Memiliki suami tampan, kaya dan mapan, serta hidupnya diratukan, adalah impian semua perempuan. Seperti Elena yang tiba-tiba berubah menjadi Elea, istri dari Anres Alvaro Tanujaya, serta ibu dari si cantik Arabella. Hidup Elena pun berubah bak seorang ratu dari negeri dongeng.
Tapi, bagaimana jika semua itu hanya pinjaman. Bagaimana jika satu saat pemilik sahnya datang, dan meminta kembali semua yang sudah dipinjamkan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon najwa aini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Nyonya Damita menerobos masuk ke dalam kamar dan mendapati bekas sarapan yang belum dibersihkan di atas meja. "Menu sarapan apa yang diberikan pada Anres hari ini," ucapnya sambil meneliti piring bekas itu dengan seksama. Gayanya sudah seperti detektif yang sedang menangani kasus rahasia.
Ujung jari nyonya Damita lalu sedikit menyentuh wadah sisa sarapan itu sebentar.
"Siapa yang menyiapkan sarapan hari ini untuk Anres?" Wanita itu segera berbalik badan, dan tatapannya langsung mengarah pada Elena.
"Saya, Nyonya," jawab Elena.
"Kamu istrinya Anres?" Kalimat tanya dari nyonya Damita itu terdengar begitu menohok, dan jelas bukan hanya sebagai pertanyaan biasa.
Elena hanya mengangguk.
"Kamu pasti tau, kalau Anres tidak suka keju," kata sang nyonya lagi, yang membuat Elena terhenyak.
"Anres tidak suka keju," gumam wanita itu.
Elena memang menyiapkan roti bakar susu yang diberikan toping keju dan buah starwbery. Tapi, kenapa Anres tidak memberitahu Elena kalau ia tidak suka keju. Ia tetap menikmati sarapannya dengan menyisihkan keju tersebut. Kini Elena paham, kenapa lelaki itu mengajaknya sarapan bersama, bukan karena begitu peduli pada wanita yang ditengarai sebagai istrinya itu. Tapi, karena ia tidak akan mampu menghabiskan menu sarapan yang tidak sesuai dengan seleranya.
"Kalau kau memang benar istrinya Anres, kenapa kau tidak tahu hal itu?" tukas nyonya Damita tajam.
Elena bergeming, ia hanya menatap Anres dengan selaksa pertanyaan yang terpendam. Ada beberapa hal tentang ketidaktahuan Elena, yang pastinya sudah membuat lelaki itu curiga, atau justru sudah merasa kalau Elena bukanlah Elea. Tapi, kenapa Anres diam, dan seakan membiarkan, yang ada malah ia turut ambil peran. Di titik ini, Elena tidak merasa sedang mempermainkan Anres. Namun, justru lelaki itulah yang sedang mempermainkan dirinya.
Ada apa sebenarnya di balik semua ini?
"Aku sudah membuatkan daftar sarapan dalam setiap harinya untuk putraku. Dan semua menu itu sudah sesuai dengan standar vitamin dan gizi yang dibutuhkan Anres, mengingat kondisinya saat ini. Lalu, siapa yang mengizinkan kamu untuk merubah menu itu." Nyonya Damita sangat terang-terangan memperlihatkan ketidaksukaannya pada Elena.
Elena masih diam, karena ia merasa wajar jika seorang ibu begitu protektif pada putranya yang sedang tidak dalam kondisi kesehatan normal. Wajar jika nyonya Damita marah. Dari pada meladeni kemarahan ibu mertuanya, dalam tanda kutip mertua pinjaman, Elena justru sibuk mengartikan sikap Anres kepadanya
"Mami, Elea juga punya hak untuk membuatkan sarapanku," ucap Anres. Ia tampil membela istrinya yang pasti kaget mendapat teguran keras dari nyonya Damita.
"Ini hal bukan hal kecil, putraku."
"Aku baik-baik saja, Mami. Justru Elea sudah sangat memerhatikan semua kebutuhanku, aku sangat berterima kasih padanya." Anres terlihat tulus saat mengatakan hal itu. Dan terus terang saja, perasaan Elena bergetar karenanya.
Terlihat Damita menahan napas, ujung matanya melirik tajam pada Elena yang masih tetap diam saja.
"Anres apa kau yakin kalau dia benar-benar Elea istrimu?" tanya Damita yang membuat Elena menatapnya.
Anres tersenyum. "Kalau dia bukan Elea, lalu dia siapa?"
Nyonya Damita tersembunyi menghela napas, Elena yang melihat hal itu segera tersenyum samar.
"Ah sudahlah." Damita mengibaskan tangannya. Sepertinya ia memutuskan untuk mengakhiri semua pembicaraan tersebut. "Apa kau sudah meminum obatnya, Anres?"
Melihat hal itu Elena segera berinisiatif keluar dari sana. "Anres, aku keluar dulu. Jika kau membutuhkan sesuatu, panggil aku. Aku akan menyiapkannya untukmu," pamit Elena pada Anres.
"Tentu saja, Elea."
Elena sempat tersenyum pada nyonya Damita sebelum memutar tumitnya dan bergegas keluar dari dalam kamar Anres. Wanita itu masih sempat mendengar ucapan Anres pada sang ibu.
"Kita bicara di ruang baca saja, Mami."
Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, kalau Anres memang tidak suka ada orang lain yang masuk ke kamarnya. Dulu hanya Edward saja yang diperbolehkan. Sekarang ditambah lagi dengan Elena, mungkin.
🥀🥀🥀
"Nyonya Damita?"
"Iya. Nyonya Damita."
"Ada apa dengan nyonya Damita?"
"Dia ada di sini sekarang, Edward."
"Oh biasa saja, Elena. Dia sedang mengunjungi anaknya," kata Edward santai. Lebih tepatnya, terdengar dengan nada santai. Karena kini mereka berdua hanya bicara lewat sambungan.
"Masalahnya, kenapa kau tidak mengatakan padaku tentang nyonya Damita. Dalam buku panduan itu kau juga tidak menulis nama nyonya Damita di deretan nama-nama orang dekat Anres yang harus aku tau," protes Elena. Karena ketidaktahuannya itu telah membuatnya melakukan kesalahan. Bahkan tadi sangat jelas kalau ibunya Anres itu meragukan Elena.
"Karena nyonya Damita itu bukan bagian penting."
"Penting Edward," sanggah Elena cepat. "Penting aku tahu tentang nyonya Damita. Karena dia ibunya Anres," lanjut wanita itu lagi.
"Dia bukan ibu kandungnya tuan Anres," kata Edward cepat.
"Oh?"
"Damita adalah wanita simpanan tuan Tanujaya. Wanita simpanan yang kemudian naik derajat menjadi istri, karena nyonya Hilda Tanujaya meninggal. Tapi, tuan Anres cukup menghargai Damita, dan sesekali juga mendengarkan ucapannya," terang Edward.
Elena menarik napas, dia sepertinya mulai paham, harus bagaimana bersikap.
"Dia juga sangat meragukan aku, Edward."
"Bagaimana sikap tuan Anres?"
"Tuan Anres membelaku."
"Fokus pada tuan Anres dan Arabella saja, Elena. Selain dari itu bukan bagian yang penting."
"Tapi kau juga harus memberikan informasi yang lengkap tentang tuan Anres dan nyonya Elea. Agar aku tidak melakukan kesalahan."
"Apalagi Elena. Semua hal yang memang seharusnya kau tau, sudah aku beritahu."
"Ada yang tertinggal, Edward. Tentang Haura."
Ah Elena benar-benar tak bisa menghilangkan tanda tanya tentang Haura. Siapa Haura itu sebenarnya.
"Kau masih penasaran tentang Haura?" Edward bertanya sambil diselingi tawa. "Apa kau cemburu karena tuan Anres memberikan hadiah ulang tahun sebuah mobil pada Haura, sedangkan padamu, dia tak memberi hadiah apa-apa," tebak Edward dengan tawa yang semakin jelas. Dan celakanya tebakan lelaki itu memang benar. Tapi, akankah Elena mengakui? Tentu saja tidak.
"Bukan begitu, Edward. Aku hanya sedang berpikir, mengapa pada wanita lain, tuan Anres memberi hadiah spesial, sedangkan untuk istrinya sendiri, tidak."
"Sama saja. Itu artinya kau cemburu. Apa kau mulai menyukai tuan Anres, Elena? Kau menyukai suami orang?" Edward tergelak.
Elena hanya berdecak atas kelakar dari Edward. Namun, tak ada yang tahu jika tiba-tiba saja jantungnya berdetak lebih cepat. Entahlah, setiap kali nama Anres disebut, organ penting dalam tubuh wanita itu selalu menunjukkan reaksi yang tak biasa.
"Jangan sampai jatuh cinta pada suami orang, Elena. Apalagi orang itu adalah Anres Alvaro Tanujaya. Kau, tidak akan pernah bisa menggapainya," sungut Elena dalam diam.
"Apa kau belum ingin berhenti tertawa, Edward," sarkas Elena, karena terdengar Edward di seberang sana masih mengudarakan tawa.
"Wanita kalau sedang cemburu bisa lebih menyeramkan dari singa," sindir Edward keras.
"Katakan saja siapa Haura itu. Biar aku tahu saat Anres menyebut nama wanita itu." Elena keukeh dengan keingintahuannya tentang Haura.
"Haura itu adiknya Elea."
"Apa? Ja-jadi, Haura itu iparnya Anres?"
"Iya, adik ipar." Dan terdengar Edward kembali tertawa.
"Oh. Pantas saja Anres berkata begitu padaku tadi," monolog Elena dalam diam.
"Tuan Anres memang sangat perhatian pada seluruh keluarga istrinya. Apalagi sekarang, Haura adalah satu-satunya keluarga Elea yang tersisa. Saat ini dia sedang menempuh pendidikan di Malaysia. Apa keteranganku ini cukup, Elena?"
"Iya, cukup."
"Kalau begitu tutup teleponnya sekarang. Masih banyak hal yang harus aku kerjakan."
"Ya, baiklah," sahut Elena patuh.
"Saranku, jika tak ingin tuan Anres menertawakanmu, jangan tunjukkan kecemburuan pada Haura di depan tuan Anres."
Elena sudah membuka mulutnya hendak menjawab, namun sudah keburu terdengar nada Tut. Pertanda Edward sudah mengakhiri sambungan telepon.
kalau dilihat dari crita awal ny si ada bawa2 bama Pramudya corp..
semangat ya...