Demi melunasi utang orang tuanya, Kinara rela mengorbankan dirinya daripada dipaksa menikah dengan pria tua. Dikhianati oleh pria yang dicintainya dan adik tirinya sendiri, ia memilih meninggalkan rumah untuk memulai hidup baru. Namun satu keputusan nekat mengubah segalanya, menyeretnya ke dalam takdir yang mengikatnya dengan pria paling berkuasa yang tak pernah ia bayangkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nesakoto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jauhi Dia
Drrtt... Drrtt... Drrtt...
Getaran ponsel memecah keheningan, membangunkan Kinara yang tertidur pulas di atas kasurnya.
Seperti putri dongeng yang baru bangun dari tidur panjang, ia mengerjapkan mata dengan malas. Tangannya yang lentik meraba ke sisi ranjang, mencari tas kecil yang ia letakkan di sampingnya semalam.
Dengan wajah setengah kesal dan mata yang masih setengah mengantuk, Kinara menatap layar ponselnya. Nama yang terpampang membuat alisnya langsung bertaut rapat. Papa. Lagi-lagi.
Mau tidak mau, ia mengangkat. Baru saja hendak menyapa, suara keras langsung memotongnya.
“Kamu ini gimana sih, hah? Orang tua telepon dari pagi nggak kamu angkat, malah kamu tolak-tolak. Mau jadi anak durhaka kamu?” Bentak Arbian dari seberang.
Kinara menutup telinganya sebelah, malas mendengar nada tinggi itu. “Kalau Papa telepon cuma buat marahin aku, mending aku matiin aja sekarang.”
“Jangan kurang ajar kamu Kinara!” Sergah Arbian. “Dengar baik-baik. Malam ini, kamu datang ke rumah. Ada yang mau Papa bicarakan denganmu dan juga Diana. Awas kamu nggak datang, Papa tunggu. Jangan telat!”
Tut... tut...
Sambungan telepon terputus begitu saja, bahkan tanpa memberi Kinara kesempatan bicara sedikitpun.
“Dasar orang tua!” Kinara merengut, menatap layar ponsel yang kini gelap. “Baru juga mau nanya, udah diputusin duluan.l!”
Ia menoleh ke jam dinding. Jarum panjang menunjuk angka enam lewat lima belas menit. Ternyata ia tertidur sudah beberapa jam. Dengan malas ia merenggangkan tubuh, lalu bangkit dari kasurnya
Kekacauan pakaian yang semalam ia hamburkan masih memenuhi lantai. Satu per satu ia punguti, melipat dengan gerakan asal, hingga tiga puluh menit kemudian apartemen kecil itu kembali rapi.
“Ahhh, akhirnya selesai juga.” Gumamnya sambil mengusap keringat di kening. “Saatnya mandi!”
Disaat yang sama di ruang tamu megah keluarga Arbian, Rani menghampiri suaminya yang baru saja menutup telepon.
“Gimana, Pa? Udah ditelepon Kinaranya?” Tanyanya penuh harap.
Arbian mengangguk singkat. “Sudah Ma.”
“Apa jawabannya?”
Arbian menghela napas. “Papa nggak kasih kesempatan dia banyak untuk bicara. Papa putus sambungan langsung. Kalau nggak, bisa-bisa dia nggak mau datang kesini.”
Jawaban dari sang suami membuat Rani tersenyum puas. “Bagus, Pa.”
“Diana mana?” Tanya Arbian, melirik ke sekitar ruang tamu yang luas namun terasa cukup sepi.
“Masih di kampus Pa. Ada kegiatan katanya tadi sore, tapi palingan sebentar lagi pulang.”
Baru saja Rani selesai bicara, pintu rumah terbuka. Diana masuk dengan wajah kusut, pundaknya lemas.
“Diana, sayang... kamu kenapa kok muram begitu?” Rani cepat menghampiri.
“Ini loh, Ma. Aku masih kesal sama Bayu. Gara-gara dia, acara makan malam kita berantakan. Terus dari tadi dia nelponin aku terus. Waktu aku lagi kuliah, karena handphoneku bunyi terus jadinya aku kena tegur dosen.” Diana mendengus, wajahnya merah karena jengkel.
Rani mengusap pundak putrinya, menenangkan. “Sudah, jangan dipikirkan. Kamu naik dulu ke kamar, bersih-bersih. Setelah itu kamu langsung turun ya. Ada yang mau Mama dan Papa bicarakan sama kamu dan Kinara.”
Diana sempat mengernyit. Namun ketika Rani mengedipkan sebelah mata, seolah memberi kode, Diana langsung mengerti. Senyum tipis merekah di bibirnya, menggantikan ekspresi kesalnya. Dengan langkah ringan ia naik ke atas, jauh berbeda dari suasana hati sebelumnya.
Rani menoleh pada suaminya dengan penuh keyakinan. “Tuh kan, Pa. Kalau Bayu terus sama Diana, kuliah anak kita bisa-bisa terganggu terus. Makanya lebih baik Bayu kita pasangkan lagi dengan Kinara. Renald biar jodohkan dengan Diana.”
Arbian mengangguk mantap. “Kamu benar, Ma.”
Pelukan hangat Rani segera melingkari pinggang suaminya. “Makasih ya, Pa.”
Sementara itu, Kinara yang baru saja selesai mandi, duduk di tepi ranjang. Rambutnya masih lembap, sesekali ia mengeringkannya dengan handuk kecil. Saat itu juga pandangannya langsung tertuju pada ponsel yang tergeletak di atas ranjang.
Seketika ia teringat telfon mengenai lowongan kerja yang belum tuntas karena kedatangan Renald kemarin. Ia pun langsung mencari kontak yang sudah ia simpan dan menekan tombol panggil.
“Halo, Harmos Club di sini. Ada yang bisa dibantu?” Suara ramah terdengar dari seberang telepon.
“Halo, Pak... Saya yang kemarin menelfon dan menanyakan perihal lowongan kerja.”
“Oh, iya. Jika Anda berminat, silakan datang besok malam. Bawa CV dan juga berkas lamaran.”
“Baik, Pak. Besok saya akan datang. Terima kasih sebelumnya.”
“Ya, kami tunggu.”
Sambungan langsung terputus. Kinara memeluk ponselnya erat. “Semoga ini bisa jadi jalan baru buat aku." Bisiknya.
Setelahnya, ia pun langsung bersiap untuk menuju ke rumah Arbian. Beruntung jalanan di malam itu cukup lengang, sehingga perjalanannya hanya memakan waktu sekitar dua puluh menit.
•••
“Pa, ini udah lewat jam tujuh. Kinara kok belum datang juga? Jangan-jangan dia nggak jadi datang?” Rani mulai gelisah, mondar-mandir di ruang tamu.
“Sabar, Ma. Mungkin masih di jalan karena macet.”
“Macet dari mana, Pa? Dia kan kemana-mana selalu naik motor bututnya itu . Lagian juga tinggal nyelip aja kalau pakai motor, kalau pakai mobil baru beda!” Diana ikut menyahut sinis, baru saja turun dari kamarnya.
Arbian mengibaskan tangan. “Udah, tenang. Bentar lagi juga juga sampai.”
Dan benar saja, suara motor yang berhenti terdengar di halaman rumah. Tak lama, Kinara masuk dengan wajah tenang. Sementara Rani dan Diana menyambutnya dengan tatapan kesal.
“Jadi, ada apa Papa manggil aku?” Tanyanya langsung duduk, tanpa basa-basi.
Sikap Kinara membuat rahang Arbian mengeras. “Kamu datang-datang bukannya salam, malah langsung duduk kayak gitu. Nggak sopan kamu sama orangtua!” Hardiknya.
“Sudah, Pa.” Rani dengan cepat menenangkan, meski ia juga cukup marah dengan sikap yang ditunjukkan oleh Kinara. “Langsung saja, Pa.”
Tatapan Arbian kini mulai terlihat serius. “Papa manggil kamu karena ada yang harus kamu lakukan. Mulai sekarang, jauhi Renald!”
"Papa bilang apa barusan? Aku harus jauhi Renald?” Ulang Kinara.
“Betul. Papa tidak mau kamu dekat-dekat sama dia lagi!”
Kinara terkekeh sinis. “Apa aku nggak salah dengar Pa? Sejak kapan Papa peduli sama aku sampai ngatur siapa yang boleh dekat dan nggak boleh dekat denganku?”
“Jangan membantah!” Suara Arbian meninggi. “Papa serius. Kamu harus jauhi dia, karena Papa akan menjodohkan Renald dengan Diana. Dan Bayu... akan kembali bersama kamu."
Kata-kata itu membuat rasa benci di hati Kinara pada keluarganya semakin bertambah. Ia menatap Arbian, lalu melirik adik tirinya yang kini tersenyum penuh kemenangan.
Dalam hati, Kinara tentu saja ingin menjauhi Renald. Namun untuk kembali dengan Bayu, sampai kapanpun dirinya tidak mau.
"Seandainya pun bisa menjauh dari Renald, mungkin aku sudah melakukannya sejak awal. Tapi bagaimana mungkin, kalau aku masih terikat kontrak dengannya?" Batinnya menatap tajam ke arah Papanya.
Setelah kalimat yang dilontarkan oleh Arbian, ruangan mendadak hening. Hanya suara detak jam dinding yang terdengar. Diana memandang Kinara dengan tatapan meremehkan, seolah sudah menang. Rani meremas tangan Arbian, senang rencananya berjalan mulus.