepedanya begitu saja, dan berjalan semakin gila masuk ke dalam rumah Yaksha.
Disana, semua kawan satu geng nya susah berkumpul mengelilingi jasad Yaksha yang terbujur kaku salam peti mati.
Suasana duka dipenuhi isak tangis.
Harun pun tak sanggup menahan air mata dan tangis lelakinya.
Di dalam peti mati yang masih terbuka, terbujur disana kawan baiknya, sahabat baiknya, dengan kepala bersih tanpa ada sehelai rambutpun. Disamping kepalanya, diletakkan wig berwarna hitam, dan topi hitam.
Tak ada satu pun kawan yang menyadari ada yang berubah dari Yaksha.
Tak ada yang tahu, alasan akhir-akhir ini Yaksha tiba-tiba suka pakai topi.
Dibalut dengan setelan jas berwarna hitam, dan dasi abu-abu hadiah ulang tahun dari kawan-kawannya saat hendak wisuda sekolah menengah atas tahun lalu.
Yaksha tampak seperti orang yang sedang tertidur pulas.
Diguncangkannya jasad sahabatnya itu. Tangis pilunya pecah. Membuat semua kawannya mendekat, merangkul dan menenangkan Harun.
“Kalian jangan bercanda!!! Kemarin aku masih melihatnya baik-baik saja!!!” Harun tampak kalap.
“Harun... kita tidak bisa apa-apa. Ternyata selama ini dia sakit. Dia menyembunyikannya dari kita.” Kata seorang temannya sambil terisak juga.
Harun tak kuasa menahan tubuhnya. Ia terduduk di samping peti kawan baiknya itu. Seluruh temannya merangkulnya .
Semua menggila dengan tangis kehilangan yang tak mampu tergambarkan.
Pertemanan mereka sangat dekat semenjak masih duduk di bangku sekolah menengah.
Diantara mereka,Yaksha adalah satu-satunya yang sangat berbakat menggambar.
Ketika ada tugas yang berhubungan dengan menggambar, Yaksha tak segan membantu temannya satu per satu.
.......
Setelah selesai upacara pemakaman, Harun tidak segera pulang. Ia masih memiliki banyak pertanyaan.
“Harun... Tuhan lebih menyayanginya. Kita harus belajar merelakannya. Meskipun sangat berat.” Kata ibunya Yaksha dengan kepiluan dan kepedihan yang sangat dalam.
Seorang ibu tidak akan dengan mudah merelakan kepergian putranya. Namun karena Tuhan lebih berkuasa, sebagai manusia, hanya harus berusaha menerima dan melanjutkan hidup yang masih tersisa.
Ibunya Yaksha, mengusap lembut air mata Harun, lalu menepuk pundaknya.
“Tengoklah kamarnya, dan ucapkan perpisahan padanya. Ambil waktumu sepuasmu. Jika masih kurang cukup, kamu boleh menginap seperti dahulu.”
Kata sang ibu sambil membersihkan air mata yang terus mengalir di pipinya.
Hal yang sama juga terjadi pada Harun. Air mata dan ingus, terus mencair dan meleleh. Sangat merepotkan.
Hatinya sangat kacau. Banyak sekali hal yang belum sempat ia selesaikan dengan Yaksha.
Kenapa tiba-tiba menjauh dan menjadi asing....
Kenapa tidak ada lagi sapaan ramah dan hangat dari Yaksha...
Kenapa tidak ada lagi spam-spam pesan lucu kelakaran Yaksha...
Kenapa tidak ada lagi permintaan “nginep dirumahku ya... kita maen game sampai pagi.”.....
Kenapa tidak ada lagi pedmintaan konyol “kenalin cewek dong... pengen pacaran.”
Kenapa tidak ada lagi rengekan. “Bantu aku kenalan sama cewek itu. Cantik banget.”
Kenapa tidak ada lagi si pembawa kabar hot “guys... tadi ada cewek cakeeep banget. Gua dapat ig nya. Siapa yang mau kenalan duluan?”
Kalimat yang sering diucapkan Yaksha terus berputar-putar dikepala Harun.
Menggerogoti seluruh emosinya saat itu. Sambil terisak, Harun membersihkan air mata yang teras saja mengalir, ia berjalan lunglai sedikit ragu menuju kamar Yaksha.
Kamar yang biasanya ia pun tidur di sana saat Yaksha memanggilnya. Entah karena game baru, entah karena tugas sekolah atau tugas kuliah. Entah hanya karena bualan-bualan Yaksha tentang wanita-wanita yang diinginkannya.
Perlahan dibukanya kamar Yaksha. Tak ada yang berubah.
Semua masih tertata rapih ditempatnya.
Kaset-kaset jadul, berisikan lagu-lagu tahun 90-n masih tertata rapi si rak dinding yang mereka buat bersama.
Hobi mereka saat itu sama-sama menyukai musik-musik laqas yang sangat nyaman didengar ditelinganya.
Gitar usang pun masih tergantung di samping rak kaset.
Diatas meja belajar Yaksha, ada sebuah buku sketsa yang selalu dibawa yaksha kemana-mana.
Harun duduk, dan membuka lembaran demi lembaran buku sketsa itu.
Halaman pertama, gambaran indah pemandangan pantai . Meski hanya digambar dengan teknik arsiran pensil, namun gambar itu tampak hidup.
Namun, menatapnya saja, menimbulkan kesan perasaan kosong dan kesepian di sana.
Halaman kedua, gambar sketsa kebersamaan geng mereka. Dalam sketsa itu, tampak semua tertawa dalam kebersamaan.
Air mata Harun semakin tak beraturan. Ia merasa bersalah, tidak pernah peka dan memperhatikan sahabatnya itu.
Lembaran selanjutnya, ada gambar sketsa wajah wanita ayu, yang tentu saja membuat Harun semakin hancur dan larut dalam tangis.
Sketsa wajah Stela. Semakin dibuka halaman selanjutnya, hanya berisi wajah Stela dengan berbagai macam ekspresi.
Dihalaman terakhir, ada tulisan Yaksha.
.....
“Kawan....
Sepertinya, kita harus berkawan sampai kita nanti di akhirat.
Jadi, aku akan ke sana dulu, biar ku lihat dan kusiapkan tempat di sana.
Suatu saat, jika kalian datang, kupastikan akan menyambut kalian satu per satu, di tempat bersih.
Aku minta maaf, tidak sempat pamit.
Aku tidak mau kalian cengeng. Kita laki-laki brooo.
No women no cry.
Harun!!!
Jaga gadisku ya... aku sangat mengaguminya. Tapi sepertinya dia hanya melihatmu saja. Jadilah bahagia bersamanya. Aku tahu kamu juga menyukainya.
Tidak apa-apa. Giliranku nanti kalau kita sudah ketemu lagi.
Aku punya lagu untuk pertemanan kita. Kurekam di kaset usang yg kuberi tanda bintang.
Maaf, setelah kucari tahu, Auristela artinya Bintang emas. Jadi kutitipkan bintang emasku pada mu.”
....
Harun semakin kalap. Ia menggila. Tangis semakin pecah.
“Aaaarrrrrgh...!!!!!” Harun berteriak sekuat tenaga. Di pukul-pukulnya dada dan kepalanya sendiri. Dijambak rambutnya sendiri.
Harun benar-benar kacau saat itu.
Ayah, ibu dan adik laki-lakinya Yaksha masuk ke kamar Yaksaha. Mereka memeluk dan menenangkan Harun.
Kepiluan, kesedihan dan isak tangis kembali pecah. Seluruh emosi tercurah ke sana.
Harun tampak sangat marah dengan dirinya sendiri. Ia merasa sangat bersalah pada kawannya ini.
Ia sibuk mendekati Stela, tanpa peduli dengan kawannya yang ternyata juga mengagumi Stela.
“Dua bulan terakhir, dokter memvonis ada kanker di kepalanya.” Kata ayah Yaksha.
Harun menggigit ujung bibirnya. Adik laki-laki Yaksha yang saat itu masih berusia 11 tahun, memeluk erat tubuh Harun.
“Semua hal sudah dijalaninya. Tapi, ternyata dia memilih menyerah.”
Mereka kembali larut dalam kepiluan masing-masing...
.............
Kita kembali lagi ke atap gedung rumah sakit.
Dokter Harun tertegun sesaat, tanpa membalas pelukan Stela.
Ia menghela nafas, lalu menepis perlahan pelukan Stela.
“Stela… aku sangat menghargaimu. Tapi aku tidak bisa menerimamu dalam hidupku. Baik sekarang maupun nanti.”
Dokter Harun menghela nafas, sedikit menjauh dari Stela.
"Kenapa? Bukankah dahulu kamu juga pernah menyukaiku? Apa yang merubah hatimu sedemikian rupa?" Stela tampak menuntut penjelasan.
Dokter Harun kembali menghela nafas.
"Itu sudah sangat lama. Dan aku tidak bisa melanjutkannya. Sekarang, sudah ada yang kumiliki. Aku sangat bergantung padanya dan menyayanginya."
"Bagaimana dengan perjodohan kita?"
"Aku minta maaf, akan kulakukan hal yang kubisa, untuk menolaknya."
Stela tampak marah dan kecewa.
"Sebaiknya kita turun. Jika kamu sangat lelah. Kamu boleh pulang. Istirahatlah.
Rumah sakit ini membutuhkanmu esok hari."
Dokter Harun beranjak meninggalkan Stela yang semakin kesal.
"Sulit sekali, menembus dinding hatinya. Apa yang tiba-tiba merubahnya?" Gumam Stela.
Stela menggigit bibir bawahnya. Hatinya berantakan.
"Harus kucari tahu. Aku bukan anak kecil yang cengeng. Aku yakin, suatu saat kegigihanku akan meluluhkan hatinya." Serunya lagi.
Stela bangkit. Mengumpulkan diri lagi. Wanita tangguh ini benar-benar mulai memperlihatkan perjuanganny untuk mwraih hati Harun.
...****************...
to be continue...
ah tapi lucu
Makasih bang yosh,kereen novelnya
habis ini otw baca yang lainnya... apalagi yang burn out tuh,bikin penasaran 😄😄
maauu dong Tobia buat aku aja😂😂