My Boyfriend, My Ceo musim kedua telah hadir! Yang dimana cerita ini akan mengisahkan tentang generasi baru, perjalanan hidup anak-anak mereka.
Merupakan cinta masa kecil bagi Eliane, Vero Edbert selalu menjadi prioritas dalam hidupnya. Namun, apakah Vero merasakan hal serupa seperti yang di rasakan oleh Eliane? Lalu, apakah Vero mengetahui perasaan gadis itu pada dirinya? Apa yang akan terjadi pada keduanya, dan bagaimana sikap Erian pada saudarinya saat mengetahui perasaan adiknya? Akankah dia mendukungnya? Atau mungkin sebaliknya? Temukan kisahnya hanya di 'My Little Girl'
Season 1: My Boyfriend, My Ceo
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kyushine / Widi Az Zahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
My Little Girl Bagian 20
“Maaf.” Gumam Eliane, dan Erian segera melepaskan pelukannya, dia juga mengusap air mata yang membasahi kedua pipi saudarinya.
“Tidak! Kau tidak perlu meminta maaf padaku, Elia. Tetapi, jangan lakukan hal itu lagi padaku! Kau tahu? Aku benar-benar merasa kesepian karena kau tidak datang menggangguku di kantor, dan kau membuatku makan seorang diri. Bukankah kau tahu jika aku tidak menyukai hal itu?”
“Maafkan aku. Aku tidak akan mengulanginya lagi.”
Erian tersenyum ketika mendengar penuturan adiknya, kemudian Erian memesankan makanan favorit Eliane saat itu juga, karena meringue yang di bawa sebelumnya sengaja ia tinggalkan di rumah kakeknya, dia takut bahwa adiknya akan kembali, dengan begitu dia berharap jika Eliane akan memakannya.
Tak lama kemudian, Eliane mengirimkan pesan pada seseorang, dia juga tampak mengukir senyumannya ketika mengetikkan sesuatu pada ponselnya. Erian yang menyadari hal itu pun mengernyitkan keningnya.
Sadar sedang di tatap oleh saudaranya, Eliane mengerlikkan matanya, dia pun sedikit terkekeh ke arahnya. Kemudian, dia kembali menyimpan ponselnya, dan menikmati makanan yang sudah di pesan oleh Erian sebelumnya.
“Apa kau mengirim pesan pada Vero?” Erian menyahut seraya menyeruput kopi miliknya.
“Tidak. Kenapa aku harus menghubunginya? Dia pasti masih dalam perjalanan saat ini.”
“Lalu, siapa yang kau hubungi?”
Belum menjawab pertanyaan saudaranya, ponsel Eliane berdering, melihat nama yang terlihat di layar ponselnya membuat senyumnya terukir, dan itu semakin membuat Erian merasa penasaran. Sebenarnya siapa orang yang menghubungi adiknya sampai dia terlihat bahagia seperti itu?
Sebelum menerima panggilan tersebut, Eliane mencoba mengatur suaranya lebih dulu, dan Erian sedikit terkekeh melihat reaksinya saat ini. Saudarinya benar-benar sudah dewasa kali ini, namun dia tidak pernah terlihat dewasa jika tengah bersama dengannya.
“Kenapa kau mengirimiku banyak pesan, hah?” Orang di seberang sana tampak kesal saat tahu panggilannya sudah terhubung.
“Kenapa kau marah padaku? Aku hanya ingin mengingatkanmu supaya kau menyimpan kontakku.” Eliane tak kalah kesal setelah mendengar nada suara orang itu.
“Aku tidak marah, kenapa kau bisa berasumsi seperti itu? Aku hanya kesal, yah hanya kesal.”
“Bukankah itu sama saja?”
“Tentu saja berbeda. Marah, dan kesal memiliki makna yang berbeda. Jadi, berhenti mengirimi pesan beruntun padaku!”
“Aku tidak akan mengirimkan pesan sebanyak itu jika kau membalasnya, dasar pria menyebalkan!” Sahut Eliane yang langsung mematikan panggilannya secara sepihak. Mendengar kalimat 'pria' yang di ucapkan oleh saudarinya membuat Erian tersedak, kemudian dia menatapnya adiknya dengan begitu lekat.
Dengan mengusap sudut bibirnya, Erian masih menatapi adiknya yang terlihat sedang menggerutu dengan ponselnya. Wajahnya terlihat sedang kesal akibat panggilan yang di terima olehnya tadi, dia bahkan menyimpan ponselnya dengan sembarang di atas meja, dan menyantap meringuenya dengan kasar.
Melihat reaksi itu membuat Erian menelan air liurnya sendiri. Selama dia bersama dengan Eliane, baru kali ini ia terlihat kesal, dan itu sangat menakutkan untuknya. Dia bahkan tidak berani untuk mengutarakan pertanyaan yang belum di jawab olehnya. Hingga ponselnya pun kembali berdering, tanpa melihat nama yang menghubunginya, Eliane langsung mendekatkan ponselnya pada telinganya.
“Apa? Kenapa kau menghubungiku lagi? Apa kau ingin meminta maaf?” Sahutnya lagi dengan nada yang masih terdengar begitu kesal.
“Elia, apa yang terjadi?”
Suara itu terdengar begitu berbeda, dan mendengarnya membuat Eliane bungkam saat itu juga. Dengan hati-hati ia melihat nama yang sudah menghubunginya, dan dia merasa malu ketika mengetahuinya, dia bahkan terlihat menggaruk dahinya yang tidak gatal.
Reaksi Eliane saat ini sudah terbaca jelas oleh Erian, orang yang sedang menghubunginya kali ini sudah bisa di pastikan jika dia adalah Vero, karena Eliane tidak pernah tidak salah tingkah ketika bersama dengan pria itu.
“Maakan aku, aku pikir temanku yang menghubungiku?” Sesalnya.
“Teman? Teman yang mana? Apa aku mengenalnya? Tidak, apa Erian mengenalnya?”
“Kalian tidak mengenalnya. Aku juga belum lama berteman dengannya, ada apa kau menghubungiku?”
“....”
“Baiklah, aku mengerti.”
Panggilan berakhir, dan Eliane tampak menghela napasnya ketika menyimpan kembali ponselnya. Tanpa mengatakan apapun, Erian masih menatapnya dalam diam. Dia bahkan mencoba mengambil meringue milik saudarinya, itu dia lakukan karena dia ingin mengalihkan perhatian Eliane.
Setelah mengambilnya sudah di pastikan jika saudarinya akan merebutnya kembali, karena sampai saat ini Eliane tidak akan pernah rela jika seseorang mengambil makanan kesukaannya, meski meminta izinnya sekalipun, namun siapa sangka jika kali ini dia tidak bereaksi.
“Ada apa? Apa yang di katakan Vero padamu?”
“Salah satu butik menghubungi paman Kent, dan meminta kak Vero untuk datang melakukan fiting bersama denganku. Selain itu, paman Kent juga meminta kita untuk mengambil cincin pernikahan yang sudah di siapkan olehnya, dan dia akan menjemputku sekarang.”
Kali ini, terlihat jelas adanya keraguan pada sorotan mata Eliane, kemudian Erian menggenggam erat tangan adiknya. Lagi-lagi gadis itu menghela napasnya dengan berat, dan entah kenapa semuanya jadi tidak semudah dengan apa yang pernah ia katakan sebelumnya.
“Apa saat ini kau menyesal dengan keputusan yang sudah kau ambil?” Dengan ragu Erian mengajukan pertanyaan itu. “Jika kau ingin mundur, aku akan membantumu untuk mengatakannya pada mereka, Elia. Bahkan jika paman Kent menjatuhkan denda sekalipun, aku akan memberikannya.”
“Aku berusaha mencoba mengatakannya pada kak Vero, namun tampaknya itu sia-sia, kak. Aku sudah terlanjur menenggelamkan kedua kakiku, jadi aku akan mengikuti alur yang sudah ku buat sendiri. Tolong lindungi aku.”
Kemudian, Erian berpindah posisi. Saat ini dia duduk tepat di sisi saudarinya, dan ia memeluknya, lalu Eliane membalas pelukan itu dengan begitu erat. “Tanpa kau pinta pun aku akan selalu melindungimu, Elia. Bagiku, kau adalah segalanya.” Pungkasnya seraya menepuk-nepuk punggung saudarinya.
Bersambung ...
Sama daniel saja
lebih greget ..
mau vero ataupun daniel
aku terima kok. yg penting elia bahagia😘😘
Vero yg rambut putih😌