Kisah seorang wanita bernama Kiko, karena trauma masa lalu nya membuat Ia jijik jika di sentuh oleh seorang pria.
Lebih parahnya akan membuat Ia panik, gemetar bahkan Pingsan.
apalagi Pria itu Tampan.
kemudian Ia bertemu dengan seorang Pria Tampan dan anehnya Ia bisa bersentuhan langsung dengannya, Karena hal itu lah yang membuat Kesalah Pahaman ini Terjadi.
Kiko tidak tahu bahwa Pria tersebut adalah Pria mapan, tampan dan berhati dingin. banyak di Gilai oleh banyak kaum hawa.
Pria tersebut tak lain bernama Dion, pengusaha muda sukses yang memiliki kuasa serta segalanya.
ikutilah Kisah mereka, jangan di lewatkan!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Imelda Agustine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Buruk Rupa
"hai Nona Kiko" sapa Riko yang duduk bersebelah tak jauh dari meja kerja milik Kiko mengingat mereka bekerja dalam tim.
"hai Riko", balas Kiko, "panggil saja dengan namaku, jangan Nona! kau juga tak perlu berbicara terlalu formal padaku"
"tapi saya lebih muda dari Anda"
"ah, tidak masalah. aku lebih menyukai kau berbicara santai padaku"
"ah baiklah, K i k o" sahut Riko memerah seperti sudah mendapat sinyal biru untuk mendekati Kiko
sementara disisi lain, Dewi melihat dari jauh interaksi antara Kiko dan Riko dengan menyipitkan matanya penuh kesal.
Dewi merasa cemburu saat melihat Riko, pria yang ditaksirnya sedang berbincang dan menatap berbinar pada Kiko.
"cuaca hari ini mulai panas, sangat cocok jika kita mencoba menu lestoran Jepang yang baru buka didepan perusahaan" ucap Riko penuh tersirat
"ya kau benar, makanan khas Jepang sangat cocok untuk menyambut musim panas" sahut Kiko
"bagaimana kalau makan siang nanti kita makan disana?" ajak Riko
"hah, tidak. maaf aku tidak bisa"
aku juga sebetulnya ingin sekali mencicipi masakan Jepang, sudah lama sekali aku tidak memakannya tetapi harganya pasti sangat mahal. aku harus menghemat sampai gajian nanti. hiiksss
"yahh, aku ingin memakan masakan Jepang" Riko kecewa
"kan kau bisa sendiri, atau kau bisa mengajak pak Anto, Arif, Hilna"
"iya sih, tapi makan siang bersama teman baru sepertinya lebih seru. nanti aku yang teraktir, bagaimana?"
wah
"baiklah jika kau memaksa" sahut Kiko datar
tapi sebenarnya dirinya begitu kegirangan membayangkan makanan lezat sudah menyatu ke dalam mulutnya.
lain dengan Riko, dia tersenyum senang bahwa ajakannya di setujui.
"ehem ehem", Dewi mendehem memecah suasana, "Kiko, kau ikut saya ke ruang arsip!" pinta Dewi tiba tiba
"ah, iya baik!" Kiko pun langsung beranjak mengikuti Dewi yang notabene Ia adalah atasan atau pekerja senior dalam timnya.
mereka berjalan kedalam ruang arsip yang dipenuhi dengan berkas berkas menumpuk.
"kau tata ulang semua arsip ini, rapikan yang benar sesuai dengan urutannya!" perintah Dewi
"tapi.., ini kan banyak sekali"
mana mungkin aku menyelesaikannya sendirian
"kau membantahku? mau ku laporkan pada atasan supaya kau dipecat hah?", Dewi berteriak sambil bersindakap
"Aaa tidak jangan Bu, saya sanggup, saya bisa"
"baguslah", Dewi menyeringai, "cepat kerjakan sampai selesai, kalau perlu kau lembur hari ini!"
"baik Bu Dewi!" Kiko menunduk memberi hormat
Dewi pun pergi meninggalkan Kiko dengan penuh kemenangan, "mampus kau" gumamnya
"baiklah Kiko, kau tidak boleh menyerah, s e m a n g a t!"
Kiko menyemangati dirinya sendiri walau dirinya sangat kesal, tapi hatinya sangat kokoh.
****
Dion berdiri didepan cermin yang menjulang menampakkan dirinya dari atas sampai bawah, Ia hari ini memakai setelan jaz rapi seperti biasa dengan rambut disisir ke belakang karena hari ini harus pergi ke kantor untuk menghadiri rapat dengan para dewan direksi.
"bagaimana penampilanku?" tanya Dion pada Gogo yang berdiri disebelahnya
"wah, Tuan sudah sangat sempurna dengan postur tubuh yang Ideal dan wajah yang rupawan"
"cih, kedengarannya menjijikkan ku dengar dari mulutmu!" degus Dion
"maaf", Gogo langsung menunduk ciut
"maksudku penampilanku sekarang, apa tidak akan membuat dia curiga jika aku berpenampilan seperti ini?"
"maksud Tuan, Nona Kiko?"
"kau pikir siapa lagi?" teriak Dion kesal
"tapi untuk apa Tuan merahasiakan identitas Tuan yang istimewa?" tanya Gogo membuat Dion berpikir, "jika Nona Kiko tahu siapa Tuan sebenarnya, pasti Nona akan terharu juga merasa bangga karena seorang Dion Motegi pemilik perusahaan ternama mau tinggal serumah dengan gadis biasa"
"ya kau benar juga" sahut Dion mengangguk penuh bayangan akan Kiko yang memuja dirinya
Dion pun hendak ingin pergi tapi ingatan tentang Kiko pun kembali.
tidak tidak, ini tidak benar.
Dion kembali didepan cermin menjulang lalu mengacak rambutnya seperti penampilannya sehari sehari saat bersama Kiko.
"ayo jalan!"
Gogo hanya melongo melihat tingkah Dion yang mendadak berubah tak biasa.
****
KRUKK KRUKK
perut Kiko mulai berbunyi karena Ia sepertinya sudah melewati jam makan siangnya.
"ah, padahal aku sudah ada janji makan siang dengan Riko tapi aku bahkan tidak boleh beristirahat jika pekerjaanku belum selesai huh"
"sebenarnya aku ini bekerja apa di kerjai sih? macam pemilik perusahaan saja"
gumam Kiko kesal sembari menaruh arsip kembali pada posisinya di rak agar tertata rapi kembali.
"Kiko, beristirahatlah! aku bawa makanan untukmu" Hilda tiba tiba datang menemani Kiko
Kiko langsung menghentikan kesibukannya dan mendekati Hilda yang sudah membawa makanan yang diambilnya di kantin perusahaan.
"terimakasih Hil, kau memang bisa diandalkan he he" ucap Kiko sambil melahap makanannya
"kau bagaimana bisa berurusan dengan Bu Dewi yang galak itu?" tanya Hilda sambil meneguk minuman kaleng yang dibelinya
"aku juga tidak tahu", Kiko mengerut kening tak mengerti, "apa dia sengaja mengerjaiku kah?"
"kau bodoh ya?!" Hilda terkekeh, "jelas jelas dia memang sengaja mengerjaimu, mungkin kau sudah melakukan kesalahan padanya"
"kesalahan?" Kiko masih tak mengerti
"ya, mungkin karena kau dekat dengan Riko"
"Riko?" Kiko semakin tak mengerti
"kau polos sekali ya?!" Hilda tambah terkekeh, "aku sudah setahun bekerja disini jadi aku tahu betul kalau Bu Dewi sangat menyukai Riko"
"bukankah Riko pegawai baru, sama sepertiku?"
"Riko itu sebelumnya pernah magang disini tapi hanya sebentar, lalu Ia kembali lagi kesini untuk menjadi pekerja tetap di perusahaan"
"oh begitu" Kiko mengangguk mencoba menelaah
"tapi kau tenang saja, sepertinya Riko menyukaimu jadi kau tidak perlu khawatir"
"iih, siapa juga yang khawatir tentang itu. aku lebih khawatir tentang pemilik perusahan ini" sahut Kiko
"hah, kenapa?"
"ya karena kau tahu sendiri, atasan kita saja yang hanya dalam tim sudah sangat galak begitu. apa lagi pemilik perusahaan"
"ya kau benar", Hilda ikut ngeri, "eh, aku dengar dengar nih ya"
"apa apa?"
"pemilik perusahaan ini, itu orangnya sangat menakutkan, selain wajahnya jelek dan buruk rupa. sifatnya juga angkuh dan suka semena mena kepada karyawannya", ucap Hilda dengan seram, "karena wajahnya yang buruk itu, para pegawai tidak diperbolehkan masuk ke lantai atas untuk bertemu dengannya. hanya orang tertentu yang diperbolehkan menemuinya"
"wah, apakah seburuk itu?"
Hilda mengangguk penuh yakin, "jika kau tak sengaja bertatap muka dengannya, maka kau akan langsung..." melakukan gerakan. menggorok leher
refleks Kiko memegangi lehernya yang masih untuh dan menelan ludah susah payah karena ngeri.
"astaga, menakutkan sekali! tapi, kenapa orang sehebat itu bisa mempunyai wajah buruk rupa? bukankah dia bisa sedikit merubahnya dengan melakukan operasi plastik?"
"tidak bisa, operasi membutuhkan waktu lama", Hilda menggelengkan kepalanya masam, "dia itu sangat gila kerja, dia tidak bisa meninggalkan pekerjaannya yang berharga ini sehari saja"
"wahh, beda sekali dengan Tuan yang tinggal dirumahku" gumam Kiko
"apa?" tanya Hilda
"eh tidak, aku melamun. maaf he he"
****