"Menikahlah denganku, aku akan memberikanmu uang untuk balas dendam. Habiskan semua uang, bahkan semua uang yang ada di rumahku..." Kalimat yang diucapkan oleh seorang pemuda rupawan, dengan tubuh sempurna, mengecup bibirku. Harum parfumnya yang maskulin telah menyatu dengan tubuhku.
Semalam kami memang melakukannya, benar-benar melakukannya. Pria yang paling sempurna di kantor tempatku bekerja, tampan, pintar, karier cemerlang. Apa yang kurang darinya? Kenapa dia mau-maunya tidur dengan si cupu muka jerawatan sepertiku.
Keberuntungan yang gila-gilaan!
*
Namaku Valentino, manager pemasaran. Tidak memiliki ambisi maupun cinta. Tapi ketika gadis berkacamata ini berani menentang dan menamparku di hadapan umum, saat itulah aku sadar. Aku membutuhkan gadis ini, predator yang akan aku bawa ke dalam rumah untuk melawan ayah dan ibu angkatku.
Memberinya cinta, dia akan menjadi kesatria. Sedangkan aku akan memeluknya dari belakang. Itulah aku, yang ingin bersembunyi di bawah rok istriku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KOHAPU, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pahlawanku
...Kelopak bunga yang indah, terasa dingin dan lembut kala aku menyentuh nya. Namun, kala helai demi helai nya berguguran, tidak dapat ku hentikan....
...Jika bisa aku ingin menjaga, menunggunya, tersenyum, hanya menatap bagaimana embun pagi membuat dirinya segar....
...Tapi ada kalanya kumbang kecil membuatku ketakutan. Tidak ingin ada yang memilikinya. Rasa cemburu, membuatku menyadari betapa aku menginginkanmu....
...Karena itu ulat kecil ini hanya dapat tinggal diantara kelopakmu. Memakannya perlahan? Apa ini cinta? Anggap saja cinta yang egois. Karena menginginkanmu sebagai milikku seorang....
...Jika bisa, aku ingin menjadikanmu makanku satu-satunya. Mati dan layu bersamamu. Adakah ulat kecil yang mencintaimu sepertiku?...
Valentino.
Beberapa warga berkasak-kusuk mendengar setiap ucapan yang keluar dari mulut Valentino. Namun pemuda itu masih tetap berdiri dengan angkuhnya.
"Aku hanya ingin menginap di rumah Zizy. Wajar jika keluarga atau teman. Menginap---" Kalimatnya disela, suara seseorang yang masih duduk di kursi roda terdengar.
"Keluar!" bentak Jantayu."Tidak cukup kamu membuatku menderita? Jika dari awal mencintai Subarjo, terima dia! Jangan menerima cintaku. Tapi kamu menerimaku, kemudian berselingkuh dengan Subardjo. Kembali mengatakan mencintaiku, hingga aku mempercayaimu. Menggunakan namaku untuk meminjam uang 150 juta. Wanita murahan! Wanita penghibur!" teriaknya menangis benar-benar murka.
Senyuman terlihat di wajah Valentino. Harus seperti inilah keluarganya, bermulut tajam dan tidak mudah ditindas.
"Kamu pria cacat! Bisa apa kamu?" Subarjo terlihat kesal.
"Bisa membuat bapakmu di penjara! Dua hari ini aku dan iparku mengumpulkan bukti kasus korupsi yang dilakukan bapakmu. Termasuk uang suap yang dinikmatinya. Kaya? Sebentar lagi kamu miskin. Jangan dekat-dekat denganku, pengemis!" Kalimat tajam dari mulut Jantayu.
"Siapa yang akan percaya!?" Subarjo menarik kerah pakaian Jantayu.
"Mau mati?" Pertanyaan penuh senyuman dari Valentino. Membuat Subarjo berdidik ngeri.
"150 juta, setara dengan uang jajanku 3 hari. Tidak usah difikirkan. Fokus pada kuliahmu saja, jika sudah tinggal di kota nanti." Untuk pertama kalinya Valentino berucap lembut pada Jantayu.
"Sebenarnya aku ingin bekerja di kota. Bisa minta tolong memasukkanku sebagai sekretaris, pegawai administrasi juga tidak apa-apa." Pinta Dania belum menyerah juga. 50 juta adalah uang jajan pria ini sehari. Dapat dibayangkan olehnya berapa banyak aset yang dimiliki Valentino.
Namun, gelagat yang terlalu terlihat. Apalagi dengan kata-kata Valentino yang menyadarkannya ada yang tidak beres dengan Dania."Kita pulang!" bentak Subarjo, mendapatkan cibiran dari orang-orang.
Selama ini tidak ada yang melawan Subarjo dan keluarga besarnya yang dihormati di kampung ini. Namun, kini roda kehidupan bagaikan berputar.
"Benar kata Jantayu, anggaran pembangunan jembatan kemarin tidak jelas."
"Hutang 150 juta diberikan pada mantan? Tidak malu apa?"
"Menghadiri kondangan, bukannya kasih selamat dan beri amplop malah membuat keributan."
"Nyesel saya pilih bapaknya jadi kades. Apa-apa pakai uang pelicin, jual tanah saja harus kasih komisi dulu baru dibantu prosesnya."
Beberapa kasak-kusuk yang didengar. Membuat Subarjo semakin murka, pria itu melangkah pergi dengan cepat. Jemari tangannya mengepal, wajahnya memerah menahan amarah, bagaimana pun pemuda bernama Valentino ini akan kembali ke kota. Saat itulah dirinya akan membuat perhitungan pada Jantayu dan keluarganya.
"Sayang..." Dania mengerutkan keningnya, mulai cemas dengan ancaman Jantayu. Bagaimana tidak, yang selama ini bekerja dan menjalankan berbagai usaha adalah ayah mertuanya. Sedangkan Subarjo sama sekali tidak pernah berurusan dengan usaha ayahnya. Bagaimana jika ayah mertuanya masuk penjara? Itulah yang menjadi beban fikirannya saat ini.
"Kita pulang! Sebagai istri tidak seharusnya kamu meminta menginap! Bahkan ingin bekerja di kota!? Apa uang 6 juta sebulan tidak cukup!?" bentak Subarjo melajukan mobil Jeep miliknya.
"Aku hanya ingin jadi wanita karier, yang keren seperti di film-film." Alasannya, yang hanya ingin merebut perhatian suami Zizy pelan-pelan.
"Punya otak tidak kamu!? Kamu bahkan tidak lulus SMU! Putus sekolah karena orang tuamu miskin! Aku pernah menyuruhmu ikut paket C! Kamu menolak dengan alasan banyak pekerjaan rumah! Lebih baik mengurus suami saja!" Amarah dari Subarjo yang sama sekali tidak mengerti dengan jalan fikiran istrinya.
"I...iya, tapi aku kan juga ingin kerja kantoran seperti Zizy. Aku lebih cantik dari Zizy, setidaknya bisa menjadi sekretaris. Bukan seperti Zizy yang menjadi karyawan biasa." Ucapnya masih keras kepala membandingkan.
"Zizy itu sarjana g*blok!" Subarjo sudah tidak sabaran lagi menjelaskan pada istrinya.
"Bohong kali! Jantayu itu lebih miskin dari keluargaku. Paling lulus SMU langsung kerja di kantoran," kalimat sombong dari Dania.
"Dia kerja di ladang waktu SMU sampai lulus. Kuliah di kota pakai uangnya sendiri! Kokom kakak sepupuku yang kuliah di kampus sama bilang. Otaknya encer! Makanya dapat beasiswa! Ditambah kerja sambilan untuk sehari-hari!" Jelas Subarjo panjang lebar. Mereka masih dalam perjalanan pulang. Seorang supir ayahnya ada di sana guna menyetir mengingat tangan Subarjo yang masih cidera.
"Aku tidak mau tau! Pokoknya mau minta kerjaan sama suaminya Zizy! Kamu cuma mau menghalangi istrimu jadi wanita karier kan?" tanya Dania makin membuat Subarjo emosi.
"Stop!" teriaknya pada supir ayahnya, yang segera menepikan kendaraan mereka."Kalau tetap mau bekerja di kota lebih baik aku pulangkan saja kamu pada orang tuamu! Jadi istri saja belum becus sampai sekarang! Masih banyak perawan desa yang ingin menjadi istriku! Tapi kamu malah mau bekerja berkedok sebagai pelakor!"
"Ti... tidak bukan itu! Aku hanya ingin membuatmu bangga! Subarjo aku cinta kamu. Kita pulang bersama ya?" pinta Dania, wanita yang katanya tercantik di kampung ini. Subarjo mengenyitkan keningnya.
"Jalan!" Ucapnya pada sang supir. Apa sejatinya yang ada di otaknya? Tentu saja membanding-bandingkan istrinya dengan mempelai wanita hari ini.
Susah payah dirinya mendapatkan Dania wanita tercantik di kampung ini. Tapi kalimat demi kalimat yang diucapkan Valentino membuka fikirannya. Andai saja, dirinya menyerah pada Dania, kemudian mendekati adik Jantayu yang menjadi sarjana di kota. Tinggal diberi biaya perawatan, diasah sedikit, maka akan jauh lebih cantik dibandingkan dengan Dania.
Pria kota bernama Valentino itu benar, Dania tidak ada apa-apanya. Cantik, terpelajar, penurut dan pekerja keras itulah Zizy. Kenapa tidak dirinya yang menemukannya saja. Fikiran aneh dan bodoh yang membuatnya apa awalnya bangga, menjadi tidak pandai bersyukur dengan apa yang dimiliki istrinya. Cikal bakal hancurnya keluarganya, yang dijaga dengan kesabaran.
*
Sesuai jadwal, pukul 9 malam pesta sudah dipastikan usai. Menyebar 1000 undangan sama dengan mencari mati. Budget yang dikeluarkan tidak sedikit, pesta juga dipastikan akan berdesak-desakan. Lebih baik menjamu 100 tamu dengan budget 1000 orang. Membuat pesta klasik yang berkesan.
Selain itu dirinya tidak terlalu lelah menyambut tamu untuk malam ini. Malam yang akan dirinya habiskan untuk mencabik-cabik Zizy. Seperti yang dikatakan Yudistira, anak bagi perempuan akan mengalahkan cinta sejati. Beberapa wanita rela mengorbankan nyawanya demi anaknya. Jadi akan membuat ikatan yang kuat jika wanita ini hamil. Mungkin akan mencintainya hingga rela mengorbankan nyawa untuk bapak dari anaknya. Itulah yang ada dalam otak bisnis seorang Valentino.
Tapi sebelum itu, semua orang harus dikumpulkannya di ruang tamu.
Semuanya terlihat tegang. Bahkan Yusuf, suami Sita yang berusia 22 tahun menelan ludahnya. Mereka sama-sama menantu di keluarga ini, tapi lebih menyeramkan dibandingkan Rusli sang ayah mertua.
"Sudah aku katakan. Lusa Jantayu, Ernest, ayah dan ibu mertua akan pindah ke kota. Karena itu hanya akan ada kalian berdua dan anak-anak kalian di rumah ini. Subarjo akan semakin membenci kalian, walaupun ayahnya akan dipenjara, tapi dia memiliki banyak usaha." Valentino mengenyitkan keningnya."Kalian tidak buta huruf kan?"
Sita dan Yusuf menggeleng, walaupun hanya lulusan SMP tapi mereka tidak buta huruf sama sekali.
"Selama tiga hari ini, aku membuat perencanaan. Sudah menghubungi beberapa suplayer, buat toko sembako dengan harga yang lebih murah tepat di toko kepala desa. Penggilingan padi juga, hancurkan usaha mereka! Jangan biarkan bangkit sedikitpun! Karena kalau sampai mereka berdiri lagi! Kalian yang mampus!" Bentakan dari Valentino melempar perencanaan yang dibuatnya. Dilengkapi dengan nomor telpon para supplier.
"Ta...tapi, mereka bisa berbuat..." kalimat Yusuf disela.
"Gampang! Pasang CCTV! Kalau mereka macam-macam masukkan saja ke penjara! Kamu punya otakkan? Bisanya cuma buat anak tapi tidak bisa menghidupi mereka!" Cibir Valentino membuat Yusuf yang masih muda menunduk ketakutan, air matanya bahkan hampir mengalir. Untuk pertama kalinya ada iblis yang membentaknya.
"Dasar ulat karung! Bisa tidak bicara baik-baik?" batin Zizy memijit pelipisnya sendiri. Melirik ke arah pria yang baru saja menikah dengannya, masih memakai setelan tuxedo.
"Yusuf, walaupun Valentino berkata seperti itu. Dia tidak bermaksud apa-apa dia hanya kalian hidup lebih baik dan tidak direndahkan orang tuamu lagi. Agar juga dapat melindungi diri sendiri dari Subarjo. Kata-katanya memang kasar, tapi hatinya sebenarnya baik." Ucap Rusli, menenangkan Yusuf. Yusuf sedikit melirik ke arah Valentino, kemudian mengangguk. Semua yang dikatakan Valentino adalah kebenaran, selama ini mereka memang hanya mengandalkan uang kiriman Zizy, mekipun bekerja keras dirinya hampir tidak dapat menghidupi anak dan istrinya.
"Ingat! Jangan manja! Jangan menyalahgunakan uang yang aku berikan! Jika sampai disalah gunakan untuk berselingkuh atau berjudi, aku akan menangkapmu! Bocah!" Kalimat terakhir dari Valentino menarik Zizy ke dalam kamar.
Zizy mengenyitkan keningnya."Memang dasarnya saja iblis! Kalimatnya tidak ada yang baik. Ta...tapi setelah ini dia tidak akan melakukannya lagi kan?" batin Zizy dengan wajah pucat pasi.
Brug!
Sedangkan di luar kamar Jantayu mulai tertawa, kemudian menghela napasnya."Pada awalnya aku mengira dia hanya pria kota yang sombong. Tapi sebenarnya dia melakukan semuanya karena menganggap kita keluarganya."
"Yusuf, kalimat yang diucapkannya jangan diambil hati. Kamu cuma perlu ingat, ini bekal dari kakak iparmu untuk melindungi anak dan istrimu." Juni memberi pengertian. Menantunya mengangguk, pria yang dewasa sebelum waktunya itu, menghela napas melirik ke arah Sita dan ketiga anak mereka.
Diusir dari rumah oleh kedua orang tuanya, karena memiliki 3 orang anak dianggap beban. Kemudian tinggal di rumah mertuanya, sudah cukup memalukan baginya. Tapi entah kenapa kata-kata Valentino yang pedas, tidak lebih menyakitkan daripada kalimat orang tua kandungnya yang mengusirnya baik-baik.
Mungkin setelah dimengerti olehnya. Valentino adalah pahlawan baginya kini.
Sebenarnya berapa budget yang dikeluarkan Valentino? Mungkin sekitar 3,5 miliar termasuk kediaman dan usaha untuk mertua dan iparnya. Tidak terlalu besar baginya, mengingat di perusahaan tempatnya bekerja, dirinya merupakan pemegang saham terbesar.
Setelah 13 tahun mendapatkan tunjangan tanpa direbut oleh ayah dan ibu angkatnya. Dirinya mulai membeli saham dan beberapa aset. Tapi tetap saja, ancaman pembunuhan itu tetap ada. Hanya demi deposit orang tua kandungnya sejumlah 500 miliar di bank.
Matanya sedikit melirik ke arah Zizy yang terlihat tegang kala pintu telah ditutup. Walaupun yang gugup."Ki...kita tidur ya?" pintanya, mengambil tikar dan selimut sebagai alasnya tidur di lantai.
Valentino mendekat, mengunci pergerakan Zizy di lemari pakaian kayu jati."Sudah mencintaiku?" tanyanya, perlahan menurunkan resleting pakaian Zizy, menghirup aroma di lehernya. Wajah pemuda itu menyeringai.
"I... ingat Susan pak!" Ucapnya menyebutkan nama yang dianggapnya sebagai kekasih Valentino.
"Susan? Kamu membencinya? Kalau begitu aku juga akan membencinya." Bisik pemuda ini menjilat di area telinga wanita di hadapannya. Sumpah, jantung Zizy berdetak tidak normal kali ini.
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
sukses ya kak💪