NovelToon NovelToon
Balqis Untuk Baim

Balqis Untuk Baim

Status: tamat
Genre:Romansa / Tamat
Popularitas:141k
Nilai: 5
Nama Author: Sasa Al Khansa

Putri Balqis yang biasa di panggil Balqis adalah gadis muda yang hidup sebatang kara.Gadis cantik dan lemah lembut yang tidak pernah tahu siapa orang tuanya karena ia hidup di besarkan oleh seorang nenek yang menemukannya saat bayi. Hingga akhirnya ia hidup seorang diri setelah sang nenek meninggal.

Muhammad Ibrahim atau yang lebih dikenal dengan panggilan Baim adalah seorang pemuda yang memilih hidup di jalan daripada di rumah. Meninggalnya sang ibu dan merasa ayahnya lebih sayang pada sang kakak membuatnya menjadi pemuda pemberontak yang tidak mau di atur hingga ia memilih menjadi bagian dari geng motor.

Baim jatuh cinta pada Balqis yang telah menolongnya dari pengeroyokan yang menimpanya.

Bagaimana kehidupan keduanya selanjutnya setelah pertemuan hari itu?

Happy Reading!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sasa Al Khansa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BUB 20 Alun-alun Kota

Balqis Untuk Baim (20)

Brakkk

Balqis menutup pintu dengan kasar saking malunya.

Baim terkekeh. Balqis benar-benar menggemaskan.

"Malam ini sepertinya aku tidak bisa lagi menahan diri." Baim tersenyum mengingat bertapa cantiknya Balqis.

💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞

Setelah tertunda beberapa waktu, akhirnya Baim dan Balqis makan siang. Balqis cukup canggung saat ia berhadapan dengan Baim di meja makan. Bahkan, saat shalat berjamaah pun Balqis tidak banyak bicara.

Walaupun canggung, Balqis tetap melayani Baim. Mengambilkan makan untuk Baim.

"Kenapa diam saja?," Baim yang sudah selesai makan pun bertanya.

" Tidak apa-apa."

" Apa karena tadi ?" Wajah Balqis merona karena malu.

" Tidak usah malu. Kita sudah suami istri."

Balqis pun mengangguk.

"Sore ini mau pergi belanja bahan makanan. Kebetulan tidak ada bahan makanan di kulkas." jelas Baim.

"Lalu makanan ini?"

"Itu di masak seseorang dan dikirim ke sini." jelas Baim.

Balqis diam. Ia merasa suaminya benar-benar memiliki banyak rahasia. Lebih tepatnya, ia yang tidak tahu apa-apa.

"Sebenarnya Abang itu bukan anak jalanan kan ?" Balqis memberanikan diri untuk bertanya.

"Sebelumnya, tidak. Karena suatu hal aku hidup di jalan."

"Jadi, Bang Baim sebenarnya anak orang kaya?" tanya Balqis lagi.

" Tidak juga. Aku merasa biasa saja." jawab Baim ambigu.

"Abang janji untuk jujur saat aku bertanya loh." Balqis mengingatkan.

"Baiklah. Kamu ingin tahu semua tentangku?" Balqis mengangguk dengan antusias.

"Malam nanti, aku akan menjawab apapun pertanyaanmu. Tapi, sore ini kita jalan-jalan dulu ya. Cari angin. sambil belanja keperluan kita."

"Baiklah."

Sore harinya, sesuai janji Baim keduanya pergi jalan-jalan. Baim memberikan sebuah jaket yang warnanya serupa dengan milik Baim.

"Pakai ini, kita akan naik motor." Ucap Baim.

"Kita pinjam motor siapa?,"

"Aku pinjam motor Pak Joni. Tetangga sebelah."

Balqis hanya mengangguk.

Di depan rumah, sudah terparkir sepeda motor matic berwarna hitam. Baim mengambil helm berwarna putih dan membantu Balqis memakainya. Sementara Baim sendiri memakai helm warna hitam.

Setelah menstarter motornya, Baim menyuruh Balqis naik.

"Jangan lupa pegangan."

"Iya." Balqis langsung memeluk pinggang Baim. Baim pun tersenyum.

"Kamu mau aku ajak kemana dulu?" tanya Baim.

"Ke alun-alun kota yuk, Bang?." Entah kenapa Balqis rasanya ingin menikmati suasana alun-alun kota di site hari.

"Ok." Baim langsung menjalankan sepeda motornya.

Motor pun melaju keluar rumah. Jalan tampak sepi karena masih berada di sekitar perumahan. Rumah yang mereka tempati memang berada di salah satu perumahan di kota itu. Bukan perumahan elit tapi, cukup nyaman sebagai tempat tinggal.

Baim pun tersenyum mengangguk kepada satpam yang berjaga di pos satpam yang ada di gerbang.

Satpam yang cukup berusia itu membalas senyuman Baim.

Memasuki jalan raya, jalanan mulai padat merayap. Mereka pun terhenti saat lampu merah.

"Bang, masih jauh ya?" tanya Balqis penasaran. Mereka sudah berkendara selama setengah jam.

"Tinggal belok kanan di depan. Kita sudah sampai." Jawabnya sambil menggenggam tangan Balqis yang melingkar di pinggangnya dengan tangan kirinya.

"Bang, lampunya sudah hijau." Balqis menyadarkan Baim yang malah asyik meremas tangan Balqis.

Akhirnya, mereka punya sampai di alun-alun kota yang cukup ramai. Balqis pun turun dan lagi-lagi Baim membantu Balqis melepaskan helmnya dan membantu Balqis merapikan kerudungnya.

"Sudah cantik." Ucap Baim.

"Ish ." Balqis mencebik. Ia merasa malu.

"Aku makin suka saat kamu malu-malu begitu,Qis. Kamu menggemaskan." Baim tidak malu mengatakannya di depan orang-orang yang sedang lalu lalang.

"Bang, Malu ih "

Baim hanya tertawa. Ia langsung menggenggam tangan Balqis dan mengajaknya semakin masuk ke dalam alun-alun.

"Bang, ATM jauh gak ya dari sini. Aku mau ngambil uang dulu." Balqis baru ingat uangnya yang adadi dompet hanya sedikit. Sementara ia melihat ada stand buku yang menarik perhatiannya.

Balqis memang selalu menyempatkan menabung di bank. Untuk kebutuhan sehari-harinya ia sedikit berhemat. Sehingga ia bisa memiliki tabungan walaupun tidak terlalu banyak.

"Kamu mau beli apa? Biar Abang yang bayar."

" Gak enak lah, bang. Aku bayar sendiri saja." Balqis menolak.

"Qis, aku suami kamu. Aku bahkan belum memberikan uang nafkah untukmu."

"Baiklah." Balqis mengalah.

"Gadis pintar." Baim mengacak kerudung Balqis.

"Bang," kesal Balqis sambil merapikan kembali kerudungnya yang berantakan.

Baim hanya terkekeh. Ia menarik lengan Balqis agar merangkul lengannya.

"Jadi, kamu mau beli apa?"

"Aku mau beli buku. Kalau ada yang menarik sih." Jawab Balqis. Keduanya pun berjalan ke arah stand buku.

Balqis dan Baim pun melihat-lihat buku yang membuat mereka tertarik. Setelah menemukan buku yang mereka mau, Baim segera membayar buku-buku itu.

" Kita makan Bakso, ya Bang?," pinta Balqis.

"Boleh."

Mereka melangkahkan kakinya ke salah satu penjual Bakso yang cukup ramai. Bersyukur, keduanya masih mendapatkan tempat duduk.

"Bang, dulu Abang sering kesini?"

" Waktu ibuku masih ada dan kami menginap di rumah nenek, aku sering kesini."

Balqis mengangguk. Ia sedikitnya tahu bahwa Baim sangat dekat sang ibu. Ibu mertua yang ia sendiri tidak akan pernah bisa menemuinya karena telah tiada.

"Dengan mantan mungkin?" tanya Balqis lagi. Tiba-tiba ia penasaran dengan kisah cinta laki laki-laki yang sekarang menjadi suaminya itu.

"Pernah." jawab Baim singkat.

Balqis hanya ber oh ria. Moodnya jadi buruk. Harusnya ia tidak bertanya. Bagaimana mungkin laki-laki setampan Baim tidak pernah pacaran. Apalagi sepertinya ia pun berasal dari keluarga berada.

Ah, malam ini aku harus tahu semua tentang Bang Baim. Tekad Balqis dalam hati.

" Kenapa jadi diam. Kamu cemburu?," Baim penasaran.

" Hah. Tidak. Hanya jadi penasaran sama masa lalu Abang saja." Jujur Balqis.

"Malam ini, tanyakanlah sepuasmu apa yang kamu mau tahu. Aku akan menjawabnya dengan jujur."

" Termasuk orang yang pernah ada di hati bang Baim dulu?,"

" Kalau kamu yakin tidak akan cemburu sih tidak masalah." Baim tersenyum.

Balqis diam. Aneh memang ia malah tertarik mengulik kisah cinta suaminya di masa lalu. Padahal jelas-jelas akan membuat mood ya berubah.

" Baim kan?," seorang wanita menghampiri keduanya. Dia bahkan tanpa minta izin langsung duduk di samping Baim.

Baim menoleh. Ia merasa tidak suka atas sikap lancang perempuan tersebut.

" Baim, kamu masih aku kan? Aku Monica." Ucapnya antusias. Dia merasa senang bisa bertemu dengan Baim.

Berbeda dengan Baim yang merasa malas bertemu dengan wanita di sampingnya. Balqis pun merasa tak nyaman melihat ada wanita lain yang duduk di samping suaminya.

" Iya aku ingat." Jawab Baim datar.

" Sudah lama tidak bertemu. Kamu makin tampan saja," puji Monica.

Benar-benar tidak tahu malu. Aku tidak di anggap sama sekali. Batin Balqis memasang wajah kesal.

Baim yang menyadari perubahan wajah Balqis, langsung berdiri.

" Kamu mau kemana?" tanya Monika heran melihat Baim yang berdiri.

" Pindah duduk ke samping permaisuri ku," ucap Baim dan duduk di samping Balqis.

Di sebut permaisuri, wajah Balqis jadi memerah.

" Kenalkan. Ini Balqis, istriku. Dan sayang, kenalkan itu Monika. Dia..."

TBC

...----------------...

...Dukung terus ya, supaya Author nya tambah semangat upload.....

...Jangan lupa tinggalkan jejak like, komentar dan subscribe...

...Terima kasih atas dukungannya...

...🥰🥰...

1
Idah Jafar
wah jangan jangan....
Surati
bagus ceritanya 👍, tapi kok gantung sih thor
Andariati Afrida
Ceritanya bagus thor, tapi napa tamatnya gantung ya
Asih S Yekti
waduh kok tamat , ceritanya nggantung gak ada yg endingnya jelas
Rifaria Binelti
ayo siapa yg mendengar pembicaraan mila dan rini?
Syalum
😍
Fera Damayanti
Luar biasa
Sri Puryani
lho kok sdh selesai thor? kok ngantung gini , di atas tamat lho....ternyata akhirnya kok ngantung thor
Sri Puryani
sebetulnya itu karma ibunya bilqis tp tdk nyadar
Sri Puryani
alhamdulillah hslnya negatif
Sri Puryani
semoga hsl test dna nya negatif
Sri Puryani
hamil muda kok mkn durian? blh ya thor?
Sri Puryani
enak saja pas lg butuh nyari anak yg dibuang
Sri Puryani
siapa hayo? bpknya baim kah?
Mama lilik Lilik
ceritanya bagus cuma pas ending nya gantung banget ceritanya
Mama lilik Lilik
gini,yg gak suka ceritanya gantung, di awal di tulis end, gak taunya di PHP /Sob/
Mama lilik Lilik
di awal cerita, lupa babnya nama nya Andini,sekarang ganti Siska, ganti lagi dara ,yg benar mana nich
Mama lilik Lilik
manggilnya ya Abang ya kakak,yang bener mana🤦🏼‍♀️
ghina suabey
kok crtnya TDK d teruskan
ghina suabey: diteruskan crtnya kah, soalnya bgs
total 1 replies
Mama lilik Lilik
pasti ulah Andin kerjasama bos nya Baim,pak Bondan,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!