Ini bumi dimana tradisional dan modern bergabung.
Ramainya upacara pernikahan adat bergabung dengan tradisi pedang pora malam ini turut menjadi saksi bisu kealpaannya. Tanpa sengaja Letnan muda itu mabuk karena ulah para rekannya. Lebih parahnya lagi ia menyentuh seorang gadis yang sama sekali tidak di kenalnya.
Beberapa tahun berlalu, takdir mempertemukan dirinya dengan seorang anak laki-laki yang mirip dengannya. Matanya, hidungnya, bibirnya sampai perawakan tubuhnya bahkan sifat garang dan pemberaninya sangat mirip dengan dirinya.
"Saya terpaksa mencarimu."
"Apa kita pernah saling kenal?"
"Secara langsung tidak, tapi anak ini menuntunku agar kita saling kenal." Jawab wanita tersebut. "Pendopo kesultanan, usai pernikahan seniormu."
"Kamu.. gadis yang malam itu........."
.
.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NaraY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20. Tetap mencari jalan keluar.
Bang Bija cemas bukan main melihat keadaan Laras. Sedari tadi dirinya mondar mandir tidak jelas di depan ruang tindakan rumah sakit. Keadaan yang berantakan ini membuat Laras banyak pikiran hingga menjadi stress.
Ckkllkk..
"Bagaimana kondisi adik saya dok?"
"Bu Laras sangat butuh ketenangan. Sekarang sudah bisa istirahat..!!"
//
Di dalam tempat penahanan Bang Seno, pria itu pun tidak bisa tenang. Hatinya ikut gelisah, ia juga merasakan hal yang sama sapa Laras. Berbagai macam persoalan membuat dadanya pun terasa nyeri, nafasnya penuh sesak. Tekanan batin dan mental juga memukul jiwanya. "Bagaimana kamu disana disana dek?? Apa kamu baik-baik saja??" Gumamnya.
Setelah terdiam beberapa saat, Bang Seno keluar dari ruangan dan segera menemui petugas piket jaga. Atas permintaan khusus dari Pak Ranjha, Bang Seno sedikit mendapatkan keringanan untuk bisa menghirup udara segar meskipun hanya sampai tengah koridor jaga saja.
""Bisa saya minta tolong?"
"Siap. Arahan Dan..!!"
"Tolong hubungi Letnan Girish..!!" Pinta Bang Seno.
"Siap Dan..!!"
...
"Kamu jangan terus cari perkara Sen. Bukankah kamu tau sendiri bagaimana kesalnya Bang Bija sama kamu. Urusanmu dengan Inka belum selesai. Masih dalam proses, sabarlah sedikit Sen."
"Lalu bagaimana dengan perut Laras yang semakin membesar?? Aku sudah susah payah membuatnya." Kata Bang Seno. "Sudah dua bulan Rish. Tujuh bulan lagi anakku lahir."
"Kau sendiri yang berbuat tanpa berpikir, sekarang sudah kejadian begini malah kau seret aku ke dalam masalahmu." Tegur Bang Girish lalu melempar empat kotak rokok untuk sahabatnya. "Urus saja masalahmu sendiri..!! Aku mau kerja..!!"
"Kau tega Rish? Sudah jadi anak begini."
Bang Girish mengusap wajahnya, memang segala yang terjadi pada Bang Seno bukanlah hal yang mudah untuk di rasakan. Tapi harus di akui, littingnya itu sangat berani mengambil keputusan darurat meskipun pada akhirnya akan terjadi hal seperti ini.
"Pot..!!"
"B*****t." Hanya umpatan itu saja jawaban dari Bang Girish dan Bang Seno tau, seorang Girish tidak akan menolak permintaannya.
...
Bang Bija tersenyum sinis mendengar ucapan Bang Girish yang datang padanya untuk menyampaikan maksud dan tujuan.Bnag Seno padanya.
"Katakan kembali padanya, saya tidak akan menerima lamaran dia untuk adikku..!!" Tolak Bang Bija mentah-mentah. "Jika memang dia merasa sangat bersalah dengan tindakannya, kenapa hal yang sama bisa terulang untuk kedua kalinya."
"Ijin Abang. Semua sudah terjadi. Hemat pikir saja mudah-mudahan Abang berkenan menikahkan mereka."
"Eehh.. kau dengar ya Girish..!! Aku masih mampu menafkahi Laras, Gilang dan anaknya yang masih ada di dalam kandungan, tidak perlu ada Seno."
"Poin pentingnya bukan disana Bang. Gilang dan adiknya butuh figur seorang ayah yang tidak pernah di rasakannya selama ini. Abang mungkin bisa menghidupi mereka soal materi, tapi jarak tetap memisahkan bagi mereka yang butuh bimbingan dan kasih sayang seorang ayah secara langsung. Pernahkah terpikir di benak Abang.. Laras juga butuh belai sayang dan perlindungan dari laki-laki." Kata Bang Girish.
"Kembalilah pulang dan urus saja istrimu yang sedang hamil. Biar Laras saya yang tangani..!!"
"Baik.Abang. mohon ijin untuk meninggalkan tempat..!! Namun perlu Abang ingat, satu kali sanksi sosial pernah Laras dapatkan. Apakah Abang akan membiarkan Laras di kecam dalam lingkungan untuk kedua kalinya???" Bang Girish memberi hormat pada seniornya lalu melangkah pergi. "Ijin.. satu lagi Abang, tolong tidak mengedepankan emosi karena kita semua mencari solusi. Ingat Laras, ingat juga calon bayinya..!!"
Bang Bija mengusap wajahnya dengan gusar, sungguh segala kejadian ini juga membuat hatinya sangat sakit. Ia tidak berniat untuk egois menghadapi masalah ini tapi semua orang pasti paham bagaimana perasaannya saat ini. Dirinya begitu kecewa pada Bang Seno yang sudah berbuat di luar batas.
Tak lama datang langkah kecil, ribut dan sangat khas. Pria kecil yang sedang bergandengan tangan dengan pria dewasa dan wanita dewasa. Gilang datang bersama Om Syahrial dan tante Elya.
"Daddy..!!" Sapa Gilang.
Seperti biasa Bang Bija langsung menggendong keponakan kecilnya. "Hai ganteng.. kenapa kesini? Seharusnya tunggu di rumah saja le." Kata Bang Bija.
"Gilang mau lihat Mama. Apa Mama sudah sembuh?" Tanya Gilang.
"Belum." Jawab Bang Bija singkat. Ia pun tak tau harus menjawab apa tentang pertanyaan bocah sekecil itu. Sakit Mamanya bukan karena medis dan tak tau bagaimana mencari obatnya.
"Apa Gilang nakal?" Tanya Gilang lagi. "Abang nggak akan tanya kemana Papa pergi. Mama pernah bilang, Papa punya adik Zea yang harus di sayang. Abang sudah ngalah khan Dad?"
Bang Bija mengusap wajah Gilang. Matanya tertutup cairan menggenang di pelupuk pupil. "Iya, Abang laki-laki yang hebat. Terima kasih banyak perjuangannya, sudah banyak mengalah.
"Tapi.. kalau bolehkah Abang kangen Papa?"
Kali ini Bang Bija tidak sanggup menahan air matanya. "Iya.. boleh." Jawabnya meskipun tidak sesuai dengan hatinya.
.
.
.
.
jadi bacanya gak tegang amat..🙏🙏
cerita nya bikin hatinano2