Untuk melunasi hutang Ayahnya, Silvi terpaksa menikah dengan Andika. Sejak saat itu hidupnya seperti di neraka. Dia hanya menjadi pemuas Andika yang memang seorang casanova itu. Meski sudah memiliki Silvi tapi dia masih saja sering mengajak wanita lain ke apartemennya.
Silvi merasa tidak sanggup lagi dengan kekerasan fisik dan verbal yang dilakukan Andika, akhirnya dia kabur. Andika terus mencari dan ingin membawanya kembali. Di saat itulah Andika merasa kehilangan.
Berbagai cara sudah Andika lakukan untuk mendapatkan Silvi lagi. Apakah Silvi mau kembali dengan Andika atau Silvi lebih memilih bersama Dion, sahabat yang selalu setia menemaninya dan juga mencintainya dengan tulus?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puput, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20
Sejak saat itu, setiap pulang sekolah Andika selalu menghampiri Silvi. Dia menunggunya di depan sekolah. Tapi Silvi selalu acuh, dia lebih memilih pulang bersama Dion atau Ayahnya.
Andika tak menyerah begitu saja, dia selalu datang menemui Silvi dengan membawa makanan, coklat, boneka, ataupun bunga. Meski semuanya tetap sama yaitu berakhir di tempat sampah.
"Sil, beri aku satu kesempatan lagi. Aku akan memperbaiki semuanya. Aku juga ingin bertanggung jawab atas semua yang telah aku lakukan sama kamu." Andika menyodorkan satu buket bunga mawar yang cantik di hadapan Silvi.
Silvi memang menerima bunga itu tapi kemudian dia lempar ke tong sampah.
"Sil, kesalahan aku memang besar dan mungkin gak pantas untuk kamu maafkan. Tapi aku tidak akan menyerah. Aku masih belum bisa melepaskanmu dan satu hal lagi, kamu masih istri aku. Aku belum menceraikanmu." Andika menahan tangan Silvi saat Silvi akan melangkah masuk ke dalam rumah.
"Aku gak peduli!" Silvi menatap tajam Andika dengan mata nanarnya. "Pak Dika menyesal? Sudah terlambat semua tidak akan kembali seperti semula. Kaca yang sudah pecah tidak akan bisa bersatu lagi."
"Iya, aku mengerti. Sil, aku benar-benar merasa kehilangan kamu."
"Kehilangan apa? Kehilangan seseorang yang bisa memuaskan Pak Dika! Cari wanita lain! Di luar sana masih banyak." Silvi menarik paksa tangannya.
"Sil, aku sayang sama kamu." Andika semakin menarik tubuh Silvi dan akan memeluknya.
Plak!
Silvi menampar pipi Andika dengan keras hingga membuat Andika melepaskan tangannya. "Jangan pernah sentuh aku lagi!"
Andika hanya terdiam. Dia memang pantas menerima tamparan itu. "Tampar aku sepuasnya kalau kamu mau."
Plak!
Silvi kembali menampar Andika. "Untuk semua perlakuan kasar Pak Dika selama ini padaku. Pak Dika hanya mencari kepuasan tanpa tahu bagaimana sakitnya jiwa dan raga aku."
Plak!
"Untuk semua perkataan dan perlakuan kasar Pak Dika pada Ayah!"
Plak!
"Untuk..." Kali ini Silvi mulai meneteskan air matanya. "Darah daging Pak Dika yang berakhir di tangan Pak Dika sendiri!" Setelah itu Silvi membalikkan badannya dan masuk ke dalam rumahnya. Dia tutup pintu itu dengan keras.
Panas dan sakitnya tamparan Silvi tidak sebanding dengan sayatan hatinya saat mendengar kalimat Silvi yang terakhir. Dia terduduk dengan lemas di teras rumah Silvi lalu menatap mendungnya langit sore hari itu.
Iya, kamu benar. Aku memang seorang pembunuh yang tega membunuh darah daging aku sendiri. Dengan tangan ini aku mendorong kamu kasar. Harusnya aku tidak perlu sekasar itu.
Dia usap wajahnya yang kusut. Rasa menyesal itu terus menghantui dirinya
Aku tidak bisa memutar waktu dan mengembalikan keadaan seperti semua. Aku hanya bisa memperbaikinya. Silvi, aku akan berusaha mengambil hati kamu. Meskipun kamu berusaha menutup rapat pintu hati kamu, aku tak peduli. Aku akan tetap berusaha.
Cukup lama Andika duduk termenung di teras rumah Silvi. Akhirnya dia berdiri saat hujan mulai turun, dia masuk ke dalam mobilnya dan beberapa saat kemudian mobil Andika mulai melaju meninggalkan rumah Silvi.
Sedari tadi Silvi juga duduk di belakang pintu, sesekali dia melihat Andika yang masih termenung di depan rumahnya. Setelah mendengar suara deru mobil Andika menjauh, dia kembali membuka pintu dan berjalan ke teras rumahnya. Dia mengambil kembali sebuket bunga yang dia buang.
Dia kibaskan dari basahnya air hujan lalu membawanya masuk ke dalam rumah. Dia letakkan buket bunga itu di atas mejanya.
Dia tatap barang-barang yang selalu dia buang di tempat sampah lalu dia ambil kembali setelah Andika pergi.
"Aku bodoh, sudah memungut barang yang sudah aku buang ke tempat sampah."
Jujur saja, setiap malam dia selalu memimpikan Andika, meski dia sangat membencinya.
"Aku gak tahu kenapa perasaanku seperti ini. Aku sangat membenci Pak Dika, tapi..."
Silvi menghela napas panjang, kemudian dia berdiri dan mengambil handuknya lalu pergi ke kamar mandi yang berada di dekat dapur.
...***...
Andika berdiri di dekat jendela kamar apartemennya. Menatap air hujan yang turun dengan deras.
Dia dekap dirinya sendiri merasakan dingin yang menyerang tubuhnya.
"Silvi, apa aku harus melepasmu..."
Andika menghela napas panjang. Dia kini naik ke atas ranjangnya dan menarik selimutnya karena rasa dingin semakin menyerang tubuhnya.
"Dingin sekali." Dia sudah mematikan AC tapi tubuhnya semakin menggigil. Kepalanya juga terasa sangat pusing.
Dia hanya bisa memejamkan matanya sambil merasakan meriang di tubuhnya.
Ponselnya beberapa kali bergetar tapi tak ada satupun yang Andika angkat. Tubuhnya terlalu lemas untuk bangun dari tidurnya.
Hingga pagi hari datang, ada yang membuka pintu apartemennya.
Andika hanya samar-samar saja mendengarnya. Dia tahu itu orang tuanya, karena tidak ada yang mempunyai kartu akses apartemennya selain orang tuanya.
"Dika," Bu Nayla segera duduk di dekat Andika dan menyentuh kening Andika. "Badan kamu panas banget. Sejak kapan kamu sakit? Semalam perasaan Mama benar-benar tidak enak, Mama hubungi kamu juga tidak angkat. Ternyata benar, kamu sakit."
"Mama." Andika sedikit membuka matanya. Wajahnya sangat pucat, bibirnya juga kering.
"Mama kan sudah bilang, pulang ke rumah. Kalau kamu di sini sendirian, terus sakit kayak gini siapa yang akan mengurus kamu."
Andika hanya menganggukkan kepalanya.
"Sebentar Mama ambilkan minuman hangat lalu Mama kompres." Bu Nayla berdiri lalu mengambil segelas air hangat dan sebaskom air untuk mengompres Andika.
Dia membantu Andika minum, setelah habis satu gelas, dia mengompres kening Andika.
"Mama sudah panggilkan Dokter biar periksa kamu. Mama juga sudah pesankan bubur buat kamu."
"Papa kemana Ma?" tanya Andika dengan suara lemahnya.
"Papa ke kantor. Makanya tadi Mama langsung ke sini karena dapat kabar dari Papa kalau kamu gak ke kantor. Ternyata benar kamu lagi sakit." Bu Nayla mengusap rambut putranya. Meskipun putranya sekarang sudah berusia 25 tahun, tapi ketika sakit seperti ini dia pasti akan memperlakukan Andika seperti saat masih anak-anak dulu.
"Dika, kamu masih memikirkan Silvi? Mama tahu betul bagaimana kamu, kamu pasti langsung sakit kalau terlalu memikirkan sesuatu."
Andika hanya terdiam. Dia meraih lengan Mamanya dan memeluknya.
"Andika, kamu jangan pernah mempermainkan perasaan wanita. Seorang wanita itu untuk dijaga, bukan dirusak."
Dada Andika semakin terasa sesak seolah terhimpit sesuatu...
💕💕💕
.
Penyesalan memang selalu datang terlambat, kalau diawal namanya pendaftaran.
.
Like dan komen ya...
ditgg karya selanjutnyaaaa